Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
***
Fajar di Aethelgard menyingsing dengan warna perak yang dingin, seolah-olah langit pun enggan memberikan kehangatan pada perjamuan agung para penguasa hari ini. Cahaya matahari yang pucat menembus celah jendela kamar tamu agung, menyinari noda-noda dosa di atas sprei sutra yang kini berantakan.
Lilianne terbangun dengan napas yang tertahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa nyeri yang menusuk di perut bawahnya—sebuah peringatan tajam dari rahimnya yang kelelahan akibat keganasan Arthur semalam. Ia mencoba bangkit, namun kram yang hebat membuatnya kembali jatuh terduduk di tepi ranjang.
"Ugh..." rintih Lilianne pelan, tangannya mencengkeram perutnya yang menonjol. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia tahu ini berbahaya, namun ia juga tahu bahwa di istana ini, tidak ada ruang untuk kelemahan.
Arthur, yang sudah berdiri di depan cermin besar sambil mengenakan jubah kebesarannya, menoleh. Matanya yang biru gelap tampak segar, sangat kontras dengan wajah Lilianne yang sepucat salju.
"Pakai pakaianmu, Lili," suara Arthur dingin dan mutlak. "Para pelayan akan masuk sebentar lagi untuk meriasmu. Hari ini adalah puncak acaranya. Seluruh mata penguasa benua ini akan tertuju pada kita. Jangan biarkan satu pun dari mereka melihat rasa sakitmu."
Lilianne menatap suaminya dengan tatapan nanar. "Yang Mulia... perut saya... ini sangat sakit. Bisakah saya meminta tabib sebelum kita turun?"
Arthur melangkah mendekat, bayangannya menelan sosok Lilianne. Ia membungkuk, mencengkeram rahang istrinya dengan lembut namun penuh penekanan. "Tidak ada tabib asing yang boleh menyentuhmu. Jika kau terlihat sakit, Julian akan menggunakan itu untuk mengklaim bahwa Valerieth sedang tidak stabil. Tahanlah. Anggap saja ini adalah harga yang harus kau bayar untuk keselamatan pelayanmu di penjara bawah tanah."
Lilianne memejamkan mata, menelan kepahitan yang menyumbat tenggorokannya. "Baik... Yang Mulia."
**
Beberapa jam kemudian, Lilianne telah berubah menjadi sosok yang luar biasa agung. Ia mengenakan gaun kebesaran berwarna perak dengan sulaman benang emas yang membentuk motif naga dan mawar utara. Rambut peraknya disanggul rapi ke atas, dihiasi mahkota safir yang berkilauan indah.
Di sampingnya, Arthur tampak sangat dominan dengan seragam militer putih perak, pedang kencana tergantung di pinggangnya. Mereka berjalan beriringan menuju aula utama, tangan Lilianne melingkar di lengan Arthur—sebuah pemandangan yang terlihat sangat serasi dan penuh kasih bagi mata yang tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu terkunci.
Begitu pintu aula terbuka, ratusan pasang mata tertuju pada mereka. Delegasi dari kerajaan-kerajaan tetangga, pangeran, putri, serta raja dan ratu tertegun melihat keagungan pasangan dari Valerieth itu.
"Yang Mulia Putra Mahkota Arthur, Putri Mahkota Lilianne, selamat datang," sapa Raja Aethelgard dengan senyum formal.
"Terima kasih atas keramahannya, yang mulia Severan," sahut Arthur dengan suara bariton yang stabil.
Mereka mulai bergerak di antara para tamu. Lilianne tersenyum dengan sangat natural, menyapa para diploma dan bangsawan dengan etiket yang sempurna. Tak seorang pun menyadari bahwa di bawah gaun mewahnya, kaki Lilianne gemetar hebat dan setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menginjak bara api.
"Putri Lilianne, Anda tampak sangat bersinar. Kehamilan benar-benar membuat Anda semakin mempesona," ujar Ratu dari kerajaan Selatan sambil memegang tangan Lilianne.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Buah hati ini adalah berkat yang kami syukuri setiap hari," jawab Lilianne dengan suara yang manis dan tenang, meski rahimnya terasa kencang dan nyeri kembali menyerang.
Arthur yang berdiri di sampingnya sesekali melingkarkan tangan di pinggang Lilianne, secara fisik terlihat protektif, namun bagi Lilianne, itu adalah pegangan yang memaksa agar ia tetap berdiri tegak.
**
Setelah beberapa jam terjebak dalam basa-basi diplomatik yang memuakkan, Arthur ditarik oleh sekelompok raja dan pangeran termasuk Julian yang terus mengawasi dengan tatapan menyelidik—menuju sudut aula untuk membicarakan urusan militer dan wilayah perbatasan.
Lilianne kini berada di antara para putri dan ratu bangsawan. Suara tawa mereka dan aroma parfum yang menyengat mulai membuatnya mual. Rasa nyeri di perut bawahnya kian tak tertahankan, seolah-olah bayi di dalamnya sedang berusaha memberitahunya sesuatu melalui rasa sakit.
"Maafkan saya, para Lady yang terhormat," ujar Lilianne lembut, memotong pembicaraan seorang putri tentang tren mode terbaru. "Udara di sini mulai terasa sedikit pengap bagi saya. Saya ingin menghirup udara segar sebentar di balkon luar."
"Oh, tentu saja, Putri. Kondisi Anda memang perlu perhatian khusus," sahut mereka ramah.
Lilianne melangkah keluar dengan anggun, menjaga ritme jalannya agar tetap terlihat berwibawa sampai ia berhasil melewati pintu ganda menuju teras istana yang sepi. Begitu udara dingin malam menghantam wajahnya, Lilianne segera bersandar pada pilar marmer.
"Hah... hah..." napasnya tersengal. Ia melepaskan topeng senyumnya, wajahnya seketika berubah kaku menahan nyeri.
Ia membelai perutnya yang menonjol.
"Maafkan Ibu... maafkan Ibu, Nak. Kita harus bertahan sedikit lagi... hanya sebentar lagi..."
Di tengah kesendirian itu, Lilianne menatap ke arah langit malam yang gelap. Ia merasa sangat jauh dari rumah, jauh dari ayahnya, dan terjebak dalam sangkar emas yang berpindah-pindah. Pikirannya melayang pada rencana-rencana pelarian yang ia susun di istana timur.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Lilianne segera menegakkan tubuh, mencoba mengembalikan ekspresi tenang di wajahnya. Namun, orang yang muncul bukanlah Arthur, melainkan sosok yang membuat jantungnya mencelos.
Bukan Julian yang berdiri di sana, melainkan seorang wanita dengan keanggunan yang mengintimidasi. Jubahnya yang terbuat dari beludru ungu tua menyapu lantai marmer, dan mahkota kecil di kepalanya berkilauan tertimpa cahaya bulan.
"Menyelinap keluar di tengah pesta kejayaan suamimu? Itu bukan tindakan yang dilakukan istri yang bahagia, Putri Lilianne."
Itu adalah Ratu Isolde, ibu dari Pangeran Julian sekaligus penguasa wanita Aethelgard yang terkenal dengan ketajaman instingnya. Ia berdiri memegang sebuah kipas bulu, menatap Lilianne dengan mata yang seolah bisa menembus lapisan pelindung terdalam gadis itu.
"Yang Mulia Ratu," sapa Lilianne sambil membungkuk hormat, mencoba menekan rasa nyeri di perutnya yang tiba-tiba berdenyut kencang. "Saya hanya butuh sedikit udara untuk bayi saya. Aula itu... sedikit terlalu sesak bagi saya."
Ratu Isolde melangkah mendekat, aroma parfum cendana yang berat menguar darinya. Ia tidak tersenyum licik seperti putranya; tatapannya lebih seperti seorang predator yang sedang mengamati luka pada mangsanya.
"Udara di teras ini terlalu tajam untuk wanita yang sedang mengandung tujuh bulan, Lilianne," ujar Ratu Isolde dengan nada yang terdengar seperti perhatian, namun terasa seperti perintah. "Wajahmu sepucat salju di pegunungan, dan tanganmu gemetar. Aku mengenal raut wajah wanita yang sedang menanggung beban yang lebih berat dari sekadar bayi."
Lilianne tertegun. Ia merasa telanjang di bawah tatapan sang Ratu.
"Mari," Ratu Isolde mengulurkan tangannya yang mungil namun kuat. "Aku memiliki ruang istirahat pribadi di sayap barat, tidak jauh dari sini. Tempat itu hangat, tenang, dan tidak ada pangeran-pangeran mabuk yang akan mengganggumu dengan obrolan politik. Kau butuh duduk, sebelum kau pingsan di atas marmerku."
Lilianne bimbang. Pikirannya langsung melayang pada Arthur. Jika Arthur kembali ke aula dan tidak menemukannya, pria itu bisa menjadi gila dan menghancurkan pesta ini. Namun, rasa kram di rahimnya kini terasa seperti remasan tangan besi. Ia butuh berbaring.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia," bisik Lilianne akhirnya. Ia meletakkan tangannya di atas lengan Ratu Isolde.
Mereka berjalan menyusuri koridor sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk aula. Lilianne merasa heran. Ratu Isolde membawanya melewati jalur-jalur pelayan yang tersembunyi, menghindari kerumunan bangsawan. Ini bukan sekadar tindakan ramah-tamah ini adalah sesuatu yang terencana.
Begitu mereka memasuki sebuah ruangan kecil yang hangat dengan perapian yang menyala terang, Ratu Isolde segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Duduklah," perintah sang Ratu sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang empuk.
Lilianne menjatuhkan dirinya di sana dengan rintihan kecil yang tak lagi bisa ia tahan. Ia memegang perutnya, matanya terpejam saat rasa kencang itu perlahan mulai mereda karena posisi tubuh yang lebih santai.
"Minumlah ini. Ini air murni dengan sedikit sari daun raspberry untuk menenangkan rahimmu," Ratu Isolde menyodorkan sebuah cawan perak.
Lilianne menatap cawan itu dengan ragu. Apakah ini racun?
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang