NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

***

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam penthouse Menara Mega Kuningan, kesunyian itu terasa mencekik. Rahayu atau Mayang, nama yang kini hanya berani diucapkan oleh segelintir orang berdiri di balik jendela kaca setinggi langit-langit. Di tangannya, segelas air putih terasa sedingin es. Pikirannya tidak tertuju pada Baskara yang meringkuk lapar di sofa luar, melainkan pada Aditya.

Aditya. Pria yang dulu menjadi simbol kepolosan masa mudanya kini kembali sebagai badai yang tenang.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

“Aku tahu kau tidak bisa tidur, Mayang. Beban di bahumu terlalu berat untuk dipikul sendirian. Datanglah ke kantorku besok jam delapan malam. Kita bicara sebagai teman lama, bukan sebagai auditor.”

Mayang mematikan layar ponselnya. Ia tahu itu adalah undangan yang berbahaya. Namun, peringatan Aditya tentang rencana tersembunyi Baskara dan hutang sindikat penjara pria itu membuatnya tidak punya pilihan. Ia harus tahu seberapa dalam lubang yang sedang digali Baskara di bawah kakinya sendiri.

**

Keesokan malamnya, Mayang melangkah masuk ke sebuah gedung perkantoran pemerintah yang tampak kaku di kawasan Jakarta Pusat. Namun, ruangan Aditya di lantai atas jauh dari kesan kaku. Lampu temaram, aroma kayu cendana, dan musik klasik yang diputar sangat lirih menyambutnya.

Aditya berdiri di balik meja kerjanya yang luas, melepas dasinya dan menggulung lengan kemejanya. Ia tampak jauh lebih santai, namun auranya jauh lebih mendominasi.

"Kau datang tepat waktu, Mayang," ujar Aditya sembari menuangkan dua gelas anggur merah.

"Aku di sini untuk bukti-bukti tentang Baskara, Adit. Bukan untuk minum," sahut Mayang ketat, ia duduk di kursi kulit di depan meja Aditya tanpa melepaskan tas Hermes-nya.

Aditya terkekeh, suara yang terdengar sangat matang dan maskulin. Ia berjalan mendekat dan memberikan gelas itu pada Mayang.

"Minumlah. Kau tampak sangat tegang. Kau tidak perlu memakai topeng Nyonya M di depanku."

Mayang menerima gelas itu, namun ia tetap waspada. "Apa yang kau temukan?"

Aditya duduk di tepi meja, sangat dekat dengan posisi Mayang. "Baskara menggunakan namamu untuk menjamin pinjaman dari faksi kriminal yang dulu ia kenal di sel. Mereka tidak peduli kau mencabut laporan polisi atau tidak. Mereka ingin uang mereka kembali, atau mereka akan mengambil aset propertimu di Bali. Jika itu terjadi, audit negara akan masuk, dan citra Rahayu Group sebagai perusahaan bersih akan hancur seketika."

Mayang memejamkan mata sejenak. "Pria sialan itu benar-benar parasit."

"Itulah sebabnya kau butuh pelindung yang punya kuasa hukum, Mayang," bisik Aditya. Ia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh helai rambut Mayang yang jatuh ke bahu. "Seorang pria yang bisa menghapus jejak Baskara tanpa perlu ada skandal publik."

Mayang segera menjauhkan kepalanya. "Dan aku tahu perlindungan itu tidak gratis, Adit. Apa yang kau inginkan? Uang? Saham di perusahaanku?"

Aditya tersenyum tipis, tatapannya kini berubah menjadi sesuatu yang sangat gelap dan penuh gairah. "Aku sudah punya cukup uang, Mayang. Dan saham tidak memberiku kepuasan yang murni."

Ia berdiri dan berjalan perlahan mengitari kursi Mayang. "Sepuluh tahun aku memendam rasa ini. Aku melihatmu dari jauh, melihatmu disentuh oleh Aris, diperlakukan seperti pajangan oleh Gunawan, dan diperbudak oleh preman seperti Baskara. Aku iri, Mayang. Aku iri karena mereka bisa menikmati keindahanmu, sementara aku hanya bisa melihat fotomu di majalah bisnis."

Mayang menegang. "Aditya, hentikan. Aku sudah cukup menderita oleh pria-pria yang menganggap rahimku sebagai transaksi."

"Oh, tidak, sayang," sela Aditya, kini ia berdiri tepat di belakang kursi Mayang, meletakkan kedua tangannya di bahu Mayang dan meremasnya pelan. "Aku tidak ingin transaksimu. Aku ingin... pengabdianmu. Aku tidak butuh pernikahan yang kaku seperti Baskara. Aku hanya ingin tempat di mana aku bisa memilikimu sepenuhnya tanpa ada orang yang tahu."

Mayang berdiri mendadak, berbalik menghadap Aditya dengan mata menyala. "Kau ingin aku menjadi simpananmu? Kau tidak ada bedanya dengan mereka!"

****

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!