NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~23 Gustaf meminta solusi

Setelah perjumpaan yang menyakitkan itu, Raja Gustaf berjalan gontai menuju taman belakang tempat Layla biasa duduk menyendiri. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak merosot, beban di dadanya terasa jauh lebih berat daripada saat ia harus memikul tanggung jawab memimpin perang dulu. Kata-kata Laras—pembunuh, musuh, tidak akan pernah dimaafkan—terus bergaung di telinganya, seperti kutukan yang tak bisa ia hilangkan.

Ia menemukan Layla sedang memetik kelopak bunga melati, matanya sembab. Jelas sekali, wanita itu juga mendengar segalanya dari balik tiang lorong tadi.

"Ratu Layla..." panggil Gustaf pelan. Suaranya parau, hilang sudah wibawa seorang Raja yang biasanya menggelegar.

Layla menoleh, lalu segera bangkit berdiri melihat raut wajah suaminya yang begitu muram dan penuh rasa bersalah.

"Baginda..." ucapnya lembut, menyadari betapa hancur hati Gustaf saat ini.

Gustaf mendekat, lalu untuk pertama kalinya di hadapan istrinya, ia tampak benar-benar putus asa. Ia duduk di bangku batu, menundukkan wajah ke kedua telapak tangannya.

"Aku pikir aku sudah melakukan segalanya," gumam Gustaf berat. "Aku datang meminta maaf, aku membawa damai, aku memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada Ayah dan Ibu. Aku pikir... cukup untuk menebus kesalahan masa lalu. Tapi tadi... saat Laras menatapku..."

Ia mengangkat wajah, matanya menatap Layla penuh kepedihan.

"Aku sadar, aku tidak membawa damai untuk semua orang. Bagiku, dia hanya istri seorang panglima yang tewas di medan perang. Tapi baginya... aku adalah orang yang merenggut segalanya. Layla, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar lukanya sedikit saja berkurang? Apa ada cara agar aku tidak selamanya menjadi 'pembunuh' di matanya?"

Layla ikut duduk di sampingnya, menggenggam tangan besar Gustaf yang terasa dingin dan gemetar.

"Baginda, luka yang dikarenakan kematian orang yang dicintai tidak bisa sembuh dalam semalam, apalagi luka yang sedalam itu. Kak Laras tidak hanya kehilangan suami, tapi masa depannya, kebahagiaannya, dan dunianya yang utuh hancur seketika."

Layla menghela napas panjang, berusaha merangkai kata yang tepat.

"Maaf dan kemuliaan tidak cukup untuk mengembalikan apa yang hilang. Saat ini, mungkin satu-satunya solusi... adalah kesabaran dan waktu. Biarkan dia marah, biarkan dia membenci, biarkan dia melampiaskan semuanya. Jangan dilawan, Baginda. Terima semua kebenciannya sebagai bagian dari hukuman atas perbuatan masa lalu kita. Perlahan... entah kapan, mungkin hatinya akan sedikit lebih lunak. Tapi sampai saat itu tiba, kita harus tetap ada di sini, menghormatinya, dan membuktikan bahwa kehadiran kita tidak akan membuatnya semakin menderita."

Gustaf mengangguk pelan, menyerap setiap kata istrinya. Meski rasa bersalah itu masih menghimpit, setidaknya ia tahu arah yang harus ditempuh.

"Kau benar. Aku akan menanggung semua kebencian itu. Aku akan menunggu, selama apapun itu. Asalkan... setidaknya dia bisa hidup tenang dan bahagia di sini."

 __

Sementara itu, di sisi lain istana, di dalam kamar yang sepi dan penuh aroma bunga kamboja, Laras masuk dengan langkah berat namun penuh amarah. Pintu kamar ditutupnya keras-keras, seolah ingin menutup semua bayangan wajah Gustaf yang terus mengganggu pikirannya.

Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek. Pertemuan tadi benar-benar mengaduk kembali semua luka yang ia coba tahan rapat-rapat. Melihat pria yang bertanggung jawab atas kematian suaminya itu berjalan tegak, dihormati, dan diterima oleh semua orang... rasanya seperti ditusuk berulang kali.

"Semua orang di sini sudah berubah... semua orang sudah lupa," geram Laras pelan sambil berjalan ke arah peti kayu besar di sudut ruangan. "Istana ini sudah bukan tempat yang sama lagi. Di sini, pembunuh dijadikan keluarga. Di sini, darah yang tumpah dianggap tidak penting dibandingkan keuntungan politik."

Ia menarik penutup peti itu hingga terbuka lebar. Di dalamnya tersimpan pakaian-pakaian kebaya terbaiknya, kain sutra, dan barang-barang miliknya.

"Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi," batinnya tegas. "Setiap kali aku melihat wajah Raja Gustaf, aku merasa sedang mengkhianati kenangan mendiang Laksamana. Aku tidak akan membiarkan diriku terbuai seperti mereka. Aku akan pergi. Aku akan pulang ke Kerajaan Kencana Sari, tanah kelahiranku, tempat di mana tidak ada orang yang memanggil pembunuh sebagai 'keluarga'."

Dengan tangan yang masih gemetar karena emosi, Laras mulai mengambil satu per satu pakaiannya, melipatnya dengan kasar, lalu memasukkannya kembali ke dalam peti. Ia berniat berpamitan pada Raja Batara dan Ratu Saraswati sore ini juga, lalu berangkat pagi-pagi sekali besok. Di Kencana Sari, ia punya keluarga, punya tanah warisan, dan tempat di mana ia bisa mengenang suaminya dengan tenang tanpa gangguan apapun.

"Di sana aku bisa hidup tenang... di sana tidak ada damai palsu... di sana aku masih bisa menjadi janda yang setia pada dendamnya," gumamnya sambil menyambar kain selendang berwarna hitam pekat.

Namun, saat ia sedang meraih kotak perhiasan di atas meja rias, tiba-tiba rasa mual yang luar biasa menyerangnya.

Perutnya terasa berputar hebat, seolah isi perutnya diaduk-aduk. Rasa itu datang begitu cepat dan tiba-tiba, jauh lebih parah daripada rasa mual biasa yang pernah ia rasakan.

"Ughhh..." Laras menekan mulutnya kuat-kuat dengan tangan kiri, wajahnya memucat seketika. Ia berusaha berjalan cepat ke arah tempayan air di sudut kamar, namun belum sempat ia sampai di sana, rasa itu meledak keluar.

Hukk... Hukk...

Laras muntah-muntah hebat di lantai kamar. Isi perutnya yang hanya berisi sedikit air dan bubur pagi itu keluar semua, terasa panas dan perih di kerongkongannya. Tubuhnya lemas sekali, kakinya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh.

"Kenapa... kenapa rasanya seburuk ini?" bisiknya lemah, keringat dingin mulai membasahi seluruh wajah dan lehernya.

Ia mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, berpikir mungkin ia hanya terlalu lelah atau terlalu banyak menahan emosi hari ini. Namun, rasa pusing yang berputar semakin hebat menyerang kepalanya. Pandangannya yang tadinya jelas, perlahan mulai kabur, berbayang, dan berubah menjadi gelap di pinggiran matanya.

Kakinya yang sudah tidak bertenaga lagi akhirnya menyerah. Pandangannya menggelap sepenuhnya.

Bersama bunyi gaduh saat kotak perhiasan terlepas dari tangannya, tubuh Laras yang ramping itu jatuh terkulai lemas ke lantai kayu yang dingin. Ia pingsan sepenuhnya, tergeletak di tengah tumpukan pakaian yang belum selesai ia kemas, dengan peti yang masih terbuka lebar di sampingnya.

Keheningan kembali menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara napas Laras yang berat dan tidak beraturan. Di luar kamar, tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi. Niatnya untuk pergi, dan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba ambruk... menjadi misteri yang menunggu untuk ditemukan.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!