Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Beberapa jam setelah Denial keluar, suasana ruangan kembali hening menyelimuti. Adera mencoba memejamkan mata, berusaha mengusir segala bayangan buruk dan kenangan pahit yang memenuhi kepalanya.
Hingga suara pintu terbuka kembali terdengar, memecah keheningan yang damai.
“Permisi, saya akan memeriksa kondisi pasien.”
Suara itu...
Suara yang begitu familiar. Suara yang dulu selalu membuat jantungnya berdegup kencang karena rindu yang membuncah. Suara yang dulu bisa membuatnya tersenyum sendiri seharian hanya dengan mendengarnya saja.
Tapi sekarang...
Adera tidak bergerak. Tidak membuka mata. Tidak ada debaran aneh di dadanya. Tidak ada apa-apa. Hanya ada kekosongan yang luas dan membeku. Dan sedikit rasa dingin yang menjalar hingga ke tulang sumsum.
Perlahan, Adera membuka matanya. Menatap datar ke arah pintu.
Dan benar saja.
Di sana berdiri pria itu. Dengan jas dokternya yang rapi, wajah tampannya yang angkuh, dan senyum profesional yang biasa dia berikan pada pasien sembarangan.
Dokter Ezra.
Jantung Adera tetap berdetak normal, tenang. bahkan terlalu tenang. Tidak ada kupu-kupu di perut. Tidak ada rasa gugup yang menjalar. Hanya ada satu pemikiran yang jelas dan tegas di kepalanya.
Ini cuma dokter yang lagi ngerjain tugas. Bukan orang yang aku cintai. Bukan lagi.
Ezra berjalan mendekati ranjang, membawa berkas rekam medis di tangannya. Dia berhenti di sisi ranjang, menatap Adera dengan tatapan profesionalnya yang dingin dan datar.
“Bagaimana perasaan Nona Adera hari ini?” tanya Ezra lembut, nada bicaranya persis sama persis seperti saat berbicara pada pasien lain. Tidak ada bedanya. Sama sekali tidak ada.
Adera hanya menatapnya datar. Tatapan itu kosong melompong. Tanpa binar, tanpa senyum, tanpa harapan sedikitpun.
“Baik, Dok,” jawab Adera dengan nada datar dan tak biasa.
Jawabannya singkat. Dingin. Membuat Ezra sedikit terkejut dan mengernyitkan dahi.
Biasanya... gadis di depannya ini akan menatapnya dengan mata berbinar-binar seperti melihat bintang paling terang, akan menjawab dengan nada ceria memekakkan telinga, atau bahkan akan mengajaknya mengobrol basa-basi berjam-jam hanya untuk bisa berlama-lama bersamanya.
Tapi sekarang?
Adera menatapnya layaknya menatap orang asing yang baru ditemuinya di jalan. Atau lebih tepatnya... layaknya menatap sebuah benda mati yang tidak berharga.
Ezra mencoba menetralkan suasana yang mulai terasa aneh dan canggung. Dia mulai memeriksa tensi, lalu mengamati grafik di monitor dengan serius.
“Hem... tanda-tanda vital sudah membaik. Suhu juga sudah normal. Tapi istirahatnya jangan dilalaikan, ya. Kondisi kamu sempat drop cukup parah kemarin,” ujar Ezra, masih dengan nada bicaranya yang tenang dan datar.
Adera tidak menjawab. Dia hanya membiarkan Ezra melakukan tugasnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit ruangan, tidak sedikit pun menoleh ke arah pria itu, seolah keberadaan Ezra hanyalah angin lalu yang tak berarti.
Kesunyian itu terasa aneh. Sangat aneh dan mencekam. Ezra mulai merasa tidak nyaman dan canggung setengah mati.
“Nona Adera?” panggilnya lagi. “Kenapa diam saja? Biasanya kan cerewet sekali kalau saya yang memeriksa.”
Ezra mencoba sedikit bercanda, berharap mendapatkan respon seperti biasa. Berharap gadis itu akan kembali ceria.
Namun apa yang dia dapatkan?
Adera perlahan menolehkan kepalanya. Menatap tepat ke manik mata Ezra. Tatapan itu tajam, dingin, dan... penuh batas yang jelas sekali. Seolah ada tembok raksasa yang memisahkan mereka sekarang.
“Dokter Ezra sudah selesai dengan tugasnya belum?” ucap Adera pelan.
Suara Adera tenang, datar, tanpa emosi. Tapi setiap kata terasa seperti pisau tajam yang mengiris rasa penasaran Ezra menjadi dua.
“Tugas Dokter itu memeriksa, tugas saya pasien yang diam dan patuh. Jadi... ya sudah. Saya diam,” jelas Adera tanpa jeda.
Ezra terpaku sempurna.
Mulutnya sedikit terbuka, tidak tahu harus menjawab apa. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hilang lenyap dari mata gadis ini.
Cahaya itu.
Cahaya kekaguman dan cinta yang selalu terpancar terang setiap kali Adera menatapnya... kini sudah padam. Benar-benar padam. Mati.
“Der...” Ezra tanpa sadar memanggil nama panggilannya, suaranya sedikit berubah dan bergetar. “Kamu... marah?”
Adera terkekeh pelan. Tawa yang hambar. Tawa yang tanpa rasa.
“Marah buat apa?” ucap Adera santai.
Dia menarik tangannya perlahan saat Ezra selesai memeriksa. Lalu dia berbicara dengan nada yang sangat tenang namun menusuk lebih dalam dari apapun di dunia ini.
“Dulu mungkin saya bakal nangis bahagia cuma karena Dokter mau ngeliatin saya sebentar. Dulu saya rela nunggu berjam-jam di lorong dingin cuma buat sekadar sapa atau dikasih senyum,” ucap Adera pelan.
Adera berhenti sejenak, menatap Ezra lekat-lekat, menelusuri wajah yang dulu dia idamkan.
“Tapi sekarang... saya sadar. Mencintai orang yang bahkan gak pernah nganggep saya ada, yang bahkan bilang saya bukan tipenya... itu buang-buang waktu. Dan saya gak mau jadi bodoh lagi, Dok.”
Wajah Ezra pucat pasi. Dadanya tiba-tiba terasa sesak luar biasa mendengar kalimat itu keluar dari mulut Adera dengan begitu santainya. Seakan itu fakta yang sudah diterima bulat-bulat.
“Adera...” panggilnya lirih, hatinya mulai tidak tenang.
“Sudah selesaikan pemeriksaannya?” Adera memotong cepat, kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Kalau begitu boleh minta tolong jangan buang waktu saya? Saya capek. Dan tolong... jaga jarak profesional kita. Karena buat saya... Dokter Ezra sekarang sama saja dengan dokter-dokter lain di rumah sakit ini. Tidak lebih, dan tidak kurang.”
Seolah ada pintu yang tertutup rapat dan terkunci kuat di hati Adera.
Dia membaringkan tubuhnya, memejamkan mata, dan benar-benar mengabaikan keberadaan Ezra sepenuhnya. Seolah pria itu tidak ada di sana. Seolah pria itu hanyalah udara kosong.
Ezra berdiri kaku di samping ranjang. Tangannya terasa dingin dan gemetar.
Untuk pertama kalinya... dia merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang selama ini ada di depannya tapi baru dia sadari nilainya saat sudah pergi selamanya.
Cinta Adera sudah mati.
Dan Adera... bukan lagi Adera yang dulu dia kenal.
Ruangan itu kembali hening, tapi kali ini suasananya jauh lebih mencekam dan dingin.
Ezra masih berdiri terpaku di samping ranjang. Tangannya yang tadi memegang alat tensi kini tergantung lemas di samping tubuhnya.
Kata-kata Adera tadi terus berputar di kepalanya, menampar kesadarannya berkali-kali sampai terasa perih.
"Buat saya... Dokter Ezra sekarang sama saja dengan dokter-dokter lain. Tidak lebih, dan tidak kurang."
Gadis itu bahkan tidak mau menatapnya lagi. Adera memejamkan mata rapat-rapat, seolah keberadaan Ezra hanyalah gangguan yang ingin dia singkirkan secepat mungkin.
Ezra menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, sebuah perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa kehilangan yang menyakitkan.
Biasanya, Adera adalah orang yang paling antusias melihatnya. Adera yang akan mencari perhatiannya, Adera yang akan tersenyum lebar, dan Adera yang matanya akan selalu berbinar setiap kali melihatnya.
Tapi sekarang...
Mata itu mati. Senyum itu hilang. Dan yang tersisa hanyalah tembok es yang setebal berkilometer yang tidak bisa ditembus.
“Adera...” Ezra mencoba bicara lagi, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. Bahkan terdengar sedikit memohon. “Kamu... serius ngomongnya?”
Adera tidak menjawab. Tidak bergerak sedikitpun. Seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa. Seolah telinganya tertutup rapat.
“Nona Adera?” Ezra mencoba memanggil dengan sebutan formal, berharap ada respon sedikit saja.
Akhirnya, Adera membuka matanya perlahan. Namun tatapannya tetap kosong, menatap ke arah dinding, bukan ke arah Ezra.
“Ada apa lagi, Dok?” suaranya datar, tanpa nada. “Pemeriksaan sudah selesai kan? Silakan lanjut tugas Dokter ke pasien lain. Jangan buang waktu di sini.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Adera terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk-nusuk ego dan hati Ezra.
Selama ini, dia terbiasa melihat Adera mengejarnya. Terbiasa melihat gadis itu rela melakukan apa saja demi mendapat senyumnya. Tapi sekarang, saat dia berdiri tepat di depan mata, Adera bahkan tidak menganggapnya berharga sama sekali.
“Kenapa jadi sedingin ini?” tanya Ezra pelan, langkahnya maju selangkah mendekat, mencoba menggenggam tangan Adera yang tergeletak lemas di atas selimut.
Namun... Cepat sekali, Adera menarik tangannya menjauh. Gerakan itu tegas, cepat, dan menolak keras. Seolah tersentuh oleh Ezra adalah hal yang paling menjijikkan dan tidak diinginkannya.
Adera menatap Ezra dengan alis terangkat sedikit, tatapannya tajam dan menyinggung perasaan.
“Dokter, jangan sentuh saya tanpa alasan medis yang jelas. Itu tidak profesional. Dan saya tidak suka,” seru Adera dingin.
Wajah Ezra memerah padam. Bukan karena marah, tapi karena rasa malu, tersinggung, dan... kecewa yang mendalam.
“Adera? Kamu kenapa bisa jadi begini...” tanya Ezra terbata-bata, matanya mencari-cari alasan.
“Ya karena sakitlah, Dokter! Kalau aku sudah ada di sini terbaring gini, itu artinya aku sedang sakit! Malah nanya kenapa? Kan yang meriksa dan yang tahu kondisi saya itu anda, Dokter Ezra!” sentak Adera memotong, suaranya mulai meninggi namun tetap terkontrol.
Adera menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dadanya yang ingin meledak, tapi wajahnya tetap tenang layaknya air yang tenang di atas lahar yang sedang meletup.
“Tapi...” Ezra tergagap. Dia tidak tahu harus berkata apa. Rasanya aneh. Sangat aneh dan menyiksa. Saat gadis itu mencintainya mati-matian, dia merasa biasa saja dan mengganggu. Tapi saat gadis itu pergi dan berhenti peduli... dia merasa kehilangan separuh dunianya.
“Kalau Dokter tidak ada hal lain yang penting,” Adera kembali berbicara memutus lamunan Ezra, suaranya dingin memuncratkan es. “Tolong keluar. Saya butuh istirahat. Dan tolong ketahui... kehadiran Dokter di sini... tidak membuat saya merasa lebih baik. Justru sebaliknya. Justru membuat saya semakin sakit.”
Dug.
Jantung Ezra berdegup kencang, terasa sakit dan diremas kuat diterima kenyataan pahit ini.
Dia menatap wajah Adera lekat-lekat. Gadis itu benar-benar berubah. Tidak ada lagi kerinduan di mata itu, tidak ada lagi harapan yang membara. Adera sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat, dan melempar kuncinya jauh-jauh agar Ezra tidak akan pernah bisa masuk lagi selamanya.
“Baiklah...” Ezra akhirnya mengalah, suaranya terdengar berat dan lemas tak berdaya. “Saya permisi.”
Dia berbalik badan, melangkah meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang terasa berat sekali, seakan kakinya dipaku di lantai.
Begitu pintu tertutup rapat, senyum tipis terbit di bibir Adera.
Bukan senyum bahagia.
Bukan senyum sedih.
Tapi senyum kemenangan.
Senyum karena dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa berdiri tegak tanpa pria itu.
Adera memejamkan mata, kali ini dengan hati yang jauh lebih ringan.
Cintanya memang sudah mati.
Tapi harga dirinya kini bangkit lebih tinggi dari sebelumnya.