NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Nama Kenzy tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi negeri itu. Namun bagi mereka yang hidup di perbatasan hutan dan gunung, nama itu adalah gema dari luka lama yang belum sembuh. Ia berasal dari Desa shadow, sebuah desa kecil ninja yang hidup sederhana dan menjunjung keseimbangan. Berbeda dengan desa besar yang haus kekuasaan, shadow memilih bertahan dalam bayangan dan menjauh dari konflik.

Masalahnya, pilihan untuk netral tidak pernah disukai oleh Desa Scarlet.

Scarlet adalah desa kuat dengan lambang merah menyala, terkenal ambisius dan tak segan mengorbankan desa lain demi memperluas pengaruh. Bagi mereka, shadow adalah ancaman diam-diam—bukan karena kekuatan, melainkan karena pengetahuan kuno yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan itu konon mampu menetralkan teknik terlarang Scarlet.

Kenzy masih kecil ketika konflik itu mencapai puncaknya.

Malam penyerangan datang tanpa peringatan. Tidak ada deklarasi perang, tidak ada tantangan kehormatan. Api menyala di langit shadow, dan jeritan menggema di antara pepohonan. Kenzy melihat sendiri bagaimana para ninja Scarlet menyerbu dengan wajah tertutup, menghancurkan rumah-rumah, dan memburu para tetua desa.

Ayahnya adalah seorang penjaga arsip—bukan petarung hebat, tapi pemegang rahasia desa. Ia menyembunyikan Kenzy di balik altar batu tua, menyuruhnya diam apa pun yang terjadi. Itu adalah perintah terakhir yang Kenzy patuhi dengan air mata tertahan. Dari celah sempit, ia melihat desanya runtuh dan orang-orang yang ia cintai tak pernah bangkit kembali.

Ketika fajar tiba, shadow telah lenyap dari peta.

Kenzy selamat, tetapi hidupnya berubah menjadi bayangan dari masa lalu. Ia dibawa pergi oleh seorang ninja pengelana—mantan sekutu ayahnya—yang mengajarinya bertahan hidup. Namun Kenzy tidak berlatih demi kejayaan. Setiap jurus, setiap luka, dan setiap malam tanpa tidur hanya punya satu tujuan: Scarlet.

Bagi Kenzy, dendam bukan sekadar amarah. Itu adalah ingatan. Ia mengingat bagaimana Scarlet menyebut desanya “penghalang kecil”, bagaimana mereka menghapus nama shadow dari catatan sejarah seolah desa itu tak pernah ada. Kenzy berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan kebohongan itu bertahan.

Tahun-tahun berlalu, dan Kenzy tumbuh menjadi ninja yang tidak terikat klan mana pun. Ia mempelajari taktik, sejarah, dan kelemahan Scarlet. Ia tidak ingin sekadar menyerang—ia ingin membalas dengan cara yang membuat Scarlet menghadapi dosa mereka sendiri.

Bagi Kenzy, membalaskan dendam berarti menghidupkan kembali kebenaran yang coba dikubur. Dan selama Desa Scarlet masih berdiri dengan kebanggaan palsu mereka, langkah Kenzy tidak akan pernah berhenti.

Malam turun seperti tirai gelap ketika Kenzy akhirnya menginjakkan kaki di wilayah Desa Scarlet. Ia tidak datang dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang menakutkan. Bagi Kenzy, ini bukan soal membunuh—ini soal membuat kebenaran bangkit dari bayangan.

Scarlet telah berubah sejak kehancuran shadow. Tembok tinggi berdiri, penjagaan berlapis, dan simbol merah mereka berkibar angkuh. Namun Kenzy tahu, desa sekuat apa pun selalu punya celah. Ia memulai dari pinggiran: memutus jalur logistik, menyabotase menara sinyal, dan menyebarkan kebingungan tanpa meninggalkan jejak. Penjaga mulai saling curiga. Ketertiban Scarlet retak dari dalam.

Di bawah cahaya obor, Kenzy bergerak di antara atap-atap. Setiap langkah dihitung, setiap napas diselaraskan dengan angin. Ia melumpuhkan penjaga dengan cepat dan senyap, memastikan mereka hanya tertidur, bukan terluka. Pesannya jelas: ia bisa masuk kapan saja.

Sasaran utamanya adalah Aula Crimson, tempat para tetua Scarlet dulu merancang penyerangan shadow. Kenzy menyusup ke ruang arsip rahasia—tempat yang selama ini dijaga ketat. Di sana, ia menemukan catatan yang membenarkan semua kecurigaan: perintah tertulis, aliansi gelap, dan keputusan yang menghapus shadow demi kekuasaan. Bukti itu ia salin, ia amankan.

Namun Scarlet bukan desa yang pasif. Alarm sunyi akhirnya berbunyi. Pasukan elit bergerak, mengepung lorong-lorong. Kenzy menghadapi mereka bukan dengan kekuatan mentah, melainkan dengan taktik. Ia memancing, memecah formasi, memanfaatkan bayangan dan medan sempit. Pertarungan singkat terjadi—cepat, terkendali—cukup untuk membuka jalan, bukan untuk memuaskan amarah.

Di halaman utama, Kenzy akhirnya berdiri berhadapan dengan Komandan Scarlet, sosok yang memimpin serangan ke shadow. Tidak ada teriakan. Hanya tatapan. Kenzy melempar gulungan bukti ke tanah di antara mereka.

“Ini yang kalian kubur,” ucapnya tenang. “Dan ini yang akan bangkit.”

Alih-alih menuntaskan dengan pedang, Kenzy memilih langkah yang lebih menyakitkan bagi Scarlet: ia menyebarkan bukti itu ke desa-desa sekutu, ke klan netral, ke siapa pun yang mau mendengar. Reputasi Scarlet runtuh dalam semalam. Sekutu menarik diri. Para tetua dipaksa menghadap rakyatnya sendiri.

Fajar menyingsing. Kenzy berdiri di batas desa, menatap bendera merah yang kini terasa pudar. Pembalasannya bukan kehancuran fisik, melainkan runtuhnya kebohongan yang selama ini menopang Scarlet.

Ia pergi tanpa nama, tanpa sorak. Namun di belakangnya, dunia berubah arah. Dan untuk pertama kalinya sejak shadow terbakar, Kenzy merasa langkahnya ringan. Balas dendamnya selesai—bukan karena musuh hancur, melainkan karena kebenaran menang.

Ke jatuhan Desa Scarlet tidak terjadi dalam satu malam, melainkan perlahan—seperti daun merah yang gugur satu per satu. Setelah kebenaran tersebar, desa itu kehilangan lebih dari sekadar sekutu. Mereka kehilangan kepercayaan. Jalur dagang ditutup, klan netral menarik penjagaan, dan rakyat Scarlet mulai mempertanyakan simbol merah yang dulu mereka banggakan.

Para tetua yang selama ini bersembunyi di balik kejayaan akhirnya diadili oleh rakyatnya sendiri. Aula Crimson, tempat keputusan kelam dibuat, berubah fungsi menjadi ruang pengakuan. Nama Aokawa disebut kembali, bukan sebagai desa lemah yang pantas dilupakan, melainkan sebagai korban keserakahan. Untuk pertama kalinya, Scarlet menunduk pada masa lalunya.

Kenzy tidak menyaksikan semua itu dari dekat.

Ia berdiri jauh, di atas bukit yang menghadap reruntuhan lama Aokawa. Rumput liar telah tumbuh di antara batu fondasi rumah, dan altar tua tempat ia pernah disembunyikan kini retak dimakan waktu. Kenzy berlutut, menyentuh tanah yang dingin. Tidak ada air mata, hanya keheningan yang dalam.

“Aku menepati janji,” bisiknya pelan—bukan kepada siapa pun, tapi kepada kenangan.

Tapi terbersit di benak nya sang penghianat itu yang mencuri pusaka keturunan klan shadow. Ia tak bisa menemukan nya di sudut manapun desa scarlet. bukan sekarang, namun suatu saat nanti.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!