Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Yang Mahal
Malam turun tanpa permisi. Nayla duduk di tepi ranjang kosnya yang sempit. Lampu neon putih di langit-langit berkedip sekali sebelum stabil—seperti orang ragu, lalu memutuskan untuk tetap menyala. Di luar, suara motor lewat satu-satu, tidak tergesa, seolah kota pun tahu: malam ini bukan untuk kecepatan.
Gaun yang tadi ia pakai ke reuni sudah dilipat rapi dan diletakkan di kursi plastik. Tidak ada parfum yang tersisa, hanya bau deterjen murah dan sedikit aroma nasi goreng belum sempat ia habiskan. Semuanya kembali ke bentuk asal—kecil, sederhana, tidak mengesankan bagi siapa pun.
Ponselnya tergeletak di kasur, layar gelap, ingatan nya membayang dengan wajah terlalu tenang untuk disebut biasa, orang yang sedang menghitung kebimbangan
Ia akhirnya berdiri, berjalan ke arah jendela kecil, menyibak tirai tipis. Lampu warung di ujung gang masih menyala. Dua orang tertawa keras, entah karena lelah atau sengaja menunda pulang. Dunia di luar berjalan seperti biasa hanya saja kepalanya yang berputar.
Potongan-potongan cerita malam ini kembali datang berulang—tawa yang terlalu keras, nama “Siska” jatuh begitu saja dari mulut orang-orang, sorot mata berubah ketika Andi menggenggam tangannya. Dan yang paling mengganggu: kalimatnya di depan mikrofon menyatakan dengan kesungguhan seolah dia adalah cinta pertama nya dibawa pulang.
Aman itu seringkali sepi, ia memejamkan mata “Goblok,” gumamnya pelan—bukan pada laki laki itu tapi pada dirinya sendiri.
Ia tahu sejak awal ini sangat berbahaya. Kontrak satu miliar itu bukan hanya angka tapi pagar tinggi, sebuah peringatan, batas garis seharusnya tidak dilewati dengan perasaan apa lagi sampai jatuh hati. Tapi ia tidak mengerti sejak kapan ia berhenti membaca pasal-pasal kecil klausal dan mulai meraba getaran wajah laki laki polos itu
Mulai dari caranya diam sewaktu lelah, meminta izin sebelum menyentuh, dan caranya menatap seolah dirinya bukan talent kontrak tapi rumah untuk berteduh
Ponsel bergetar, Nama laki laki itu kembali muncul tapi kali ini bukan dari bayangan tapi handphone. Ia tidak langsung mengangkat.
menatap layar itu lama, seperti menatap pintu darurat di gedung terbakar. Mengangkat berarti melanjutkan tdak mengangkat berarti membiarkan semuanya berhenti di sini—lebih aman, lebih rapi.
Getaran itu berhenti lalu pesan WA masuk.
'Nay, lu udah tidur?
Ia menarik napas mengetik, menghapus lalu mengetik lagi.
"Belum.
Beberapa detik hening.
" Gue minta maaf soal tadi."
Ia tersenyum kecil, pahit.
"Soal apa?"
Jawaban Andi lama terlalu lama untuk orang yang biasanya cepat.
" Semuanya."
Itu jawabannya. Dan justru karena itu, dia tahu Andi belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. “Nay,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri, “kalau lu terus begini, lu bakal hancur bareng dia.”
Ia duduk kembali di ranjang, punggungnya bersandar ke dinding dingin, tangannya gemetar saat mengetik keypad.
"Kak, gue mau jujur. Dan ini bukan gampang buat gue."
Tiga titik muncul hilang lalu muncul lagi.
" Gue denger Nay, lanjutlah."
Gadis berwajah lembut itu menutup mata sebentar mengumpulkan keberanian tidak pernah ia latih, dan baru kali ini ia menghadapi klien membuatnya resah dan patah
"Kak, malam ini, gue sadar… posisi gue di hidup kakak bukan lagi netral. Gue bukan cuma orang yang nemenin reuni, dan itu masalahnya."
"Masalah kenapa?"
Ia tertawa kecil tanpa suara seakan laki laki itu duduk didepannya "Jika ini berlanjut akan menjadi bahaya bagi kakak karena lambat laun tanpa sadar hubungan kita akan terlepas dari kontrak."
Sunyi, hanya dengungan lampu neon merambat ke udara. Nayla bisa membayangkan Andi duduk di mobil atau di apartemennya yang rapi—tempat di mana segalanya terkendali, kecuali perasaannya sendiri.
"Itu bukan bahaya, Nay, karena lu adalah kesadaran hidup buat gue.'
"Justru itu kak, kakak mesti tahu hubungan kita tidak seperti orang lain pada umumnya, ada sebuah sistem yang mengikat." Kata kata itu terlanjur membuat dadanya sesak, rasanya ia menangis.
" Nay...kita baru sebulan menjalin, waktu masih panjang siapa tahu semuanya bisa berubah."
"Kak Andi...gue nggak mau ini menjadi alasan buat kaka kehilangan segalanya, karier, nama baik dan kepercayaan Mama. Dan kakak tahu kontrak itu bukan main-main."
Hening.
Balasan laki laki itu terhenti, detik demi detik berlalu membuatnya menunggu hasil vonis hukuman
Dan akhirnya:" Lu mau mundur Nay?"
Pertanyaan pendek tapi seperti palu menghantam perasaannya
Ia menatap kata mundur lamat seolah mengeja kata demi kata, tidak ada air mata ataupun drama singkat, hanya kelelahan dalam—terlalu cepat dewasa dalam hubungan belum sempat ia pilih dengan kebebasan.
" Gue mau kakak aman dalam menjalani kehidupan bersama teman teman baik itu di pekerjaan, ruang lingkup sosial. Dan gue tahu satu-satunya cara paling bersih buat itu… adalah berhenti berdiri terlalu dekat."
Pesan itu terkirim, Nayla mengambil napas satu demi satu, oxygen seperti menyusut di dalam kamar, tangannya terasa dingin.
Beberapa detik berlalu tidak ada balasan dari Andi. Ponsel ia letakkan terbalik diatas kasur, seolah bisa menghentikan kenyataan. Ia berdiri, mengambil segelas air, minum seteguk tapi terasa hambar, tidak menenangkan.
Akhirnya, handphone nya kembali bergetar.
" Kalau gue minta lu tetap disini menemani?"
Gadis itu menutup mata terasa perih,
" Itu bukan permintaan yang adil,
karena risikonya bukan di gue, tapi kembali kepada kakak."
Sepi kembali merajut tanpa balasan, Nayla kembali mengetik mengirim satu pesan terakhir paling jujur, paling berbahaya, " Gue pergi bukan karena nggak sayang justru karena gue peduli.
Balasan datang dengan cepat membuatnya hampir surut langkah
" Nay...tolong pertimbangkan lagi, gue baru saja merasakan hidup lebih berarti bersama lu tapi ...lu sudah mau pergi."
" Kalau kakak mau gue tinggal… itu sebuah keputusan dengan semua resiko yang harus kakak tanggung, bukan karena kontrak, atau rasa belas kasihan. Tapi karena kakak siap kehilangan hidup demi Nayla."
Beberapa detik berlalu tidak ada balasan muncul dari balik layar. Diam yang menggigit jiwa. Gadis itu akhirnya merebahkan diri diatas kasur menatap langit-langit retak halus. Ia tidak tahu apakah Andi akan datang, mengakhiri sebuah cerita atau memulai awal lebih pelik.
Dan yang ia tahu hanya satu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya menjadi talent, ia tidak memilih aman tapi kejujuran
Dan kejujuran itu —selalu meminta harga.