Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kabut di Puncak Langit Utama
Setelah kepergian Tetua Jian Kuang yang diiringi kilatan emas ke ufuk langit, ketegangan yang mencekik Paviliun Pedang Bayangan perlahan menguap.
Zeng Niu duduk bersila di atas dipan kayu cendana di ruang rahasia paviliun. Tubuhnya masih sedikit gemetar akibat serangan kelelahan ekstrem (Qi Deviation ringan) setelah memaksakan diri memanggil Pedang Petir Dewa di tahap Foundation Establishment.
Tetua Mo Yin berdiri di sampingnya, memasukkan sebutir Pil Pemulih Roh tingkat tinggi ke dalam mulut murid barbarnya itu.
"Serap energinya perlahan. Jangan memaksakan Dantian barumu," pesan Mo Yin dengan nada tegas namun terselip kelegaan. "Dua hari lagi adalah Seleksi Garda Depan. Kau harus berada dalam kondisi puncak jika ingin mematahkan leher murid-murid Gui Huan."
Zeng Niu hanya mengangguk pelan, memejamkan matanya saat Sutra Bencana mulai memutar energi obat tersebut. Di dalam Lautan Kesadarannya, Lei Ling sudah tertidur pulas akibat kelelahan menyokong wujud pusaka surgawinya tadi.
Di luar ruangan, Zhao Ying berdiri menatap langit kelabu melalui jendela paviliun. Cadar sutra putihnya telah kembali terpasang rapi. Lin Xiaoyu, Bao Tu, dan Qian Fugui sedang beristirahat di pelataran bawah, memulihkan luka dan Qi mereka.
Melihat Zeng Niu mulai memasuki kondisi meditasi dalam, Zhao Ying merapikan lipatan gaun sutranya dan berbalik menghadap Tetua Mo Yin yang baru saja keluar dari ruang rahasia.
"Tetua Mo, aku akan meninggalkan Zeng Niu di bawah perlindunganmu untuk sementara waktu," ucap Zhao Ying dengan nada tenang yang memancarkan otoritas alami seorang petinggi sekte.
Mo Yin mengangguk hormat. "Ke mana Anda akan pergi, Tetua Zhao? Jika faksi Gui Huan melihat Anda, mereka pasti akan mencari cara untuk mencari masalah."
"Justru karena itulah aku harus keluar," jawab Zhao Ying. Matanya yang jernih memancarkan cahaya dingin yang tajam. "Bagaimanapun juga, statusku di akademi ini adalah Tetua Pelatih dari Pelataran Dalam. Gui Huan berani bertindak semena-mena karena ia berpikir tidak ada lagi pilar faksi loyalis yang berani melawannya. Aku akan pergi ke Puncak Langit Utama."
Mo Yin terkejut. "Tempat Kepala Akademi bermeditasi tertutup?"
"Benar. Aku harus memastikan sendiri keadaan beliau, dan mengaktifkan kembali token jabatanku sebelum Seleksi Garda Depan dimulai," ucap Zhao Ying. Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, gadis itu melangkah ke luar paviliun. Gaun birunya berkibar, dan tubuhnya seketika berubah menjadi seberkas cahaya es yang melesat membelah langit ibukota.
Puncak Langit Utama adalah gunung tertinggi di Akademi Jiannan. Puncaknya selalu diselimuti oleh lautan awan spiritual tebal dan dijaga oleh Formasi Pelindung Surga tingkat Nascent Soul.
Hanya Tetua Inti dengan izin khusus yang bisa mendekati tempat ini.
Zhao Ying melayang turun dengan anggun, mendarat di atas tangga batu giok putih yang membentang menuju sebuah gua raksasa berlapis pintu perunggu. Di sekelilingnya, udara terasa sangat padat, dipenuhi ukiran rune formasi yang berdenyut pelan.
Ini adalah pertama kalinya ia kembali ke tempat ini setelah insiden di Alam Rahasia Tengkorak Beku.
Zhao Ying melangkah maju. Saat kakinya menyentuh anak tangga terakhir, formasi pelindung di sekitar gua itu tiba-tiba berdesir. Tirai cahaya keemasan yang menutupi pintu perunggu perlahan membelah diri, seolah mengenali kehadiran sang tamu.
Dari dalam kedalaman gua yang gelap, sebuah suara tua yang sangat berwibawa, dalam, dan dipenuhi oleh resonansi Dao terdengar menggema.
"Aura sedingin teratai es surgawi... Tidak banyak orang di benua ini yang memiliki Niat Es semurni ini," suara itu terdengar lelah namun ramah. "Masuklah, Rekan Daoist Zhao."
Zhao Ying melangkah melewati gerbang perunggu, menyusuri lorong gua yang diterangi oleh mutiara-mutiara malam yang ditanam di dinding.
Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan luas yang dipenuhi genangan air spiritual. Di tengah genangan itu, duduk bersila seorang pria tua dengan rambut dan jenggot putih yang menjuntai hingga ke lantai. Ia mengenakan jubah putih polos. Fluktuasi kultivasi yang dipancarkannya bagaikan jurang tak berdasar sebuah tekanan dari ranah Nascent Soul Puncak!
Ia adalah Kepala Akademi Jiannan Xuan Ji.
Xuan Ji perlahan membuka matanya. Sepasang pupil abunya menatap Zhao Ying dengan kehangatan dan rasa hormat yang mendalam.
Meskipun status Zhao Ying di akademi hanyalah "Tetua Pelatih", Xuan Ji selalu memperlakukannya layaknya tamu kehormatan dari alam yang lebih tinggi. Saat pertama kali Zhao Ying mendaftar sebagai pengajar bertahun-tahun lalu, Xuan Ji lah yang secara pribadi merasakan betapa tak terukurnya potensi gadis misterius ini.
"Sungguh kehendak langit yang baik. Aku sempat mengira akademi ini telah kehilangan salah satu pilar terbesarnya di Alam Rahasia Tengkorak Beku," ucap Xuan Ji, tersenyum ramah.
Xuan Ji menyapu pandangannya ke arah Zhao Ying, memindai fluktuasi energinya. Karena kultivasi Zhao Ying saat ini sedang menekan segel kutukan dimensi, energi Golden Core Tahap Menengah nya terasa sangat padat dan tertutup rapat.
Di mata Xuan Ji yang saat ini sedang mengalami luka dalam, kepadatan energi yang sulit ditembus itu memberinya ilusi bahwa ranah Zhao Ying tidak berubah sama sekali sejak setahun yang lalu.
"Melihat fondasi kultivasimu masih sekokoh gunung es, dan auramu tetap berada di ranah Nascent Soul Puncak seperti diriku, hati orang tua ini terasa sangat lega," lanjut Xuan Ji, sama sekali tidak menyadari bahwa ranah asli Zhao Ying yang berasal dari Surga Atas telah turun drastis akibat kutukan.
Zhao Ying memilih untuk tidak mengoreksi kesalahpahaman tersebut. Di dunia fana yang penuh intrik ini, membiarkan Kepala Akademi percaya bahwa ia memiliki sekutu setingkat Nascent Soul Puncak adalah langkah strategis yang sangat krusial.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Kepala Akademi," Zhao Ying sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan. "Saya berhasil selamat dari runtuhnya formasi dimensi. Namun, kepulangan saya hari ini membawa kekhawatiran besar. Saya mendengar bahwa Anda terluka parah di utara dan Tetua Agung Gui Huan telah mengambil alih seluruh kendali akademi."
Mendengar nama Gui Huan, senyum ramah di wajah tua Xuan Ji seketika memudar. Ruangan gua itu mendadak menjadi sangat dingin, bukan karena aura Zhao Ying, melainkan karena gejolak emosi dari Kepala Akademi sendiri.
Xuan Ji menghela napas panjang, sebuah hela napas yang terdengar sangat menyakitkan. Tiba-tiba, ia terbatuk keras.
Uhuk! Uhuk!
Bukan darah merah yang keluar dari mulut pria tua itu, melainkan segumpal cairan berwarna hitam pekat yang mengeluarkan bau busuk menyengat. Cairan itu jatuh ke genangan air spiritual, membuat air murni di sekitarnya seketika mendidih dan berubah warna menjadi ungu beracun.
Mata jernih Zhao Ying seketika membelalak di balik cadarnya. Fluktuasi racun itu... ia sangat mengenalinya! Itu bukan sekadar cedera akibat pertarungan biasa.
"Kepala Akademi! Anda... ini adalah Kutukan Darah Pembusuk Jiwa dari Sekte Iblis Darah!" seru Zhao Ying, melangkah maju setengah tindak. "Bagaimana mungkin luka ini bisa menembus pertahanan Nascent Soul Puncak Anda?!"
Xuan Ji menyeka sudut bibirnya dengan ujung lengan bajunya yang putih, wajahnya tampak lebih menua sepuluh tahun dalam sekejap.
"Kau benar, Tetua Zhao," bisik Xuan Ji parau, tawanya terdengar pahit dan dipenuhi keputusasaan. "Mereka semua berpikir aku melakukan meditasi tertutup untuk menerobos ke ranah Soul Formation. Tapi kenyataannya, aku mengurung diri di sini untuk menahan agar kutukan ini tidak sepenuhnya melahap Inti Jiwa ku (Nascent Soul)."
Xuan Ji menatap lurus ke dalam mata Zhao Ying, sorot matanya kini memancarkan kewaspadaan yang sangat kelam.
"Kau bertanya tentang Gui Huan... Tetua Zhao, kau kembali di saat yang sangat, sangat kritis. Ketidakhadiranku bukan sekadar memberinya celah untuk berkuasa."
Gua itu bergetar pelan saat Xuan Ji mengepalkan tangannya.
"Orang yang menanamkan kutukan iblis ini ke punggungku saat aku sedang fokus memperbaiki segel retakan dimensi di utara..." Suara Kepala Akademi itu merendah menjadi bisikan yang sangat mencekam. "...bukanlah penguasa dari Sekte Iblis Darah. Melainkan Gui Huan sendiri."
Zhao Ying membeku. Sebuah konspirasi pengkhianatan tingkat tinggi yang bisa meruntuhkan seluruh Sembilan Sekte Besar di Benua Utara kini terbuka lebar di hadapannya! Gui Huan... telah beraliansi dengan Iblis?!