Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan ungu dan jaring-jaring tak kasat mata
Gedung ballroom mewah itu telah disulap menjadi taman abadi. Ribuan bunga lavender dan mawar putih menghiasi setiap sudut, menciptakan aroma manis yang menenangkan. Para tamu dari kalangan elit Jakarta dan rekanan London sudah memenuhi ruangan.
Violet tampak seperti dewi dari negeri dongeng. Ia mengenakan gaun off-shoulder berwarna ungu pastel dengan ekor panjang yang berkilau. Di jarinya, cincin amethyst pemberian Arden berkilau, seolah-olah berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tak karuan.
"Tarik napas, Vi. Lo cantik banget, sumpah. Kalau gue cowok, gue udah tikung Arden dari lama," ucap Evara sambil merapikan veil kecil di rambut Violet. Evara sendiri tampak sangat menawan, meski matanya terus melirik ke arah pintu masuk, mencari sosok Danantya.
Pertahanan Sang CEO
Di ruang rias pria, Arden berdiri menatap cermin. Ia memakai tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang sangat rapi. Danantya masuk dengan langkah terburu-buru, membawa tablet di tangannya.
"Den, detektor logam di pintu depan mendeteksi sesuatu yang mencurigakan dari salah satu staf katering. Tapi orangnya menghilang di kerumunan," lapor Danantya rendah.
Arden mengeraskan rahangnya. "Tutup semua akses keluar masuk sekarang. Gunakan sistem pengenal wajah di CCTV. Violet tidak boleh tahu, aku ingin dia menikmati harinya."
"Siap. Oh, dan satu lagi... teman cegil Violet yang rambutnya pirang itu... dia terus-terusan mengirimiku pesan 'semangat kerjanya calon imam'. Bisakah kamu bilang pada Violet untuk menjinakkannya?" keluh Danantya dengan wajah frustrasi yang langka.
Arden hanya tersenyum tipis—senyum penuh kemenangan. "Nasibmu, Danan. Selamat menikmati duniamu yang baru."
Acara Dimulai: Drama di Lantai Dansa
Saat musik klasik mulai mengalun, Arden melangkah keluar dan menjemput Violet di tangga besar. Seluruh mata terpukau. Kaku dan Dinginnya Arden seolah mencair saat ia meraih tangan Violet dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lembut.
"Kamu cantik sekali, Violet. Lebih dari semua bunga di ruangan ini," bisik Arden, yang membuat pipi Violet merah merona.
Mereka mulai berdansa. Di tengah gerakan yang anggun, Violet berbisik, "Tuan Bos, kenapa tangan Tuan gemetar? Takut ya kalau aku tiba-tiba bilang 'enggak' pas ditanya?"
"Jangan bercanda, Violet. Aku sedang menahan diri untuk tidak membawamu lari dari sini sekarang juga," balas Arden dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Violet terdiam seribu bahasa.
Sabotase yang Gagal
Tiba-tiba, lampu lobi sedikit berkedip. Di sudut ruangan, seorang pria dengan seragam katering mencoba menyelinap menuju panel listrik utama. Namun, sebelum ia sempat menyentuh kabel apa pun, sebuah tangan kecil mencengkeram kerah bajunya.
"Mau ke mana, Mas? Prasmanannya sudah habis ya?"
Itu adalah Evara dan Avyanna, yang ternyata sudah "patroli" atas perintah Violet yang diam-diam tetap waspada. Di belakang mereka, Danantya muncul dengan tatapan mengintimidasi.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Danantya dingin. Ternyata itu adalah salah satu anak buah Arjuna yang dibayar untuk mematikan listrik saat momen tukar cincin agar terjadi kekacauan.
Kejutan di Tengah Pesta
Setelah situasi aman, acara puncak pun dimulai. Tuan Bayu dan Tuan Aolani berdiri memberikan restu. Namun, saat tiba giliran Arden untuk memberikan sambutan, ia tidak menggunakan teks yang sudah disiapkan sekretarisnya.
Arden mengambil mikrofon, menatap Violet yang berdiri di hadapannya.
"Dulu, aku berpikir hidup adalah tentang deretan angka, kontrak, dan kesunyian yang teratur. Aku pikir cinta adalah gangguan bagi produktivitas," ucap Arden, suaranya menggema penuh wibawa namun emosional.
"Lalu, seorang gadis berisik masuk ke kantorku, merusak ketenanganku, dan membuatku gila setiap hari. Tapi tanpa dia, aku menyadari bahwa sukses itu dingin. Violet... terima kasih sudah menjadi kekacauan yang paling aku butuhkan."
Arden berlutut di depan Violet—kali ini benar-benar di depan semua orang. "Violet Aolani, maukah kamu terus menggangguku sampai kita menua bersama?"
Violet tidak bisa lagi menahan air matanya. Dengan gaya khasnya, ia berteriak, "IYA! MAU BANGET, TUAN BOS!"
Seluruh tamu bersorak. Di sudut ruangan, Evara tampak menyeka air matanya, sementara Danantya berdiri di sampingnya, diam-diam menyodorkan sapu tangan bersih tanpa menoleh.
Akhir dari Sebuah Dendam?
Di luar gedung, Arjuna melihat berita live pertunangan itu dari layar ponselnya di dalam mobil pelarian. Ia melihat kebahagiaan di wajah Violet yang tidak pernah ia lihat saat bersamanya.
"Sudah selesai..." gumam Arjuna lemah. Ia melihat mobil polisi mulai mendekat ke arahnya. Kali ini, ia tidak melawan. Ia menyadari bahwa tembok yang dibangun Arden jauh lebih kuat dari dendamnya, karena tembok itu dibangun dengan cinta, bukan sekadar harta.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...