NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lepaskan Aku

Sementara itu, di sebuah restoran fine dining yang tertutup di puncak gedung Jakarta, Beatrix van Amgard sedang menikmati makan malamnya dengan sangat tenang. Di hadapannya duduk seorang pejabat tinggi perbankan yang baru saja menandatangani pengalihan aset yayasan milik Aditya.

Ponsel Beatrix bergetar. Sebuah pesan masuk dari Andre di Aruba.

Pesan: "Target sudah di depan pintu. Ario menghalangi, tapi kemarahan Helen sudah berada di puncaknya. Sedikit lagi, dia akan berlari ke arahku. Siapkan tim di dermaga."

Beatrix tersenyum, lalu menyesap anggur merahnya dengan sangat nikmat. "Anak-anak itu," gumamnya dalam bahasa Belanda yang elegan. "Mereka pikir cinta dan dendam adalah hal yang berbeda. Padahal keduanya adalah api yang sama-sama bisa menghanguskan."

Beatrix menoleh ke arah jendela, memandang lampu-lampu Jakarta yang tampak seperti permata yang berserakan. Ia merasa sangat berkuasa. Ia telah menghapus nama Aditya dari gedung-gedung, ia telah membakar kenangan di rumah Menteng, dan sekarang, ia sedang menonton penghancuran akhir dari putri tunggal musuhnya.

"Bambang," panggil Beatrix tanpa menoleh.

"Ya, Nyonya?" Bambang yang berdiri di sudut gelap ruangan segera mendekat.

"Pastikan setelah Andre membawa Helen, jangan langsung membunuhnya. Aku ingin dia melihat video kehancuran Ario terlebih dahulu. Aku ingin dia tahu bahwa pria yang dia anggap pelindung itu berakhir sebagai pecundang yang tak punya apa-apa. Setelah itu... kau tahu apa yang harus dilakukan."

"Siap, Nyonya."

****

Kembali ke kamar hotel, suasana telah berubah menjadi keheningan yang mencekam. Helen terduduk di lantai di sudut ruangan, memeluk lututnya, menolak untuk duduk di sofa atau ranjang. Ia menatap ke arah pintu yang terkunci dengan pandangan kosong.

Ario duduk di lantai di depan pintu, menjaga satu-satunya akses keluar masuk. Ia meletakkan pistolnya di samping paha, sebuah tindakan yang semakin membuat Helen merasa sedang diculik, bukan dilindungi.

"Makanlah sesuatu, Helen. Aku sudah memesankan room service tadi," ucap Ario pelan.

Helen tidak bergeming. Ia seolah-olah telah mematikan jiwanya sendiri. "Kenapa kau tidak bunuh saja aku sekarang, Ario? Itu akan lebih jujur daripada sandiwara perlindungan ini."

Ario memejamkan mata, kepalanya bersandar di daun pintu. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu, Helen. Aku hanya tidak tahu cara menghadapimu. Setiap kali aku melihatmu, aku teringat betapa tidak adilnya hidup ini. Kau adalah putri dari pria yang menghancurkan keluargaku, tapi kau juga satu-satunya orang yang membuatku ingin memiliki masa depan kembali."

"Jangan gunakan kata-kata manis itu padaku," sahut Helen dingin. "Andre melakukan itu jauh lebih baik darimu."

Ario tersenyum getir. "Ya, karena dia dilatih untuk itu. Dia dilatih untuk menemukan retakan di hatimu dan memasukkan racun ke sana. Dan aku... aku justru membuat retakan itu semakin lebar."

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Bukan ketukan pelayan, melainkan ketukan yang berirama—sebuah kode.

Ario seketika siaga. Ia meraih pistolnya dan memberi isyarat agar Helen tetap diam.

"Helen? Ini aku, Andre," suara dari balik pintu itu terdengar begitu lembut, begitu penuh perhatian. "Ario, buka pintunya. Aku tahu kau menahannya di dalam. Helen, kau tidak perlu takut. Aku sudah membawa bantuan. Kita bisa pergi sekarang."

Helen langsung berdiri, matanya berbinar penuh harapan. "Andre! Aku di sini! Tolong aku!"

Ario menarik Helen menjauh dari pintu, menutup mulut wanita itu dengan tangannya. "Diam, Helen! Dia tidak sendiri. Aku bisa mendengar langkah kaki di koridor. Mereka setidaknya ada empat orang."

Helen meronta, mencoba melepaskan diri. Air matanya kembali tumpah. Di matanya, Ario adalah monster yang sedang menghalangi penyelamatnya.

"Ario! Jangan paksa aku melakukan kekerasan!" suara Andre berubah, sedikit lebih berat, sedikit lebih mengancam. "Serahkan Helen baik-baik, dan aku akan membiarkanmu hidup."

Ario menatap Helen, matanya memancarkan kepedihan yang luar biasa. "Kau dengar itu, Helen? 'Serahkan Helen'. Kau baginya hanyalah sebuah paket yang harus dikirim. Apakah itu cara seorang pria bicara tentang wanita yang dia cintai?"

Helen terdiam sejenak. Kata-kata Andre barusan memang terdengar berbeda. Tidak ada lagi sebutan "Putri Jakarta", tidak ada lagi kelembutan. Hanya ada perintah yang dingin.

Namun, rasa benci Helen pada Ario sudah terlalu besar. Ia menyentakkan tangan Ario dari mulutnya.

"Setidaknya dia datang untukku! Kau hanya menahanku di sini untuk kepentinganmu!"

Duar!

Tiba-tiba terdengar suara ledakan kecil di kunci elektronik pintu. Asap mengepul masuk. Pintu itu terbuka sedikit karena paksa. Ario segera menarik Helen ke balik lemari besar, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

"Tetap di sini, Helen! Jangan keluar sampai aku bilang!"

Perang di surga Karibia itu bukan lagi sekadar perang kata-kata. Kini, peluru mulai bicara. Dan di tengah kekacauan itu, Helen harus memilih: mempercayai suami yang telah melukainya, atau berlari pada pria asing yang menjanjikan kedamaian namun membawa maut di balik senyumnya.

****

Asap dari ledakan kunci elektronik di kamar suite hotel masih menggantung di udara, namun suasana telah bergeser dari ruang tertutup menuju kegelapan liar di pesisir utara Aruba. Di bawah temaram cahaya bulan yang terhalang awan mendung, Helen Kusuma merasa dunianya seolah sedang dipelintir oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Beberapa menit yang lalu, ia masih menganggap Ario Diangga sebagai monster yang mengekangnya. Namun, saat pintu kamar itu ditembak oleh orang-orang bersenjata dan ia melihat sorot mata Andre Willson yang tak lagi hijau zamrud menenangkan, melainkan berkilat dingin seperti mata pisau, kesadaran itu menghantamnya seperti palu godam.

"Helen, kemarilah. Jangan persulit keadaan," suara Andre bergema di antara deru angin laut. Tidak ada lagi kelembutan. Tidak ada lagi sapaan 'Putri Jakarta'. Yang tersisa hanyalah nada perintah seorang algojo yang sedang menagih nyawa.

Ario sempat memberikan perlawanan sengit di dalam hotel, menciptakan celah bagi Helen untuk berlari melalui pintu darurat. Kini, Helen terengah-engah, kakinya yang tanpa alas kaki terseret di atas pasir kasar dan bebatuan tajam di pinggiran dermaga pribadi yang tersembunyi.

"Helen!" Andre berteriak lagi, langkah kakinya yang berat terdengar mengejar di belakang.

Helen menoleh sekilas. Di sana, di bawah lampu merkuri dermaga yang berkedip, ia melihat Andre memberi isyarat pada dua pria berbadan tegap yang turun dari sebuah speedboat hitam. Di saat itulah, sebuah kebenaran pahit menghujam jantungnya: Ario benar. Semuanya benar. Andre adalah jaring laba-laba yang ditenun oleh Beatrix, dan ia baru saja hampir menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat itu.

****

Langkah Helen terhenti di tumpukan material konstruksi yang mangkrak. Ia terjebak. Di depannya hanya ada hamparan laut Karibia yang gelap dan bergolak, di belakangnya ada pria yang baru saja ia beri ruang di dalam hatinya—pria yang ternyata adalah racun yang dibungkus madu.

"Kenapa, Andre?" suara Helen pecah, beradu dengan suara ombak. "Kenapa kau melakukan ini?"

Andre berhenti beberapa langkah di depannya. Ia mengatur napasnya, merapikan kemeja putihnya yang kini kotor. "Jangan naif, Helen. Dunia ini bukan tentang cinta atau pertemuan tak sengaja di pantai. Ini tentang kekuasaan. Beatrix membayar jauh lebih banyak daripada apa pun yang bisa diberikan oleh rasa ibamu."

"Kau bajingan!" pekik Helen.

"Aku seorang profesional," sahut Andre dingin. Ia melangkah maju dengan cepat, tangan kuatnya menyambar pergelangan tangan Helen. "Ayo. Helikopter sudah menunggu di titik koordinat berikutnya. Kau harus kembali ke Jakarta, Helen. Beatrix merindukan putri angkatnya."

"Lepaskan aku!" Helen meronta, namun cengkeraman Andre begitu kuat, seolah tulang pergelangan tangannya akan remuk.

Rasa takut yang luar biasa berubah menjadi insting bertahan hidup yang liar. Di dalam benak Helen, wajah ayahnya yang terbakar, wajah Beatrix yang tertawa, dan wajah Ario yang terluka berkelebat menjadi satu. Ia tidak boleh tertangkap. Jika ia tertangkap sekarang, perjuangan Ario akan sia-sia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!