Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang di Meja Makan
Siang itu, udara di ruang makan utama rumah Ardhana terasa lebih dingin daripada biasanya, meski AC tidak dinyalakan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar justru membuat bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak lebih tajam dan mengancam.
Zidan duduk di ujung meja panjang, menatap piring kosong di hadapannya. Nafsu makannya hilang total sejak mendengar rekaman suara Paman Hendra pagi tadi. Viona duduk di seberangnya, memainkan garpu dengan gelisah. Pak Wahyu berada di kepala meja, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari semalam.
Suara ketukan pintu depan terdengar berat dan berwibawa. Bukan ketukan tamu biasa, melainkan ketukan seseorang yang merasa memiliki hak mutlak untuk masuk.
Pak Wahyu mengangkat alis. "Itu dia," gumamnya pelan.
Hanya beberapa detik kemudian, Mbak Surti—yang matanya masih bengkak—membuka pintu ruang makan dengan tangan gemetar. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal, rambut disisir rapi ke belakang, dan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
Paman Hendra.
"Selamat siang, Kakak. Selamat siang, Zidan. Dan... Viona," sapa Hendra dengan nada santai, seolah-olah ia baru saja datang untuk minum teh sore, bukan setelah malam penuh kekerasan di rumah ini. Ia berjalan masuk tanpa menunggu undangan, menarik kursi di samping Pak Wahyu dan duduk dengan angkuh.
"Hendra," ucap Pak Wahyu datar. Suaranya bergetar menahan amarah. "Kau punya nyali besar datang ke sini setelah anak buahmu mencoba membakar rumahku tadi malam."
Hendra tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Anak buahku? Wah, Kakak salah paham. Aku baru saja bangun tidur ketika mendapat kabar tentang kerusuhan di sini. Aku segera datang karena khawatir. Bagaimana kondisi kalian? Apakah ada yang terluka parah?"
Matanya menyapu Zidan dan Viona, berhenti sejenak pada bahu Zidan yang dibalut perban. "Oh, kasihan sekali. Sepertinya 'teman-teman' kita di luar sana memang kurang ajar. Tapi kau tahu, Zidan... provokasi seperti itu biasanya terjadi ketika seseorang terlalu agresif memancing musuh. Mungkin jika kau lebih rendah hati, hal ini tidak akan terjadi."
Zidan menatap pamannya lekat-lekat. Ia mencari celah, mencari kebohongan di wajah itu. Namun, Hendra adalah aktor ulung. Wajahnya polos, penuh keprihatinan palsu.
"Kami menemukan rekaman suara, Paman," potong Zidan tiba-tiba, suaranya dingin seperti es.
Senyum Hendra tidak luntur sedikit pun. "Rekaman suara? Di zaman sekarang, teknologi deepfake bisa membuat siapa saja berkata apa saja. Kau tidak mungkin percaya pada bukti digital mentah seperti itu, kan, Zidan? Sebagai calon pemimpin bisnis, kau harus lebih cerdas."
"Ini bukan deepfake," tegas Zidan. Ia mengeluarkan tablet dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja, menghadap Hendra. "Dan kami juga menemukan transfer dana dari rekening offshore milik Tuan Wijaya ke akun pribadi istri Paman, tiga hari sebelum kematian Pak Joko. Jumlahnya cukup untuk membeli kesetiaan satu regu preman."
Wajah Hendra akhirnya berubah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang menusuk. Ia tidak melihat tablet itu. Ia menatap mata Zidan langsung.
"Jadi, itu yang kalian pikirkan," desis Hendra pelan, hanya terdengar oleh mereka bertiga di meja itu. Viona, yang duduk agak jauh, tidak mendengar bisikan itu, namun ia bisa merasakan tensi yang meningkat drastis.
"Aku melakukan itu untuk menyelamatkan keluarga ini, Zidan," bisik Hendra, matanya menyala dengan fanatisme berbahaya. "Ayahmu lemah. Dia terlalu sentimental dengan masa lalu. Perusahaan ini butuh darah baru. Darah yang tidak takut kotor. Wijaya menjanjikan stabilitas. Dia menjanjikan bahwa skandal Kendal akan dikubur selamanya. Apa yang kamu lakukan? Kamu malah menggali kuburan itu lagi! Kamu ingin menghancurkan nama Ardhana?"
"Aku ingin membersihkannya," balas Zidan tegas, meski berbisik. "Dengan cara yang benar. Bukan dengan menjual jiwa pada iblis."
Hendra mendengus sinis. "Cara yang benar? Di dunia bisnis, yang benar adalah yang menang. Dan malam ini, aku akan memastikan aku yang menang."
Ia berdiri, merapikan jasnya. "Aku datang bukan untuk berdebat. Aku datang untuk memberi peringatan terakhir. Batalkan konferensi pers besok. Serahkan semua bukti fisik padaku. Jika tidak..." Ia menoleh ke arah Viona sekilas, tatapannya penuh ancaman terselubung. "...maka kecelakaan tragis bisa menimpa siapa saja. Termasuk adik iparmu yang cantik itu. Sayang sekali jika kecantikannya rusak karena asam sulfat, bukan?"
Viona yang mendengar namanya disebut, meskipun tidak jelas konteksnya, merasa bulu kuduknya berdiri. Ia memandang Zidan dengan cemas.
Zidan mengepalkan tinja di bawah meja, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga berdarah. Ia ingin melompat dan mencekik leher pamannya saat itu juga. Tapi ia tahu, itulah yang diinginkan Hendra. Kekerasan emosional.
"Pergilah, Paman," ucap Zidan dengan suara tercekat namun tegas. "Sebelum aku lupa bahwa kau masih saudaraku."
Hendra tersenyum lagi, kali ini dengan kemenangan. "Kita lihat nanti, Zidan. Ingat, racun itu bekerja paling efektif ketika korbannya tidak sadar dia sudah meminumnya. Dan kau... kau sudah meminumnya sejak lama."
Hendra berbalik dan keluar dari ruang makan dengan langkah tegap. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang terdengar seperti vonis hukuman mati.
Ruangan hening seketika. Pak Wahyu tampak lemas, menopang dahinya dengan kedua tangan.
"Dia bluffing, kan, Zidan?" tanya Pak Wahyu, suaranya serak. "Dia tidak akan berani menyentuh Viona secara fisik. Itu akan terlalu berisiko."
Zidan tidak menjawab. Ia mengingat tatapan mata Hendra. Itu bukan tatapan orang yang sedang bluffing. Itu adalah tatapan predator yang sudah memutuskan mangsanya.
"Kita tidak bisa mengambil risiko, Yah," kata Zidan akhirnya. Ia menoleh ke Viona. "Vion, kau tidak boleh tinggal di sini malam ini. Bahkan selama konferensi pers berlangsung."
Viona menggeleng kuat. "Tidak! Aku tidak akan lari. Jika aku pergi, dia pikir dia sudah menang. Aku tetap di sini, bersamamu."
"Ini bukan soal menang atau kalah, Vion!" bentak Zidan, suaranya naik sedikit. "Ini soal nyawamu! Hendra tidak main-main. Dia sudah menunjukkan tandanya."
"Aku juga tidak main-main, Kak!" balas Viona, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Jika kau mengusirku sekarang, berarti kau menganggapku beban. Dan aku bukan beban. Aku adalah mitra strategismu. Tanpa aku, siapa yang akan menjaga punggungmu saat kau sibuk menghadapi media? Siapa yang akan memastikan flashdisk asli tetap aman?"
Zidan terdiam. Ia tahu Viona benar. Secara logika, memisahkan diri justru membuat mereka lebih rentan. Namun, rasa takut kehilangan Viona telah menggerogoti akal sehatnya.
Pak Wahyu mengangkat kepala. "Biarkan dia tetap di sini, Zidan. Tapi kita tingkatkan keamanan. Raka akan menempatkan dua orang pengawal pribadi khusus untuk Viona, 24 jam. Mereka tidak akan meninggalkan sisinya bahkan saat dia ke kamar mandi."
Zidan menghela napas panjang, menyerah pada logika dan keteguhan hati wanita yang dicintainya. "Baik. Tapi janji padaku, Vion. Jangan keluar dari zona aman. Jangan berbicara dengan siapa pun tanpa sepengetahuan pengawal. Dan jangan... jangan pernah percaya pada senyuman Paman Hendra."
Viona mengangguk, lalu meraih tangan Zidan di atas meja, kali ini tanpa ragu. Jari-jari mereka saling bertautan erat, sebuah ikatan tak kasat mata yang lebih kuat daripada darah kekeluargaan yang telah diracuni.
Di luar, langit mulai mendung. Awan hitam berkumpul di atas Semarang, seolah-olah alam sendiri mengetahui bahwa badai terbesar belum benar-benar dimulai. Konferensi pers besok bukan akhir dari segalanya. Itu hanyalah pembuka gerbang menuju neraka yang diciptakan oleh ambisi manusia. Dan Zidan serta Viona harus berjalan melewatinya, bergandengan tangan, melewati racun warisan yang kini telah berubah menjadi senjata mematikan.