NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 16 - MENUJU DESA

...Tidak ada lagi jarak yang tersisa......

......yang ada hanya lari menuju neraka yang mereka panggil desa. ...

...⚙⚙⚙...

Angin malam menderu kasar, membelah rimbunnya pepohonan dengan suara panjang. Di kejauhan, langit Brakenford bukan lagi hitam, melainkan merah membara oleh lidah api yang menari liar. Dentuman palu, raungan makhluk buas, dan pekik logam yang beradu menyatu menjadi simfoni kematian yang tidak kunjung berhenti. Tanah di bawah kaki mereka bergetar, merambatkan ketakutan yang nyata.

Arven terus memacu kakinya. Napasnya memburu panas, setiap langkahnya menghantam tanah lembap tanpa ragu sedikit pun. Matanya terkunci pada pendar desa yang kian jelas di antara celah-celah pinus tua.

"...kita terlambat," gumam Arven rendah, suaranya parau tertelan deru angin.

Di sampingnya, Liora melesat. Gerakannya ringan, nyaris tak menyentuh tanah, serupa bayangan pemangsa yang sedang mengejar buruan. Matanya membaca setiap pergerakan di gerbang desa.

"Belum," sahut Liora pendek. "Orang-orang itu masih berdiri."

Begitu mereka mencapai puncak bukit, bau karat, darah segar, dan asap menyengat indra penciuman mereka. Brakenford sedang sekarat. Gerbang desa telah berubah menjadi neraka terbuka. Cahaya api obor bergoyang liar, melempar bayangan raksasa monster ke dinding benteng yang retak. Bangkai-bangkai Nightclaw menggantung mengenaskan di atas pancang besi, namun gelombang hitam dari hutan tetap datang tanpa henti, menginjak kawan mereka sendiri untuk merangsek masuk.

Di pusat kekacauan itu, Garrick berdiri tegak. Ia menyerupai pilar batu yang menolak runtuh di tengah badai. Setiap ayunan palu raksasanya membelah udara, menghancurkan tulang-tulang Stonefang hingga remuk dan memaksa kawanan monster itu terpental mundur dengan dada yang ambles.

Liora berhenti sepersekian detik. Pupil matanya melebar melihat sang ayah bertarung di tengah kepungan monster.

"...Ayah."

Tanpa ragu sedikit pun, ia melesat turun menuruni lereng curam.

"Woy, Liora! Jangan lari sendirian!" maki Arven.

Terlambat. Liora sudah meluncur turun dengan kecepatan penuh. Mekanisme Valkyra bergeser cepat di tangannya.

Arven bersiap menyusul, namun langkahnya tertahan sejenak. Matanya terangkat ke arah hutan utara yang pekat. Kegelapan di sana terasa lebih padat dan hidup. Pohon-pohon pinus raksasa tumbang satu per satu, patah seolah hanya ranting kering yang disapu oleh kekuatan masif. Sebuah siluet bergerak di balik kabut, pelan, berat, dan setiap pijakannya membuat getaran tanah terasa hingga ke ulu hati.

Arven mengencangkan rahangnya, mencengkeram Titan Wrench di tangannya hingga buku jarinya memutih. ".Baiklah..."

Ia pun meluncur turun, menerjang masuk ke dalam pertempuran di gerbang desa.

Api berkobar di mana-mana. Bau darah menusuk hidung. Jeritan kesakitan dan amarah bergema di udara malam.

Mereka menembus masuk ke pinggir desa. Pertempuran masih berkecamuk sengit. Monster terus berdatangan tanpa henti bagaikan air bah.

Manusia masih bertahan menggenggam nyawa dan senjata. Namun garis pertahanan itu mulai menipis dan rapuh, siap jebol kapan saja.

"Lihat gerbangnya..." Arven menyipitkan mata menatap jauh ke depan.

"Sudah bocor parah," jawab Liora singkat dan dingin.

Tepat di hadapan mereka, seorang penjaga terpental keras oleh hantaman cakar. Ia jatuh terguling di tanah berlumpur. Seekor Nightclaw langsung melompat di atas tubuhnya, siap mencabik nyawa. Cakar tajam itu siap menyobek apapun di hadapannya.

"AWAS!" Arven melesat masuk, menghantam sisi tubuh monster itu dengan bahu dan senjatanya sekuat tenaga.

CRAAASH...

Tubuh makhluk itu langsung terlempar jauh ke samping, menabrak tumpukan kayu bakar hingga berantakan.

TWANG...

Sebuah panah melesat cepat, menembus tepat leher monster itu sebelum ia sempat bangkit kembali. Makhluk itu menggelepar sejenak lalu mati kaku.

Arven berdiri tegak. Ia melirik cepat ke atas.

Liora sudah berdiri kokoh di atas batu granit besar. Tubuhnya tenang bagaikan patung. Tarikannya presisi, mematikan.

TWANG...

Tembakan kedua lepas. Monster lain yang mencoba menyelinap jatuh tersungkur dengan panah menancap di mata.

Sunyi menyelimuti area itu hanya dalam sepersekian detik. Semua mata, baik rekan maupun lawan, beralih menatap kedatangan mereka berdua.

Liora mencondongkan tubuh sedikit dari atas batu, suaranya lantang memecah keheningan. "Maaf kami terlambat!"

Di sisi kiri medan pertempuran, Bram mencabut tombaknya dari tubuh monster dengan satu hentakan kasar. Darah hitam pekat menyembur membasahi tanah dan baju zirahnya. Ia berbalik badan cepat, tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya menangkap jelas dua sosok yang menerobos masuk dari arah jalan utama, Arven dan Liora.

Alis Bram langsung terangkat tinggi, keningnya berkerut bingung. "...hah?"

Seekor Nightclaw di depannya belum mati sepenuhnya, tubuhnya masih bergerak-gerak sekarat. Tanpa pikir panjang, Bram melangkah maju, ujung tombaknya menghantam keras kepala monster itu hingga tengkoraknya remuk dan diam total tak bergerak.

Baru setelah itu ia menghembuskan napas kasar, menatap lagi ke arah mereka berdua.

Liora baru saja menjatuhkan satu monster lagi dengan tembakan panah yang sangat presisi.

Bram tertawa pendek, setengah tidak percaya.

"Oi!" teriaknya menembus hiruk-pikuk suara benturan di sekitar. "Kalian nyasar atau emang ingin mati di sini?!"

Liora melirik sekilas sambil tangan kanannya sigap menarik panah berikutnya ke busur. "Tenang aja, Bram," jawabnya ringan. "Aku cuma bersihin mainanmu."

TWANG...

Tembakan dilepas, satu lagi monster jatuh tersungkur.

Bram menyeringai lebar. "Hahaha... baru datang udah sok pahlawan."

"Kalau kalian lebih cepat," kata Liora pendek sambil mengangkat senjatanya siap menembak lagi, "...aku juga tidak perlu repot-repot turun tangan."

Bram mendengus kasar. "Mulutmu masih sama aja ya." Ia memutar gagang tombaknya dengan lincah. "Bagus. Berarti kalian masih hidup."

Di atas menara, Rogan sedang menarik tuas pengisi panah pada turret, tiba-tiba gerakannya terhenti. Matanya turun memandang ke bawah. Ia tertawa pendek, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. "Gila..." gumamnya pelan.

Penjaga di sampingnya bingung. "Apa..."

"Anak bengkel sama anak kepala desa," potong Rogan santai, "akhirnya turun juga."

Di bawah sana, Liora menembak lagi. Satu tembakan bersih dan mematikan.

Rogan menggeleng pelan sambil menyeringai sinis. "Telat." Ia kembali mengunci posisi turret. "Aku kira kalian sudah terkubur di dalam tambang dari tadi."

Arven mendengarnya, tapi tidak menoleh sedikit pun. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami?" balasnya dengan nada datar.

Rogan tertawa kecil. "Dasar bocah tambang." Ia menarik tuas dengan kuat.

THACK... THACK... THACK...

Turret kembali mengaum memekakkan telinga.

Hujan panah kembali menghujani medan perang.

"Baiklah," lanjutnya santai namun tegas, "jangan mati dulu, karena sesuatu yang besar masih belum bergerak."

Di bawah, Liora melompat turun dari atas batu granit. Mendarat ringan dan mantap tepat di samping Bram. "Kau masih kuat, Kapten?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek.

Bram mendengus. "Aku masih bisa bertarung sambil menggendong kalian berdua kalau perlu."

Arven langsung menyahut cepat tanpa menoleh dari posisi siaganya. "Jangan dulu. Kita belum sekarat."

Bram tertawa kasar dan puas. "Bagus." Ia mengangkat tombaknya. "Kalau gitu, kita bantai mereka!"

Liora sudah menarik panah lagi siap melepaskan tembakan. Arven melangkah maju satu langkah tegas. Dan tepat di hadapan mereka, gelombang monster berikutnya sudah datang.

Di garis depan pertempuran, Garrick masih terus bergerak tanpa henti. Seekor Stonefang Ravager menerjang keras dari depan, raungannya menggelegar mengguncang udara. Cakar batu yang besar diangkat, siap menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya.

Garrick tidak mundur selangkah pun. Alih-alih menghindar, ia justru melangkah maju masuk ke dalam jangkauan serangan. Palu raksasanya berputar rendah di samping tubuhnya. Dengan tenaga penuh, ia mengayunkan palunya secara horizontal, menghantam telak tepat di sisi wajah monster itu.

CRAAACK...

Suara tulang dan batu yang pecah terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Kepala batu itu terpelintir paksa ke samping, retakan merah menyala terang menjalar di sekujur tengkoraknya sebelum akhirnya tubuh raksasa itu terpental jauh ke belakang, menghantam tanah dengan keras dan berguling beberapa meter sebelum akhirnya diam total tak bergerak.

Debu tebal dan serpihan batu berhamburan ke segala arah di sekitar Garrick. Ia tidak langsung berhenti atau berdiri tegak. Tubuhnya masih dalam posisi setengah berputar, napasnya berat dan terengah-engah, palu besar masih terangkat siap di tangannya.

Lalu ia perlahan menoleh. Matanya menangkap gerakan di kejauhan. Gerakan yang sangat familiar. Sosok yang seharusnya tidak berada di tempat berbahaya seperti ini. Pupil matanya membesar seketika.

"...Liora?" Suara itu berat penuh keterkejutan.

Dari kejauhan, Liora menyeringai kecil sambil tetap waspada. "Kalau Ayah mulai tanpa aku..." katanya santai, tangan kanannya sigap menarik panah berikutnya ke busur, "...itu curang namanya."

Garrick terdiam hanya dalam sepersekian detik. Senyum kasar dan lebar muncul di wajahnya yang penuh debu dan darah. "HAHAH...!" Ia memutar gagang palunya dengan cepat. "Kalau begitu, jangan ketinggalan!"

Di samping mereka, Arven melangkah maju mengambil posisi. Matanya tajam mengunci gelombang monster yang datang berikutnya.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Raihan
bagus cerita kak


bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
Alia Chans
lanjut👈
Almeera
hadir kak 🌹🌹
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!