Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Dinding Kepercayaan
Ponsel di tangan Anya terasa seberat bongkahan batu. Suara digital dari penelepon misterius itu seolah masih terngiang di telinganya, memantul di dinding-dinding ruang kerja CEO yang mendadak terasa begitu asing dan dingin.
Apakah Devan benar-benar mengejar Clara malam itu? Apakah Kakek Bramanta menghapus rekaman suara demi menutupi dosa cucunya?
Anya menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir pikiran-pikiran beracun itu. Ia tahu betul bagaimana kelicikan musuh-musuh Alfarezel. Mereka gagal menghancurkannya dengan status sosial dan masa lalu keluarganya, jadi sekarang mereka menggunakan taktik psikologis untuk memecah belah hubungannya dengan Devan. Namun, detail tentang "telepon darurat" dan "penghapusan server" terasa terlalu spesifik untuk sekadar bualan kosong.
Pintu ruangan terbuka, membuat Anya tersentak. Randi masuk dengan ekspresi cemas, membawa tablet dan beberapa berkas baru.
"Nona Anya, Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali," tanya Randi, melangkah mendekat dengan dahi berkerut.
Anya dengan cepat menyembunyikan ponselnya ke dalam saku blus. Ia menarik napas dalam, berusaha mengontrol suaranya agar tetap stabil. "Aku tidak apa-apa, Randi. Hanya sedikit terkejut dengan suara petir tadi. Ada perkembangan dari tim forensik?"
Randi menghela napas panjang, menggeleng lesu. "Kurir itu benar-benar profesional yang disewa lewat jaringan gelap, Nona. Kami kehilangan jejaknya setelah dia memasuki area pasar tradisional di Jakarta Utara. Dia berganti pakaian dan membuang motornya di sana.
Namun, Pak Devan baru saja menelepon dari Singapura. Rapat akuisisi berjalan sangat lancar, dan beliau memutuskan untuk mempercepat kepulangannya menggunakan jet pribadi malam ini."
"Malam ini?" Anya tertegun. Ada rasa lega, namun di saat yang sama, ada rasa takut yang aneh merayap di hatinya. Bagaimana ia harus menatap mata Devan nanti?
"Benar, Nona. Pak Devan memperkirakan akan tiba di penthouse sekitar pukul sebelas malam.
Beliau meminta saya untuk memastikan Anda langsung pulang ke penthouse sore ini dengan pengawalan ketat," jelas Randi.
Pukul sebelas malam lewat lima belas menit.
Udara di dalam penthouse Devan terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara rintik hujan yang belum mereda di luar. Anya duduk di sofa ruang tamu yang luas, mengenakan pakaian santai rajut berwarna krem. Di hadapannya, secangkir teh kamomil yang sudah mendingin sama sekali tidak disentuh.
Suara denting lift pribadi yang terhubung langsung ke penthouse memecah keheningan. Pintu lift terbuka, dan sosok Devan Alfarezel melangkah masuk. Pria itu tampak lelah, jas hitamnya tersampir di lengan kiri, sementara dasinya sudah dilonggarkan. Namun, begitu matanya menangkap sosok Anya yang duduk kaku di sofa, rasa lelah di wajah Devan seketika menguap, digantikan oleh binar kehangatan yang pekat.
Devan meletakkan jas dan tas kerjanya di meja lobi, lalu berjalan cepat menghampiri Anya. Ia langsung berlutut di depan sofa, meraih kedua tangan Anya yang mendadak mendingin, lalu mengecupnya dengan penuh kerinduan.
"Aku pulang," bisik Devan, suaranya yang bariton terdengar serak namun begitu menenangkan. "Randi bilang kau tidak nafsu makan malam ini. Apakah si keparat pengirim paket itu membuatmu cemas lagi?"
Anya menatap wajah tampan di hadapannya.
Garis rahangnya yang tegas, mata elangnya yang selalu memancarkan perlindungan, dan sentuhan tangannya yang begitu hangat bagaimana mungkin pria ini adalah seorang monster?
Anya menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya. Ia tidak bisa menyimpan rahasia ini sendirian. Jika hubungan mereka didasarkan pada cinta yang nyata, maka tidak boleh ada dinding pembatas di antara mereka.
"Devan... sore tadi, seseorang menelepon ponsel pribadiku," ucap Anya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Genggaman tangan Devan di jemari Anya seketika mengeras. Matanya menyipit berbahaya.
"Siapa? Apakah nomornya terlacak oleh Randi?"
"Nomornya tidak dikenal," Anya menggeleng, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Devan, mencari reaksi terkecil dari pria itu.
"Dia menggunakan alat pengubah suara. Dia... dia bilang aku harus membatalkan pernikahan ini dalam tiga hari, atau aku akan berakhir seperti Clara."
Kemarahan yang murni seketika berkilat di wajah Devan. Ia berdiri, rahangnya mengeras sempurna. "Aku akan memburu bajingan itu sampai ke lubang cacing sekalipun! Dia sudah berani menyentuh privasimu."
"Dia juga mengatakan sesuatu tentang malam kematian Clara, Devan," potong Anya dengan cepat, suaranya meninggi, menghentikan kalimat Devan.
Ruangan itu mendadak hening total. Keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jam dinding terasa seperti dentuman keras. Devan memaku tubuhnya di tempat, membelakangi Anya sejenak sebelum akhirnya berbalik perlahan dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Ada gumpalan luka lama dan ketegangan yang mendalam di matanya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Devan, suaranya merendah, terdengar sangat dingin dan datar.
"Dia bilang... Clara tidak mengalami kecelakaan tunggal karena rem blong," ucap Anya, suaranya melemah saat melihat perubahan aura Devan. "Dia bilang malam itu Clara menelepon nomor darurat karena kau mengejarnya dengan mobil lain. Dan dia bilang... Kakek Bramanta menghapus rekaman suara itu dari server kepolisian untuk menyelamatkanmu."
Anya berdiri dari sofa, melangkah satu kali mendekati Devan.
"Tolong katakan padaku, Devan. Katakan bahwa itu semua adalah kebohongan yang dibuat untuk memecah belah kita. Katakan padaku bahwa kau tidak ada di sana malam itu."
Devan terdiam. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban instan dan tak terbantahkan untuk setiap masalah korporat, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana hingga urat-urat di lengannya menonjol tegang.
Ketika Devan kembali membuka matanya, tidak ada kemarahan atau bantahan keras di sana. Yang ada hanyalah sepasang mata yang dipenuhi oleh rasa bersalah yang amat mendalam dan pekat sebuah ekspresi yang seketika membuat jantung Anya mencelos ke dasar lambungnya.
"Dia tidak sepenuhnya berbohong, Anya," bisik Devan, suaranya terdengar begitu serak dan hancur.
Anya melangkah mundur, matanya membelalak tidak percaya. "Apa maksudmu?"
Devan menarik napas pendek yang terasa sangat menyesakkan dadanya. "Malam itu... aku memang mengejarnya dengan mobilku."