Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13: Misi gagal? I
Seorang pemuda nampak cukup ngebut di jalan raya malam itu. Angin dingin menusuk kulitnya yang hanya memakai jaket tipis. Ia tak lain adalah Alvaro yang sedang terburu-buru karena misi dadakan dari sistem.
"Aku harus memutar otak, aku tak bisa seratus persen hanya mengandalkan sistem," gumamnya sambil tetap fokus mengendalikan motor bututnya yang sudah bergetar hebat.
Ia mencoba mengebut lebih kencang, mesin motor tua itu bekerja keras sampai terdengar suara mengerang yang memilukan. Jarum speedometer naik terus, hampir mencapai batas kemampuan motor itu. Alvaro tahu motor ini sudah tua, tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain.
Ia harus cepat. Harus menyelamatkan orang itu sebelum terlambat.
Saat melewati sebuah perempatan, lampu lalu lintas sudah menyala merah terang, tapi Alvaro tidak menggubrisnya sama sekali.
"Ciiittttt… Tiiiinnnnn… Sial!!!"
"Woii!!" teriak seorang pengendara mobil yang hampir saja bertabrakan dengannya. Klakson mobil itu membahana keras di malam yang sepi.
Alvaro hanya bisa menelan ludah. 'Aku benar-benar minta maaf… tapi aku harus cepat,' sesalnya dalam hati. Dia tetap mempertahankan kecepatan tinggi, meski hatinya berdegup kencang.
"Sial, tinggal 20 menit lagi!" umpatnya sambil melirik hologram misi yang terus menghitung mundur.
20.15… 20.05… 19.30… 18.47…
Waktu terus berlalu dengan kejam. Padahal ia baru melewati setengah jalan. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Wiiuuuu… Wiiuuuu… Wiiuuuu…
Tiba-tiba suara sirine polisi terdengar dari belakang. Semakin lama semakin jelas dan semakin dekat. Jantung Alvaro hampir meledak karena panik.
"Harap segera kurangi kecepatan Anda dan menepi! Sekali lagi, kurangi kecepatan dan menepi!" terdengar suara dari pengeras suara mobil patroli.
"Sialan… apa yang harus aku lakukan sekarang?" fikir Alvaro ketakutan.
Dalam kebingungan yang hebat, Alvaro mengangkat tangan kirinya dan memberi kode agar polisi mendekat. Ia berdoa dalam hati semoga polisi itu mengerti.
Sirine semakin dekat hingga mobil patroli itu akhirnya sejajar di sampingnya.
"Nak! Apa yang kau lakukan?! Segera kurangi kecepatan dan menepi!!" teriak seorang polisi paruh baya dari dalam mobil.
Alvaro melirik sekilas. Polisi itu berambut agak pirang dan terlihat marah besar.
"Benar juga… aku tak peduli misinya gagal atau tidak, asal orang itu selamat," gumam Alvaro dalam hati.
"Pak! Tolong segera ke Jembatan Gantung Kriyan di batas provinsi! Di sana ada orang yang mau bunuh diri!!" teriak Alvaro sekuat tenaga.
"Hei nak, jangan bercanda! Segera menepi!!" balas polisi itu tak percaya.
"Tidak Pak, saya sungguh-sungguh! Tak ada alasan buat saya cari masalah di jalanan pakai motor butut begini! Tolong Pak, kita sedang berlomba dengan waktu!!" teriak Alvaro lagi, suaranya hampir pecah.
Polisi yang duduk di kursi kemudi mengerutkan kening. "Kenapa dengan anak itu? Perlu kita hentikan paksa saja?"
"Sebentar… dia bilang ada orang yang mau bunuh diri di jembatan batas provinsi," jelas polisi pirang itu.
"Apa-apaan alasan konyol itu? Balapan di jalan ramai begini, nyari mati apa gimana?" gerutu polisi yang menyetir kesal.
"Pak tolong!! Nyawa orang sedang di ujung tanduk!!" teriak Alvaro sekali lagi, suaranya penuh keputusasaan.
Polisi pirang itu diam sejenak, lalu berkata pada rekannya, "Sepertinya dia jujur. Ayo kita cek saja dulu. Takutnya benar terjadi."
"Kau percaya omongan bocah itu?" tanya rekannya kesal.
"Sudahlah, nanti kalau bohong kita tinggal cek rekaman. Aku sudah hafal plat nomornya. Ayo gas!"
Polisi yang menyetir mendesah pasrah. "Ahh baiklah… tapi kalau kau salah, kau harus mentraktir aku ayam goreng utuh satu ekor!"
"Begitu pula sebaliknya," balas polisi pirang sambil tersenyum tipis. Ia lalu menoleh ke Alvaro dan memberi kode OK dengan jempolnya.
"Baiklah! Kurangi kecepatanmu, kita ikut!!" teriak polisi pirang itu.
Alvaro mengangguk kuat-kuat, rasa lega langsung membanjiri dadanya.
"Hahhhh… lega sekali rasanya," desah Alvaro sambil duduk di kursi depan sebuah minimarket 24 jam. Tubuhnya terasa lelah sekali setelah kejar-kejaran tadi.
"Haduh, jam berapa ini ya?" gumamnya sambil mencari-cari ponsel. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Sialan, ponselku masih di sekolah," keluhnya kesal. Ia pun bangkit dari duduknya dengan lesu.
"Hmm… gimana ya cara ambil uang dari sistem? Uangku tinggal dikit buat bensin," fikirnya sambil menggaruk-garuk kepala. Ia melirik indikator bensin yang sudah mendekati angka nol.
"Status:
Nama: Alvaro Wibisono
Gelar: Pelajar
Poin sistem: 80
Aset:4% saham Victory group, unit apartemen nomor 37 Velaris Residence
Inventori: resident identity card, 65.000.000>>
Strength: 5 +(1)
Agility: 3+(1)
intelligence: 5
charisma: 5
Ability: Matematika tingkat menengah, bahasa inggris dan sastra tingkat dasar,
Misi Berjalan: Menghentikan seseorang dalam upaya bunuh diri — 00:07:13 "
"Sepertinya misinya bakal gagal deh…" desah Alvaro melihat waktu yang tersisa tinggal tujuh menit. Tapi ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya dan langsung membuka panel inventori.
Ia melihat simbol ">>" di belakang nominal uang dan mencoba menekannya penasaran.
"Ting…"
Layar berganti. Ada dua pilihan: gambar tumpukan uang dan gambar kartu akses apartemen.
Alvaro menekan gambar uang. Muncul kolom untuk memasukkan nominal.
"Bisa langsung ditarik ya?" gumamnya. Ia mengetik nominal uang sebesar 5 juta lalu menekan OK.
"Ting…"
Muncul kotak hitam kecil bertuliskan ‘HERE’.
Dengan ragu, Alvaro memasukkan tangannya ke dalam kotak hitam itu. Ia merasakan sensasi dingin dan menyentuh sesuatu seperti tumpukan kertas. Ia tarik keluar perlahan.
Matanya langsung melebar.
"Itu… uang beneran?!" serunya tak percaya, tapi senyumnya mengembang lebar.
"Wow… sial, ini benar-benar terjadi."
Ia memandangi uang yang baru saja diambilnya dengan perasaan campur aduk antara senang dan tidak masuk akal.
"Iya juga, mending sekalian beli smartphone baru. Yang lama udah terlalu jelek dan nggak support banyak aplikasi," pikirnya realistis. Dulu dia sering dapat keringanan tugas karena HP-nya tidak bisa dipakai untuk beberapa pekerjaan sekolah.
Akhirnya Alvaro bangkit lalu berjalan menuju motor bututnya, sebelum itu ia menarik sejumlah uang lagi baru melanjutkan perjalanan.
Berjalan selama beberapa menit lalu iaberhenti sebentar di pom bensin untuk mengisi bahan bakar.
Setelah itu ia kembali melaju hingga menemukan sebuah toko smartphone besar yang masih buka malam itu.
...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...
kritik dan saran boleh kokk