NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Menjadi seorang detektif adalah impiannya sejak kecil. Walaupun banyak orang yang sering meremehkan pekerjaan ini... ia tak pernah minder. Sering kali bahaya datang menerjang, tak jarang juga nyawa jadi taruhan. Tapi baginya, itu adalah yang paling seru.

 Selain itu, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mulia, pekerjaan yang bisa memberikan keadilan kepada orang-orang yang keadilannya di renggut.

 Pekerjaan ini tidak luput dari kerja sama antar tim. Yah, walaupun sering kali terjadi konflik kecil diantara mereka... Namun mereka bisa mengatasinya dan meraih kesuksesan bersama.

  "Kay, hari ini ada kasus tentang hilangnya anak-anak panti!" ucap Alfian sedikit dramatis. Tangannya mengulurkan map putih yang sedikit tebal. "Beberapa pengurus panti, bahkan sampai berlutut di depan sana." lanjutnya.

 Kayla membaca map itu dengan seksama, matanya membulat sempurna. Ia terlihat seperti orang yang di tagih utang padahal tidak berutang. "Lebih parah dari berita yang beredar." ucapnya pelan.

 "Kay!"

 "Ada apa? kenapa kau terlihat seperti itu?" Alfian sedikit bingung. Beberapa kali ia menyenggol lengan Kayla hanya untuk menyadarkan wanita itu.

 "Kenapa baru sekarang?" Tanya Kayla bingung. Pasalnya kejadian ini bukan lagi menjadi rahasia umum. Kejadiannya memang sudah sangat lama. Seharusnya sudah dituntaskan oleh kepolisian. Nyatanya, justru hanya dianggap angin lewat.

 Alfian tersenyum jahil, "Kita ikuti saja permainannya! Mungkin mereka ingin bermain dengan tim kita?"

 "Sudah siap bermain?" Pertanyaan itu ditunjukan untuk semua tim. Mereka bertiga hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang menyeramkan.

 "Kita lihat siapa yang akan terjebak!" Ucap Kayla datar. Namun mampu menekan oksigen di sekelilingnya.

 Mereka bersemangat melakukan misi ini. Sudah beberapa bulan tidak menangani kasus membuat tulang-tulang meraka menjadi kaku. Tidak mungkin juga mereka hanya berdiam diri, sementara ada musuh yang mengajak bermain.

 "Aduh!"

 Saat ingin keluar dari ruangan Alfian tidak sengaja menabrak pintu. Tabrakannya terdengar keras, mungkin saat ini wajahnya membiru karena kesakitan.

  Kayla menatap malas ke arah Alfian, pria itu selalu saja ceroboh seperti biasa. Kalau tidak menggunakan baju detektif, orang-orang pasti akan mengira dia adalah anggota dari stand up comedy.

  "Sejak kapan pintu ini jadi pindah tempat!" Teriak Alvian.

 Wajahnya merah, rahangnya mengeras, ia terlihat seolah-olah tidak sedang berakting.

  "Sejak kau masih dalam kandungan!"

 Siapa saja pasti akan sakit kepala melihat tingkah Alfian. Sungguh kelakuannya diluar prediksi BMKG!

  Setelah kepergian Alfian, Kayla bernafas berat, pekerjaan ini memang berat tapi menghadapi seorang Alfian jauh lebih berat. "Tidak bisakah dia serius? Detektif tapi tidak ada wibawa sama sekali, kenapa tidak sekalian saja masuk acara komedi!"

  "Kay!"

  "Huh!"

  "Kayla!"

  "Jangan mengganggu, aku lagi sibuk baca isi map ini!" Tak ada ekspresi, wajahnya datar tapi serius.

  "Kay, aku tahu bagaimana cara mengatasi pelaku ini!" Ucap Alfian dengan sangat bersemangat.

  "Aku harap caramu dapat membantu." ucap Kayla dengan nada dingin sedingin salju.

  Alfian terdiam sejenak. Mulutnya diam, tapi matanya yang selalu kesana kemari seakan sedang mencari solusi. Tak beberapa lama, Alfian memegangi kepala seperti orang yang frustasi berat.

  "Ada apa? Plis Alfian, kau jangan bercanda disaat lagi kritis seperti ini! Kalau kau tidak serius aku akan melempar mu ke kandang buaya!" Wajahnya terlihat lesu. Bukan karena kekurangan gizi melainkan karena harus menghadapi manusia satu ini.

  "Nggak kejauhan? Kenapa tidak dilempar ke hatimu saja?" ucap Alfian dengan kedipan mata.

 Oh Tuhan!

 Kekesalan Kayla sudah berada di level tingkat tinggi, bahkan merdunya suara Billie Eilish tidak mampu meredamkan emosinya.

  "Kamu ya...," Kayla menjewer telinga Alfian dengan sangat keras, dari tadi dia susah payah menahan diri.

 "Baiklah!" ucap Alfian serius. Kini auranya terlihat seperti bos yang akan memberi arahan kepada bawahannya.

  "Anak-anak panti hilang di tanggal 2, 12, dan 23 tanggal ini memiliki kemiripan yang sama, yaitu sama-sama ada angka duanya. Kalau aku tidak salah menilai mungkin malam dia dia akan melakukan hal yang sama."Ucap Alfian serius tanpa candaan.

  Walaupun tingkahnya sedikit konyol, Kayla sangat mengidolakan temannya ini, mungkin kalau dia tidak satu tim dengan Alfian dia tidak akan mudah meraih gelar sebagai detektif tingkat tinggi.

  Malam ini Alfian dan Kayla bergegas ke panti, mereka mengajak beberapa pengurus panti untuk membantu mengawasi, dan menangkap pelakunya.

  Beberapa pengurus panti di tempatkan di beberapa sudut yang terlihat sunyi, sementara Kayla dan Alfian berjaga-jaga di rooftop. Mereka juga menggunakan walkie talkie untuk memudahkan komunikasi tanpa takut jaringan jelek. sementara anggota detektif lainya, mengawasi CCTV untuk mengetahui pelakunya.

  Setelah beberapa jam menunggu di tempat persembunyian, mereka akhirnya melihat ada beberapa orang membawa tas berisi daging dan beberapa senjata tajam. Para pengurus panti segera memberitahukan hal ini kepada Kayla.

Tanpa ragu Kayla dan Alfian mengarahkan senapan tepat di kaki mereka. Tujuannya agar pergerakan mereka menjadi lambat dan sangat mudah di tangkap.

Alfian dan Kayla saling menatap. Seuntai senyum menghiasi bibir. Mereka seolah-olah mengatakan, "Kita berhasil," tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

  "Mau lari kemana?"

Sekilas terdengar seperti kalimat yang biasa saja. Namun, aura Kayla sangat menyeramkan, seolah-olah dia adalah monster yang baru saja menemukan mangsanya.

Wajah mereka terlihat datar, tapi tidak dengan tubuh mereka. Mungkin dari luar orang akan mengira mereka tidak takut. Namun, kalau diperhatikan secara detail, mereka terlihat gugup layaknya orang yang sedang mengikuti audisi.

Salah satu dari mereka maju satu langkah ke depan.mungkin dia adalah ketua dari mereka." Kami datang kesini atas perintah dari Ibu Ratna. Dan maaf... Apa maksud kalian?"

Kayla sedikit tidak percaya. Namun, anggukan kepala dari beberapa pengurus panti seolah-olah membenarkan pernyataan pria tersebut.

  Kabar baik datang dari tim Kayla yang berada di ruang CCTV. Akhirnya, mereka menemukan rekaman CCTV yang sempat hilang. Kayla, Alfian, beberapa pengurus dan Ketua Panti bergegas ke sana.

Ketua Panti berjalan mendahului mereka. Ia terlihat sangat buru-buru, jalannya dua kali lebih cepat dari mereka semua. Wajahnya tak mampu menyembunyikan perasaan khawatir, terlihat dari kerutan halus yang muncul di dahi.

Tinggal satu langkah lagi Joy dan Jenny bisa memulihkan rekaman yang sengaja dihapus. Namun mereka dihentikan oleh Ketua Panti. Dan langsung mengklaim bahwa mereka salah paham.

Salah paham? Kayla, Jenny, Joy, dan Alfian saling menatap satu sama lain secara bergantian, seolah pikiran mereka sama.

Ratna sang Ketua Panti, menarik nafas pelan." Mereka yang dinyatakan hilang itu sedang pergi berlibur bersama adikku, Naya."

 "Ha? Berlibur? "

Alasan yang diberikan Ketua Panti sangat tidak masuk akal, bahkan seorang anak kecil saja tahu kalau ia sedang melakukan kebohongan.

Kayla, Jenny, dan Alfian tersenyum kecil. Mereka seolah-olah sedang menertawakan Ketua Panti karena alasan yang diberikan sangat tidak logis. Sedangkan Joy hanya memandangi mereka tanpa ekspresi.

  "Tolong jangan mempersulit kami Bu, kami disini juga berniat menolong." Ucap Kayla.

  "Pergi! Kalian tidak mengerti bahasa manusia? Kalau aku bilang salah paham ya itu memang salah paham, pergilah sebelum aku berlaku kasar kepada kalian!" Ucap Ketua Panti dengan nada tinggi penuh ancaman.

Mereka berempat memilih pergi terlebih dahulu. Mereka berencana kembali dengan strategi yang sudah matang. Melalui kejadian tadi, mereka sudah mendapatkan gambaran yang jelas tentang arah penyelidikan.

  (Ruangan Diskusi)

  Kayla, Alfian, jeni, dan Joy berada di ruang diskusi. Mereka membahas kejanggalan yang berada di Panti Asuhan itu, terutama tentang Ketua Panti yang tidak memberikan izin untuk memeriksa CCTV.

  Jenny memberikan sepucuk surat kepada Kayla, "Surat ini diberikan oleh salah satu pengurus Panti, dia memberikannya secara diam-diam."

  Kayla membaca surat yang diberikan oleh pengurus panti, matanya membulat sempurna saat mengetahui isi dari surat yang diberikan Jenny. "firasatku memang tidak salah, Ketua Panti ini memang mencurigakan."

"Mungkin saja mereka adalah pelaku dari hilangnya anak-anak Panti." Tebak Alfian.

 "Lalu kenapa dia menyuruh kami melakukan penyelidikan? padahal itu adalah ulahnya sendiri? kan aneh? apa kalian ada pendapat?" tanya Kayla, ia juga ingin mendengar sudut pandang dari teman-temannya

  "Sepertinya selain dia ada orang lain yang melakukannya, dia memanfaatkan hal itu untuk lepas dari tanggung jawabnya.Tapi kita malah mendapatkan bukti yang mengarah kepadanya."

Alfian terdiam sejenak, ia kembali bertanya, tatapannya tajam, seolah ingin memangsa orang.

"Apa kau tidak merasa aneh dengan anak-anak panti? kenapa mereka terjaga di jam segitu? harusnya mereka tidur bukan? tubuh mereka juga terlihat sangat kurus!"

  Kayla teringat dengan anak-anak panti yang masih terbangun di jam 1 malam. Padahal itu adalah jam tidur, mereka juga terlihat seperti sudah biasa, seolah-olah itu bukan pertama kalinya"Mungkinkah mereka takut sejak hilangnya anak-anak panti?"

  Alfian menggelengkan kepala, "Coba pahami lagi isi suratnya! di dalamnya tertulis dari dulu mereka memang selalu seperti itu, artinya terjaga di malam hari bukan terjadi tadi malam saja melainkan sering terjadi."

  "Masuk akal! Mungkin saat ini yang harus kita lakukan adalah menyelidiki orang-orang Panti, terutama ketua panti itu." Jenny menyetujui pernyataan Alfian.

  Kayla hanya manggut-manggut.Sebagai seorang detektif Kayla memang sangat sulit memecahkan teka-teki ini. Walaupun begitu dia lah orang yang sangat bersemangat untuk memecahkan teka-teki di balik penculikan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!