Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Nona, apa nona masih marah padaku?." Tanya Wilson ke arah Florin yang kini sedang duduk di sampingnya di dalam mobil. Mereka menaiki taksi. Wilson bertanya karena melihat Florin tak mau menatap ke arahnya.
" Untuk apa aku marah padamu? Aku hanya kesal saja karena tidak bertemu dengan bos mu yang kejam itu." Florin berkata sambil menatap kearah jendela.
Wilson tersenyum tipis, " Nona, sebenarnya aku tak berani mengatakan ini. Tapi aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya." Wilson berniat mengatakan kebohongannya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ia mau berkata jujur bahwa ucapannya semuanya bohong mengenai CEO perusahaan Derelick.
Florin melirik Wilson dengan ujung matanya. " Kebenaran apa yang ingin kamu katakan? Apa kebenaran bahwa kamu tidak mau meninggalkan perusahaan itu karena resepsionis tadi?." Ucap Florin dengan posisinya yang masih sama.
Wilson terdiam sejenak, ucapan Florin menyadarkannya. Wilson merasa jika saat ini Florin sedang marah karena masalah resepsionis tadi bukan karena mereka gagal bertemu CEO perusahaan. Wilson merasa jika saat ini Florin sedang cemburu padanya. Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibirnya. Wilson memutuskan untuk menggoda Florin. " Kenapa anda bisa tahu nona?." ujarnya.
Seketika Florin langsung menatap Wilson dengan cepat, ia menatap dengan tatapan kesal, sebelum akhirnya ia kembali menatap ke arah jendela."Sudah kuduga. Wilson seharusnya kamu jujur padaku, jangan memfitnah orang lain hanya demi kepentingan mu sendiri."
Wilson tersenyum, ia menautkan jarinya dan menatap ke arah Florin yang kelihatan sangat kesal.
" Nona, aku..."
" Wilson, aku akan kembali ke New York hari ini!."
Deg
Wilson langsung terdiam saat mendengar ucapan Florin, ia tahu jika Florin tak pernah main main dengan ucapannya. Di tambah lagi sekarang Florin terlihat sangat kesal padanya.
" Pak, berhenti saya akan berjalan saja." Florin menghentikan sopir mobil yang membawa mereka, hingga akhirnya mobil berhenti dan Florin langsung membayar, setelahnya ia langsung keluar dari mobil tanpa melihat ke arah Wilson.
Wilson memijat pelipisnya. " Aku kira dia tidak akan marah, tapi ternyata aku salah." gumamnya
" Nona tunggu!." Wilson mengejar Florin yang saat ini sedang berjalan di trotoar.
Sementara itu Florin tampak berjalan cepat, seolah menghindari Wilson. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan sekarang. Seolah ada sesuatu di dalam hatinya yang membuatnya begitu kesal dan tidak nyaman. " Florin, apa yang terjadi padamu, kenapa kamu bersikap begini?" gumamnya setelah menyadari apa yang sudah ia lakukan. Ia berniat untuk berhenti dan menenangkan pikirannya. Ia tahu jika keputusannya salah karena menghindari Wilson tanpa alasan. Lalu secara tiba tiba ia berhenti dan berbalik untuk melihat Wilson yang masih mengejarnya dari belakang. Tapi, karena tindakannya itu malah membuat tubuhnya bertabrakan dengan Wilson hingga membuat posisi mereka saling berpelukan agar tidak terjatuh.
Pandangan keduanya menyatu, seolah keheningan telah menyerang mereka. Tak ada suara mobil seperti biasanya yang ada di jalan raya, yang ada hanya hening, tatapan mereka masih menyatu hingga sulit untuk di pisahkan. Meskipun bibir mereka diam, tapi mata mereka berbicara.
PITTT
Hingga akhirnya suara klakson bus mengagetkan mereka dan tatapan itu terlepas seutuhnya. Bahkan mereka yang semula berpelukan kini sudah melepaskan diri. Florin menarik tubuhnya lebih dulu dari pelukan Wilson.
"Ke...kenapa kamu mengikuti ku Wilson?." ujar Florin dengan nada terbata.
Wilson menatap ke arah Florin dengan penuh kekhawatiran. " Nona, ada apa? Apa anda marah padaku? Katakan apa salahku. Aku tidak bisa membiarkan mu sendirian di kota ini dengan berjalan kaki, aku tidak mau anda kenapa napa nona. Mengertilah."
Florin memalingkan pandangannya ke samping. " Ya sudah, pesan mobil kita akan pulang naik mobil."
Wilson menghela nafas lalu ia mengangguk pelan, ia langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan menghubungi mobil untuk menjemput mereka.
Selama menunggu kedatangan mobil, tak ada percakapan yang terjadi. Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing masing. Hingga akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapan mereka. Supir mobil membuka kaca mobil dan menanyakan nama mereka. Setelah dipastikan itu adalah mobil yang mereka tunggu, Wilson dan Florin akhirnya memasuki mobil.
Wilson membuka pintu mobil untuk Florin, lalu ia juga ikut masuk.
Di dalam mobil masih saja hening, tak ada percakapan sedikitpun. Wilson seolah tidak tahu untuk memulai, jujur saja ia merasa menyesal telah berbohong berulang kali pada Florin. Ia takut Florin telah berubah kembali seperti dulu, karena sekarang ia hanya diam dan melipat kedua tangannya di dada sambil menunjukkan ekspresi murung.
Wilson takut jika sikapnya sudah membuat Florin kembali pada dirinya yang dulu, jika ia buka suara sekali saja maka Florin akan langsung berteriak ke arahnya dan memukulnya bertubi tubi.
Namun Wilson tak punya pilihan, ia memutuskan untuk buka suara karena selama ini ia juga sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. " Nona, maafkan saya." ucapnya dengan suara pelan.
Wilson merasakan ketegangan, di tambah lagi dengan suara helaan nafas berat dari Florin yang semakin membuatnya tak tenang.
"Wilson, harusnya aku yang minta maaf. Aku sudah marah tanpa alasan kepadamu. Sudah lupakan saja apa yang terjadi hari ini, anggap saja itu tidak pernah terjadi." Florin tersenyum ke arah Wilson sambil menyentuh tangan pria itu.
Deg
Wilson terdiam, ia mencoba mencerna apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana emosi Florin berubah. Biasanya saat berada di posisi kesal seperti itu, Florin tak bisa mengontrol emosinya. Tapi kali ini berbeda, malah Florin duluan yang minta maaf dengan nada tulus, serta menyentuh tangannya seolah meyakinkan Wilson bahwa ia tidak marah dan mengakui kesalahannya.
" Jangan diam saja, kita akan segera sampai." Florin melepaskan genggamannya pada tangan Wilson dan mulai tersenyum.
" Nona..."
" Ya, apa Wilson?."
" Apa anda sudah tidak marah?." tanya Wilson dengan hati hati.
" Wilson, kamu sangat lucu. Bagaimana bisa aku marah padamu. Kamu adalah sahabatku, kamu bukan kekasihku, kamu berhak dekat dengan siapapun yang kamu sukai. Kamu dan resepsionis itu terlihat cocok, kamu..." Florin menyadari ucapan nya sudah melenceng kemana mana. Ia menghentikan bicaranya, dan saat ini ia tak bisa lagi berkata apa apa.
Wilson menyadari sesuatu yang kini semakin membuatnya yakin, sesuatu yang secara nyata ia saksikan dan dengar. Bahwa memang benar Florin cemburu padanya.
"Apa aku sedang bermimpi? Florin cemburu padaku? Dia terus saja mengatakan tentang resepsionis itu? Aku sudah tahu alasannya sekarang, dia memang cemburu padaku." Gumam Wilson dalam hati sambil tersenyum senang.
Tak terasa mereka telah tiba di kediaman bi Lily, Florin langsung turun duluan, sementara Wilson masih berdiam diri di dalam mobil dengan lamunannya. Hingga akhirnya sopir menyadarkannya dari lamunan, Wilson langsung membayar dengan antusias, bahkan ia memberikan lebih pada supir taksi itu karena saat ini ia merasa sangat senang.