Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sesuai janji Zyan semalam, kunci motor ZX-25R milik Alexa akhirnya kembali ke tangan pemilik sahnya. Pagi-pagi sekali, Alexa sudah memanaskan mesin motornya di halaman rumah, membuat suara knalpot racing-nya menggema sampai ke kamar Zyan di lantai dua.
"Gue bebas! Akhirnya gue bisa napas lagi!" seru Alexa sambil melakukan revving tipis-tipis.
Zyan keluar ke balkon dengan jubah mandinya, menatap tajam ke bawah. "Alexa! Berhenti membuat kebisingan! Ini masih jam enam pagi!"
Alexa mendongak, memakai helm fullface-nya, lalu memberikan jempol terbalik ke arah suaminya. "Dah, Om Kaku! Gue berangkat dulu! Jangan kangen!"
Dengan satu tarikan gas, Alexa melesat keluar gerbang, meninggalkan kepulan asap dan Zyan yang hanya bisa mengurut dada. Namun, di balik rasa kesalnya, Zyan sudah menyiapkan rencana lain. Ia tahu Alexa tidak akan bisa lepas begitu saja dari pantauannya.
Siang harinya, di kantor pusat Arsalan Group.
Suasana kantor sedang sangat tegang. Zyan sedang memimpin rapat tahunan dengan para pemegang saham dan jajaran direksi. Ruang rapat itu sangat kedap suara, dingin, dan penuh dengan aura intimidasi dari Zyan yang sedang memaparkan grafik keuntungan perusahaan.
"Saya tidak mau tahu, target kuartal ketiga harus naik lima persen. Jika ada divisi yang gagal, saya tidak akan segan untuk melakukan restrukturisasi total," ujar Zyan dengan suara dingin yang membuat para manajer berkeringat dingin.
Tiba-tiba, dari arah luar ruangan, terdengar suara keributan.
"Maaf, Mbak! Mbak nggak bisa masuk tanpa janji!" suara Sekretaris Zyan, Siska, terdengar panik.
"Duh, Mbak Siska yang cantik, gue cuma mau nganter makan siang buat laki gue! Masa istri sendiri dilarang masuk? Ini ayam penyetnya keburu dingin nanti rasanya jadi kayak karet ban!"
BRAK!
Pintu ruang rapat yang megah itu terbuka lebar. Alexa muncul dengan penampilan yang sangat kontras dengan ruangan itu. Ia masih memakai jaket kulit motornya, celana jeans yang kali ini sengaja ia robek di bagian lutut (sebagai bentuk pemberontakan), dan di tangannya ia menenteng tiga kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma terasi dan bawang putih yang sangat menyengat.
Seluruh jajaran direksi melongo. Para pemegang saham yang sudah sepuh hampir saja menjatuhkan kacamata mereka. Zyan mematung di depan layar proyektor, tangannya masih memegang laser pointer.
"Halo semuanya! Maaf ya ganggu rapatnya sebentar. Kenalin, gue Alexa, istrinya Pak Direktur kaku kalian itu," ujar Alexa dengan santai sambil melenggang masuk.
"Alexa... apa yang kamu lakukan di sini?" suara Zyan terdengar sangat rendah, pertanda ia sedang menahan amarah yang luar biasa.
"Nganter makan siang lah, Om! Tadi pagi kan lo bilang mau perhatian sama gue, ya sekarang gantian gue yang perhatian. Gue bawain Ayam Penyet Level 10 dari depan kampus gue. Enak banget lho, cabenya asli bukan cabe-cabean!"
Alexa dengan tanpa dosa meletakkan kantong plastik itu di atas meja rapat yang terbuat dari kayu jati mahal, tepat di atas laporan keuangan perusahaan.
"Aduh, Mbak Alexa, maaf... Pak Zyan sedang rapat penting," Siska masuk dengan wajah pucat pasi.
Zyan menatap para peserta rapat yang sekarang malah sibuk menghirup aroma sambal terasi yang memenuhi ruangan. "Rapat kita tunda lima belas menit. Silakan kalian keluar dulu."
Tanpa perlu diperintah dua kali, para manajer itu langsung kabur keluar ruangan, beberapa di antaranya malah terlihat menelan ludah karena tergoda aroma ayam penyet Alexa yang memang menggugah selera.
Begitu pintu tertutup, Zyan berjalan mendekati Alexa. "Kamu. Benar-benar. Luar. Biasa."
"Makasih, Om! Emang gue selalu luar biasa," jawab Alexa sambil mulai membungkus ayam penyetnya. "Nih makan, gue tahu lo tadi pagi cuma sarapan roti gandum hambar kan? Nih, cobain nasi uduk sama ayam penyetnya. Dijamin otak lo langsung encer buat mikirin duit."
Zyan melihat piring plastik di depannya. "Alexa, saya sedang bekerja. Kamu tidak bisa datang begitu saja dan mengacaukan rapat jutaan dolar hanya untuk ayam penyet."
"Jutaan dolar nggak akan ada artinya kalau lo kena maag, Om! Udah deh, jangan sok sibuk. Duduk!" Alexa menarik kursi Zyan dan memaksanya duduk.
Zyan menghela napas panjang. Ia melihat wajah Alexa yang tampak tulus, meski caranya memang sangat bar-bar. Ia pun akhirnya menyerah. Ia melepas dasinya, menggulung lengan kemejanya, dan mulai mengambil potongan ayam tersebut.
"Pedas sekali," gumam Zyan saat suapan pertama masuk ke mulutnya.
"Ya emang pedes! Biar hidup lo ada rasanya sedikit! Eh, Om, kantor lo bagus ya. Tapi kok pegawainya pada pucat semua? Lo sering marahin mereka ya?"
"Saya hanya tegas, Alexa. Itu dua hal yang berbeda."
"Tegas sama galak itu bedanya tipis, Om. Coba deh sesekali lo senyum dikit, pasti mereka kerjanya lebih semangat."
Alexa mulai berkeliling ruangan rapat yang luas itu. Ia melihat piala-piala penghargaan dan foto-foto Zyan yang sedang bersalaman dengan pejabat. "Gila, lo emang beneran orang penting ya. Gue kira lo cuma duda hobi ngatur yang kebetulan kaya."
Zyan terus makan dalam diam. Sebenarnya, ayam penyet ini memang sangat enak. Jauh lebih enak daripada makanan katering sehat yang biasa ia pesan. Dan kehadiran Alexa, meski sangat mengganggu, entah kenapa membuat suasana hatinya yang tadi stres menjadi sedikit lebih ringan.
"Sudah selesai makannya?" tanya Zyan sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
"Udah! Kenapa? Mau nambah?"
"Tidak. Sekarang, karena kamu sudah mengganggu waktu kerja saya, kamu harus membayar dendanya."
Alexa menyipitkan mata. "Denda apa lagi? Sorry Om, gue gak bawa duit!"
Zyan berdiri, berjalan mendekati Alexa hingga gadis itu terpojok ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung Jakarta. Zyan meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Alexa, mengurungnya.
"Dendanya adalah... kamu harus duduk di ruangan saya sampai jam pulang kantor. Kamu tidak boleh keluar, tidak boleh berisik, dan tidak boleh main HP," bisik Zyan di telinga Alexa.
"HEH! Mana bisa gitu?! Gue ada janji mau nongkrong sama Rio!"
"Batalkan. Atau saya sita lagi kunci motor kamu sekarang juga. Pilih mana?"
Alexa menghentakkan kakinya kesal. "Lo bener-bener diktator, Om! Curang banget mainnya!"
"Panggil saya Sayang kalau kita di kantor, itu denda tambahan," tambah Zyan dengan seringai nakal yang jarang diperlihatkan.
"Idih! Najis!"
Zyan tertawa pelan, lalu menarik tangan Alexa menuju ruang kerja pribadinya yang lebih mewah lagi. Di sana, Zyan mendudukkan Alexa di sofa kulit yang empuk. "Duduk di sini. Jangan sentuh apapun."
Selama sisa hari itu, Alexa terpaksa mendekam di ruangan Zyan. Awalnya ia merasa sangat bosan, tapi lama-kelamaan ia asyik memperhatikan Zyan yang sedang bekerja. Melihat bagaimana Zyan berbicara di telepon dengan bahasa Inggris yang sangat lancar, bagaimana ia mengambil keputusan cepat, dan bagaimana raut wajahnya yang serius namun tetap terlihat sangat karismatik.
Ternyata si Om kalau lagi serius gini... gantengnya nambah sepuluh kali lipat, batin Alexa tanpa sadar.
Pukul lima sore, Zyan akhirnya merapikan berkas-berkasnya. Ia menoleh ke arah sofa dan menemukan Alexa sudah tertidur lelap dengan posisi mulut sedikit terbuka, masih mengenakan jaket kulitnya.
Zyan mendekat, menyelimuti Alexa dengan jas mahalnya yang tadi ia pakai. Ia menatap wajah istrinya itu dengan lembut. "Kamu memang pengacau, Alexa. Tapi sepertinya saya mulai suka dengan kekacauan yang kamu bawa."
Zyan mencium puncak kepala Alexa pelan, lalu kembali ke mejanya untuk menyelesaikan satu dokumen terakhir sebelum membawa "si pembuat onar" itu pulang.
Hari itu, seluruh karyawan Arsalan Group punya bahan gosip baru: Bos mereka yang dingin ternyata bisa dijinakkan oleh seorang gadis motor yang membawa ayam penyet.
Bersambung.....