Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Di sebuah kamar mewah yang luas di kediaman keluarga besar Alana, suasana justru terasa lebih menyesakkan daripada paviliun sempit di rumah Kinanti.
Alana duduk di tepi ranjang king-size miliknya, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sembab, kulitnya pucat, dan daster sutra yang dikenakannya seolah kehilangan kilau.
Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Mama Alana, seorang sosialita yang selalu menjunjung tinggi gengsi, masuk dengan wajah merah padam. Di tangannya ada secangkir teh herbal yang ia letakkan kasar di atas nakas.
"Sampai kapan kamu mau menangis seperti orang bodoh, Alana?" suara Mamanya melengking, menusuk telinga. "Papa sudah bicara dengan pengacara. Dia bilang semua aset Arkan, semua saham di perusahaan, bahkan rumah yang kamu tempati kemarin itu atas nama Kinanti. Kamu gila? Bagaimana bisa kamu membiarkan dirimu hamil oleh pria yang secara hukum adalah gelandangan?"
"Mama, Arkan itu Direktur Utama! Dia yang membangun perusahaan itu!" bela Alana dengan suara parau.
"Direktur Utama yang tidak punya kuasa tanda tangan finansial itu namanya pajangan, Alana!" Mamanya berdiri di depan Alana, berkacak pinggang. "Mama tidak mau tahu. Kamu harus paksa Arkan untuk mengambil kembali haknya. Gunakan bayimu! Katakan pada Arkan bahwa anak ini butuh jaminan masa depan. Jika Arkan tidak bisa memberikan gedung atau setidaknya beberapa persen saham atas namamu, Papa akan benar-benar mengusirmu dan mencoret namamu dari warisan keluarga kita. Kami tidak mau menanggung aib anak yang tidak punya masa depan jelas!"
Alana meremas bantal di pangkuannya. "Arkan tidak bisa dihubungi, Ma. Ponselnya mati. Dia di pesisir..."
"Maka datangi dia! Atau datangi Kinanti! Mengemis padanya jika perlu, tapi jangan pulang dengan tangan kosong!"
Setelah Mamanya keluar, Alana mencoba menelepon Arkan untuk yang keseratus kalinya. Tetap sama.
'Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.'
Rasa frustrasi membakar dada Alana. Ia merasa seperti bidak catur yang dibuang oleh Arkan dan dijadikan bulan-bulanan oleh Kinanti. Ia meraih ponselnya dan, dengan tangan gemetar, memberanikan diri menelepon Kinanti.
~~
Di kantor pusat, aku sedang meninjau laporan progres dari pesisir. Arkan benar-benar bekerja secara luar biasa di sana. Tanpa gangguan Alana, tanpa perdebatan rumah tangga, sisi jeniusnya sebagai arsitek kembali muncul. Laporan penghematan yang ia kirimkan sangat mengesankan.
Ponsel kantorku bergetar. Nama Alana muncul. Aku menyunggingkan senyum tipis sebelum mengangkatnya.
"Ya, Alana? Ada keluhan apa lagi hari ini?" tanyaku, nada suaraku seringan kapas.
"Kinanti... aku mohon," suara Alana terdengar hancur di seberang sana. "Mama dan Papa menekan aku. Mereka bilang kalau Arkan tidak memberikan salah satu asetnya atas namaku, aku akan diusir. Tolonglah, Kin. Setidaknya berikan satu apartemen atau sedikit saham untuk anak ini. Kamu juga perempuan, Kin..."
"Oh, sekarang kamu menggunakan kartu 'sesama perempuan'?" aku tertawa pelan, sebuah tawa yang dingin. "Dulu, saat kamu tidur dengan suamiku, apa kamu ingat kamu itu perempuan? Apa kamu ingat aku itu sahabatmu? Alana, kamu berada di posisi ini karena keserakahanmu sendiri. Kamu pikir dengan mengambil Arkan, kamu otomatis mengambil hartanya."
"Aku akan melakukan apa pun, Kin! Apa pun ! Tapi tolong jangan buat aku sebagai istri miskin di depan orang tuaku sendiri !"
"Kamu memang miskin, Alana. Secara mental dan secara hukum. Dan soal Arkan... jangan mencarinya. Dia sedang fokus bekerja untukku. Dia sudah menemukan kedamaiannya di sana, jauh dari keributanmu."
Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya. Aku merasa sangat berkuasa. Alana yang dulu selalu memamerkan tas-tas branded pemberian Ayahnya, kini harus mengemis hanya untuk satu unit apartemen.
Sementara itu, di pesisir, Arkan sedang berdiri di atas struktur baja yang setengah jadi. Angin laut yang asin menerpa wajahnya yang kini lebih gelap. Ia baru saja mematikan ponselnya setelah melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Alana.
Ia merasa lega. Aneh memang, tapi berada di tengah debu konstruksi dan kebisingan mesin justru membuatnya merasa lebih hidup daripada berada di dalam rumah yang penuh intrik.
"Pak Arkan, ada revisi dari pusat. Ibu Kinanti sudah menyetujui anggaran tambahan untuk penguatan fondasi, tapi syaratnya Pak Arkan harus mengawasi penuangan betonnya sendiri malam ini," lapor seorang mandor.
Arkan mengangguk mantap. "Siapkan timnya. Saya tidak akan beranjak dari sini sampai betonnya kering."
Dalam hati, Arkan merasa berterima kasih pada penugasan ini. Kinanti memberinya pekerjaan yang sangat berat, tapi pekerjaan inilah yang menyelamatkan mentalnya dari kegilaan Alana. Ia mulai sadar bahwa selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh Alana.
Sedangkan Kinanti? Kinanti adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli pada kualitas pekerjaannya, meski sekarang perhatian itu dibungkus dengan hukuman yang kejam.
Setiap malam di barak yang sederhana, Arkan menatap foto di ponselnya, bukan foto Alana, melainkan foto pernikahan lamanya dengan Kinanti.
Penyesalan itu datang seperti ombak, perlahan tapi pasti menenggelamkannya. Ia telah membuang wanita yang membangun fondasi hidupnya demi wanita yang hanya ingin menikmati hasilnya.
Dua minggu kemudian, tekanan di rumah orang tua Alana memuncak. Alana dikurung di kamar tanpa akses kartu kredit. Mamanya bahkan menyita semua perhiasan pemberian Arkan dengan alasan sebagai jaminan.
Alana yang tidak tahan lagi akhirnya nekat pergi ke kantor pusat. Ia menerobos masuk, mengabaikan resepsionis yang mencoba menghalanginya. Dengan langkah tertatih dan perut yang semakin berat, ia sampai di depan ruanganku.
Aku sedang bersama beberapa klien penting saat pintu terbuka kasar. Alana berdiri di sana, tampak sangat menyedihkan. Rambutnya tidak tertata, dan wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Kinanti! Berikan aku hak Arkan sekarang juga!" teriaknya histeris di depan para klienku.
Aku tetap tenang. Aku menoleh pada klien-klienku dan tersenyum maaf. "Mohon maaf, Bapak dan Ibu. Ini adalah salah satu mantan karyawan yang sedang mengalami... masalah pribadi. Sekretaris saya akan mengantar Anda ke ruang lounge sebentar."
Setelah ruangan kosong, aku berdiri dan menghampiri Alana. Aku tidak marah. Aku justru menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam.
"Lihat dirimu, Alana. Putri konglomerat yang dulu sangat angkuh, sekarang mengemis di kantorku seperti ini. Di mana harga dirimu?"
"Aku tidak butuh harga diri! Aku butuh uang! Mama pasti akan mengusirku jika aku tidak membawa bukti kepemilikan aset!" Alana merosot ke lantai, memegangi kakiku. "Aku mohon, Kin. Satu saja. Satu rumah saja atas namaku."
Aku menarik kakiku pelan. "Arkan sudah menandatangani surat pengalihan jaminan finansial anak itu kepadaku, Alana. Jika anak itu lahir, aku yang akan membiayai sekolahnya, kesehatannya, hidupnya, tapi sebagai anak asuh perusahaan. Bukan sebagai anakmu. Kamu tidak akan memegang satu rupiah pun."
Alana terbelalak. "Apa? Arkan setuju?"
"Tentu saja. Dia lebih memilih perusahaannya selamat daripada menyelamatkan egomu di depan orang tuamu. Dia tahu, jika dia membantumu, aku akan menghancurkan kariernya selamanya. Dan Arkan ternyata lebih mencintai pekerjaannya daripada mencintaimu."
Kebohongan kecilku (karena Arkan sebenarnya belum menandatangani itu, tapi dia juga tidak menolaknya karena ponselnya mati) menjadi paku terakhir di peti mati harapan Alana.
"Dia... dia membuangku?" bisik Alana hancur.
"Dia hanya sedang belajar tentang prioritas, Lan. Seperti yang kamu lakukan dulu saat memilih untuk mengkhianatiku."
~~
Jauh di pesisir, Arkan baru saja menyalakan ponselnya untuk mengirim laporan mingguan padaku. Begitu sinyal masuk, ratusan notifikasi dari Alana membanjiri layarnya. Pesan suara penuh makian, tangisan, dan ancaman bunuh diri.
Arkan mendengarkan satu pesan suara terakhir yang dikirim Alana satu jam lalu.
"Mas, aku benci kamu. Kamu membiarkan Kinanti menghancurkan aku. Jangan pernah cari aku lagi."
Arkan terdiam. Tidak ada air mata. Tidak ada kepanikan. Hanya ada rasa lelah yang luar biasa. Ia mematikan ponselnya kembali.
"Maaf, Alana. Aku sendiri sedang berjuang untuk bernapas di bawah kendali Kinanti," gumamnya pelan.
Arkan kembali ke meja gambarnya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk ia bisa pulang suatu hari nanti adalah dengan tetap menjadi pelayan yang patuh bagi perusahaanku.
Ia telah kehilangan istrinya, ia telah kehilangan selingkuhannya, dan kini ia hanya punya pekerjaannya yang juga sebenarnya sudah menjadi milikku.
Aku berdiri di kantorku yang berada di lantai atas gedung pencakar langit, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Aku tahu Alana sedang menderita di sana, dan Arkan sedang bekerja keras dalam kesepian.
Roda itu sudah berhenti berputar karena tujuannya sudah tercapai. Kini, mereka berdua hanyalah bidak-bidak yang hancur dalam permainan yang aku menangkan mutlak.
Drama ini mungkin akan segera memasuki babak akhir, tapi bagiku, ini adalah awal dari kehidupan baruku sebagai wanita yang tidak lagi bisa disakiti oleh siapa pun. Karena di tanganku, harta dan harga diri adalah senjata yang paling mematikan.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.