Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu
Jackson terdiam, ia menatap lekat bocah laki-laki itu.
Dimas membawa angkasa didekat nya.
"Saya tidak tahu siapa anda, dan ada hubungan apa anda sama Farah. Tapi, kalau anda berani macam-macam disini, saya tidak akan tinggal diam." Ucap Dimas memperingati.
Oma Fani berdiri di depan Jackson, ia tersenyum ramah. "Kami tidak bermaksud membuat keributan disini. Cucu ku hanya ingin bertemu dengan Farah, tidak ada niat jahat."
Entah seberapa kejam perlakuan cucunya kepada wanita dari anak-anak nya itu, sehingga ia begitu trauma bertemu dengannya.
Fani mendekati ke arah Farah yang membelakangi nya.
"Nak," Panggil Fani lembut.
Farah langsung menyela, sebelum Fani berbicara. "Maaf nyonya... Kalian sudah salah paham disini." dengan berani Farah menatap wanita paruh baya itu.
Farah menggendong Anaya dan berdiri di samping Dimas. "Dia suamiku. Dan mereka adalah anak-anak kami,"
Dimas tercengang mendengar pengakuan Farah yang sangat tiba-tiba.
Jackson mengerjap pelan, seolah sedang memahami apa yang barusan ia dengar.
"Suami?" bisik nya hampir tak terdengar.
"Itu tidak mungkin! Farah... Tolong jangan seperti ini." ucapnya memohon.
Fani menatap Farah kemudian Dimas, lalu kembali menatap cucunya. Ia menggenggam tangannya, mencoba untuk menenangkan nya.
"Jack, tenanglah." bisik Oma pelan.
Namun Jackson tak menghiraukannya. Ia melangkah maju, Tetapi cukup satu langkah mampu membuat Farah reflek mundur.
"Farah..." Suaranya bergetar, antara marah dan ketidakpercayaan. "kau... Kau tidak perlu berbohong seperti ini, apa lagi sampai melibatkan orang lain hanya untuk menjauh dariku."
Dimas memutar badan, memasang posisi tepat di didepan Farah. "Saya tidak tahu masalah kalian apa," ucap Dimas tegas.
Dimas menggenggam tangan Farah, "Tapi yang jelas Farah tidak berbohong. Dia istri saya," ucapnya menatap tajam jackson.
Jackson menggelengkan kepalanya, "Itu Tidak mungkin! aku mengenalnya sangat baik. Dia tidak mungkin menikah."
Jackson menatap Farah, "Tolong katakan yang sebenarnya, Farah. Katakan kalau dia bukan suamimu,"
Farah semakin ketakutan saat Jackson terus mendesaknya.
"CUKUP!"
Tanpa sadar suaranya melengking tinggi, tubuhnya bergetar hebat. Anaya memeluk leher Farah erat.
Farah menatap Jackson dengan mata berkaca-kaca, "Kau datang dengan anggapan bahwa anak-anakku adalah milikmu? Dan aku membohongimu?" Farah Tertawa sinis.
"Jujur atau bohong... tidak ada hubungannya denganmu! Kau tidak punya hak untuk itu!"
Jackson terdiam. Oma Fani menghela nafas pelan. Ia dapat melihat betapa besar luka yang ditorehkan cucunya padanya.
Farah berusaha tetap tegar di depan anak-anaknya meski hatinya sangat hancur.
Farah melanjutkan, kini lebih tenang meski matanya berkaca-kaca.
"Sudah cukup! tolong jangan ganggu hidupku lagi." suaranya bergetar.
Farah menatap Oma Fani. "Ibu... Aku mohon, tolong biarkan aku dan anak-anakku hidup dengan tenang."
Fani tidak bisa berkata apa-apa, ingin sekali ia memeluk Farah memberikan keamanan untuknya.
Jackson mengepalkan tangannya, "Jadi... Semua ini benar?" tanyanya lirih, nyaris tak terdengar.
Farah mengangguk pelan.
untuk pertama kalinya, Jackson seperti orang yang kehilangan arah. Kakinya reflek mundur setengah langkah seolah kehilangan keseimbangan.
Kenyataan itu menghantam lebih kerasa dari pada amarah atau penolakan.
Farah terkejut, tiba-tiba Jackson memeluk kedua kakinya. "Tidak..." lirihnya, "Farah, aku tahu kamu marah sama aku. Kamu bisa pukul aku, hukum aku sepuasnya. Tapi.... Jangan lakukan ini, aku—"
Farah memalingkan wajahnya, airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Fani mendekat, mencoba menenangkan cucunya. "Tenanglah... Dengarkan Oma dulu, nak. Kita tidak tahu apa yang terjadi selama ini. Jangan—"
"TIDAK, OMA!" suaranya meninggi membelah ketegangan di sana.
Fani terdiam, tersentak.
Jackson menatap Farah.
"Farah, aku Tidak percaya. Tolong katakan kalau semua ini bohong— pria ini bukan suamimu!" suaranya meninggi, namun bukan kemarahan tetapi k panikan.
Dimas refleks melangkah maju, melindungi Farah dan anak-anak.
"Kau.... Cukup sampai disini, jangan memaksa!" ucapnya tegas.
Jackson menatapnya tajam yang nyaris menusuk. "Kau fikir aku akan percaya begitu saja dengan omong kosong ini?"
Dimas menangapi dengan santai, berusaha untuk tetap tenang. ia tidak ingin membuat anak-anak takut.
"Terserah kau mau percaya atau nggak!" Dimas menggendong angkasa yang sejak tadi memeluk ibunya, kemudian ia menggenggam tangan Farah.
"Ayo, kita pergi."
Namun, suara Jackson menghentikan langkah mereka.
"Kalian tidak terlihat seperti sepasang suami istri. Ada jarak yang tidak mungkin ada di antara suami dan istri."
Farah menahan nafas. Jari-jari nya menggenggam kain bajunya.
"kalau perlu," suaranya merendah, namun mengancam. "Aku bisa mencari bukti sendiri. Akad nikah? Rekaman media? foto? Apa saja... semua itu bisa ku dapat dalam hitungan detik."
Farah memejamkan mata, tersentak karena nada itu adalah nada yang ia kenali— yang dulu membuat nya merasa kecil dan terpojok.
Dimas tak tinggal diam, ia menatap tajam ke arah Jackson. "Sudah cukup! Kau tidak punya hak untuk mengusik hidup, Farah!"
Fani menghela nafas panjang, ia jelas murka namun berusaha untuk tetap tenang.
"Jackson... Sudah cukup! Kau membuat suasana semakin buruk."
Namun, Jackson tidak memperdulikan nya.
"Farah... Aku pasti akan membuktikan bahwa semuanya tidak benar."
"Kau boleh mencari apapun!" suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi, jangan pernah menyentuh apalagi menyakiti istri dan anak-anakku."
Farah tak ingin berlama-lama lagi disana. Ia Segera mengajak Dimas untuk segera pergi dari sana.
~
Pukul 8 malam anak-anak sudah tidur. Mereka terlihat sangat melelahkan.
Farah mengusap lembut rambut anak-anaknya. Ia takut, kejadian siang tadi membawa dampak buruk untuk anak-anak terutama angkasa.
"Maafkan mama ya, sayang." bisiknya sambil mencium kening keduanya.
Setelah meninggalkan kamar, Farah melihat Dimas ada disana. Ternyata pria itu belum pulang.
"Farah," panggil nya pelan.
"Hm..."
Farah tersenyum kecil lalu duduk di depan nya. "Kenapa belum pulang?"
"Bagaimana aku bisa pulang disaat kamu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja."
Farah terdiam. Ia tersenyum samar, "Apakah begitu jelas?" gumamnya.
Dimas mengangguk pelan. "Farah..." suaranya pelan, tapi menyimpan pertanyaan yang menumpuk.
Farah tau apa yang saat ini ingin dipertanyakan pria itu.
Ia tak langsung menjawab. Kepalanya menunduk, tangannya memainkan hujung baju.
Dimas duduk didepannya, berusaha menjaga jarak agar Farah tidak merasa tertekan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia berhenti sejenak, menatap Farah yang tampak gelisah. "Dan... dan kenapa kamu bilang kalau aku suamimu?"
Farah mengigit bibir bawahnya. "Maaf... Aku tidak bermaksud seperti ini. Aku.... Aku panik." Ucapnya lirih.
"Aku tidak tahu harus bagaimana ketika melihat dia muncul. Dia...dia tidak seharusnya mencariku, tidak seharusnya menemukan keberadaan ku." suaranya bergetar, ketakutan itu terlihat jelas.
"Farah..." Suaranya berubah lembut, "Kamu tidak sendirian, aku, ibu, ayah, selalu ada buat kamu. Kami ngak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Farah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. ketakutan terlihat jelas di matanya, nafasnya tak teratur.
"Tolong rahasiakan hal ini dari bude dan pakde. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir." pinta Farah.
Dimas mengangguk.
ia bisa merasakan betapa takutnya Farah saat ini. Dan... Itu bukan hanya takut biasa, itu seperti trauma.
"Farah...apa dia benar ayah dari si kembar?" pertanyaan itu keluar begitu saja.
Farah menahan nafas, ia mendongak perlahan. "Bisakah kita tidak membicarakan hal itu? aku belum siap untuk membahasnya sekarang."
Dimas menghela nafas pelan. Ia berjongkok di depan Farah, meraih tangan Farah. "Tidak apa-apa... Kalau kau belum siap aku tidak akan memaksa mu untuk bercerita. Tapi kau perlu tau satu hal..." Dimas menatap Farah Dengan ketulusan.
"Aku selalu ada disini untukmu, untuk anak-anak. Aku akan menemanimu bersandiwara sebagai suami istri didepannya." ucapnya tulus.
"Kau tidak marah?" tanya Farah heran.
"Marah?" Dimas Tertawa kecil, "Kau terlalu banyak berpikir. aku ngak marah, malah aku senang bisa membantumu." ia tersenyum tulus.
"Walaupun hanya sandiwara," Gumamnya dalam hati.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
"Maaf... Aku benar-benar minta maaf."
Dimas mendekat, menghapus air mata di pipinya. "Hei...Kamu tidak perlu minta maaf, tidak apa-apa yang penting bagiku kamu dan anak-anak aman."
Farah tersedu, tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya di bahu dimas— untuk pertama kalinya saat ia tinggal di sini.
Dimas membawa tangannya kebelakang, ia menepuk lembut punggung Farah seolah memberikan nya rasa nyaman dan aman.
Dibalik pintu kamar, angkasa mengepalkan tangannya kuat. "Mama nangis.. cemua ini gala-gala paman jahat itu. Acu pasti bakal beli pelhitungan cama dia."
~
Hening menyelimuti mobil mewah yang Melaju di jalan desa yang mulai sunyi.
Fani menatap cucunya, ia tak berani mengatakan apapun dulu. Ia tahu, saat ini cucunya itu dalam kondisi yang tidak stabil.
Tapi, ia juga tahu Jackson berada di titik paling terendah. Ia tahu jelas bagaimana perjuangan cucunya untuk bertemu dengan hari ini. Ia sudah menunggu lama untuk bertemu dengan wanita itu.
Jackson menatap kosong ke arah jalanan yang lembab. Sorot matanya gelap, marah, bingung dan tidak berdaya.
Fani akhirnya berkata pelan, "Cucu Oma... Kamu harus tenang dulu, nanti kita pikirin jalan keluarnya." ucapnya sambil menyentuh tangan Jackson.
Jackson menghela nafas panjang, "Oma...katakan padaku, kalau Farah berbohong. Dia ngak mungkin udah nikah kan?"
Fani menatap nanar cucu nya itu. Untuk kali pertamanya ia melihat sisi lemahnya.
Jackson menatap Oma, penuh tekad. "Kali ini aku tidak akan mundur, Oma."
"Jackson..." Fani menggenggam tangannya. "Jangan lakukan sesuatu yang—"
"Aku tidak akan menyakitinya, Oma." potong Jackson cepat. "Aku hanya ingin memastikan bahwa semaunya tidak benar. Aku hanya ingin Farah tahu, aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. aku ingin dia tahu bahwa kedatangan ku bukan bahaya."
Sesaat kemudian, Jackson mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
Ia segera menekan nomor disana.
"Cari informasi tentang seorang....namanya Dimas." suaranya begitu dingin. "Aku ingin semua datanya. secepatnya."
"Baik tuan," Jawab seseorang diseberang sana.
Jackson menutup panggilan itu. Ia memejamkan matanya menahan gejolak di dadanya.
"Maaf... Sudah membuatmu dan anak-anak takut, Fa." gumamya Lirih.