NovelToon NovelToon
Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: KGDan

Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.

Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.

Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.

Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23.

Melihat situasi yang menjadi tidak sesuai dengan rencana, Cindy pun memutar otaknya agar Lara tidak curiga pada mereka.

Cindy dengan cepat meraih ponselnya, dan menjauh dari David untuk menghubungi seseorang.

"Cepat! lakukan rencana B! sekarang!!" katanya dengan tegas pada seseorang dalam ponselnya, begitu seseorang yang ia hubungi mengangkat panggilannya.

Tanpa menunggu jawaban, Cindy dengan cepat mematikan panggilannya, dan kembali mendekati David.

Sementara itu di lobby hotel, Stefan sudah mulai merasakan tubuhnya tidak nyaman.

Langkah kakinya pun mulai limbung, karena ia mendadak merasakan kepalanya mulai pusing.

Lara juga menyadari akan perubahan pada diri Stefan, dan ia dengan cepat memegang lengan Stefan yang nyaris terhuyung.

"Stefan! ada apa denganmu?!" tanyanya.

"Kak, a.. aku merasa.. tu.. tubuhku begitu panas!"

Stefan bersandar ke tubuh Lara, dan merangkul kan lengannya ke seputar bahu Lara.

Mendengar apa yang dikatakan Stefan, Lara ingat air minum yang diberikan Cindy padanya.

Dan ia pun menyadari, kalau air putih itu bukan sekadar air putih biasa.

Tangan Lara terkepal dengan erat, ternyata tujuan David memanggilnya untuk meminta maaf pada Cindy, sebenarnya memiliki niat terselubung padanya.

"Ayo, kita ke rumah sakit!!" kata Lara memapah tubuh jangkung Stefan, yang mulai tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.

Dengan langkah berat, karena tubuh Stefan yang bersandar padanya, Lara dengan susah payah membantu Stefan melangkah keluar dari lobby hotel.

Lara mencoba melambaikan tangannya, begitu melihat sebuah taksi yang sepertinya tidak memiliki penumpang.

Karena jarak mereka ke jalan raya tidak begitu dekat, taksi itu lewat begitu saja.

Pengaruh obat yang diminum Stefan sudah mulai menguasai tubuh Stefan, membuat tubuh Stefan mulai tidak terkendali.

Wajahnya mulai menunduk merapat ke wajah Lara, dan mencium pipi Lara sembari tersenyum senang.

"Kak.. kulitmu sangat dingin, rasanya kulit ku begitu nyaman bersentuhan dengan mu!" ucapnya dengan mata yang sudah mulai redup.

Lara mencoba bersabar dengan tingkah Stefan, karena pengaruh obat sudah menguasai kesadaran Stefan.

Beberapa pejalan kaki yang lewat, seketika menjauh melihat Stefan seperti orang mabuk.

"Ck ck ck! anak muda zaman sekarang, semakin tidak punya rasa segan lagi! sudah terbiasa bermabuk-mabukan!" gumam pejalan kaki dengan tatapan mencemooh, memandang keadaan Stefan.

Lara yang mendengar gumaman pejalan kaki itu, hanya bisa acuh tak acuh saja, seakan tidak mendengar apa yang mereka katakan.

"Stefan, sepertinya kita terlalu jauh dari jalan raya, kita harus lebih ke tepi lagi, agar supir taksi dapat melihat lambaian tanganku!" kata Lara.

"Em!" jawab suara lemah Stefan sembari semakin mencium pipi Lara.

Dengan langkah tertatih, Lara dengan susah payah melangkah membawa Stefan ke tepi jalan raya.

Mereka akhirnya sampai ke tepi jalan raya, dan Lara nyaris limbung ke jalan karena berat dari tubuh Stefan.

"Lara! awas!!"

Tiba-tiba Stefan tersentak melihat sebuah mobil, meluncur dengan cepat ke arah mereka berdua.

Walau Stefan sudah dikuasai oleh afrodisiak, ia masih dapat melihat keadaan lingkungan sekitarnya.

Lara juga melihat mobil tersebut, dan menahan tubuhnya akan di dorong Stefan ke pinggir jalan.

Ia tidak ingin Stefan mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.

Dengan sekuat tenaga ia ikut membawa Stefan terlempar ke pinggir jalan, dan mobil pun dengan kencang menyerempet Stefan.

Brukk!!!

Tubuh mereka berdua terpental ke pinggir jalan, dan mobil melarikan diri tanpa sempat Lara untuk melihat, mobil seperti apa yang menabrak mereka.

"Stefan!!" jerit Lara melihat keadaan yang terluka.

Kejadian yang tidak mereka duga itu, membuat orang-orang yang melihat kejadian tabrak lari itu segera berkerumun.

Lara memeluk tubuh Stefan, dan ia pun menangis dengan kencang.

"Stefan! Stefan!!!" jeritnya panik melihat darah keluar dari bahu Stefan.

Lalu ia mengedarkan matanya melihat kepada orang-orang yang mengerumuni mereka, "Tolong! tolong hubungi ambulans!! ku mohon! tolong!!!"

"Nyonya! mari ku bantu!!"

Tiba-tiba seorang pria menerobos kerumunan orang-orang tersebut, dan berjongkok untuk memapah tubuh Stefan yang terluka.

Walau Stefan sudah memberi arahan pada Liam, untuk tidak memperlihatkan diri disekitarnya, saat ia sedang tahap mengejar Lara, Asistennya itu tidak tenang untuk selalu memantau keberadaan Stefan.

Dari jarak tertentu, beberapa bodyguard andalan Stefan, selalu siap siaga menjaga keselamatan Stefan.

Begitu mereka melihat sebuah mobil melaju ke arah Stefan dan Lara, dengan sigap mereka keluar dari dalam mobil.

Karena jarak keberadaan mobil yang terparkir, mereka terlambat untuk segera menyelamatkan Stefan.

"Ayo, Nyonya! ikut dengan kami!!" kata seorang pria lainnya membantu Lara untuk berdiri.

Ke dua pria itu membawa Stefan dan Lara menuju mobil yang terparkir.

Stefan yang masih dibawah pengaruh afrodisiak, sedikit tersadar karena luka pada bahunya.

"Apartemen! bawa aku ke apartemen!" perintah suara lemah Stefan kepada pria yang membawa mereka.

"Baik, Tuan!" jawab pria yang mengemudikan mobil.

"Apa? tidak! ke rumah sakit! jangan ke apartemen!!" kata Lara tidak setuju, kalau Stefan di bawa ke apartemen.

"Tidak! jangan!" jawab Stefan bersikeras untuk tetap di bawa ke apartemen.

"Stefan! kamu terluka! kamu harus di bawa ke rumah sakit!!" Lara tidak senang mendengar jawaban Stefan.

"Tidak, kak! luka ku tidak begitu parah!"

Stefan memegang tangan Lara, untuk menenangkan rasa khawatir Lara.

Lara yang ingin mengatakan sesuatu lagi, seketika menutup mulutnya, karena kepala Stefan terkulai di bahunya.

"Biar kami bantu untuk memapahnya, Nyonya!" kata salah satu pria penolong mereka membuka pintu mobil, setelah mereka sampai di pelataran gedung apartemennya.

Lara tersadar begitu melihat gedung apartemen tempat ia tinggal, karena merasa ia belum memberitahu alamatnya kepada penolong mereka.

Lara mengedipkan matanya melihat salah satu pria itu memapah Stefan masuk ke dalam apartemen, seakan mereka sudah begitu hafal di mana akan membawa Stefan.

Eh! pikir Lara kebingungan.

Ia turun dari dalam mobil, dan melihat ke dua pria itu memapah Stefan tanpa bertanya kepadanya.

Langkah kaki Lara mengikuti mereka dari belakang, dan semakin bingung melihat ke dua pria itu ke depan pintu apartemen Stefan.

Salah satu pria itu mengetuk pintu apartemen Stefan, dan seseorang membukanya dari dalam.

"Tunggu!!"

Lara pun tiba-tiba menghentikan ke dua pria itu membawa Stefan, untuk masuk ke dalam apartemen Stefan.

Mata Lara terpaku melihat pria yang membuka pintu apartemen Stefan, "Siapa kamu?" tanya Lara curiga pada pria yang membuka pintu.

"Kak, dia temanku" jawab suara lemah Stefan.

"Apa maksud mu? apakah kamu sebenarnya tinggal satu apartemen dengan temanmu?" tanya Lara dengan kening berkerut.

Stefan yang kesakitan, dan masih dalam pengaruh afrodisiak, seketika tersadar dengan rahasia yang belum diketahui Lara.

"Akh! a.. aduh.. sakit, bahuku sakit.. akh!" ia pun nyaris terhuyung memegang bahunya, agar tidak menjawab pertanyaan Lara.

Liam pun menyadari dengan akting Stefan, dan dengan sigap ikut membantu Stefan, agar Lara tidak bertanya lagi tentang dirinya.

"Hah? lukanya mengeluarkan darah banyak! cepat bawa masuk! cepat!!" katanya dengan panik.

Lara pun jadi ikut panik, tapi ia tidak berani untuk ikut masuk ke dalam apartemen Stefan.

Bersambung..........

1
Lia siti marlia
ya ampun tuh bocah berasa di per...os oleh padal dia yang meped terus
Endang Sulistiyowati
Ya ampun Lara, Stefan minta tanggung jawab tuh karna udah 2x bobo bareng. Modus banget Stefan,
nuraeinieni
dasar modus,,,bilang aja kamu keenakan di peluk lara
nuraeinieni
aduh cindy kamu salah orang,ingin mencelakai lara malah steven yg kena,untung lara dan steven cepat menghindar.
nuraeinieni
curiga nih lara,dgn orang2 nya steven
Cindy
lanjut
Dian Rahmawati
stefan 🤣
mars
iya tuh udh 2x ditiduri,tanggung jawab lo udh ga suci lagi🤣🤣🤣🤣🤣 koplak
Lia siti marlia
mulai mulai terkuak sedikit demi sedikit
Ariany Sudjana
kak penulis, tolong jangan sampai Lara dirusak Stefan, gara-gara minuman itu
Ariany Sudjana
aduh kenapa air itu diminum sama Stefan? jangan sampai Lara jadi pelampiasan karena minuman laknat itu. kenapa sih bukannya David saja yang minum? kan sudah ada pelampiasannya? ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan
Ariany Sudjana
hahaha benar kata Stefan, kalau David sudah dibutakan sama jalang peliharaannya dan juga Mak Lampir Anna itu
Maria Mariati
kejebak sama permainan sendiri 🤣🤣🤣💪💪💪😍😍
nuraeinieni
cindy dan mama anna,sandiwara kalian tdk mempan,lara sdh muak dgn kebusukan kalian.
nuraeinieni
aduh sepertinya minuman itu sdh di kasi masuk obat perangsang
nuraeinieni
enak ya david dapat hadiah bogemam dari berondong
Lia siti marlia
hadeh bisa bisa stefan nyoblos lara lagi gara gara minuman yang di berikan cindy
Ariany Sudjana: iya, ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan. gimana sih kak penulis?
total 1 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Endang Sulistiyowati
Bener tuh kata Lara, 2 pria bodoh yang dengan mudah dikendalikan 2 wanita licik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!