NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Hujan di London dan Akhir Sang Dalang

​London di malam hari selalu punya cara untuk terlihat muram sekaligus angkuh.

Rintik hujan yang jatuh di atas aspal jalanan Mayfair terasa seperti ribuan jarum dingin yang menusuk kulit.

Elena berdiri di balik jendela kaca lantai dua sebuah kafe tua yang sudah tutup, matanya terpaku pada sebuah townhouse bergaya Georgia di seberang jalan.

​"Mereka sudah di dalam," suara Reza terdengar dari earpiece Elena. Reza sedang berada di dalam van hitam yang terparkir dua blok dari sana.

"Julian baru saja mengonfirmasi bahwa Arthur Stirling dan sisa Dewan Obsidian yang kabur dari Singapura mendarat di Heathrow satu jam lalu. Mereka pikir London adalah tempat persembunyian yang aman."

​Elena menyesap kopi dinginnya. "Mereka pikir mereka punya rumah di sini. Mereka lupa kalau aku sudah membeli bank yang membiayai hipotek rumah itu kemarin sore."

​Elena tidak menunggu bantuan tim taktis. Ia ingin melakukan ini sendiri.

Mengenakan trench coat hitam panjang yang menyembunyikan rompi antipeluru dan sepasang pistol glock yang sudah diredam, ia menyeberangi jalan dengan langkah tenang.

​Paman Han sudah meretas sistem keamanan townhouse tersebut dari jarak jauh.

Klik.

Pintu samping terbuka perlahan.

​"Nona, hati-hati. Sensor panas menunjukkan ada setidaknya delapan penjaga di lantai dasar," peringatan Paman Han bergema di telinganya.

​"Aku tidak datang untuk menembak mereka semua, Paman. Aku datang untuk mematikan lampunya," balas Elena.

​Ia menyelinap masuk ke ruang bawah tanah, menemukan kotak sekring utama, dan—bzzzt—seluruh gedung seketika gelap gulita.

Dalam kegelapan total, Elena menggunakan kacamata night vision.

Baginya, ruangan itu kini berwarna hijau neon yang jernih, sementara para penjaga di atas mulai panik, menabrak furnitur dan saling berteriak dalam bahasa Inggris yang kacau.

​Elena bergerak seperti bayangan.

Satu per satu penjaga tumbang tanpa suara—hanya suara pukulan tumpul dan tubuh yang merosot ke lantai.

Ia tidak membunuh mereka; ia hanya memastikan mereka tidak akan bangun sampai besok pagi.

​Di lantai paling atas, di sebuah perpustakaan yang dindingnya dipenuhi buku-buku kuno, Arthur Stirling duduk di balik meja mahoninya.

Ia memegang lilin, tangannya sedikit gemetar.

Di depannya, sebuah laptop dengan baterai yang hampir habis menunjukkan angka-angka kerugian yang tidak masuk akal.

​Kriet.

​Pintu terbuka. Arthur mendongak, mencoba melihat menembus kegelapan.

"Siapa itu? Lukas? Kau sudah kembali?"

​"Lukas sudah lama membusuk, Arthur. Dan kau menyusul sebentar lagi," suara Elena terdengar begitu dekat.

​Elena melangkah masuk ke lingkaran cahaya lilin.

Wajahnya yang cantik terlihat sangat mengerikan di bawah bayang-bayang api yang menari.

​"Elena Adiguna," Arthur mendesah, menyandarkan tubuhnya yang ringkih ke kursi.

"Kau benar-benar tidak bisa membiarkan orang tua ini mati dengan tenang, ya?"

​"Kau tidak pantas mati dengan tenang setelah apa yang kau lakukan pada ibuku, pada hidupku, dan pada ribuan orang yang kau hancurkan demi angka di layar itu," Elena meletakkan sebuah map hitam di atas meja.

"Tanda tangani ini."

​Arthur mengernyit. "Apa ini? Surat penyerahan aset lagi?"

​"Bukan. Ini adalah pengakuan dosa. Semua daftar proyek eksperimen manusia, pencucian uang, dan nama-nama pejabat yang kau suap.

Jika kau menandatanganinya, aku akan memastikan kau mendapatkan sel penjara yang punya jendela.

Jika tidak... aku akan meninggalkanmu di sini bersama gas yang sudah mulai bocor di ruang bawah tanah."

​Arthur tertawa, tawa kering yang terdengar seperti batuk.

"Kau pikir aku takut mati? Aku sudah hidup terlalu lama, Elena."

​"Mungkin kau tidak takut mati. Tapi bagaimana dengan cucumu di Swiss?" Elena mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola.

"Dia manis sekali. Sayang kalau dia harus tahu bahwa kakeknya adalah monster paling menjijikkan di abad ini."

​Wajah Arthur seketika berubah. Amarah dan ketakutan berperang di matanya. "Jangan kau berani menyentuhnya!"

​"Tergantung pada kecepatan tanganmu memegang pulpen itu, Arthur."

​Dengan tangan bergetar, Arthur menandatangani dokumen itu.

Elena mengambilnya, memindainya dengan ponsel, dan langsung mengirimkannya ke markas Interpol dan Julian di New York.

​"Sudah selesai," ujar Elena. "Sekarang, berdirilah. Kita pergi sebelum gedung ini benar-benar meledak."

​"Meledak?" Arthur bingung. "Kau bilang kau bohong soal gas itu!"

​"Aku bohong soal bocornya. Tapi aku tidak bohong soal aku yang memasang bomnya," Elena tersenyum miring.

​Namun, sebelum mereka bisa bergerak, pintu perpustakaan hancur berkeping-keping.

Seseorang masuk dengan menembakkan senapan mesin ke arah mereka.

Elena berguling di balik sofa besar, sementara Arthur tertembak di bahunya dan jatuh tersungkur.

​Pria yang masuk itu adalah Julian.

​Tapi bukan Julian si pelukis ramah yang Elena kenal.

Julian mengenakan setelan taktis penuh, matanya liar, dan senyumnya tidak lagi bersahabat.

​"Maaf, Elena. Aku tidak bisa membiarkan pengakuan itu tersebar tanpa namaku ada di daftar 'pahlawan'-nya," ujar Julian.

​"Julian? Apa yang kau lakukan?!" teriak Elena dari balik sofa.

​"Organisasi ini butuh pemimpin baru, Elena! Arthur sudah tua, dewan sudah hancur. Jika aku membunuhmu dan Arthur di sini, lalu muncul sebagai orang yang membongkar skandal ini, aku akan menjadi penguasa baru di dunia bawah. Aku akan menjadi 'The New Obsidian'."

​Elena terpaku. Pengkhianatan terdalam selalu datang dari orang yang paling kita percayai.

"Kau menggunakan aku, Julian? Sejak di Swiss?"

​"Kau adalah alat yang sempurna, Elena. Kau punya dendam, kau punya akses, dan kau punya wajah yang bisa mengalihkan perhatian semua orang," Julian melangkah mendekat, senjatanya terarah ke sofa.

"Tapi sekarang, kau sudah tidak berguna."

​DOR!

​Satu tembakan dilepaskan Julian, tapi Elena sudah tidak ada di sana.

Elena muncul dari samping, menerjang Julian dengan seluruh berat tubuhnya. Mereka bergulat di lantai, di antara buku-buku yang berserakan.

Elena berhasil merebut pisau komando dari sabuk Julian dan menyayatkan ke lengan pria itu.

​"Kau pikir aku tidak menyiapkan rencana untuk pengkhianatanmu?" Elena mendesis. "Reza! Sekarang!"

​Dari jendela yang pecah, sebuah tali peluncur melesat masuk. Reza Mahendra terbang masuk seperti elang, menendang Julian hingga terpental ke dinding.

​"Kau telat, Reza!" seru Elena sambil berdiri, menyeka darah di bibirnya.

​"Maaf, lalu lintas London benar-benar kacau malam ini," sahut Reza santai sambil menodongkan pistolnya ke arah Julian.

​Julian mencoba meraih senjatanya, tapi Paman Han—yang entah sejak kapan sudah berada di pintu—melepaskan tembakan peringatan tepat di depan jari Julian.

​"Sudah berakhir, Julian. Atau siapa pun namamu sebenarnya," ucap Elena.

Ia berjalan mendekati Julian, menatap pria itu dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki.

"Kau ingin menjadi pemimpin baru? Pemimpin tidak akan pernah menang jika dia membangun takhtanya di atas darah temannya sendiri."

​Elena tidak membunuh Julian. Ia hanya memukul tengkuk pria itu hingga pingsan.

​"Bawa mereka semua," perintah Elena pada tim Interpol yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam gedung.

"Pastikan dokumen itu sampai ke tangan jaksa penuntut dalam satu jam."

​Beberapa jam kemudian, Elena berdiri di tepi Jembatan Westminster.

Matahari mulai terbit, memberikan warna emas pada gedung Parlemen Inggris yang megah.

Reza berdiri di sampingnya, menawarkan mantelnya karena Elena tampak kedinginan.

​"Jadi, The Obsidian benar-benar runtuh hari ini?" tanya Reza.

​"Pusatnya sudah hancur. Sisa-sisanya akan dikejar hukum selama puluhan tahun ke depan," jawab Elena.

Ia menatap air sungai Thames yang mengalir tenang.

"Dan Julian... dia akan membusuk bersama Arthur."

​"Dan kau? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kembali ke Jakarta? Jadi Ratu lagi?"

​Elena terdiam lama.

Ia menyentuh wajahnya. Wajah yang dulu ia benci karena diberikan oleh musuhnya, kini terasa benar-benar miliknya.

Bukan karena operasinya, tapi karena semua hal yang telah ia lalui untuk mempertahankan hidupnya.

​"Aku akan menghilang sebentar, Reza. Aku ingin tahu siapa diriku jika aku tidak sedang membalas dendam."

​"Boleh aku ikut?" tanya Reza dengan nada setengah bercanda, namun matanya menunjukkan kesungguhan.

​Elena tersenyum—senyum yang benar-benar tulus, tanpa ada rencana di baliknya.

"Mungkin. Tapi kau harus belajar cara membuat kopi yang lebih enak dulu."

​Mereka berdua berjalan menjauh dari jembatan, menghilang di tengah kabut pagi London yang perlahan mulai memudar.

Perjalanan sang Nyonya yang Terbuang telah mencapai puncaknya.

Dari jurang kematian di Jakarta hingga puncak kekuasaan di London, ia telah membuktikan bahwa takdir tidak tertulis di bintang-bintang, melainkan di tangan mereka yang berani melawannya.

​Alana sudah lama mati.

Elena Adiguna kini adalah sejarah.

Dan di suatu tempat di dunia ini, seorang wanita baru saja memulai hidupnya yang sebenarnya.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!