Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Corona
🦋
Ujian akhir sudah berlalu, hanya tinggal ujian praktik yang belum terselesaikan. Dua hari lagi, seharusnya mereka menjalani praktik terakhir, termasuk praktik salat jenazah, yang entah kenapa menjadi momok paling besar untuk Nadira.
Bukan karena ia tidak mau belajar. Tapi karena setiap kali membaca materinya, pikirannya selalu berlari ke hal-hal yang tidak ingin ia bayangkan.
Pagi itu, Nadira duduk di bangku sekolah sambil menatap buku catatan yang penuh coretan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap satu halaman yang sama sejak lima menit lalu.
"Aduh… aku tuh belum hafal, gimana dong?" gerutunya sambil menepuk buku tipis itu.
Vanya yang duduk di depannya langsung menoleh. Ia tertawa pelan, menahan supaya tidak terlalu menarik perhatian guru piket.
"Yaelah Dira, kamu tuh ya… sekali baca langsung nyerep ke otak. Jangan lebay."
Nadira menoleh malas. "Itu kalau materi biasa, Van. Ini… ini beda."
"Beda apanya?" Vanya menyeringai. "Kan cuma tata cara."
"Cuma?" Nadira mendengus. "Ini panjang. Terus salah baca satu aja, bisa salah semua."
Izarra yang duduk di sebelahnya ikut menyikut bahu Nadira. "Tau nggak, kalau aku bisa ranking dua, itu karena aku belajar sama kamu. Jadi kamu tuh jangan kebanyakan takut."
Nadira melirik Izarra. "Kamu mah enak, Zarra. Hafalnya cepat."
"Lah kamu juga," Izarra protes. "Aku aja sering panik duluan sebelum kamu."
Vanya memutar bola matanya.
("Padahal kamu nyontek terus, Zarra…") batinnya sambil tersenyum kecut.
Nadira kembali menunduk. Ia membalik halaman, lalu membaliknya lagi, seolah berharap tulisannya tiba-tiba berubah jadi lebih pendek.
"Kalau nanti aku blank, gimana?" gumamnya.
Izarra langsung menepuk punggung tangannya. "Tenang. Aku di belakang kamu. Kalau kamu lupa, aku batuk."
"Itu namanya kode curang," Nadira meliriknya tajam.
Izarra terkekeh. "Daripada kamu pingsan."
Suasana masih berjalan biasa. Ada suara kursi diseret, tawa kecil, dan bisik-bisik khas jam kosong sebelum pelajaran.
Sampai
TRING!!!
Speaker sekolah menyala tiba-tiba, memotong semua obrolan.
"Perhatian, untuk seluruh murid. Besok kita diliburkan selama dua minggu."
Butuh dua detik sebelum kalimat itu benar-benar diproses oleh otak semua orang.
Lalu
Sekolah langsung pecah seperti pasar malam.
"ASIKKK!!! LIBUR!!"
"YES YES YES!!! Dua minggu woiii!"
Ada yang langsung berdiri, ada yang menepuk meja, ada yang bersiul keras.
Izarra sampai naik ke bangkunya. "DUA MINGGU, DIRA! DUA MINGGU! AKU BISA TIDUR PUAS!"
"Turun, Zarra! Jatuh nanti!" Vanya menarik lengannya.
Nadira cuma cengar-cengir bingung. "Eh… berarti praktik salat jenazah gimana dong?"
Vanya mengangkat bahu. "Kayaknya diundur deh."
"Kayaknya enggak deh,” sahut Izarra cepat. "Soalnya kata guru, abis libur langsung praktik."
Nadira langsung lemas. "Ya Allah… aku masih belum hafal…"
Vanya menepuk bahunya. "Santai. Dua minggu bisa buat hafal satu buku."
"Iya sih," Nadira tersenyum tipis. "Kalau aku nggak keburu stres duluan."
Namun malam itu, meski suasana rumah terasa lebih santai karena libur mendadak, Nadira tetap membuka buku. Ia duduk di lantai kamarnya, bersandar ke ranjang.
Tapi kepalanya penuh suara sorak teman-temannya. Penuh tawa. Penuh kata libur.
Dan entah kenapa, buku itu terasa lebih berat dari biasanya.
***
Dua minggu berlalu.
Hari-hari yang awalnya terasa menyenangkan perlahan berubah membingungkan. Tidak ada tugas. Tidak ada jadwal. Tidak ada kepastian.
Semua murid mulai tidak sabar ingin kembali sekolah. Nadira pun sudah menyiapkan buku-bukunya lagi. Ia bahkan sempat merapikan tas—sesuatu yang jarang ia lakukan.
Tapi kabar baru kembali datang. Libur diperpanjang.
Penyebabnya?
Sebuah virus yang tiba-tiba menyebar cepat ke seluruh dunia.
Corona/Covid-19.
Televisi di rumah kakek hampir tidak pernah mati. Berita demi berita menampilkan angka, masker, ruang ICU, dan wajah-wajah lelah tenaga medis.
Nadira berdiri di depan TV, memeluk sapu, mendengarkan setengah hati.
"Sekolah ditutup sementara…"
"Kegiatan belajar dialihkan ke rumah…"
Kakeknya menggeleng pelan. "Zaman sekarang aneh-aneh aja."
Di sekolah, grup WhatsApp kelas terus berbunyi.
"Guys, katanya kita libur sampai waktu yang belum ditentukan."
"Guru bilang praktik bakal ditunda."
"Corona makin parah coy…"
Izarra mengirim voice note panjang. "Gila ya, Dira. Kok bisa sampe kayak gini. Aku jadi takut."
Nadira mendengarkan sambil duduk di tepi ranjang. Ia mencoba tidak panik. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan kembali normal.
Tapi dunia yang tadinya terasa pasti… tiba-tiba jadi asing, sunyi, dan menegangkan.
***
Suatu siang, Nadira baru saja selesai menyapu halaman ketika sang kakek memanggilnya dari teras.
"Dira. Sini bentar."
Nadira mendekat. Keringat masih menempel di pelipisnya. Ia melihat sang kakek sedang memegang map hijau.
Jantungnya langsung tidak enak.
"Ini kertas pendaftaran buat SMK. Isi sekarang."
Nadira terdiam.
SMK?
Tangannya kaku menerima map itu. "Kek… tapi aku pengennya"
"Udahlah." Suara kakeknya memotong. "Jangan ngelawan. Kamu anak perempuan. Daripada jauh-jauh sekolah, mending yang deket. Lebih aman."
Kalimat itu lagi.
Alasan yang sama. Nada yang sama. Keputusan yang tidak pernah melibatkan dirinya.
"Tapi aku lulus dengan nilai bagus, Kek…" Nadira memberanikan diri bicara, meski suaranya pelan. "Aku bisa..."
"Nilai bagus nggak menjamin apa-apa," potong sang kakek. "Yang penting kamu aman."
Nadira menunduk. Rahangnya mengeras. Ia menggenggam map itu erat. Walaupun hatinya tidak setuju…
walaupun cita-citanya bukan SMK…
walaupun ia ingin menentukan masa depannya sendiri…
"Iya, Kek," katanya akhirnya.
Satu kata yang terasa seperti menyerahkan sesuatu yang berharga.
Namun begitu ia masuk kamar, Nadira duduk lama sekali di depan meja belajar. Map itu diletakkan tepat di hadapannya. Masih kosong. Putih. Seperti masa depan yang tidak ia pilih sendiri.
"Kenapa mimpi aku harus menyesuaikan dengan keinginan orang lain terus…" bisiknya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
***
Hari-hari berikutnya dipenuhi pengumuman dari teman-temannya.
Satu per satu.
"Guys aku keterima di SMA X!"
"Aku masuk boarding school."
"Aku nggak lanjut sekolah, ikut kursus aja."
Bahkan ada yang menulis, "Aku mau nikah."
Nadira menatap layar ponselnya lama. Jarum jam terus bergerak, tapi jarinya tidak ikut mengetik apa pun.
Ia menutup layar, lalu membukanya lagi.
"Aku harus jawab apa?" gumamnya.
Ia tidak punya teman yang memilih SMK dekat rumahnya.
"Terus… aku harus daftar sama siapa?"bisiknya.
Rasa sepi itu datang pelan, lalu duduk di dadanya. Sampai tiba-tiba satu notifikasi masuk.
Dari Lillia, anak kelas B.
"Dira, kamu daftar SMK juga kah?"
Mata Nadira langsung terangkat. Tangannya bergerak cepat.
"Iya Lili. Kamu juga?"
"Iya. Aku juga mau daftar di SMK. Kita bisa bareng-bareng kalo kamu mau."
Nadira menutup mulutnya sebentar. Dadanya terasa lebih ringan.
"Iya… mau banget," balasnya.
"Akhirnya aku nggak sendirian," gumamnya kecil.
***
Beberapa hari kemudian, MPLS diumumkan.
Bukan di sekolah. Bukan di lapangan upacara. Tapi… online.
Grup baru dibuat. Video pembelajaran dikirim lewat WhatsApp. Tugas lewat voice note. Guru diperkenalkan lewat foto dan file PDF.
Lillia menelpon lewat VC.
"Dira… ini rasanya aneh banget ya."
"Iya," Nadira tersenyum kecil sambil memeluk lutut. "Aku kangen suara bel sekolah."
"Kok kayak nggak kerasa jadi anak SMK…"
Nadira mengangguk. "Aku bahkan belum sempat ngerayain kelulusan SMP."
Tak ada foto bersama. Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada kenangan hari terakhir. Hanya sunyi… dan layar ponsel.
Namun Nadira mencoba bertahan.
"Lili…" panggilnya tiba-tiba.
"Hm?"
"Terima kasih ya."
"Kenapa?"
"Soalnya… kalau nggak ada kamu, aku daftar sendirian."
Lillia tersenyum. "Iya dong. Kita kan satu sekolah sekarang. Pelan-pelan ya, Dir."
Nadira tersenyum kecil.
Pandemi membuat banyak hal berubah. Cita-cita terpaksa dibelokkan.
Masa depan terasa kabur.
Tapi di tengah semua ketidakpastian itu, Nadira menemukan satu hal:
Ia tetap kuat berjalan…
meski jalannya tidak seperti yang ia inginkan.