NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Sore itu, kampus mulai lengang.

Xerra melangkah keluar gedung fakultas sambil merapikan tas selempangnya. Beberapa mahasiswa masih melirik ke arahnya, berbisik-bisik pelan. Sejak pagi, statusnya sebagai nyonya Pattinson sudah menyebar seperti api di atas kertas kering.

Ia menghela napas pelan.

“Aku cuma mau kuliah, bukan pamer suami,” gumamnya lirih.

Ponselnya bergetar.

Evans 💌

Sudah selesai kelas?

Xerra tersenyum kecil.

Xerra 💌

Baru keluar. Aku mau ke perpustakaan sebentar.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Evans 💌

Gerry sudah di luar gerbang. Jangan pulang sendiri.

Xerra mengernyit.

“Protektif berlebihan,” gumamnya, tapi langkahnya tetap mengarah ke parkiran.

Ia tidak tahu… dari seberang jalan, sepasang mata sedang mengamatinya.

Di dalam mobil van hitam tanpa tanda, dua pria duduk diam. Headset terpasang, layar tablet menyala.

“Target keluar gedung,” lapor salah satu.

“Tenang,” suara dari headset menjawab. “Belum sekarang. Kita pastikan polanya dulu.”

Mobil itu tidak bergerak. Hanya mengamati.

Xerra menghampiri mobil Gerry. Pria itu turun cepat dan membuka pintu.

“Nyonya,” ucapnya hormat.

Xerra mendecak pelan.

“Gerry, di kampus panggil aku Xerra saja. Aku belum setua itu.”

Gerry tersenyum tipis.

“Baik… Xerra.”

Mobil melaju meninggalkan area kampus.

Di sisi lain kota, Evans sedang memimpin rapat singkat. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di ruangan itu.

“Boss?”

Evans mengangkat kepala.

“Lanjutkan tanpa aku. Aku punya urusan.”

Ia bangkit, mengambil jasnya.

Ben menatapnya ragu.

“Ini soal nyonya muda?”

Evans berhenti sejenak.

“Aku merasakan sesuatu tidak beres.”

Malam turun perlahan.

Di mansion, Xerra duduk di kamar belajar, membaca jurnal kuliah. Namun pikirannya melayang. Bayangan pria bertopeng, senjata, dan darah semalam masih membekas.

Ia menutup buku, memeluk lututnya.

“Apa aku bodoh ikut ke dunia Om?” bisiknya.

Pintu terbuka perlahan.

Evans masuk tanpa suara, jasnya sudah dilepas. Tatapannya langsung tertuju pada Xerra.

“Kau kenapa?”

Xerra terkejut.

“Om… kau pulang cepat.”

Evans mendekat, berlutut di hadapannya. Tangannya menyentuh wajah Xerra dengan lembut.

“Kau terlihat gelisah.”

Xerra ragu sejenak, lalu berkata jujur,

“Aku merasa… seperti sedang diperhatikan. Sejak di kampus.”

Sorot mata Evans berubah. Tajam. Dingin.

“Siapa?” tanyanya singkat.

“Aku tidak tahu. Mungkin hanya perasaanku.”

Evans berdiri, mengambil ponsel.

“Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar mansion tanpa pengawalan penuh.”

Xerra ikut berdiri.

“Om, aku tidak mau hidup seperti tawanan...."

Evans menatapnya lurus.

“Dan aku tidak mau kehilanganmu.”

Nada suaranya rendah, tegas, tak bisa dibantah.

Xerra terdiam.

Di tempat lain, pria yang sama dengan ruangan gelap itu menatap laporan di tangannya.

“Pengamanan mulai ditingkatkan,” lapor anak buahnya.

Pria itu tersenyum tipis.

“Bagus,” katanya pelan.

“Artinya Evans sudah mencium bau bahaya.”

Ia menutup map.

“Kalau begitu… kita percepat rencana.”

Malam itu, tanpa disadari Xerra, jam pasir telah dibalik.

Dan langkah pertama menuju penculikan

sudah resmi dimulai.

Keesokan paginya, London diselimuti udara dingin yang menusuk meski matahari terlihat cerah.

Xerra berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai sederhana. Tidak ada gaun mewah hari ini hanya pakaian kampus yang rapi, tas selempang, dan sepatu datar.

Evans bersandar di ambang pintu, jas hitamnya sudah terpasang sempurna.

“Kau yakin tidak ingin pengawalan lebih?” tanyanya.

Xerra menoleh, tersenyum tipis.

“Aku hanya ke kampus, Om. Bukan ke medan perang.”

Evans tidak tersenyum. Ia melangkah mendekat, membetulkan kerah baju Xerra dengan gerakan pelan,terlalu pelan untuk pria sepertinya.

“Telepon aku kalau ada apa pun,” ucapnya tegas.

Xerra mengangguk, lalu berjinjit dan mengecup pipi Evans singkat.

“Aku pulang sore.”

Evans membeku sesaat sebelum membalas, tangannya menahan pergelangan Xerra sebentar,seolah ada firasat yang ingin ia lawan.

Mobil berhenti tepat di depan gedung fakultas.

Seperti biasa, tatapan mahasiswa langsung tertuju pada mereka.

Evans turun lebih dulu, membuka pintu untuk istrinya.

Beberapa ponsel terangkat. Bisik-bisik bermunculan.

“Dia diantar sendiri…”

“Itu Evans Pattinson…”

“Istrinya benar-benar beruntung?”

Evans mengantar Xerra sampai tepat di depan pintu kelas.

“Sampai sini saja,” kata Xerra pelan.

Evans mengangguk.

“Jangan pulang sendiri.”

“Aku janji.”

Evans menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu berbalik pergi.

Xerra tidak tahu…

Itu adalah terakhir kalinya ia melihat punggung Evans hari itu.

Dua jam kemudian.

Xerra keluar dari kelas, menyampirkan tas di bahu. Lorong kampus ramai, suara tawa bercampur langkah kaki.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia berhenti sejenak, ragu, lalu mengangkatnya.

“Halo?”

Tidak ada suara.

Hanya bunyi napas… pelan… berat.

Xerra merinding.

Ia hendak menutup panggilan

Seseorang menabraknya dari belakang.

“Maaf”

Kalimatnya terhenti.

Saputangan menutup hidung dan mulutnya.

Bau menyengat memenuhi paru-parunya.

Xerra berontak, sikunya menghantam tubuh seseorang. Ia mencoba menjerit namun suaranya teredam. Dunia berputar.

Satu suara berbisik di telinganya, dingin dan asing.

“Tenang, Nyonya Pattinson.

Kalau kau pingsan, ini akan lebih mudah.”

Penglihatannya menggelap.

Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah diseret ke pintu samping gedung area yang seharusnya ramai, namun hari itu… kosong.

Sebuah van hitam tanpa plat menunggu.

Pintu ditutup keras.

Gelap.

Sunyi.

Di sudut kampus lain, Liona berdiri terpaku.

Ia baru saja melihat bayangan itu sekilas… terlalu cepat.

“Mustahil…” gumamnya.

Namun dadanya berdebar keras.

Sementara itu, di sebuah ruangan gelap jauh dari kampus

Seorang pria menatap layar ponselnya.

Sebuah foto baru saja masuk,tas kampus tergeletak di lantai.

Ia tersenyum tipis.

“Umpan sudah di tangan.”

Dan di saat yang sama…

Evans Pattinson sedang duduk di ruang rapat ketika ponselnya bergetar.

Tidak ada panggilan tak terjawab.

Tidak ada pesan dari Xerra.

Entah kenapa…

dadanya terasa sesak.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Rapat selesai,” ucapnya dingin.

Langkahnya cepat, wajahnya berubah kelam.

Di luar, langit London mendadak terasa lebih gelap.

Karena tanpa disadari siapa pun.

Nyonya Pattinson telah menghilang.

Evans baru saja melangkah keluar dari lift gedung perusahaannya ketika ponselnya bergetar lagi.

Ia berhenti.

Nama Xerra tidak muncul di layar.

Justru itu yang membuat dadanya terasa makin berat.

Ia menekan nomor istrinya untuk ketiga kalinya.

Tidak aktif.

Evans menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras.

“Ben,” panggilnya dingin.

Ben yang sedang berjalan di belakangnya langsung sigap.

“Ya, Boss?”

“Kampus Xerra. Sekarang.”

Nada suara itu tidak memberi ruang untuk bertanya.

Di dalam mobil, Evans menatap lurus ke depan. Tangannya mengepal di paha. Setiap detik terasa terlalu lambat.

“Gerry,” katanya tiba-tiba.

Gerry yang menyetir menjawab cepat, “Siap.”

“Putar semua kamera kampus. Fokus dua jam terakhir. Cari wajah mencurigakan. Van atau apa pun.”

Ben melirik ke belakang melalui spion.

“Boss… apakah ini kemungkinan....”

Evans memotongnya.

“Dia tidak akan lupa menelepon.”

Mobil berhenti mendadak di depan gedung fakultas.

Evans turun tanpa menunggu pintu dibukakan.

Matanya menyapu sekitar.

Lalu… ia melihatnya.

Tas Xerra.

Tergeletak di dekat pintu samping gedung.

Evans berlutut, mengambil tas itu dengan tangan yang terlihat tenang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di ambang kehancuran.

Ponsel Xerra masih di dalamnya.

Layar retak.

Evans menutup mata sesaat.

Saat membukanya kembali… dingin itu kembali.

“Lockdown semua jalur keluar kota,” ucapnya pelan namun mematikan.

“Aku ingin tahu siapa pun yang bergerak mencurigakan dalam satu jam terakhir.”

Ben menelan ludah.

“Kalau mereka menyentuh Nyonya....”

Evans berdiri.

“Kalau ada satu goresan di tubuhnya,” katanya datar

“aku akan membuat mereka berharap mati itu benar-benar ada.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!