Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Mencari Masalah Sendiri
Sheza pergi ke Dance Conservartory bersama dengan Paul. Sedangkan Jendra masih di rumah sakit bersama Vins.
"Video yang nyonya berikan, sudah dipelajari oleh Kalina"
"Jadi namanya Kalina?"
Paul mengangguk,
"Benar nyonya, dia adalah putri salah satu pejabat yang cukup disegani. Hanya saja karena memang dia ingin jadi penari terkenal, dan keluarganya kurang mendukung, dia tidak menggunakan nama belakang keluarganya!"
Sheza mengangguk paham. Dan sebenarnya, dia sangat puas pada Kalina. Ini akan semakin seru menurutnya. Karena dia juga sudah cukup kenal baik dengan Karen. Karen itu, suka sekali merendahkan orang lain. Jika yang dia rendahkan adalah putri orang yang berpengaruh. Bukankah itu akan semakin menyenangkan untuk dia lihat nanti.
"Nyonya ingin masuk?" tanya Paul yang menemani Sheza yang hanya berdiri di samping kaca ruangan latihan.
Sheza menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kita lihat dari tempat lain. Akan ada yang mengintipnya latihan setelah ini!" kata Sheza yang di angguki segera oleh Paul.
Benar saja, setelah Sheza dan Paul pergi. Karen dengan asistennya datang ke tempat itu. Ruangan yang di pakai oleh Kalina itu, biasanya memang digunakan oleh Karen. Itu ruangan yang paling besar, fasilitas paling lengkap, dan koridor tempat ruangan itu berada. Juga langsung menuju ke ruangan direktur dance Conservartory. Jadi, beberapa orang penting akan lewat tempat itu, memperhatikan bakat-bakat terbaik, dan mensponsori mereka.
"Non, kita di ruangan E4, lantai atas. D2 ini sudah di reservasi orang lain selama satu minggu!" kata Emi, asisten Karen.
"Bagaimana caramu bekerja? kamu kan tahu aku terbiasa menggunakan ruangan ini untuk latihan..."
"Maaf non, tapi budget kita tidak cukup!" sela Emi sebelum Karen menyalahkannya lebih jauh.
Karena sebagai asisten yang memang dikerjakan ketika ada perlombaan dan latihan saja. Emi juga selalu melakukan semuanya sesuai dengan perintah dan budget dari Karen. Dia hanya mahasiswa magang biasa, selain mengatur jadwal, dia mana punya uang untuk nombok.
Karen mendengus kesal. Gara-gara ucapan pria bernama Jendra di malam pesta yang seharusnya jadi malam pesta pertunangan Alex dengan Sheza itu. Paman dan bibinya sekarang, sudah tidak lagi memberikan uang bulanan dengan jumlah yang banyak. Sudah disamakan dengan jatah Sheza yang tidak pernah Sheza ambil. Jadi, dia juga tidak punya uang cukup untuk berebut ruangan dengan orang yang latihan di dalam.
"Memangnya siapa sih yang mencuri tempat latihan ku?" tanya Karen dengan jutek.
"Kabarnya hanya karena dia pernah menolong bibi pemilik gedung ini saja nona. Dia bukan siapa-siapa, nama belakang saja dia tidak punya!" kata Emi.
Dan memang informasi yang dia dapatkan hanya sebatas itu. Dia memang hanya mengetahui apa yang disebarkan oleh Paul. Kalina itu bukan siapa-siapa. Katanya begitu, ya dia juga sampaikan apa adanya begitu pada Karen.
Dan mendengar itu, naluri sombong dan arogan Karen muncul.
"Orang kampungan saja berani berebut tempat latihan denganku!"
Karen berjalan ke arah ruangan yang biasa dia gunakan. Dia mau membuat keributan tadinya, mau supaya wanita bernama Kalina itu pergi dari ruangan itu. Dia akan membuat seolah Kalina yang mencari masalah dengannya. Dia kan tahu, tidak ada kamera pengawas di dalam ruangan. Sementara dia punya Emi yang akan memberikan kesaksian palsu untuknya.
Namun, begitu sampai di dekat jendela kaca yang memang tidak ditutup. Langkah Karen berhenti.
Musik mulai mengalun pelan dari pengeras suara di sudut, alunan piano lembut yang disusul gesekan biola, seperti suasana aula dansa tua di Eropa yang megah tetapi sunyi. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Ritmenya tenang, namun menyimpan sesuatu yang bergerak di bawah permukaan.
Satu kaki bergeser ke depan, tubuh ikut berputar setengah lingkaran, lalu kedua lengannya terangkat perlahan. Cara ia membuka tangan mengingatkan pada balet, rapi, panjang, setiap sudut tubuh terlihat dipikirkan dengan baik.
Bahunya tetap turun, lehernya tegak, dan punggungnya lurus membentuk garis yang anggun. Namun setelah beberapa hitungan, gerakannya mulai berubah.
Jika balet biasanya terasa seperti sesuatu yang dikendalikan dengan sangat ketat, tarian Kalina justru mulai lebih bebas.
Ia tetap menjaga dasar-dasar balet, postur, keseimbangan, cara kaki berpindah, tetapi tubuh bagian atasnya mulai bergerak lebih cair. Pergelangan tangannya tidak lagi berhenti di posisi klasik, melainkan terus mengalir mengikuti musik.
Saat musik masuk ke bagian yang lebih dalam, langkahnya menjadi lebih panjang.
Ia bergerak menyilang ruangan dengan gerakan yang mengingatkan pada contemporary dance, satu kaki meluncur ke depan, tubuh condong mengikuti, lalu tiba-tiba berhenti sebelum kehilangan keseimbangan. Ada sesuatu yang terasa seperti tarik-ulur di sana.
Di satu bagian, Kalina berdiri di ujung kaki sebentar, lalu menurunkan tumit perlahan sambil memutar tubuh. Gerakannya ringan, tetapi tetap terasa nyata, bukan seperti penari profesional di atas panggung yang dibuat terlalu sempurna, melainkan seseorang yang sudah sangat akrab dengan tubuhnya sendiri.
Ketika ritme musik naik, ia tidak langsung bergerak lebih cepat.
Kalina bergerak ke depan, berhenti, lalu perlahan menoleh ke samping sambil satu tangannya turun dan tangan lainnya tetap terangkat.
Mata Karen melebar. Semua gerakan tarian itu, dia sepertinya familiar. Tapi dia tidak tahu siapa yang pernah menarikannya. Dan yang jelas, semua gerakan Kalina, benar-benar lebih bagus dari gerakannya.
"Emi... rekam!"
Emi mengernyitkan keningnya.
"Nona, ini tidak boleh. Lagipula Kalina itu juga ikut dalam kompetisi. Kalau dia tampil lebih dulu..."
Emi yang memang sudah cukup lama menjadi asisten Karen. Sudah tahu seperti apa yang ada di kepala Karen. Apa yang Karen pikirkan hingga wanita itu meminta dirinya merekam dance Kalina. Tapi, dia mencoba mengingkatkan. Karena kalau Karen kena masalah, dia kan otomatis kena juga.
"Jangan banyak bicara. Aku pastikan, kalau tarian itu aku yang akan lebih dulu tampilkan di kompetisi!" Karen bicara dengan sangat yakin.
"Yang bener non, kalau sampai ketahuan..."
"Takut apa? memangnya siapa si Kalina itu. Kita tinggal ancam saja nanti. Beres!"
Emi masih ragu. Tapi karena Karen sepertinya sangat yakin. Dia hanya bisa menghela nafas dan merekam video tarian Kalina dari jendela.
'Heh, salahkan saja kenapa tariannya lebih bagus dari tarian ku' batin Karen yang yakin sekali apa yang dia lakukan ini tidak akan menjadi masalah untuknya.
***
Bersambung...
Lebih merasa gak enakan seolah-olah punya hutang budi, dan memperlakukan anak sendiri bagai orang lain..
Denial dengan ucapan anak sendiri, dan lebih percaya dengan omongan orang lain.. 🤦🏻♀️
ditendang sambil duduk katanya 😂😂
Sedangkan aku aja pernah ketimpa paksu sewaktu masih berat 88kg, mataku melotot seperti mau keluar.. Astaghfirullah..🤣🤣
Kau orang tua nya..
Kau ibunya, yg seharusnya lebih paham akan karakter anaknya..
Seharusnya kau mencari tau sendiri dulu yg sebenarnya..
Kau bisa menghubungi nya, tanpa harus berkoar-koar dulu dengan siapa²..
Bahkan dengan Karen pun, kau harus menyimpan rahasia & fakta..
Agar kesalahan pahaman yg terjadi ketemu jawabannya..
Agar kau bisa melihat sendiri seperti apa Karen & seperti apa Sheza..
Namun kau berbeda, kau justru memilih buta untuk mencari fakta..
Kini sesal mu pun tiada guna..
Kau pun telah kehilangan putri terbaik mu, dan menantu terkaya..
Rasakan kurma pahit buat kalian semua..
Untuk kau Pras, Karen, dan Nella..
Dan kau Pras, saham mu pada perusahaan akan menyusul kejatuhannya..😏
Bukan kah kau benar² wanita licik & menjijikkan, benar kan..? 🤣🤣
Gak usah merasa jd wanita terzolimi kau sebagai perempuan..
Sebab hanya hati yg kotor, yg hanya melihat mu yg jd korban..
Mereka yg bisa melihat wujud asli mu, pasti tau bahwa kelakuan mu bagai setan..
Memanipulasi, menghasut, bahkan tega playing victim asal terwujud keinginan..
Kau menghalalkan segala cara untuk mencari simpatisan..
Agar terlihat seperti anak baik, padahal akhlaknya bagai siluman.. 😏