Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASIHAT BANG NANANG
Menatap sekitar. Makan. Menatap layar. Tidur. Aktivitas membosankan yang kulakukan selama dirumah sakit. Untung saja ada yang menemaniku untuk merubah suasana. Kalau tidak, bisa – bisa aku trauma datang ke rumah sakit.
Kali ini aku ditemani Bang Nanang. Dia membawa laptop dan terlihat sibuk menggunakannya. Tidak biasanya dia terlihat sibuk begitu. Sepertinya memang benar kalau dia tidak pengangguran. Sebenarnya aku sempat bertanya, ternyata pekerjaan dia adalah video editor. Selain itu, dia juga menerima tawaran untuk jadi cameraman dan desain sesuatu. Intinya dia bekerja dibidang industri kreatif. “Lagi kerja?”
“Eh! Kamu udah bangun. Iya nih ada client yang minta dibuatin video.”
“Kalau mau kerjain dirumah gakpapa kok.” Meski aku bilang begitu, aku berharap kalau dia tetap ada bersamaku. Bukan apa – apa. Hanya sebagai teman ngobrol. Aku mengatakan sesuatu yang bertolakan dengan keinginanku. Tapi, disatu sisi aku juga tidak mau merepotkan Bang Nanang. Dia terlihat kesulitan menahan laptop di pangkuannya karena tidak ada meja untuk bekerja. Aku tidak mau terlalu egois.
“Santai. Aman.” Aku tersenyum, tapi hanya sebentar. Aku merubah ekspresiku ketika Bang Nanang melihat kearahku. Aku tidak mau dia lihat. Bisa – bisa aku diejek olehnya. “Ngomong – ngomong tadi ayahmu datang.” Tatapan Bang Nanang kembali mengarah pada laptop. Aku terpikirkan dua kemungkinan, antara dia memang ingin fokus bekerja atau dia tidak ingin melihat reaksiku.
“Ayah …, ada bilang sesuatu?”
“Gak ada. Dia cuman bilang makasih karena aku mau jagain kamu.”
“Begitu ya.”
“Iya, gak lama dia pergi. Harusnya kan, dia kasih aku uang untuk biaya mengasuhmu. HAHAHA.”
“Iya.”
“Hey!” Bang Nanang memanggilku. Aku yang tertunduk menoleh padanya. “Aku gak tau masalahmu, aku juga gak tau gimana keseharian kalian, cuman aku pikir bukan hal baik kalau kalian gak bicara satu sama lain.” Kalimat yang dia katakan mengena langsung dihatiku. Dia seperti bisa menebak hubunganku dan Ayah. Apa terlihat begitu jelas? Sampai – sampai orang yang baru kukenal saja bisa menyadari kalau hubungan keluargaku tidak baik – baik saja. “Dasar Gen Z! Dikit – dikit tengkar sama keluarga. jamanku dulu lebih keras. Habis udah kalau sampai tengkar dikit aja.”
“Dijaman Bang Nanang ada yang disalahin karena kematian ibu gak –“ Aku keceplosan. Padahal aku tau kalau Bang Nanang hanya berniat untuk menghiburku. Aku benar – benar tidak bermaksud membandingkan keadaanku dengan orang lain. Apalagi untuk memojokkan Bang Nanang, aku sama sekali tidak beniat begitu. “Maaf.”
Bang Nanang menutup laptopnya. Aku tidak tau dia sedang marah atau tidak. Aku tidak bisa bertanya. Keadaanku sedang tidak mendukung. Aku hanya bisa memperhatikannya sampai dia mulai bicara. “Kalau ada masalah cerita aja.” Ternyata dia tidak marah. Dia ingin mendengar ceritaku. Meski aku sudah tidak sopan, dia tidak tersinggung. Malahan, dia mau membantuku. Aku menghargai hal itu. Hanya saja, aku tidak bisa. Kalau aku bercerita, sama saja seperti aku menambah masalah untuk Bang Nanang. “Kamu tau? Waktu Awan udah gak ada masalah sama orang tuanya, aku bersyukur. Aku senang kalau akhirnya dia udah baikan. Tapi, disatu sisi aku juga kecewa. Aku kecewa karena bukan aku yang bantu nyelesaiinnya. Padahal aku sering ketemu sama dia.” Bang Nanang terlihat sedih. Dia menarik napas dan menghembuskannya. “Makanya, aku mau kamu cerita. Siapa tau kali ini aku bisa bantu.”
“Buat apa?”
“Buat bantu kamu.”
“Bukan. Buat apa Bang Nanang bantuin orang lain?”
Bang Nanang tersenyum. “Biar keliatan keren.” Jawaban yang dia berikan membuatku terdiam untuk beberapa saat. Aku mencoba menafsirkan makna tersirat yang dia ucapkan, hingga akhirnya aku mengerti. Tidak ada makna tersembunyi didalamnya. Memang itulah tujuan murni yang ingin dia lakukan. Dia ingin berguna untuk orang lain, dia ingin memiliki nilai dalam hidupnya, dia ingin menemukan makna atas tercipta dirinya. “Yes akhirnya! Aku selalu mau bilang itu.” Tidak ada alasan khusus untuk membantu orang lain. Aku bisa mengerti karena kami sama – Tidak. Dia versi lebih keren dariku.
“Dulu ….” Aku menceritakan kembali kenangan yang selama ini kukunci didalam hati. Ku bongkar satu persatu untuk memberikan kisah terbaik pada Bang Nanang. Mulai dari keinginanku bersekolah ditempat yang jauh, kecelakaan yang menimpa keluargaku, hingga sebab akibat dari kematian Mama. “Aku ngerasa bersalah karena keegoisanku.”
“Ternyata masalah Gen Z gak seremeh yang beredar diinternet.”
“Apa perlu komen begitu? Bahaya loh kalau diserang!”
“Benar juga – Kenapa jadi bahas itu? Inikan tentang kamu.” Aku mengiyakan sambil tersenyum. “Apa kamu sudah coba bicara setelah bertengkar?” Aku mengangguk. Meski aku tidak ingat apa yang dibahas, Aku ingat ada yang kubicarakan dengan Ayah setelah bertengkar. Sebenarnya daripada disebut bertengkar, itu lebih seperti pembantaian karena aku tidak bisa melawan. “Gimana mukanya waktu itu?” Ditanya begitu, aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Aku tidak tau. “Gak tau, kan? Itu dia masalahmu.”
“Apa hubungannya?”
“Semakin kamu dewasa, semakin kamu tau betapa susahnya buat bilang maaf dan makasih. Padahal kita udah diajarin dari kecil. Waktu anak – anak, kita bisa bilang tanpa masalah. Begitu bertambah umur, kata itu terasa semakin asing. Penyebabnya beragam. Mungkin karena waktu kecil kita disuruh, jadi nurut aja. Mungkin juga karena waktu kecil kita masih belum tau maknanya, jadi gak ada masalah buat bilangnya. Atau …, mungkin karena waktu kecil kita gak terbebani sama hal lain. Kita gak mikir macam – macam, kalau salah ya maaf, kalau senang ya bilang makasih. Makanya waktu dewasa, kami coba cari waktu yang tepat buat bilangnya. Biar kata tersebut bisa tersampaikan dengan baik ke lawan bicara.”
“Aku makin gak ngerti. Jadinya aku harus apa?”
“Dasar! Padahal aku udah susah – susah nyusun kalimatnya.”
“Mau gimana lagi? Aku emang bingung.”
“Yaudahlah! Paling juga kamu ngerti sendiri nanti.” Bang Nanang menggaruk belakang kepalanya. Mungkin dia menahan rasa kesal. “Intinya, waktu kamu bingung mau ngapain, kamu cuman perlu ngelakuin satu hal.” Aku menanyakan apa yang perlu dilakukan. “Hadapi tanpa rasa takut. Saat itu terjadi, kamu tau apa yang mau kamu lakukan.”