Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik Dinding Sekolah
Tiga bulan pertama di SD Negeri 02 Pabean bukanlah surga bagi Jalaludin. Meski ia telah berjanji pada ibunya untuk menjadi murid yang baik, dunia anak-anak ternyata bisa lebih kejam daripada dinginnya angin laut.
Rafael, putra tunggal Pak Lurah, tidak pernah menyukai kehadiran Jalal. Baginya, perhatian Ibu Nina yang selalu tertuju pada Jalal adalah sebuah penghinaan. Rafael yang serba berkecukupan–tas baru, sepatu bermerek, dan bekal mewah, merasa kalah saing oleh bocah buta yang hanya membawa nasi goreng bawang.
"Pintar apanya!" ejek Rafael suatu siang di kelas. "Dia itu cuma dukun. Mana ada orang buta bisa nulis kalau nggak pakai bantuan setan?"
Jalal hanya diam. Ia duduk tegak di bangkunya, tangannya sibuk menggerakkan pensil di atas kertas. Jalal memang tidak pernah melihat papan tulis, namun pendengarannya adalah perekam yang paling sempurna. Setiap kata yang keluar dari lisan Ibu Nina, setiap gesekan kapur yang membentuk huruf, tertangkap oleh telinga Jalal dan langsung diterjemahkan menjadi gerakan tangan.
Ketika murid lain masih mengeja i-b-u, Jalal sudah menyelesaikan satu paragraf penuh tentang sejarah desa. Hal inilah yang membuat Ibu Nina seringkali berdiri di samping meja Jalal, mengusap kepalanya dengan bangga, sementara Rafael hanya bisa merobek buku tulisnya sendiri karena iri.
Suatu siang sepulang sekolah, langit Pabean tampak muram. Risma harus pergi ke pasar induk, sementara kaki Abah yang pincang membuatnya terlambat sampai di gerbang sekolah. Jalal memutuskan untuk pulang sendiri. Dengan tongkat bambu putihnya, ia menyusuri jalan setapak yang diapit rumbunan pohon bambu.
Langkah Jalal terhenti. Telinganya menangkap getaran suara yang tidak asing. Di balik tikungan jalan yang sepi, terdengar suara isak tangis dan bentakan kasar.
"Ayo, keluarin duitnya! Anak Lurah masa dompetnya tipis!"
"Nggak ada, Kak... sumpah, ini buat bayar buku..." suara itu milik Rafael.
Tiga anak SMA, dengan seragam yang dikeluarkan dan wajah penuh keangkuhan, sedang mengepung Rafael. Salah satu dari mereka, yang bertubuh paling besar, baru saja mendaratkan pukulan di perut Rafael hingga bocah itu tersungkur ke tanah merah.
Takk... takk... takk...
Suara tongkat bambu Jalal mendekat. Rafael mendongak, matanya yang sembab melihat sosok Jalal berdiri di ujung jalan.
Anak SMA yang memegang kerah baju Rafael menoleh dan tertawa terbahak-bahak. "Eh, lihat! Ada pahlawan kesiangan. Ternyata cuma bocah buta. Hei, Dek, kalau mau lewat, lewat aja. Jangan sampai tongkatmu patah kami injak!"
Jalal berdiri tenang. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Tolong lepaskan dia. Kata Abah saya, memalak anak kecil itu bukan sifat laki-laki, tapi sifat pengecut."
Tawa anak SMA itu berhenti. Ia merasa terhina. "Apa kamu bilang? Pengecut?!"
Si pemimpin gerombolan itu melepaskan Rafael dan melangkah mendekati Jalal. Ia mengayunkan tangannya, berniat menampar wajah Jalal yang dianggapnya lancang.
Wush!
Tangan itu hanya menyambar angin. Jalal menggeser kakinya hanya beberapa senti ke samping. Di saat yang bersamaan, Jalal memutar tongkat bambunya. Bukan untuk memukul, tapi hanya untuk mengait kaki sang pemalak.
Gubrak!
Pemuda SMA itu jatuh tersungkur, wajahnya mencium tanah. Dua temannya yang lain, yang awalnya hanya menonton, kini mulai emosi. Mereka menerjang Jalal secara bersamaan.
Bagi mata biasa, Jalal tampak dalam bahaya. Namun bagi Jalal, gerakan mereka seperti siput yang merayap. Ia bisa merasakan getaran udara dari setiap pukulan yang mereka arahkan. Dengan gerakan yang cepat, Jalal mengeluarkan jurus yang diajarkan Abahnya.
Takk! Takk!
Tongkat bambunya menghantam saraf di pergelangan tangan mereka. Kedua pemuda itu berteriak kesakitan, merasa tangan mereka mati rasa seketika. Pemimpin mereka bangkit dengan amarah yang memuncak, ia mencabut sebuah penggaris besi dari tasnya.
"Sini kau, anak setan!"
Ia menusukkan penggaris itu ke arah dada Jalal. Jalal tidak menghindar. Ia justru maju selangkah, telapak tangan kirinya menyentuh dada pemuda itu, sementara tangan kanannya memutar tongkat bambu hingga mengunci pergelangan tangan lawan.
Jalal membisikkan sesuatu, "Jangan panggil aku anak setan!
Sedikit sentuhan tenaga dalam mengalir dari telapak tangan Jalal. Pemuda SMA itu merasa jantungnya seperti diremas dingin yang luar biasa. Ia gemetar hebat, nyalinya menciut seketika. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan lari terbirit-birit diikuti kedua temannya.
Hening kembali menyelimuti jalanan itu. Rafael masih terduduk di tanah, menatap Jalal dengan mulut menganga. Ia baru saja melihat hal yang paling mustahil dalam hidupnya, seorang bocah buta menghajar tiga anak SMA tanpa sehelai rambut pun yang terluka.
Jalal mendekati Rafael, mengulurkan tangannya yang berkeringat. "Rafael, kamu tidak apa-apa?"
Rafael ragu sejenak, lalu menyambut tangan Jalal. Saat itulah, tembok keangkuhan di hati anak Lurah itu runtuh. Ia menyadari bahwa orang yang selama ini ia benci justru adalah orang yang mempertaruhkan nyawa untuknya.
"Jalal... maafin aku ya," bisik Rafael sembari mengusap air matanya. "Selama ini aku jahat sama kamu. Ternyata kamu... kamu hebat banget."
Jalal tersenyum lebar, lesung pipitnya terlihat. "Nggak apa-apa. Kata Abah, teman itu untuk dijaga, bukan untuk dimusuhi. Kamu mau pulang bareng? Gandeng tangan Jalal, takutnya ada batu di depan."
Rafael tertawa kecil di tengah sisa tangisnya. Ia menggandeng tangan Jalal dengan erat. Sore itu, di jalanan desa yang sunyi, lahirlah sebuah persahabatan yang tidak terduga. Rafael berjanji dalam hati, mulai hari ini, siapa pun yang berani mengganggu Jalal, harus berhadapan dengannya dulu.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Abah berdiri mengamati dengan senyum bangga. Ia melihat cucunya sudah mulai bisa menggunakan "kilat" itu dengan bijaksana–bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi.
"Jalanmu masih panjang, Jalaludin," gumam Abah sembari menyeka air mata syukurnya.
Dua sahabat kecil itu terus berjalan, menghilang di balik tikungan jalan desa, menuju masa depan yang penuh rahasia. Jalal telah menemukan sekutu pertamanya di dunia ini.
Sembilan tahun berlalu...
"Woiii buta, Lu mau kemana sih?" teriak Rafael, melihat Jalal melewati kelas baru mereka.
Jalal berbalik, tongkat bambunya mengetuk-ngetuk lantai. "Lah, emang kelasnya dimana? Ia menoleh ke kanan ke kiri.
Rafael merangkul bahu Jalal, berbisik di telinganya. "Jangan kaya orang normal hehehe."
Jalal menyikut perut Rafael, "Bosen gua... dari SD sampai masuk SMA, sekelas melulu sama lu... gua mau minta pindah ah."
Rafael tertawa terbahak-bahak, "Ya gua yang minta lah, ke pihak sekolah, dengan alasan kasihan, temennya cuman saya."
"Monyong lu." Jalal tertawa, balik merangkul.
Mereka berdua melangkah masuk kelas baru, dengan seragam putih abu-abu.