NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana—2

Malam yang dinanti akhirnya tiba. Grand Ballroom Hotel Perwira Jakarta disulap menjadi ruang perjamuan bertabur kemewahan yang megah. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan, menyinari pilar-pilar kokoh yang dibalut kain sutra mahal. Di ruangan itu, berkumpul orang-orang dari dunia bisnis, politik, dan hukum Indonesia. Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling melempar senyum, dan memamerkan pengaruh kekuasaan.

Di antara kerumunan gaun malam panjang yang menyapu lantai, kehadiran Aletha Adinata seketika mencuri perhatian terselubung dari beberapa tamu.

Malam ini, Aletha sengaja mendobrak aturan standar gaun formal. Ia melangkah dengan dagu terangkat, mengenakan mini dress satin berwarna maroon pekat yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Potongan gaun itu sangat simpel untuknya, membungkus lekuk tubuhnya dengan pas tanpa terkesan murahan. Rambut hitamnya gerai dengan beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah, mengekspos leher jenjangnya yang tanpa perhiasan mencolok—hanya sepasang anting berlian kecil yang berkilau lembut.

Ia melangkah dengan ritme yang tenang, menggandeng lengan pamannya, Pramoedya. Langkah kakinya teratur, ketukan sepatu hak tingginya terdengar ritmis di atas lantai marmer. Namun, ada satu hal yang membuat beberapa pasang mata heran— tatapan mata Aletha. Di saat wanita-wanita lain di ruangan itu sibuk mengedarkan pandangan mencari sosok sang penguasa tunggal malam ini, mata Aletha justru menatap lurus ke depan dengan elegan, seolah-olah seluruh kemewahan dan kekuasaan di ballroom ini hanyalah latar belakang yang membosankan baginya.

Ia benar-benar tidak melirik ke arah panggung utama atau area VVIP tempat Danny Atonio berada. Sama sekali tidak.

"Aletha, ingat pesan Om. Jangan bertingkah aneh-aneh. Ini relasi terbesar kantor hukum kita," bisik Pramoedya pelan, membetulkan letak kacamata dan dasi kupunya dengan gugup.

Aletha hanya tersenyum tipis, ketenangan yang mutlak memancar dari wajahnya. "Tenang aja, Om Pram. Aletha cuma mau belajar gimana orang-orang besar berbisnis."

Di ujung ruangan, dikelilingi oleh barikade pengawal berbadan tegap dan beberapa menteri, berdiri Danny Atonio. CEO Dirgantara Group itu tampak bak dewa Nordik yang turun ke bumi, mengenakan setelan tuksedo hitam jahit tangan yang sempurna. Wajahnya yang tegas berahang kokoh tampak datar tanpa ekspresi. Matanya yang sewarna elang menatap tajam, menyiratkan kebosanan yang mendalam atas basa-basi korporat yang sedang berlangsung di hadapannya. Pria itu memegang gelas whiskey tanpa minat, sesekali hanya mengangguk formal menanggapi ucapan lawan bicaranya.

Pramoedya menuntun Aletha mendekat ke arah lingkaran utama itu setelah para menteri bergeser. Sebagai salah satu pengacara utama korporasi, Pramoedya memiliki akses untuk menyapa sang CEO secara langsung.

"Selamat malam, Mr. Danny. Selamat atas hari jadi yang ke-50 untuk Dirgantara Group. Sebuah kehormatan bisa terus mengawal langkah hukum perusahaan Anda," ucap Pramoedya dengan sikap hormat yang kentara.

Danny mengalihkan pandangannya ke arah Pramoedya. Ekspresinya masih seperti tadi, namun ia mengangguk tipis. "Terima kasih, Pak Pramoedya. Dedikasi tim hukum Anda selalu memuaskan." Suaranya berat, dan penuh dengan aura intimidasi yang kuat.

Pramoedya kemudian bergeser sedikit, memberi ruang bagi keponakannya. "Oh iya Mr. Danny, ini Aletha, keponakan saya yang malam ini ikut menemani."

Di sinilah momen itu terjadi.

Biasanya, setiap kali seorang wanita dikenalkan pada Danny, mereka akan langsung memasang senyum paling manis, menunduk malu-malu kucing, atau memberikan tatapan memuja yang kentara untuk menarik perhatian sang miliarder.

Namun, Aletha tidak melakukan satu pun dari hal itu.

Ia bersikap sangat biasa saja. Ketika matanya bertemu dengan mata tajam Danny, tidak ada binar kekaguman, tidak ada kegugupan, dan tidak ada kepura-puraan. Wajah Aletha datar, seolah-olah pria di hadapannya ini bukanlah seorang konglomerat nomor satu di kota Metropolitan, melainkan hanya orang asing biasa yang kebetulan berpapasan di jalan.

Aletha membungkuk sedikit, memberikan penghormatan yang sangat formal, sopan, namun tetap berjarak.

"Benar, saya Aletha Adinata. Senang bertemu dengan anda dan semuanya yang ada di sini," ucap Aletha dengan nada suara yang tenang, sangat netral.

Aletha tidak mengatakan secara explisit "Senang bertemu dengan Anda, Mr. Danny," melainkan "dengan semuanya yang ada di sini." Ia sengaja mengaburkan eksistensi Danny, menyamakannya dengan para pebisnis tua dan relasi lain yang berdiri di lingkaran tersebut. Selesai berbicara, Aletha langsung menegakkan tubuhnya kembali, membuang muka dengan elegan, dan menatap ke arah pelayan yang sedang membawa nampan minuman di kejauhan.

Alis tebal Danny seketika bertaut hampir tak terlihat.

Ada kilat keheranan yang melintas di bola mata gelap pria itu. Jantung yang biasanya berdetak santai mendadak terusik oleh sebuah anomali kecil. Ini cewek kenapa ke gue biasa aja? batin Danny, egonya yang setinggi langit terusik.

Selama bertahun-tahun, Danny sudah terbiasa menjadi pusat semesta di mana pun ia berada. Wanita-wanita akan melakukan segala cara—mulai dari yang halus sampai yang ekstrem seperti sepupu Electra dulu—hanya untuk mendapatkan satu detik tatapan matanya. Tapi perempuan di depannya ini, yang mengenakan gaun maroon mini yang sialnya terlihat sangat pas di tubuhnya, justru menatapnya seolah dia tidak lebih menarik daripada dekorasi dinding ballroom.

Danny sengaja memperhatikan Aletha lebih lama dari biasanya. Tatapan mata Aletha yang dilemparkan ke sekeliling ruangan bukanlah tatapan wanita yang silau akan harta. Itu adalah tatapan perempuan elegan yang benar-benar tidak tertarik dengan sebuah kekuasaan. Dia berdiri di sana dengan kemandirian yang angkuh, seolah dunia kecil miliknya jauh lebih berharga daripada seluruh imperium bisnis Dirgantara Group.

"Keponakan Anda masih kuliah, Pak Pramoedya?" Danny tiba-tiba membuka suara, mengajukan pertanyaan pribadi—sesuatu yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah ia lakukan dalam acara formal seperti ini.

Pramoedya sempat melongo sesaat, terkejut karena sang CEO yang terkenal anti-wanita itu justru merespons kehadiran keponakannya. "Ah, iya, Mr. Danny. Aletha masih menempuh studi komunikasi di Universitas Pelita Bangsa."

Aletha yang mendengar namanya disebut, hanya menoleh sekilas. Ia memberikan senyum formal super tipis kepada Danny—senyum yang biasa diberikan orang asing sebelum berpisah—lalu kembali mengalihkan pandangannya.

"Om Pram, permisi sebentar ya, aku mau ke toilet," ujar Aletha dengan suara yang cukup jelas untuk didengar oleh Danny.

Tanpa menunggu izin atau reaksi lebih lanjut dari sang CEO, Aletha membalikkan tubuhnya dengan anggun. Gaun maroon-nya berayun pelan mengikuti langkah kakinya yang menjauh dari lingkaran VVIP itu, meninggalkan keharuman samar parfumnya yang misterius di udara.

Danny tidak melepaskan pandangannya dari punggung Aletha yang perlahan menghilang di balik pintu besar ballroom. Gelas whiskey di tangannya dicengkeram sedikit lebih erat. Benteng pertahanannya yang kokoh malam itu baru saja retak oleh rasa penasaran yang tidak diundang. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Danny Atonio, dia merasa... diabaikan. Dan anehnya, egonya justru menolak untuk membiarkan teka-teki bernama Aletha Adinata ini berlalu begitu saja.

Di koridor hotel yang sepi, Aletha menghentikan langkahnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar wall-panel. Sudut bibirnya perlahan ditarik ke atas, membentuk sebuah seringai kemenangan yang mematikan.

Satu buat gue, kosong buat si Danny Atonio, bisik Aletha dalam hati. Permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!