"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG DINGIN DUA SEKOLAH
Satu minggu berlalu dengan cepat. Di distrik komersial barat, Toko Kue Tradisional Nenek kini semakin sering terlihat sepi di sore hari. Ryzan Jonarland sudah tiga hari tidak datang berkunjung, sebuah rekor terlama sepanjang sejarah pertemanan mereka sejak kecil.
Di dalam kamar tidurnya yang sempit di atas ruko, Lyra duduk di meja belajar tua kayu yang catnya sudah mengelupas. Di bawah temaram lampu belajar, ia menatap ponsel pintarnya yang menampilkan pesan singkat dari Ryzan.
“Ly, sorry banget sore ini gak bisa ke toko lagi. Pelatih SMA Taruna gila banget, kami dikurung di asrama sekolah buat latihan fisik sampai jam 9 malam. Jangan kangen ya, cewek cengeng! Jaga Nenek!”
Lyra mengembuskan napas panjang, wajah manisnya tampak lesu dan kesepian. Ia meletakkan ponselnya, lalu tanpa sadar tangannya bergerak meraih saputangan sutra hitam milik Elian yang tersimpan di dalam laci mejanya. Aroma amberwood yang masih tersisa tipis di kain itu segera dihirupnya, memberikan rasa tenang instan yang aneh pada dadanya yang bergemuruh cemas.
Sementara itu, di sebuah kafe elite bernuansa modern di perbatasan distrik, suasana terasa sangat tegang. Kafe itu sengaja disewa seluruhnya oleh Devan atas perintah Elian untuk mengadakan pertemuan rahasia.
Pintu kaca kafe terbuka, memicu denting lonceng yang sunyi.
Elian Gava Alaric melangkah masuk dengan keanggunan seorang pangeran dinasti kaya. Penampilannya sore ini terlihat sangat stylish menggunakan kemeja kasual hitam sutra bermerek terkenal yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf hitam mewahnya. Rambut hitamnya dibiarkan sedikit acak-acakan namun tetap memikat, membingkai wajah simetrisnya yang berwajah dingin tanpa ekspresi.
Di sudut meja bundar, Devan sudah menunggu bersama seorang pria berbadan tegap yang mengenakan jaket olahraga bertuliskan 'Pelatih Utama Bela Diri SMA Taruna'.
"El, ini Pak Baskoro, pelatih yang megang timnya Ryzan di SMA Taruna," ujar Devan sambil merapikan letak kerah kausnya sendiri dengan gerakan canggung, merasa agak tertekan dengan aura dingin yang dibawa Elian.
Elian mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi kulit di hadapan Pak Baskoro. Manik mata hitam jelaganya menatap tajam, dingin, dan penuh intimidasi yang mutlak, membuat pelatih berotot itu mendadak salah tingkah dan menegakkan posisi duduknya.
"Bagaimana perkembangan anak itu, Pak Baskoro?" tanya Elian dengan nada suara yang berat, rendah, dan sangat tenang. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, memancarkan aura dominasi seorang anak miliarder yang biasa mengatur nasib orang lain menggunakan uang orang tuanya.
"Sesuai perintah lewat dinas olahraga, Mas Elian... Ryzan Jonarland sudah kami masukkan ke dalam program latihan fisik ekstrem tingkat satu. Dia diisolasi di asrama SMA Taruna dan tidak diizinkan memegang ponsel atau keluar gerbang sekolah setelah jam pelajaran selesai," jawab Pak Baskoro dengan suara yang dibuat sesopan mungkin, wajahnya tampak tegang menghadapi remaja berusia enam belas tahun di depannya.
"Apakah dia menunjukkan tanda-tanda protes?" tanya Elian lagi, wajah tampannya tetap datar seperti es, tanpa sedikit pun rasa bersalah telah merusak kehidupan remaja lain.
"Awalnya dia sempat bingung dan protes karena jadwalnya berubah drastis, tapi karena ini perintah resmi dari sistem sekolah militer Taruna, dia tidak punya pilihan selain tunduk jika tidak ingin dikeluarkan dari tim inti," jelas Pak Baskoro teratur.
Aroma parfum amberwood milik Elian memenuhi sudut kafe, menciptakan atmosfer yang semakin menekan bagi siapa saja yang berada di dekatnya. Elian mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari dalam saku kemejanya, lalu menggesernya di atas meja ke arah Pak Baskoro.
"Pastikan dia tetap berada di dalam sangkar besi SMA Taruna selama tiga minggu ke depan. Jangan biarkan dia memiliki waktu luang bahkan untuk sekadar bernapas lega," perintah Elian dengan seutas senyuman tipis yang sangat dingin dan mengerikan terukir di sudut bibirnya. "Uang di dalam itu adalah bentuk apresiasi awal untuk kerja keras Anda."
Pak Baskoro menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu mengangguk patuh. "Baik, Mas Elian. Serahkan semuanya pada saya. Ryzan tidak akan bisa keluar dari lingkungan Taruna."
Setelah pelatih itu pergi meninggalkan kafe, Devan mengembuskan napas panjang sambil menatap Elian dengan pandangan tak percaya. "El, lo benar-benar sosiopat tingkat dewa ya. Lo mindahin gunung cuma buat ngejauhin satu cowok dari target lo?"
Elian perlahan bangkit dari kursinya, merapikan kemeja hitam suteranya yang tanpa cela. Ia menatap Devan dengan sepasang mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat obsesi posesif yang teramat pekat.
"Aku tidak memindahkan gunung, Devan. Aku hanya sedang membersihkan kerikil yang mengotori jalanku," sahut Elian dengan nada suara yang teramat dingin dan tajam. "Ryzan Jonarland adalah benang merah yang mengikat kewarasan Lyra. Dan tugas kita berikutnya adalah memutuskan benang itu di SMA Gava."