Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Beberapa hari berlalu di ruang rawat VIP rumah sakit, dan kondisi kesehatan Nada menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Sebagai seorang dokter, Nada tahu betul bagaimana cara membantu tubuhnya sendiri agar lebih cepat pulih, diimbangi dengan kepatuhannya meminum obat yang tentu saja, tidak lagi perlu dipaksa dengan cara nekat seperti hari pertama.
Selama masa pemulihan itu, Siska hampir tidak pernah absen mendampingi menantunya. Setiap pagi setelah Kelvin berangkat ke kantor, Siska akan datang membawa buah-buahan segar, sup hangat buatan rumah, atau sekadar teman mengobrol agar Nada tidak bosan. Hubungan antara ibu mertua dan menantu itu terjalin semakin erat dan hangat. Di mata Siska, Nada bukan lagi sekadar gadis desa pilihan ayahnya, melainkan pahlawan yang telah mempertaruhkan nyawa demi melindungi putra tunggalnya.
"Kulitmu sudah mulai merona lagi, Nada. Mama senang sekali melihatnya," ujar Siska siang itu, sembari menyisir rambut hitam Nada dengan penuh kasih sayang.
"Ini semua berkat rawatan Mama yang luar biasa. Masakan Mama setiap hari membuat nafsu makan saya kembali," balas Nada dengan senyuman tulus yang menenangkan. Di balik senyum itu, Nada mencatat dalam hatinya bahwa kasih sayang Siska adalah keuntungan besar bagi posisinya di keluarga Alexander.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir dari dokter spesialis bedah saraf, luka di kepala Nada sudah mengering dengan baik dan seluruh indikator kesehatannya telah dinyatakan stabil. Nada akhirnya diperbolehkan untuk pulang hari ini.
Siang itu, pintu kamar rawat terbuka. Kelvin melangkah masuk dengan setelan kemeja formal yang lengannya sudah digulung hingga siku. Pria itu sengaja mengosongkan jadwal rapat pentingnya di kantor siang ini demi menjemput istrinya.
"Semua administrasi dan obat jalan sudah selesai kuurus," ucap Kelvin datar saat matanya berbenturan dengan mata Nada. Meskipun suaranya terdengar dingin seperti biasa, ada gurat kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan dari sepasang matanya.
"Terima kasih, Mas," jawab Nada lembut, memberikan kedipan mata tipis yang seketika membuat Kelvin berdeham kaku dan membuang muka demi menjaga wibawanya di depan sang ibu.
Siska yang melihat interaksi itu hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. "Sudah, ayo kita bersiap. Sopir sudah menunggu di lobi bawah dengan kursi roda."
Meskipun Nada bersikeras bahwa ia sudah bisa berjalan sendiri dengan perlahan, Kelvin tetap bersikap posesif secara tidak langsung. Pria itu dengan cekatan membantu Nada berdiri dari ranjang, menahan pinggang ramping istrinya dengan kokoh agar tidak oleng, lalu membimbingnya duduk di atas kursi roda yang telah disiapkan.
Perjalanan pulang siang itu terasa sangat nyaman di dalam mobil limosin hitam milik keluarga Alexander. Nada duduk di kursi belakang, diapit oleh Siska di sebelah kirinya dan Kelvin di sebelah kanannya.
Di sepanjang jalan membelah arus lalu lintas ibu kota, Siska tidak berhenti menggenggam tangan Nada, membicarakan tentang menu makan malam menyambut kepulangan Nada yang sudah dipesan khusus kepada koki rumah.
"Nanti sampai rumah, kamu langsung istirahat di kamar ya, Nada. Jangan memikirkan urusan klinik atau proyek dulu. Biar Kelvin yang mengurus semua keperluanmu," tutur Siska penuh perhatian.
"Iya, Ma," jawab Nada patuh.
Sementara itu, Kelvin yang duduk di sisi kanan hanya terdiam sembari menatap ke luar jendela mobil. Namun, tangan kirinya tidak sepenuhnya diam. Di bawah tutupan tas rajut milik Nada yang diletakkan di atas paha, jemari kokoh Kelvin perlahan bergerak menyentuh dan menyelipkan jari-jemarinya di sela jemari lentik Nada, menggenggamnya dengan erat namun lembut—sebuah gestur tersembunyi yang sarat akan rasa bersalah, kehangatan, sekaligus rasa kepemilikan yang mulai tumbuh di dalam dadanya.
Nada sempat tersentak kecil merasakan kehangatan yang tiba-tiba melingkari tangannya. Ia melirik Kelvin dari samping, namun pria itu tetap berwajah datar seolah tidak terjadi apa-apa, pandangannya lurus menatap jalanan kota. Nada tersenyum dingin di dalam hatinya, perlahan membalas remasan tangan Kelvin. Langkah kepulangannya hari ini bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai pemenang yang siap mengendalikan penuh isi hati sang CEO Alexander Group.