NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG TAK PERNAH DIINGAT

Ibu Nayaka memeluk Azzura semakin erat, menyembunyikan senyum penuh kemenangan yang tersungging di bibirnya. Sambil mengusap punggung menantunya yang terguncang hebat, ia melirik ke arah suaminya dan memberikan kode lewat tatapan mata yang penuh arti.

"Akhirnya... rencana ini berhasil juga," batin Ibu Nayaka dengan puas.

Ingatannya kembali pada malam beberapa minggu lalu, saat ia dan orang tua Azzura bersekutu dalam sebuah rencana nekat. Mereka tahu pernikahan ini berada di ujung tanduk karena janji satu bulan itu. Maka, dengan bantuan seorang kenalan medis, mereka memberikan sesuatu yang membuat Nayaka dan Azzura tertidur sangat lelap—sebuah malam yang sengaja dihapus dari ingatan kedua anak mereka agar takdir tidak bisa lagi mengelak.

Bagi Ibu Nayaka, cara itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nama baik keluarga dan mengikat keduanya secara permanen. Ia tidak peduli jika sekarang Azzura ketakutan atau Nayaka nantinya akan murka; baginya, kehadiran janin ini adalah segel yang tidak bisa dibuka oleh pengacara cerai mana pun.

"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat demi bayi ini," ucap Ibu Nayaka dengan nada yang terdengar sangat tulus, padahal di dalam hatinya ia sedang merayakan keberhasilan manipulasi besar yang ia lakukan.

Sementara itu, Azzura terus terisak, sama sekali tidak menyadari bahwa orang-orang yang ia anggap sebagai pelindung justru adalah dalang di balik kehancuran dunianya. Ia merasa dikhianati oleh tubuhnya sendiri, tanpa tahu bahwa ia sebenarnya adalah korban dari ambisi orang tua yang merasa paling tahu tentang kebahagiaan anak-anak mereka.

"Pak, cepat telepon Nayaka," perintah Ibu Nayaka pada suaminya. "Katakan padanya, tidak ada lagi alasan untuk pergi. Dia akan menjadi seorang ayah."

Telepon itu hampir saja terlepas dari genggaman Nayaka. Suara ayahnya yang terdengar begitu bangga dan bahagia di seberang sana justru terasa seperti siraman bensin ke dalam api amarah yang sudah berkobar di dada Nayaka sejak kemarin.

"Halo Nayaka, istrimu hamil," ucap ayahnya dengan nada mantap.

Nayaka terdiam kaku di kursi kerjanya. Jantungnya berdegup kencang karena emosi yang meluap. Bukannya merasa senang, ia justru merasa dunianya baru saja dikonfirmasi oleh sebuah kenyataan yang paling menjijikkan.

"Brengsek! Aku benar kan!" pikir Nayaka sambil mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Tuduhannya di kamar kemarin, kecurigaannya di kafe saat melihat Azzura bersama Satya—semuanya seolah terbukti di detik ini juga. Baginya, kehamilan Azzura adalah bukti otentik bahwa istrinya itu telah tidur dengan pria lain di belakangnya. Ia merasa sangat yakin bahwa ia tidak pernah menyentuh Azzura, jadi tidak ada penjelasan logis lain selain pengkhianatan.

"Nayaka? Kamu dengar Ayah? Kamu harus segera pulang sekarang, Azzura sedang sangat lemas," suara ayahnya kembali terdengar, namun Nayaka sudah tidak fokus.

"Aku pulang sekarang, Yah," jawab Nayaka pendek, suaranya terdengar dingin dan tajam seperti pisau.

Ia menutup telepon dengan kasar, menyambar kunci mobilnya, dan berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah yang menggelegar. Di kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan melemparkan testpack itu ke wajah Azzura dan mengakhiri semua sandiwara ini.

Baginya, janin itu bukan lagi sekadar penghalang perceraiannya dengan Damira, tapi merupakan sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya sebagai seorang suami—meski hanya suami di atas kertas. Ia tidak tahu bahwa dirinya sedang berjalan menuju jebakan yang dibuat oleh keluarganya sendiri, dan kemarahannya saat ini justru adalah bagian dari skenario yang sudah mereka susun rapi.

"Nayaka!" Ibu Nayaka menyambut putranya dengan wajah berseri-seri begitu pria itu melintasi pintu rumah. "Akhirnya kamu pulang, selamat ya, Nak! Kamu akan menjadi—"

"Biarkan kami berdua," potong Nayaka dengan nada dingin yang menusuk. Ia tidak membalas senyuman ibunya sama sekali. Langkah kakinya terdengar berat dan tegas menuju kamar utama.

Cklek.

Nayaka masuk dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Di sana, ia melihat Azzura masih terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan raganya. Kehadiran Nayaka sama sekali tidak membuatnya bereaksi, sampai pria itu melangkah lebar dan mencengkeram leher Azzura dengan satu tangan, menekannya hingga Azzura terpaksa mendongak menatap matanya yang memerah padam.

"Ini anak siapa? Jawab!" desis Nayaka tepat di depan wajah Azzura. Suaranya rendah namun penuh dengan ancaman yang mematikan.

Azzura terengah, tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Nayaka yang kuat, namun tenaganya terlalu lemah. Air mata mulai mengalir lagi di pipinya yang pucat.

"Atau perlu gue panggil laki-laki itu ke sini buat nyatuin kalian, hah?" bentak Nayaka lagi, suaranya naik satu oktavi. "Lo pikir gue bodoh? Gue nggak pernah nyentuh lo sama sekali, Azzura! Jadi mustahil ini anak gue!"

Azzura menggeleng lemah, suaranya parau karena tercekik. "Aku... aku juga nggak tahu, Nay... Aku nggak pernah... sama Satya pun aku nggak pernah..."

"Bohong!" Nayaka semakin kuat mencengkeram lehernya. "Kalau bukan dia, terus siapa? Setan? Lo benar-benar licik ya, lo pakai pernikahan ini buat nutupin aib lo sama selingkuhan lo itu?"

Nayaka melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Azzura terjerembab ke kasur. Ia menunjuk wajah Azzura dengan penuh kebencian. "Satu bulan ini nggak akan berakhir dengan perceraian biasa, Ra. Gue akan bongkar semuanya di depan keluarga lo, biar mereka tahu siapa sebenarnya wanita suci yang mereka banggakan ini!"

Azzura hanya bisa meringkuk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di balik dinding kamar, Ibu Nayaka mendengarkan keributan itu dengan tenang. Ia tidak peduli seberapa besar mereka bertengkar sekarang, karena baginya, benih yang sudah tertanam itu adalah kemenangan mutlak yang tak akan bisa dibatalkan oleh siapa pun.

Di luar kamar, suasana begitu kontras dengan ketegangan yang terjadi di dalam. Ibu Nayaka berdiri di dekat pintu, sesekali menempelkan telinganya untuk memastikan seberapa besar amarah putranya meledak.

"Nayaka marah sepertinya, Pak," bisik Ibu Nayaka dengan nada sedikit khawatir, meski sorot matanya tetap tenang. "Suaranya sampai terdengar ke sini. Aku takut dia berbuat nekat pada Azzura."

Ayahnya yang duduk di sofa ruang tengah tampak tetap tenang sambil melipat korannya. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rahasia gelap.

"Biarkan saja," jawab Ayah Nayaka pelan, namun tegas. "Dia hanya sedang syok karena egonya merasa dikhianati. Dia tidak tahu kalau itu sebenarnya anak dia sendiri yang kita rencanakan malam itu."

Ayahnya menyesap kopinya dengan santai, seolah tidak ada beban moral atas apa yang telah mereka lakukan. "Nayaka terlalu keras kepala. Kalau tidak dipaksa dengan cara seperti ini, dia akan terus mengejar wanita itu dan mengabaikan istrinya. Biarkan dia marah sekarang, tapi begitu bayi itu lahir dan wajahnya mirip dengannya, dia tidak akan bisa mengelak lagi."

Ibu Nayaka mengangguk setuju. "Benar, Pak. Obat yang kita campurkan ke minuman mereka malam itu bekerja dengan sempurna. Mereka terlalu lelap sampai tidak sadar sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Sekarang, mau Nayaka mengamuk seperti apa pun, dia terikat selamanya. Azzura tidak akan bisa pergi, dan Satya itu... dia tidak punya peluang lagi."

Keduanya terdiam sejenak, mendengarkan bentakan Nayaka yang kembali terdengar dari dalam kamar. Bagi mereka, kemarahan Nayaka dan penderitaan batin Azzura hanyalah efek samping kecil dari sebuah rencana besar demi "keutuhan" keluarga yang mereka inginkan. Mereka merasa telah menjadi pahlawan bagi garis keturunan mereka, tanpa peduli bahwa mereka baru saja menanam benih kehancuran dalam jiwa kedua anak mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!