NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Mafia Belajar Goyang Pargoy

Suasana di aula utama Palazzo De Luca malam itu sangat kontras dengan ketegangan di bawah tanah Vatikan beberapa hari lalu. Meskipun ancaman klan Rosanera dan obsesi Isabella Moretti masih membayangi, Bianca merasa bahwa jika ia tidak melakukan sesuatu untuk menghibur diri, ia akan benar-benar menjadi gila di dalam tubuh Lorenzo yang terlalu berotot ini.

​Semuanya bermula ketika Bianca secara tidak sengaja menemukan speaker bluetooth besar di ruang santai. Rasa rindu pada tanah air, kerinduan pada keriuhan media sosial, dan keinginan untuk melihat sosok Lorenzo De Luca yang sangar melakukan sesuatu yang benar-benar konyol telah mencapai puncaknya.

​"Mas Lorenzo, sini deh," panggil Bianca (dalam tubuh Lorenzo) sambil melambaikan tangan pada Lorenzo (dalam tubuh Bianca).

​Lorenzo mendekat dengan wajah skeptis. "Ada apa lagi, Bianca? Aku sedang mencoba menerjemahkan simbol-simbol dari naskah kuno yang sempat kita potret tadi."

​"Halah, naskah mulu. Pusing tahu! Kita butuh refreshing," ucap Bianca. Ia kemudian menghubungkan ponselnya ke speaker dan mencari sebuah lagu di TikTok yang sedang viral—sebuah remix jedag-jedug dengan bass yang mampu menggetarkan kaca-kaca jendela Palazzo.

​"Apa ini? Suaranya seperti mesin penggiling semen yang rusak," gumam Lorenzo sambil menutup telinga.

​"Ini namanya seni, Mas! Ini musik buat 'Pargoy'!" Bianca mulai menggerakkan bahu lebar Lorenzo mengikuti irama.

​Di pintu masuk aula, Valerio dan Dante berdiri mematung. Mereka baru saja kembali dari patroli keamanan dan menemukan pemandangan yang mungkin akan menghantui mimpi mereka seumur hidup.

​Mereka melihat kakak tertua mereka, sang Capo dei Capi, Lorenzo De Luca, sedang melakukan gerakan tangan yang aneh—menyilangkan lengan di depan dada, lalu menggoyangkan pinggulnya secara ritmis ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi wajah yang sangat serius, seolah-olah ia sedang menjalani ritual mistis.

​"Dante," bisik Valerio dengan suara gemetar. "Katakan padaku aku sedang mengalami halusinasi karena kurang tidur."

​Dante tidak menjawab. Ia hanya menyesuaikan letak kacamatanya, mencoba mencerna data visual di depannya. "Secara teknis, itu adalah gerakan sinkronisasi tubuh yang sangat... tidak efisien."

​"Ayo Mas, ikutin saya!" seru Bianca pada Lorenzo asli. "Tangan di atas, terus puter, turun ke bawah, goyang dikit... nah, gitu! Mantap!"

​Lorenzo (dalam tubuh Bianca) awalnya menolak keras. Namun, karena mereka sekarang memiliki "koneksi batin" akibat insiden kristal di Vatikan, ia bisa merasakan betapa bahagianya jiwa Bianca saat ini. Rasa senang yang meluap-luap itu menular ke hatinya, membuatnya secara tidak sadar ikut mengangkat tangan.

​"Aku tidak percaya aku melakukan ini," keluh Lorenzo, namun tubuh mungil Bianca yang ia huni mulai bergerak luwes mengikuti instruksi Bianca.

​"LHO! KOK MBAK BIANCA LEBIH JAGO?!" teriak Bianca kegirangan. "Ayo Mas Val, Mas Dante! Gabung sini! Biar klan De Luca makin solid!"

​Valerio mundur selangkah. "Aku lebih baik ditembak oleh sniper Rosanera daripada harus menggoyangkan pantatku seperti itu."

​"Jangan sombong, Val! Ini bagus buat melatih kelenturan punggung supaya nggak kaku kalau nembak," Bianca menarik tangan Valerio dengan paksa. Dengan tenaga Lorenzo yang besar, Valerio tidak punya pilihan selain terseret ke tengah aula.

​Kekacauan pun pecah. Aula yang biasanya menjadi tempat eksekusi atau rapat rahasia, kini berubah menjadi lantai dansa "Pargoy" dadakan. Bianca berdiri di depan sebagai instruktur, Lorenzo (tubuh Bianca) berada di sampingnya dengan gerakan yang anehnya sangat elegan, dan Valerio berdiri di belakang dengan wajah penuh penderitaan namun terpaksa mengikuti gerakan tangan "Lorenzo".

​"Satu, dua, tiga... goyang!" teriak Bianca.

​Tepat saat itu, Antonio dan beberapa anak buahnya masuk untuk memberikan laporan harian. Mereka berhenti di depan pintu, rahang mereka jatuh secara kolektif.

​"Tuan... Tuan Lorenzo?" Antonio berkedip. Ia melihat bosnya sedang melakukan gerakan body wave yang sangat lentur, sementara Tuan Valerio terlihat seperti sedang mencoba mengusir nyamuk dengan gaya estetis.

​Bianca melihat mereka. "ANTONIO! Sini! Grande Culo! Kamu harus ikut! Ini perintah Capo!"

​Antonio, yang masih trauma dengan sebutan "Pantat Besar" kemarin, langsung tegap berdiri. "Siap, Tuan! Jika ini adalah bagian dari latihan tempur baru, saya akan melaksanakannya!"

​Maka, sepuluh orang pria berjas hitam, bersenjata lengkap, dan bertato sangar, mulai berdiri berjejer di aula Palazzo De Luca. Di bawah komando Bianca, mereka mulai melakukan goyang Pargoy secara massal. Suara musik jedag-jedug menggema hingga ke halaman luar, membuat para tetangga aristokrat di sekitar Palazzo bertanya-tanya apakah keluarga De Luca sedang merayakan penaklukan wilayah baru di Asia Tenggara.

​"Nah, gitu dong! Keren!" Bianca tertawa lepas. Ia melihat Dante yang masih berdiri di pojok, memegang tabletnya. "Mas Dante, nggak mau gabung? Eman-eman lho, ini rilis stres paling ampuh."

​Dante menatap kerumunan mafia yang sedang bergoyang itu dengan tatapan filosofis. "Jika musuh kita melihat ini, mereka akan berpikir kita semua sudah gila. Namun, dalam teori perang, kegilaan adalah bentuk intimidasi yang paling tidak bisa diprediksi. Jadi... baiklah."

​Dante meletakkan tabletnya di meja, merapikan dasinya, dan dengan gerakan kaku yang sangat matematis, ia mulai menggerakkan kakinya.

​"YA AMPUN DANTE GOYANG!" teriak Valerio antara malu dan ingin tertawa.

​Di tengah kegembiraan itu, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) tiba-tiba merasa dadanya sesak. Melalui koneksi batin mereka, ia merasakan sesuatu yang gelap sedang mendekat. Kebahagiaan Bianca tiba-tiba terinterupsi oleh rasa dingin yang menusuk tulang.

​Lorenzo segera mematikan musik secara mendadak.

​Hening seketika. Para mafia yang sedang asyik bergoyang langsung bersiaga, tangan mereka refleks berpindah ke sarung senjata di pinggang masing-masing.

​"Ada apa, Mas?" tanya Bianca, napasnya tersengal karena terlalu banyak tertawa.

​"Mereka di sini," bisik Lorenzo.

​Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan. Kamera pengawas di tablet Dante menunjukkan beberapa mobil hitam yang menabrak barikade. Namun, ada yang aneh. Dari mobil-mobil itu, tidak ada peluru yang keluar. Sebaliknya, ribuan kelopak mawar hitam berhamburan ke udara, ditiup oleh kipas besar yang dipasang di atas mobil.

​"Isabella," desis Dante.

​Isabella Moretti keluar dari salah satu mobil. Ia tidak membawa senapan, melainkan sebuah megafon perak.

​"LORENZO DE LUCA!" suaranya menggelegar masuk ke dalam aula melalui pengeras suara eksternal. "Aku tahu kau ada di dalam! Aku mencium bau kebahagiaan yang menjijikkan dari sini! Apakah kau sedang merayakan kematian martabatmu dengan tarian konyol itu?"

​Bianca (dalam tubuh Lorenzo) berjalan menuju balkon, diikuti oleh yang lain. Ia menatap Isabella di bawah sana. "Eh, Isabella! Kamu datang telat! Musiknya baru aja dimatiin! Kalau mau ikut Pargoy bilang dong, nanti saya ajarin!"

​Isabella mendongak, matanya berkilat penuh kemarahan. "Pargoy? Apa itu? Apakah itu semacam racun baru? Aku datang bukan untuk menari, Lorenzo! Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku! Darahmu, jiwamu, dan kristal itu!"

​Isabella mengangkat tangannya. Di belakangnya, muncul para pembunuh bayaran Rosanera yang memegang busur panah modern dengan ujung yang bersinar biru—sama seperti cahaya kristal di Vatikan.

​"Panah itu mengandung fragmen kristal yang hancur!" bisik Lorenzo (tubuh Bianca) dengan panik. "Jika terkena tubuhmu, jiwamu akan terkunci selamanya di dalam tubuh itu, atau bahkan hancur!"

​Situasi berubah dari komedi menjadi tragedi dalam hitungan detik.

​"Semuanya merunduk!" teriak Dante.

​Syuuuut! Syuuuut!

​Anak panah biru melesat melewati balkon. Salah satunya mengenai pilar marmer dan langsung meledak dalam percikan energi biru yang membuat debu marmer menguap.

​"Waduh, ini panah magic ya?!" Bianca berjongkok di balik pagar balkon. "Mas Lorenzo, gimana nih? Saya nggak bisa Pargoy sambil hindarin panah asmara dari mantan kamu!"

​"Ini bukan panah asmara, Bianca! Ini panah pemutus jiwa!" Lorenzo menarik Bianca masuk kembali ke dalam aula. "Antonio! Matikan lampu! Valerio, gunakan peluru asap!"

​Aula yang tadi penuh tawa kini dipenuhi asap abu-abu dan kilatan cahaya biru dari panah-panah Isabella. Bianca merasa sangat takut, tapi anehnya, ia bisa merasakan keberanian Lorenzo mengalir melalui nadinya. Koneksi batin mereka membuat Bianca bisa melihat dalam kegelapan melalui mata Lorenzo.

​"Bianca, dengarkan aku," Lorenzo memegang wajahnya sendiri (yang dihuni Bianca). "Kau harus memimpin mereka keluar lewat jalur rahasia di dapur. Aku akan menahan Isabella di sini."

​"Enggak! Saya nggak mau ninggalin Mas sendirian!" protes Bianca. "Tadi kita udah janji bakal hadapi ini bareng-bareng!"

​"Tubuh itu terlalu berharga, Bianca! Jika kau tertangkap, dia akan menggunakanmu untuk ritualnya!"

​"Tapi saya punya ide!" Bianca teringat sesuatu. Ia mengambil speaker bluetooth tadi yang masih menyala. "Mas, Isabella itu perfeksionis kan? Dia benci kekacauan kan?"

​"Ya, kenapa?"

​"Tolong nyalain musiknya lagi. Volume maksimal!"

​Lorenzo bingung, tapi ia menuruti. Musik jedag-jedug kembali berdentum sangat keras. Bianca mengambil dua bom cahaya milik Valerio.

​"Semuanya! Pasang gaya Pargoy paling heboh!" perintah Bianca pada anak buahnya yang bingung.

​Saat Isabella dan pasukannya merangsek masuk ke aula dengan kacamata khusus mereka, mereka disambut oleh lampu disko darurat (dari bom cahaya yang meledak pelan) dan sepuluh mafia yang melakukan gerakan goyang massal di tengah asap.

​Isabella terpaku. "Apa-apaan ini?! Serang mereka!"

​Namun, karena gerakan Pargoy yang sangat acak dan lincah—terutama Bianca yang melakukan gulingan zigzag sambil bergoyang—anak buah Isabella kesulitan membidik. Cahaya biru dari panah mereka justru saling bertabrakan dan meledak di udara, menciptakan kembang api biru yang kacau.

​"Sekarang! Lari!" teriak Bianca.

​Di tengah kebingungan Isabella yang mengira ia sedang masuk ke dalam halusinasi massal, klan De Luca berhasil meloloskan diri melalui pintu dapur menuju garasi bawah tanah.

​Saat mereka melesat pergi dengan mobil SUV lapis baja, Bianca duduk bersandar sambil mengatur napas. "Hah... hah... Pargoy menyelamatkan nyawa kita, Mas."

​Valerio yang menyetir hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku bersumpah, jika berita ini tersebar ke klan lain, kita harus pindah ke Mars."

​Dante tertawa kecil—sebuah suara yang sangat langka. "Pargoy taktis. Aku akan memasukkannya ke dalam manual pelatihan dasar kita mulai besok."

​Lorenzo (dalam tubuh Bianca) menatap Bianca yang sedang tertidur karena kelelahan di bahunya. Ia menyadari bahwa gadis ini telah membawa sesuatu yang lebih kuat daripada senjata atau artefak kuno ke dalam hidupnya: kemampuan untuk menertawakan kematian.

​"Terima kasih, Bianca," bisik Lorenzo pelan. "Mungkin setelah ini, aku benar-benar harus belajar cara menggoyangkan pinggulku dengan benar."

​Di belakang mereka, di Palazzo yang kini dipenuhi mawar hitam, Isabella Moretti berdiri di tengah aula yang kosong. Ia mengambil speaker yang ditinggalkan Bianca. Musiknya masih menyala pelan.

​Isabella mendengarkan iramanya, lalu tanpa sadar kakinya mengetuk lantai mengikuti tempo. "Musik apa ini... kenapa rasanya aku ingin... bergoyang?"

​Isabella segera membanting speaker itu ke lantai. "AKU AKAN MEMBUNUHMU, LORENZO DE LUCA!"

​Perang jiwa baru saja dimulai, dan kali ini, iramanya jauh lebih asyik daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.

......................

Glosarium Bahasa Italia & Istilah di Bab Ini:

​Pargoy: Gaya goyang viral dari Indonesia (biasanya diiringi musik DJ jedag-jedug).

​Capo dei Capi: Bos dari segala bos.

​Jedag-jedug: Istilah untuk musik remix dengan bass yang menghentak.

​Grande Culo: Pantat besar (istilah salah kaprah Bianca untuk Antonio).

​Rosanera: Klan mafia Mawar Hitam.

​Veloce: Cepat.

​Maledizione: Terkutuk/Sialan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!