NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Kehidupan di rumah besar itu terus berjalan dengan dinamika yang unik. Arka tetap menjadi sosok yang dingin namun sangat protektif terhadap kandungan Aluna.

Segala kebutuhan gadis itu dipenuhi tanpa kurang sedikitpun, tapi jarang sekali ada obrolan santai di luar urusan kesehatan janin.

Hingga suatu pagi yang cerah tiba tiba datang kabar buruk yang membuat seluruh jadwal berantakan. Terdapat masalah besar dan mendesak di salah satu proyek perusahaan mereka yang berada di luar kota, tepatnya di wilayah tambang dan perkebunan yang jauh dari pusat kota.

Masalahnya sangat serius sehingga membutuhkan kehadiran langsung pemilik perusahaan dan pejabat tinggi untuk menyelesaikannya.

Tuan Mahendra dan Arka terpaksa harus berangkat secepatnya hari itu juga dan diperkirakan baru bisa kembali dua hari kemudian.

"Apa harus secepat ini Ayah?" tanya Arka dengan wajah cemas sambil melirik ke arah Aluna yang sedang duduk di ruang tengah.

"Kita meninggalkan Ibu dan Aluna di sini sendirian. Aku takut tidak ada yang menjaga keseimbangan di antara mereka."

"Tidak bisa ditunda lagi Nak. Jika tidak segera ditangani kerugiannya bisa mencapai miliaran dan bisa memicu kerusuhan sosial," jawab Tuan Mahendra dengan wajah serius.

"Kau tenang saja. Di rumah masih banyak pengawal dan dokter. Ibumu juga pasti tahu cara bersikap demi cucunya sendiri kan," lanjut Tuan Mahendra.

Meski berat hati akhirnya Arka bersiap untuk berangkat. Sebelum pergi ia mendatangi Aluna yang tampak gugup dan takut ditinggal sendirian.

"Aku harus pergi dua hari tiga malam," ucap Arka tegas sambil memegang kedua bahu gadis itu. "Dengar baik baik. Selama aku tidak ada di rumah kamu harus lebih hati hati dari biasanya. Jangan keluar kamar kalau tidak ada keperluan mendesak."

"Patuhlah pada apa kata Ibu atau Bude Min. Tapi ingat, utamakan keselamatan dirimu dan anakku," lanjut pria itu menatap mata Aluna dalam dalam.

"Jika ada apa apa atau Ibu terlalu berlebihan sikapnya kamu bisa telepon aku kapan saja jam berapa pun aku akan angkat teleponmu."

Aluna mengangguk pelan sambil memeluk lengan Arka erat erat seolah tidak ingin melepaskan.

"Iya Tuan. Hati hati di jalan ya. Aluna akan jaga diri dan jaga anak Tuan sebaik mungkin."

Setelah menitipkan pesan pada seluruh staf dan pengawal dengan ancaman yang sangat keras agar menjaga Nyonya Soraya dan Aluna dengan ketat akhirnya mobil mereka melaju meninggalkan halaman rumah yang luas itu.

Sesaat setelah mobil Arka hilang dari pandangan suasana di rumah itu berubah drastis. Nyonya Soraya yang tadi tampak biasa saja, kini langsung menunjukkan aura dominan dan kejamnya sebagai penguasa tunggal di rumah itu saat ketiadaan suami dan anaknya.

Wanita itu berjalan mondar mandir di ruang tengah dengan wajah yang tidak ramah. Matanya terus melirik ke arah Aluna dengan tatapan sinis dan penuh seluk.

"Hem... akhirnya yang sok berkuasa itu pergi juga," gumam Nyonya Soraya ketus dengan suara keras agar didengar.

"Sekarang tinggal kita berdua di rumah besar ini nona manis. Mari kita lihat bagaimana sikapmu yang sebenarnya tanpa ada yang melindungi," gumamnya dengan senyum licik.

Aluna menunduk dalam berusaha bersikap sehalus mungkin. "Selamat jalan Tuan Arah dan Tuan Muda. Semoga perjalanannya lancar dan cepat kembali," ucapnya pelan lebih seperti berdoa.

"Sudah jangan berlagak baik di depan kosong! Dengar ya Aluna. Selama mereka tidak ada, aturannya berubah sedikit. Kamu tidak bisa lagi bersikap manja atau dimanja seperti putri raja," cetus Nyonya Soraya sambil duduk di sofa utama dengan gaya angkuh.

"Mulai sekarang kamu harus ikut aturan saya. Makan apa yang Ibu izinkan saja. Keluar kamar hanya saat jam makan saja. Dan yang paling penting, jangan pernah berani menatap mata saya atau membantah perkataan saya, paham?" lanjutnya tegas.

"Paham Tante..." jawab Aluna lirih.

Hari pertama berjalan sangat menyiksa bagi Aluna. Nyonaya Soraya seolah mencari celah kesalahan di setiap gerak gerik wanita hamil itu. Saat Aluna makan banyak, ia langsung dimarahi karena dianggap rakus. Saat makan sedikit pun langsung dimaki karena sok kurus dan menyusahkan.

"Dasar gadis desa! Makan saja tidak tahu sopan santun! Lihat cara makamu itu kasar sekali. Apa tidak diajari orang tua cara memegang sendok yang benar?" hardik Nyonya Soraya saat makan siang

"Maaf Tante... Aluna akan perbaiki..." jawab Aluna gemetar menahan air mata yang sudah menggenang. Ia sangat rindu Arka dan berharap pria itu segera pulang dan menyelamatkannya dari neraka ini.

Malam harinya cuaca berubah menjadi buruk. Hujan turun sangat deras disertai angin kencang dan petir yang menyambar sambaran. Aluna yang memang takut petir menjadi sangat panik dan tidak bisa tidur.

Tiba tiba perutnya terasa mulas dan kram yang tidak biasa. Rasa sakit itu menjalar dari pinggang ke perut bawah. Aluna menjadi sangat takut karena kandungannya sudah besar dan sangat sensitif.

Ia berusaha bangun untuk memanggil Bude Min atau dokter. Akan tetapi kakinya lemas dan ia terlalu takut berjalan sendirian di koridor gelap karena takut dimarahi Nyonya Soraya jika dianggap mengganggu tidur.

Ternyata suara keluhannya terdengar oleh Nyonya Soraya yang kebetulan lewat untuk minum air. Wanita itu mendorong pintu kamar Aluna terbuka dengan kasar.

"Suara apa itu? Kenapa berisik sekali malam malam?" tanya Nyonya Soraya ketus.

Namun, saat ia melihat wajah Aluna yang pucat pasi dan memegang perut kuat kuat, ia sedikit terkejut.

"Pe... perut Aluna sakit Tante... rasanya kram sekali dan panas..." isak Aluna kesakitan. "Sepertinya bayinya menendang terlalu keras atau ada yang tidak beres..."

Nyonya Soraya terlihat gugup dan panik juga. Ia tahu ini cucu pertama yang sangat ditunggu-tunggu. Walaupun ia benci pada Aluna, tapi ia sangat sayang pada jabang bayi di dalam perut gadis itu.

"Kau kenapa tidak bilang dari tadi hah? Mau mati kalian berdua?!" teriak wanita itu. Tangannya pun sigap membantu membetulkan posisi bantal Aluna.

Ia segera memanggil dokter dan perawat dengan nada suara yang sangat tinggi dan panik. Selama proses pemeriksaan, Nyonya Soraya tidak berhenti berdoa dan mondar mandir dengan wajah cemas. Ia benar benar takut terjadi apa apa dengan cucunya.

Setelah dokter memeriksa, ternyata hanya kram otot biasa karena kelelahan dan efek cuaca dingin. Tidak ada apa apa dengan janin dan kondisinya aman terkendali.

Nyonya Soraya menghela napas panjang lega lalu duduk di tepi ranjang menatap Aluna yang masih terbaring lemas. Wajahnya tidak lagi setajam tadi siang. Ada sedikit rasa iba yang terlihat.

"Kau ini benar benar menyusahkan saja. Sudah besar perutnya tapi tidak bisa menjaga diri baik baik. Kalau sampai cucu saya kenapa-napa nanti, sungguh saya tidak akan memaafkanmu seumur hidup," ucap Nyonya Soraya ketus, namun suaranya agak melunak

"Ma... maafkan Aluna Tante... Aluna takut sekali tadi. Aluna takut bayiku kenapa kenapa..." Aluna terisak pelan. "

Melihat air mata ketakutan itu, entah kenapa hati keras Nyonya Soraya terasa tersentuh sedikit. Ia mengulurkan tangannya yang halus dan pipi Aluna dengan sangat pelan.

"Sudah jangan menangis. Dokter bilang kalian berdua baik baik saja kan," ucap wanita itu dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Istirahatlah sekarang. Saya akan suruh orang buatkan teh hangat untukmu."

Aluna terbelalak kaget melihat perubahan sikap itu. "Tan... Tante tidak marah lagi sama Aluna?"

"Marah terus buat apa kalau sudah begini," jawab Nyonya Soraya mendengus pelan lalu berdiri.

"Tapi ingat, ini bukan berarti saya sudah setuju atau suka sama kamu sepenuhnya. Saya melakukan ini semua murni karena sayang sama cucu saya di dalam sana. Paham?" jelas Nyonya Soraya, lantas berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Aluna.

"Iya Tante... Aluna paham..." ucap Aluna sambil tersenyum tipis, meski Nyonya Soraya sudah hilang di balik pintu.

Malam itu meski masih ada jarak dan gengsi, namun setidaknya ada jembatan kecil yang mulai terbentuk.

Aluna sadar bahwa di balik ketus dan kemarahan ibu mertuanya itu tersimpan rasa sayang yang besar pada keluarga dan keturunannya.

Dan ia berharap suatu saat nanti rasa sayang itu bisa meluas juga sampai ke dirinya sendiri sebagai bagian dari keluarga.

Keesokan harinya, Arka dan Ayahnya pulang lebih cepat dari jadwal karena khawatir meninggalkan mereka terlalu lama. Begitu sampai di rumah Arka langsung berlari menuju kamar Aluna untuk memastikan kondisi istri dan anaknya baik baik saja.

Dan saat melihat Aluna tersenyum menyambutnya dengan wajah yang sehat dan ceria, beban di hati pria itu seolah hilang begitu saja digantikan oleh rasa damai yang aneh dan hangat yang mulai ia rasakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!