Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kecupan
Pagi itu Samira terbangun dari tidurnya dengan raut wajah yang sulit menyembunyikan kebahagiaan.
Begitu membuka mata, ia menyadari posisinya masih berada di dalam pelukan Samudra. Lengan pria itu melingkar erat di pinggangnya, sementara wajah Samudra sedikit tersembunyi di belakang bahunya.
Samira terdiam beberapa detik.
Ada perasaan hangat yang memenuhi dadanya.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Perlahan, pikiran Samira mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat hatinya kembali gelisah.
Apakah Samudra sudah mulai mencintainya?
Ataukah ini hanya kebahagiaan sesaat?
Samira menghela napas pelan.
Sebenarnya ia ingin sekali mengabadikan momen ini. Rasanya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
Namun di saat yang sama, ia juga takut.
Takut kalau ia terlalu berharap.
Samira mencoba mengusir pikiran negatif itu dari kepalanya. Tetapi tetap saja sulit. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin kuat pikiran itu kembali muncul.
Apalagi perubahan sikap Samudra yang terasa begitu drastis dalam beberapa hari terakhir.
Bagaimana kalau sebenarnya Samudra hanya melakukan semua ini demi Binar?
Mungkin saja ia hanya ingin melihat putrinya bahagia.
Pikiran Samira kembali melayang pada sebuah pertemuan beberapa waktu lalu, saat ia bertemu dengan mantan kekasih Samudra.
Seketika hatinya terasa sesak.
Sejak awal, ia memang tidak pernah ingin terlalu berharap.
Pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta.
Samudra menikahinya hanya karena tanggung jawab… karena saat itu Samira tengah mengandung anaknya. Bahkan keputusan itu pun lebih banyak karena permintaan orang tua Samudra.
Sudah lima tahun mereka menjalani pernikahan ini.
Lima tahun tanpa cinta yang jelas di antara mereka.
“Sudahlah, Samira…” batinnya pelan.
“Sudah waktunya kamu berhenti berharap.”
Bagaimana jika suatu saat nanti Samudra benar-benar menemukan wanita yang ia cintai?
Memikirkan itu membuat dada Samira terasa menyesakkan.
Namun sejak awal ia sudah menyiapkan dirinya untuk kemungkinan itu.
Jika suatu hari nanti Samudra ingin menceraikannya… ia harus siap.
Lamunan Samira buyar ketika ia teringat sesuatu.
Sarapan.
Hari sudah mulai pagi. Ia harus segera menyiapkan sarapan untuk Binar dan Samudra.
Dengan hati-hati Samira mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Namun tubuh Samudra jauh lebih besar darinya, dan pelukan pria itu masih cukup erat.
Samira mencoba bergerak sedikit.
Tetap saja tidak berhasil.
Akhirnya ia menghela napas pelan.
“Mas…” panggilnya sambil menggoyangkan pelan tubuh Samudra.
“Mas, tolong lepasin dulu. Aku mau siapin sarapan buat kamu sama Bibi.”
Samudra mengerang pelan.
“Nanti sebentar lagi… aku masih ngantuk,” jawabnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Padahal sebenarnya Samudra sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu.
Ia bahkan tahu kalau tadi Samira sempat melamun cukup lama.
Lalu kenapa ia tidak melepaskan pelukannya?
Jawabannya sederhana.
Karena ia masih nyaman dengan posisi ini.
Samira kembali mencoba membujuk.
“Ayolah, Mas. Aku mau siapin sarapan dulu. Takut Bibi keburu bangun.”
Samudra malah mengeratkan sedikit pelukannya.
“Ya biarin aja,” jawabnya santai.
“Pasti nanti Bibi ke kamar kita.”
Samira sedikit kesal mendengarnya.
“Mas…”
Ia mencoba melepaskan tangan Samudra lagi.
Namun pria itu malah semakin menahan tubuhnya.
Samira akhirnya memutar sedikit tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
“Mas, aku serius.”
Baru saja Samira selesai bicara, tiba-tiba Samudra membuka matanya.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Beberapa detik keduanya hanya saling diam.
Lalu tiba-tiba…
Samudra tertawa pelan.
Samira langsung mengerutkan kening.
“Mas ketawa apa?”
Samudra masih tersenyum sambil menatap wajah istrinya.
“Lucu aja,” katanya santai.
“Apa yang lucu?” tanya Samira bingung.
Samudra mengangkat satu tangannya dan menyingkirkan beberapa helai rambut Samira yang jatuh menutupi wajahnya.
“Kamu dari tadi ngomel terus.”
Samira langsung memalingkan wajahnya sedikit.
“Aku bukan ngomel. Aku mau masak.”
Samudra malah tertawa lagi.
Tawa kecil yang jarang sekali Samira dengar selama lima tahun pernikahan mereka.
“Mas…”
Samira semakin bingung melihat sikap suaminya.
Samudra akhirnya menghela napas pelan lalu melepaskan pelukannya.
“Ya sudah, sana. Masak dulu.”
Samira langsung bangkit dari tempat tidur.
Namun baru dua langkah berjalan menuju pintu kamar, tiba-tiba suara Samudra terdengar lagi dari belakang.
“Mir.”
Samira menoleh.
“Iya?”
Samudra menatapnya beberapa detik sebelum berkata,
“Mas mau nasi goreng.”
Samira berkedip.
“Mas mau nasi goreng?”
Samudra mengangguk santai.
“Iya. Sama telur ceplok.”
Samira hanya bisa menatapnya dengan ekspresi aneh.
Lima tahun menikah…
Dan ini pertama kalinya Samudra meminta menu sarapan.
Samudra yang melihat ekspresi itu malah tertawa lagi.
“Kenapa lihat aku kayak gitu?”
Samira menggeleng pelan.
“Enggak apa-apa.”
Namun begitu keluar dari kamar, tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya.
Pagi ini terasa… berbeda.
Sementara di dalam kamar, Samudra yang masih berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis.
Entah sejak kapan…
Ia mulai merasa kalau rumah ini benar-benar terasa seperti rumah.
@@@
Pagi itu, setelah sarapan selesai, Samudra bersiap untuk berangkat ke kantor seperti biasanya.
Ia sudah mengenakan kemeja kerja dan jas yang tergantung rapi di lengannya. Binar masih duduk di kursi makan sambil menghabiskan susu yang tadi dibuatkan oleh Samira.
Samira sendiri berdiri di dekat pintu, seperti kebiasaannya setiap pagi, menunggu Samudra berpamitan sebelum berangkat kerja.
Samudra berjalan mendekat.
Binar langsung berseru lebih dulu.
“Papa kerja?”
Samudra tersenyum kecil lalu mengusap kepala putrinya.
“Iya, sayang. Papa kerja dulu.”
“Papa nanti pulang cepat?” tanya Binar lagi.
“Kalau bisa, Papa pulang cepat,” jawabnya lembut.
Setelah itu Samudra mengalihkan pandangannya pada Samira.
Samira yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung menundukkan sedikit kepalanya. Ia kemudian mengulurkan tangan, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali suaminya hendak berangkat.
“Mas hati-hati di jalan,” ucapnya pelan.
Samudra menerima uluran tangan itu.
Samira mencium punggung tangan suaminya dengan sopan.
Namun saat Samira hendak menarik tangannya kembali, tiba-tiba Samudra menahan bahunya sebentar.
Gerakan itu membuat Samira sedikit terkejut.
Belum sempat ia bertanya, Samudra tiba-tiba menunduk dan memberikan kecupan singkat di dahi Samira.
Seketika tubuh Samira membeku.
Ia benar-benar tidak menyangka.
Selama lima tahun pernikahan mereka… Samudra hampir tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Namun Samira cukup lihai menyembunyikan keterkejutannya. Ia hanya menundukkan kepalanya sedikit agar ekspresinya tidak terlalu terlihat.
Samudra sendiri tampak santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang aneh.
“Aku berangkat dulu,” katanya.
“Iya, Mas… hati-hati,” jawab Samira pelan.
Samudra kemudian keluar rumah menuju mobilnya.
Suara mesin mobil tak lama kemudian terdengar dari halaman depan, lalu perlahan menjauh meninggalkan rumah.
Beberapa detik Samira masih berdiri di tempatnya.
Tangannya tanpa sadar menyentuh dahinya sendiri.
Bekas kecupan tadi masih terasa hangat.
Samira menatap pintu rumah yang sudah tertutup.
Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.
Namun bersamaan dengan itu, ada juga perasaan ragu yang menyelinap di hatinya.
Samira menundukkan kepala sedikit.
“Bolehkah aku berharap… Mas Samudra bisa belajar mencintaiku?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu hanya bergema di dalam hatinya sendiri.
Sementara di luar rumah, mobil Samudra sudah melaju menuju kantor.
Di dalam mobil, pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi.
Entah kenapa bayangan wajah Samira saat tadi berpamitan terus terlintas di pikirannya.
Samudra menghela napas pelan.
Ia sendiri tidak tahu sejak kapan sikapnya mulai berubah.
Namun satu hal yang ia sadari dengan jelas…
Ia mulai menikmati setiap momen kecil yang melibatkan Samira dan Binar.
Tanpa sadar, sudut bibir Samudra terangkat sedikit.
Mungkin…
Rumah yang selama ini terasa biasa saja baginya… kini mulai terasa berbeda.
Dan perubahan itu… selalu berpusat pada satu orang.
Samira.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!