Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Sore itu, suasana di rumah Lulu masih terasa kaku. Ayahnya lebih banyak diam, sementara Ibunya terus berusaha mencari celah untuk bicara dengan Lulu. Di tengah tekanan itu, ponsel Lulu bergetar. Sebuah pesan dari Shinta masuk:
Shinta: Lu, Arlan minta lo dateng ke acara kumpul-kumpul nanti malam jam 8 di Hotel Grand Palace. Katanya ini surprise buat lo karena dia ngerasa bersalah soal kemarin. Tapi inget, jangan kasih tahu siapa-siapa, terutama bokap lo. Dia mau ini private.
Lulu menggigit bibirnya. Di satu sisi, ia takut membohongi orang tuanya lagi. Namun di sisi lain, janji "surprise" dari Arlan adalah satu-satunya cahaya yang ia inginkan.
"Bu," suara Lulu parau saat menghampiri Ibunya di dapur. "Nanti malam... Lulu boleh izin ke rumah Sisil? Lulu mau minta maaf dan mau pinjam catatan buat ujian Juni nanti."
Ibunya menoleh, matanya berbinar penuh harap. "Benar, Nak? Kamu mau ke rumah Sisil?"
Lulu mengangguk, meski hatinya perih karena harus menjual nama sahabat yang sudah ia sakiti demi menutupi jejaknya. "Iya, Bu. Lulu sadar Lulu butuh belajar lagi."
"Tentu, Sayang. Tentu boleh. Ayah pasti senang dengarnya," Ibunya mengusap rambut Lulu dengan tulus, tidak tahu bahwa itu adalah kebohongan besar.
Pukul delapan malam, Lulu turun dari ojek di depan hotel mewah itu. Ia merasa sangat kecil di depan gedung megah tersebut. Shinta sudah menunggu di lobi dengan senyum yang tampak sangat bersahabat—padahal itu adalah senyum algojo.
"Arlan sudah di atas, di Kamar 402. Dia lagi siapin semuanya. Ayo cepat!" ajak Shinta.
Begitu masuk ke kamar, Lulu tidak menemukan Arlan. Ruangan itu penuh dengan kepulan asap rokok dan botol-botol minuman berwarna kuning keemasan. Ada tiga teman laki-laki Reno yang menatap Lulu dengan pandangan yang membuat Lulu merinding.
"Arlan mana, Shin?" tanya Lulu cemas.
"Bentar lagi dateng. Tapi dia bilang, lo harus minum ini dulu sebagai bukti kalau lo bukan 'anak mami' lagi. Ini cuma lemonade kok, ada campuran bir dikit biar lo rileks," Shinta menyodorkan gelas plastik berisi bir dingin.
Lulu menolak awalnya, namun Shinta terus mendesak, membawa-bawa nama Arlan dan taruhan harga diri Arlan di depan teman-temannya. Akhirnya, dengan mata terpejam, Lulu meminumnya. Pahit, menyengat, dan seketika membuat kepalanya berputar hebat. Lulu yang tidak pernah menyentuh alkohol seumur hidupnya langsung kehilangan keseimbangan.
Di saat itulah, Shinta memulai aksinya. Saat Lulu tersungkur di atas ranjang dengan kesadaran yang mulai kabur, Shinta menyuruh teman-temannya berpose di dekat Lulu. Mereka mengedit foto-foto itu—menempelkan wajah Lulu di posisi yang seolah-olah ia sedang bersenang-senang secara liar di hotel tersebut.
Keesokan harinya, petir menyambar di sekolah. Kabar pertama yang datang adalah pemberhentian Bu Sarah, guru yang tempo hari membela Lulu di depan Ayahnya. Surat pemecatan itu datang langsung dari yayasan atas perintah keluarga Wiraguna. Arlan telah menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menyingkirkan siapa pun yang mencoba "menyadarkan" Lulu.
Lulu masuk ke kelas dengan kondisi fisik yang masih lemah dan mual. Namun, ia tidak disambut dengan simpati.
"Wah, pantesan semalam izinnya ke rumah Sisil, ternyata mainnya di hotel ya?" sindir seorang siswa saat Lulu baru saja duduk.
Lulu gemetar, ia membuka ponselnya. Grup angkatan penuh dengan foto dirinya yang sedang memegang gelas bir dan foto-foto editan di kamar hotel tadi malam.
"Nggak... ini nggak bener..." gumam Lulu dengan air mata yang mulai membanjiri kacamatanya.
Ia berlari keluar, mencari Arlan. Ia menemukan Arlan sedang berdiri di koridor bersama Reno. Namun, Arlan justru menunjukkan wajah "jijik" yang luar biasa.
"Arlan! Tolong aku! Shinta bohong, dia bilang kamu yang minta aku ke hotel!" isak Lulu sambil mencoba memegang tangan Arlan.
Arlan menarik tangannya dengan kasar, menatap Lulu seolah ia adalah kotoran. "Jangan sentuh gue. Gue nggak nyangka lo seberani itu di belakang gue, Lu. Malu-maluin nama gue aja punya pacar murahan kayak lo."
Lulu mematung. Arlan berpaling dan pergi begitu saja. Di saat yang sama, ia melihat Bu Sarah sedang berjalan keluar sekolah sambil membawa kardus berisi barang-barangnya. Bu Sarah menatap Lulu dengan air mata di pelupuk matanya—rasa kasihan seorang guru yang tahu muridnya sedang dihancurkan, tapi ia sudah tidak punya kuasa lagi untuk menolong karena ia sendiri sudah diusir.
Lulu ambruk di koridor. Ia telah membohongi ibunya, kehilangan guru terbaiknya, dan sekarang "dibuang" oleh orang yang ia bela mati-matian. Tanggal 25 Juni masih di depan mata, tapi bagi Lulu, dunianya sudah kiamat hari ini.