Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tunangan kecil
Ketika hidup tak bergeming, tatapan mata kita yang polos saat itu bertemu. Jari kecil yang memegang telunjukku. Tatapan mata bersinar dengan sikap pemalu saat itu membuatku tersipu. Seorang anak lelaki manis dan juga sangat tampan memakai celana coklat dengan kemeja putih dengan panjang selengan.
Pertemuan singkat, anak lelaki yang sedikit besar dari ku bersembunyi di balik tubuh besar ayahnya. Aku sempat lupa bagaimana wajah sosok besar tersebut. Aku hanya ingat bagaimana senyumannya begitu hangat dengan kumis yang sedikit tebal.
Saat itu baru ada sebuah kamera analog yang berhasil membagikan momen indah yang sudah lama kulupakan.
Setelah kejadian itu tertulis di beberapa lembar surat terakhir ayah dengan sosok lelaki besar itu yang saat itu ada di ingatanku. Menyatakan bahwa ia akan segera pergi karena ada suatu kasus dan mereka harus segera meninggalkan desa sementara waktu.
Dua belah kalung yang saat ini kumiliki adalah sebuah belati tanpa sarung. Ku yakini anak lelaki itu memilikinya. Kuremas surat lamah ayahku dengan sosok itu. Terlihat samar sisa abu hitam karena sebagian potongan kertas itu terbakar.
Tapi Rona tahu jelas siapa anak itu, dalam surat selalu berinisialkan “W” ada apa dengan “W” mata Rona terpicing.
“Aku tau siapa ini. Aku harus cepat.” Rona bangkit dari ruang kerja bawah tanah milik ayahnya. Lalu berlari dan menabrak Rose yang menyiapkan cemilan dan teh hangat untuknya.
“Yaampun nona mau kemana lagi?” Teriak Rose pelayan pribadi Rona.
Rona hanya bergegas pergi mengganti bajunya dan kembali ketempat semula, ya dalam pikirnya ia harus cepat sebelum matahari terbenam.
Rona sampai pada kediaman Wilton tempat seseorang itu berada.
“Mungkinkah?” Tanya dalam hati lalu bergegas menuju stand festival.
Dalam benaknya, wangi familiar saat ia menyentuh sosok itu seperti harum hangat yang di rindukannya.
Hentakkan demi hentakkan dari pacuan kudanya memacu sangat cepat, dalam keheningan yangenggerutu ia menyadari ada bau berbeda yang mengikutinya. Kepalanya sedikit mendongak kesamping matanya sedikit melirik.
“Ini aneh! Ada yang mengikutiku setelah aku mengunjungi kediaman Wilton. Siapa mereka?” Rona masih bertanya-tanya dalam hati.
“Aku harus berlawanan arah dari tempat tujuan semula.” Gumamnya.
Rona mengambil tali di bagain tali pinggangnya dan melempar ikata itu kepohon lalu kepohon satunya.
Benar saja tepat sasaran, kuda kuda yang berpacu di belakangnya sebagian terjatu akibat tali yang ia gunakan.
“Bagus, sisa beberapa orang lagi. Tapi siapa mereka.” Rona menepis pikirnya dan hanya fokus melaju kedepan.
“Aduhh… brakkk.” Beberapa orang berserakan terjatuh saling menabarak.
Mereka jatuh dari kuda dan berguling karena tak bisa menghindari tali tersebut dan berhasil bertabrakan oleh pemacu kuda lain di belakangnya.
“Sial.” Ucap salah satu orang dengan pakaian menutup wajahnya dengan jubah dan tudung panjang.
“Aku akan duluan.” Ucap salah satu orang diikuti beberapa lainnya melompati teman-temannya yang terjatuh dengan kudanya.
“Mereka banyak yang terluka?” Ucap Seseorang itu sedikit menoleh kebelakang.
“Sam, gadis itu boleh juga. Tapi siapa dia kenapa kita harus mengejarnya?” Tanya lelaki itu yang mengiringi dirinya.
“Entahlah aku juga takjub saat dia bisa mengimbangi kita dan menyusun siasat seperti tali tersebut.” Senyum tipis dari ujung bibirnya.
“Sam dia sungguh menarik. Aku ingin sekali melihat wajah cantiknya.” Hentakkan nya memacu begitu cepat.
Kuda itu berjalan sangat cepat, sepertinya lelaki itu sangat terbiasa menunggangi kuda dengan jarak panjang dan lajunya cukup cepat.
Rona menoleh kebelakang terlihat lkedua lelaki itu sangat cepat mengikuti langkahnya.
“Pinggangku sudah tisak kuat lagi.” Kecepatan Rona sedikit melambat.
Sebuah anak panah melesat, hampir saja Rona mengenainya. Untungnya ja berhasil sedikit merunduk.
“Sial, caranya curang sekali.” Rona memakai tali ikat kepala yang menutupi setengah bagian wajahnya.
Kejar kejaran tersbeut berlangsung lama hingga kuda Rona tak mampu lagi melampaui kecepatannya seperti biasa.
“Sial. Aku tak bisa lagi.” Gumamnya.
Sebuah anak panah melesat kembali melewati Rona, keringat mulai membasahi dahinya jatuh melesat melewati dagunya.
Rona menoleh dan hampir saja mereka semakin dekat dengan dirinya.
“Aku akan tembak kaki kuda itu saja.” Seseorang itu berusaha mengurangi kecepatan dan menembak kuda tersebut.
Kuda Rona berhasil lari namun kuda tersebut kaget dan berhasil menjatuhkannya.
Suara kuda lain terdengar dengan cepat. Rona yang hampir jatuh itu memejamkan matanya. Mengira ia pasti jatuh atau setidaknya patah tulang. Namun tubuhnya berhasil dipeluk seseorang.
Lelaki itu menangkap pinggang Rona dengan tepat. Gadis itu hampir saja terjatuh. Pelukkan Dean sangat hangat dan erat. Sedikit saja kesalahan gadis itu akan jatuh dan terluka cukup parah.
Kuda Rona sudah berlari jauh entah kemana, Rona sudah tak memikirkannya lagi. Ia hanya menggenggam erat pelukan Dean yang melaju jauh dari arah yang berlawanan.
Terlihat Rico dengan pengawal lain berhasil menghalau para penunggang kuda berjubah yang mengikuti Rona.
“Tenanah Rona, aku disisimu. Hiyakkk” hempasan nafas Dean dengan degup jantung yang debaran yang begitu kencangnya berhasil menenangkan Rona.
“Aku merindukanmu, aku benar benar merindukanmu Dean.” Peluk Rona semakin kuat.
“Tenanglah Rona aku juga merindukanmu. Hampir saja kau terluka lagi.” Pelukan Dean begitu hangat begitu pula dengan Aroma tubuh yang Rona rindukan.
Pertemuan demi pertemuan yang ia tak pernah kusangka. Wajah tenang Dean menghangatkan hati Rona. Pelukan dari dada bidang itu seakan menopang tubuh Rona dalam perlindungan yang aman. Rona tetap memejamkan matanya seolah ini dia tempat aman dan tentram yang aku cari untuk berlindung.
“Tidak lagi, aku tak ingin waktu berlalu begitu cepat!” Gumam Rona dalam hati.
Disisi lain acara kembang api akan segera dimulai, namun wajah Rona tak terlihat sama sampai malam ini. Wajah Emily sedikit resah ditemani oleh Nathan. Nathan yang menyadari ham tersebut menatap dengan mata tajam kearah Grey.
Grey hanya terdiam dan membisu menerima diskriminasi dari majikannya. San menggeleng pelan.
“Sial selamatkan aku. Aku yang seharian mengikutinya dan kehilangan jejaknya saja tak tau dia ada dimana.” Gumam Grey dalam hati dengan senyum terpaksa dan keringat yang mengucur derasnya.
Suasana kala itu begitu ramai, beberapa lampion sudah di terbangkan sebagai acara puncak akhir atas suksesnya festival tersebut.
Suara kembang api pun mulai mencuat ke atas langit dengan warna warni bagai hiasan yang memukau.
Rona dan Dean sudah sampai disana dan menatap ke arah langit. Tak lupa dilepasnya jubah Dean dan menutupi tubuh Rona. Cuaca malam itu semakin dingin.
“Indah bukan.” Dena menatap langit lalu menatap ke wajah Rona.
“Ia sangat indah.” Rona memegang kalung belatinya dan menatap sebuah kalung yang Dean kenakan.
Tangan Rona menarik kaling di balik baju Dean.
“Inikan?” Tanya Rona takjub.
Seseorang yang baru saja diketahui statusnya adalah sosok yang ada di hadapannya.
Dean menarik kaling yang sempat Rona genggam di tangan satunya. Lalu menancapkan belati itu ke kalung miliknya. Terlihat sangat pas, sebuah sarung dengan belatinya ternyata adalah satu komponen yang menyatu.
Suara kembang api terus mencuat di atas langit dengan cantiknya. Sorakkan ramai dari orang-orang terdengar sangat kuat dan jelas.
Rona masih menatap wajah Dean dan kalung mereka yang jadi satu.
“Halo tunangan kecilku.” Dean mencium lembut Rona dan memejamkan matanya.
Mata Rona menangis haru dan memegang tengkuk leher belakang Dean.
“Tunangan masa kecilku ada lah seseorang ini. Gumam Rona dalam hati.