NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Gembel Bertongkat Linggis

Darren memacu laju larinya sekuat tenaga, membelah kepadatan trotoar demi mengejar pencuri dengan jaket hoodie itu. Masalahnya pencopet itu bergerak sangat lincah, membanting arah ke gang sempit yang berliku sebelum akhirnya menerobos masuk ke kawasan pabrik tua yang sudah bertahun-tahun tidak beroperasi. Sedangkan Darren terus membayangi dari belakang meski paru-parunya mulai terasa terbakar.

Pencopet itu pun menyelinap ke dalam salah satu bangunan paling besar yang terbengkalai dan disusul oleh Darren, lalu dengan sisa tenaganya, dia berhasil menubruk punggung lawan hingga mereka berdua jatuh tersungkur ke atas lantai. Darren sudah bersiap melayangkan pukulan untuk meluapkan amarah, namun tangannya mendadak berhenti di atas. Wajah di bawahnya ternyata bukan seorang pria dewasa. Dia hanyalah seorang gadis yang kurus dengan pakaian yang sangat kotor, begitu pula wajahnya. Rambutnya acak-acakan, sementara matanya yang besar itu menatap Darren ketakutan.

Oleh karena itulah Darren dibuat terpaku menatap gadis itu selama beberapa detik tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Alih-alih mendapatkan jawaban, sebuah hantaman balok kayu mendadak menyambar bagian belakang kepalanya dengan telak. Darren pun limbung, sebelum jatuh terjerembap.

“Kerja bagus, Shinta,” kata pria yang terdengar samar dari balik rasa sakit yang berdenyut di kepalanya.

Darren berusaha memfokuskan pandangannya yang mulai kabur dan wajah yang muncul di hadapannya terasa sangat akrab dalam ingatan kelamnya. Pria itu berjongkok sembari memainkan kartu black card milik Seo yeon di tangannya dengan puas. Tentu saja bajingan itu adalah Herman, mantan bos pinjol yang dulu memerintahkan pengeroyokan terhadapnya di gudang Sunter. Darren mencoba mengulurkan tangan untuk merebut kembali kartu itu, namun Herman justru memukul tangannya dengan punggung tangan secara kasar. Lalu menjambak rambut Darren, memaksa kepalanya terdongak ke atas.

“Bukankah seharusnya kau sudah mati? Pasti kau selama ini menertawaiku saat mendengar jika bisnisku bangkrut, benar kan?” tanya Herman sembari melotot. “Aku sudah jatuh ke dasar yang paling bawah, Darren. Istriku kabur, anakku bahkan malu mengakui aku sebagai ayahnya. Semua rumahku disita. Maka dari itu, sekarang aku sudah tidak takut pada apa pun lagi. Memastikan dirimu mati untuk kedua kalinya bukan masalah besar bagiku.”

Lambat laun Darren mulai terhuyung-huyung, darah mulai mengalir membasahi pelipisnya dan kesadarannya mulai menipis.

“Aku dengar sekarang kau bekerja sebagai anjing Nona Han Seo yeon,” lanjut Herman sembari menyeringai. “Selamat ya. Dari kuli tagihan sekarang jadi anjing konglomerat.”

Darren mengangkat wajahnya dengan susah payah. “Bagaimana kau bisa tahu soal itu?”

Herman hanya tersenyum jahat sebagai jawaban. Dia segera mengeluarkan ponsel, menekan serangkaian nomor, lalu berbicara dengan lantang. “Tuan Priyo, target sudah berhasil kami amankan di lokasi.”

Jantung Darren dibuat mandek begitu mendengar nama itu disebut. Priyo Tan Wijaya? Di seberang sana, suara pria tua botak itu terdengar jelas dari apapun di sana.

“Bunuh saja dia. Beritahu anak buahmu untuk mengambil organ dalamnya agar bisa dijual kembali. Sampaikan juga kepada Nona Han Seo yeon bahwa jika dia tetap menolak menjadi istriku, maka dia tidak akan memiliki apa pun lagi. Keluarga Han di Korea pun akan hancur dalam waktu dekat karena aku sudah menyiapkan segala sesuatunya,” kata Priyo dari balik telepon.

Darren membeku mendengar ancaman besar itu. Sementara itu, wajah gadis bernama Shinta yang tadi memancingnya mulai berubah pucat. Dia memandang Herman dengan ekspresi yang sangat bertentangan. Shinta mencoba memberikan isyarat tangan untuk menghalangi niat buruk itu karena dirinya bisu, namun Herman justru mendorong tubuh kurusnya hingga terjatuh.

“Diam kamu, dasar gembel! Tugasmu hanya memancing dia ke sini, sekarang urusan sudah selesai! Pergi dari sini sebelum kau ikut jadi sasaranku!” bentak Herman.

Beberapa orang bawahan Herman yang mengenakan pakaian serba putih mulai mendekat sembari membuka sebuah kotak berisi peralatan medis yang berkilauan. Pisau bedah, gunting, hingga gergaji kecil disiapkan di hadapan Darren. Mereka menatap Darren seolah dirinya hanyalah seonggok daging yang siap dijagal di pasar.

Adapun sayangnya Darren justru membiarkan tubuhnya terbaring lemas. Anehnya, tidak ada rasa takut yang menghampiri jiwanya. Dirinya justru merasakan sebuah kelelahan yang teramat sangat merasuki seluruh persendian tubuhnya.

“Jadi begini rupanya akhir dari ceritaku. Mati di pabrik tua, bukan di gudang Sunter kali ini,” pikir Darren sembari menatap langit-langit pabrik yang berlubang. Dia mengingat uang miliaran yang baru saja dirasakannya, kenyamanan hidup sejenak, serta pujian dari Seo yeon. Setidaknya dia sudah pernah mencicipi rasa kemenangan itu. Cello mungkin akan bersedih, namun dia masih memiliki ibunya. Seo yeon mungkin akan kecewa, tapi dia adalah wanita yang sangat kuat.

“Mungkin memang ini yang pantas untuk orang sepertiku,” Darren menyunggingkan senyuman tipis yang justru membuat Herman semakin meradang.

“Kau masih bisa tertawa, brengsek? Kau mau mati dengan cara konyol begini?” tanya Herman sembari mengangkat kakinya, bersiap untuk menginjak wajah Darren. “Sudah aku bilang, kau tidak akan pernah bisa menang. Kamu itu hanyalah sampah yang kebetulan sedang mujur, tapi malam ini keberuntunganmu sudah habis.”

Sebelum kaki Herman mendarat, Shinta yang tadi terdorong segera bangkit berdiri. Tangannya meraba tumpukan puing hingga menemukan sebuah linggis besi yang sudah berkarat. Gadis itu menggenggamnya kuat-alih-alih melarikan diri, dia justru menghantamkan besi itu ke bagian belakang kepala Herman dengan sekuat tenaga.

“AARGH!” jerit Herman sembari jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah.

Para pria berpakaian serba putih itu lantas panik melihat kejadian yang tidak terduga itu. Shinta pun segera meraih tangan Darren, menariknya paksa agar berdiri.

Mereka akhirnya berlari menyusuri gang-gang gelap menuju arah jalan utama. Darren bergerak dengan terseok-seok, kepalanya masih terasa pusing akibat hantaman pertama. Adapun Shinta memapah Darren dengan susah payah, memberikan tumpuan bagi langkah pria itu yang tidak lagi stabil.

Sementara teriakan penuh amarah dari Herman di kejauhan perlahan mulai mereda. Alhasil, tampak tidak ada lagi yang mengejar mereka, atau mungkin kelompok Herman terlalu sibuk mengurus pemimpin mereka yang terluka. Akhirnya mereka berhenti di sebuah emperan toko yang sudah tutup dan Darren melepaskan diri dari pegangan Shinta, lalu bersandar pada tiang listrik dengan tersengal-sengal.

“Kau sudah... menyelamatkan nyawaku tadi,” kata Darren di sela deru napasnya yang tidak beraturan.

Shinta hanya bisa menggelengkan kepala sembari menatap lantai sembari menggerakkan kedua tangannya secara cepat sebagai bentuk bahasa isyarat orang bisu yang berarti. “Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau mereka akan bertindak sekejam itu.”

Darren menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang liar. Setelah merasa tenaganya mulai kembali, dia mendorong tubuhnya untuk berdiri tegak, toh dirinya juga tidak paham arti bahasa isyarat gadis itu. “Sekarang kau pergi saja. Jangan mengikutiku lagi.”

Darren mulai pergi, namun Shinta segera mengejarnya dari belakang.

Darren tidak berniat menoleh sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Shinta menyodorkan kartu hitam milik Seo yeon yang masih bersih. Rupanya kartu itu tidak pernah jatuh ke tangan Herman karena Shinta sempat merebutnya kembali entah kapan.

Lantas Darren menerima kartu itu dengan ekspresi wajah yang datar. Tidak ada senyuman lega yang muncul, hanya berbalik dan bersiap untuk pergi lagi, namun langkah kakinya terhenti setelah berjalan sejauh tiga meter. Darren menoleh kembali ke arah gadis gembel itu.

“Ikut aku. Kau harus membantuku menjelaskan seluruh kejadian ini kepada atasanku,” katanya.

Shinta pun mengangguk.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!