NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALASAN

Di luar, dunia terasa jauh lebih luas daripada yang pernah diingat Sophia.

Begitu kakinya melangkah keluar dari gerbang istana Edward—yang selama ini menjadi sangkar emasnya—udara pertama yang ia hirup terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih hidup. Lebih nyata.

Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma tanah lembap dan bunga liar yang tumbuh di taman luar istana. Tidak ada parfum berat, tidak ada dupa mahal, tidak ada tekanan tak terlihat yang selama ini menempel di kulitnya seperti bayangan.

Langit terbentang luas, warna biru pucat yang perlahan beralih menjadi jingga.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sophia bisa melihat matahari terbenam tanpa pilar marmer, tanpa tirai tebal, tanpa penjaga di setiap sudut.

Ia memejamkan mata sejenak.

Udara bebas itu masuk ke dadanya… dalam… sampai ia bisa merasakan betapa lamanya ia tak benar-benar bernapas.

Suara dedaunan bergesekan, burung-burung yang terbang rendah, riuh rendah orang-orang yang berlalu-lalang di kejauhan — semuanya terasa asing tapi menenangkan.

Lelaki paruh baya itu berjalan di samping Sophia, langkahnya tenang dan tak mengusik, seolah ia tahu betul bahwa Sophia membutuhkan ruang untuk bernapas. Dari kejauhan, ia hanya tampak seperti pengawal atau pelayan setia—tapi gerak-geriknya menunjukkan ia lebih dari itu. Seseorang yang diam-diam memedulikan keselamatannya.

“Kemari, Nona,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan hangat, tidak memaksa.

Ia menuntunnya melalui jalan setapak berbatu yang dikelilingi perdu hijau. Matahari pagi mulai memantulkan warna keemasan di atas rambut perak lelaki itu. Sophia mengikutinya dengan langkah hati-hati, masih menyesuaikan diri dengan dunia luar yang terasa terlalu besar dan terlalu bebas.

Begitu memasuki taman, Sophia tertegun.

Taman itu jauh berbeda dari taman istana Edward yang setiap daun dan kelopaknya diatur sesuai selera. Di sini, alam tumbuh dengan cara yang lebih jujur—lebih liar, tapi juga lebih hidup. Rumput bergoyang diterpa angin. Bunga-bunga tumbuh tanpa pola yang dipaksakan, mewarnai tanah dengan semburat merah, kuning, dan ungu.

"Ada banyak hal yang harus aku katakan padamu." Ucap Edward sambil melangkah lebih tenang. "Tentang dirimu, Nona Sophia. Dan..."

Sophia menoleh saat kalimat itu menggantung sejenak di udara. "Dan apa, Tuan?" Tanyanya penasaran.

Edward berhenti melangkah. "Bill."

Ia duduk di sebuah bangku kayu. Udara taman mengalir pelan melewati wajahnya. Bau bunga liar dan air kolam menyatu, membentuk aroma yang membuat dadanya terasa ringan. "Duduklah,"

Sophia mengangguk pelan dan mulai menempatkan bokongnya di hadapan pria itu. Pria yang kini memandangnya lurus, mengamati setiap yang ada dalam dirinya tanpa celah.

"Tu-Tuan... kenapa memandangku seperti itu?"

Edward menggeleng dengan senyuman. "Kamu terlahir sebagai gadis yang kuat." Katanya kemudian. "Aku, sebagai Ayah..."

Kalimat itu menggantung di udara, tertahan oleh napas yang ia tarik panjang.

Wajah Edward sedikit menunduk, seolah sedang memilih kata yang paling tepat agar tidak melukai gadis itu sendiri. Jemarinya meremas sarung tangannya, tanda kegelisahan yang jarang terlihat dari seorang raja yang dikenal selalu menghitung setiap gerakannya.

"Ayah mertuamu, maksudku." Sambung Edward kemudian. "Menilaimu lebih dari itu. Aku cukup merasa… ini bukan hal mudah bagimu untuk menerima, Bill,”

Sophia memandangnya, bingung sekaligus tersentuh.

"Tapi..." Lanjut Edward, memandang Sophia lebih dalam. "Aku melakukannya demi kebahagiaanmu, kelak."

Kata kebahagiaanmu itu jatuh di antara mereka seperti batu kecil yang menciptakan riak besar di hati Sophia.

Ia mengerutkan alis, matanya membulat sedikit.

“Kebahagiaanku?” ulang Sophia lirih, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

Ada kegamangan di wajahnya; sesuatu antara bingung, ragu, dan takut berharap.

Ia tidak tahu apa yang sedang dimaksudkan Edward. Tidak tahu arah dari semua pengakuan lembut yang tiba-tiba ini.

Ia tidak mengerti mengapa seorang raja—ayah dari suaminya—mengatakan hal sebesar itu, seolah ia memegang rahasia masa depan Sophia sendiri.

Sophia menelan saliva, napasnya terjeda.

“Aku… tidak mengerti, Tuan." Ujarnya dengan suara bergetar halus. “Bagaimana… bagaimana bisa anda mengatakan bahwa ini semua demi kebahagiaanku?”

Sophia mengangkat wajahnya, pandangannya mencari jawaban pada mata Edward, namun justru sesuatu yang semakin membuat hatinya berdebar tak tentu, ketulusan yang sulit ia tangkap sepenuhnya.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!