NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Pihak Ketiga / Beda Usia
Popularitas:42.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.

‎Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.

‎"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.

‎"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.

‎Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.


‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : TCB

Alana berdiri diam, matanya fokus menatap bangunan rumah yang berdiri sendirian di tengah lahan yang sedikit tumbuh semak. Pintu kayu yang kusam, cat tembok yang sudah memudar total serta tidak adanya cahaya yang menyala seolah menandakan jika rumah itu tidak berpenghuni.

‎‎"Zen."

‎‎Zen menahan langkahnya saat pintu rumah itu sudah terbuka lebar, dia menoleh pada Alana dan melihat ketakutan diwajahnya.

‎‎"Aku takut, kita kembali ke mobil saja," Alana memegangi lengan Zen dengan kuat.

‎‎"Kita coba masuk dulu ya, siapa tahu kita bisa bermalam disini," Zen memindahkan tangan Alana kedalam genggamannya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut dengan satu tangannya lagi memegang handphone yang dia gunakan sebagai senter.

Sebelumnya Zen sudah mencoba menghentikan mobil yang melintas, namun tidak ada satupun mobil yang mau menghentikan laju kendaraan mereka. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawa Alana mencari penginapan untuk bermalam. Namun sayangnya tempat yang mereka lalui itu sepi dan jauh dari keramaian kota hingga mereka tidak menemukan keberadaan hotel disekitar tempat itu.

‎Zen menyorotkan senter handphonenya pada sudut-sudut tembok yang terdapat banyak sarang laba-laba, ruangan itu nampak rapi meskipun kotor dengan debu karena memang tidak pernah dibersihkan.

"Kita menginap disini," putus Zen.

"Tidak!" tolak Alana cepat, "Aku tidak mau tidur dirumah berdebu."

"Aku akan membersihkannya." ujar Zen. "Ini sudah jam berapa, kita tidak mungkin keluar lagi untuk mencari penginapan. Penginapan jauh dari sini, Alana."

"Ini salah kamu!" sahut Alana kesal, menurunkan tangannya dari lengan Zen dengan gerakan cepat. "Kenapa kamu membawaku pergi naik kereta gantung ditempat yang jauh!"

Zen menghela napas, dia juga tidak menduga akan ada kejadian seperti ini. Ban mobil bocor dan akhirnya mereka harus terjebak disana.

"Kita kembali ke mobil saja." suara Alana terdengar pelan. "Kalau tidak ada mobil yang mau berhenti untuk menolong, kita tidur dimobil."

Zen tidak menjawab, sebenarnya dia bisa saja pergi sendiri untuk mencari bantuan, tapi dia tidak berani meninggalkan Alana sendirian di mobil. Akan sangat berbahaya meninggalkan wanita sendirian ditempat sepi seperti ini.

Zen melangkahkan kakinya dan mulai mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membersihkan rumah tersebut. Ketika menemukan sapu dibelakang pintu, dia mulai menyapu lantai yang berdebu setelah sebelumnya menyalakan lilin yang dia temukan di salah satu laci lemari.

Ditempatnya berdiri, Alana hanya menatap tanpa berniat membantu. Sementara Zen mulai menggelar tikar yang dia temukan di salah satu kamar yang ada dirumah itu, dia hanya akan menggunakan ruangan depan untuk bermalam.

Zen kembali berdiri dengan tegak dengan napas sedikit tersenggal akibat rasa lelah setelah beberes.

"Sudah siap, sekarang kamu bisa istirahat," ujarnya, menatap pada Alana yang masih setia berdiri disana dengan wajah masamnya.

Alana menatap sekilas pada tikar yang sudah terpasang, lalu memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang dia lipatkan didada. "Tidak mau! Aku tidak mau tidur disitu."

Zen menaikkan bahunya, "Ya sudah, kalau kamu tidak mau ya biar aku saja yang tidur. Aku lelah,"

"Zen!"

Zen tak menghiraukan panggilan Alana, dia membaringkan tubuhnya terlentang di atas tikar dengan satu tangannya yang dia pakai sebagai bantalan kepala. Namun, melihat wajah Alana yang seperti ingin menangis, Zen merasa tidak tega dan kembali bangun. Dia segera menghampiri wanita itu.

"Malam ini saja, aku akan jagain kamu," ucap Zen lembut dengan tatapan memohon. Dia tahu Alana juga merasa lelah setelah seharian ini mereka pergi jalan-jalan.

"Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada AC," ucap Alana.

"AC ya," Zen menggaruk pelipisnya dan nampak berfikir. "Tunggu disini sebentar, sepertinya tadi aku melihat sesuatu dibelakang yang bisa kita jadikan kipas untukmu."

Zen meninggalkan Alana sendiri diruang depan, setelah beberapa saat dia kembali dengan membawa tutup panci berbahan aluminium yang dia ambil dari dapur.

"Berbaringlah, aku akan mengipasimu dengan ini," ujarnya seraya menunjukkan tutup panci yang dia pegang.

Alana menatap dengan mulut yang sedikit menganga, sejak kapan tutup panci bisa dijadikan kipas? Namun, sebelum dia sempat memprotes, Zen sudah lebih dulu menarik tangannya dan mendudukkannya di atas tikar, kemudian Zen menutup pintu rapat, setelahnya dia ikut duduk di sebelah Alana.

"Ayo berbaring, aku akan mengipasimu supaya kamu bisa tidur dengan nyenyak," ujar Zen, dia sudah siap dengan tutup panci ditangannya.

"Mengipasi apanya? Ini tutup panci, Zen!" sahut Alana.

"Lihat ini," Zen mengibas-ngibaskan tutup panci itu didepan wajah Alana. "Berasa kan anginnya,"

"Sekarang berbaring dan tidurlah, malam ini aku akan terjaga untuk menjagamu," perintahnya dengan nada lembut.

Sebenarnya Alana merasa tidak nyaman tidur ditempat seperti itu, tapi dia sudah sangat lelah dan tidak ingin berdebat lagi. Dengan ragu-ragu Alana mulai membaringkan tubuhnya miring menghadap ke arah Zen, tangan kanannya dia gunakan sebagai bantalan.

Disampingnya, Zen duduk bersandar pada dinding dengan satu kakinya dia tekuk untuk menopang tangan kanannya yang memegang tutup panci. Perlahan dia mulai mengipasi Alana dengan tutup panci itu.

"Zen," panggil Alana, suaranya terdengar lembut dan sudah tidak sekesal sebelumnya.

‎‎"Hem," jawab Zen singkat, tanpa mengalihkan pandangannya. Namun, ayunan tutup panci dia perlambat sedikit.

‎‎"Kalau aku tidur, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya Alana pelan, menggigit sedikit bibir bawahnya karena cemas akan jawaban yang Zen berikan.

‎‎Zen menyunggingkan senyum tipis, "Dalam keadaan ramai saja aku berani, apalagi sekarang kita cuma berdua."

"Tutup matamu sekarang. Besok pagi saat kamu bangun, mobil pasti sudah siap," imbuhnya.

Alana hanya tersenyum tanpa menjawab, dia tahu Zen tidak akan mungkin macam-macam dan hanya menakutinya saja. Seiring waktu yang berputar, mata Alana mulai terpejam dengan Zen yang masih setia mengipasinya.

Suara dering ponsel membuat Zen mengalihkan pandangannya dari wajah Alana ke handphone Alana yang tergeletak di sampingnya. Dia mengambil ponsel itu dan melihat panggilan masuk dari kontak dengan nama 'Sayangku' terpampang di layar ponsel.

Zen menoleh untuk memastikan Alana sudah benar-benar terlelap. Dengan gerakan hati-hati dia beranjak bangun supaya tidak membangunkan tidur Alana dan pergi ke teras rumah dengan membawa ponsel milik Alana ditangannya.

-

-

-

Zergan mulai nampak gelisah karena Alana tak kunjung mengangkat telefon darinya. Tadi siang dia tidak sempat menelfon Alana setelah mendengar cerita dari Roy ditelefon yang mengatakan jika Roy dan istrinya bertemu dengan Alana digedung bioskop sendirian. Itulah sebabnya dia mencoba menghubungi Alana malam ini untuk bertanya.

"Sayang, kenapa kamu tidak mengangkat telefon," gumam Zergan dengan tatapan terus tertuju pada layar ponsel yang sedang melakukan panggilan.

Beberapa saat setelah panggilan itu terhenti, sebuah panggilan lain masuk. Zergan langsung menggeser tombol hijau dengan cepat dan menempelkan handphone itu ke telinganya.

"Halo."

-

-

-

Bersambung....

1
Zuri
yg kamu lewatkan banyak Zergan. karena kamu hanya fokus pada dirimu sendiri🤧
Zuri
mantanmu itu lohh Lana🤧
Zuri
oohhh kok udahann /Grin//Grin/
Zuri
tangan sakit tak menghalangi untuk raba meraba, remas meremas🤣
Zuri
akhirnya ketemuuu🥹
Zuri
yg kamu sebut rendahan itu udah kamu coblos berkal kali loh🤧
D_wiwied
tebakanmu bener Al, zergan biang keroknya
Khusnul Khotimah
aduhh kenapa mbak Mina bilang KLO diajak kakaknya Zen.
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
markona
ini jg mulut nya mba mina GK bisa semua sekali menyembunyikan sesuatu mulutnya rombeng bgt jangan jangan mba mina ini naksir bgt ke zergan, pecat aj Alana itu pembantu mu mulut GK bisa dijaga, heran dan km Alana pura pura aj GK tau masalah ini ke zergan apa lg NT klu zergan ingin cari tau tentang Zen ke km, disitu lah bisa km curiga,
lia juliati
biarin aja orng jahat kerna karna trus d bayar tunai
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
mana suasana nya mendukung lagi ya zen.berduan,hujan pula.hemmmmmm....
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"


Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Resa05
wah ngga sabar nih tungguin cerita selanjutnya
Bunda HB
ART ember mulut e apa2 bilang sama zearga .bilang aja gk tau.art nya pecat aja gk guna. 🤭🤭
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
ingat zergan! siapa menanam, bakal memanenn, jika kamu menanam bunga lateng, jangan harap akan memanen mawar. jadi jangan salahkan zen sama Alana, jika akan mengirimmu masuk hotel prodeo wkwkw
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Awalnya aku cium-ciuman
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
yaeelahhh zen zen, sudah macam orang kelaparan saja 🤣 Tangan sakit tak menghalangi kegiatan jamah, menyesap dan meremat 🤦‍♀️ yang sakit tangannya penting itunya tak sakit, gass lahhh wkwkw
Khusnul Khotimah
baca bab ini q baca pelan pelan ikut berdebar jantungku....🤭
🔥Violetta🔥: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™: kita mah anak buahnya Mr crab yang mata duitan 🤣🤣
total 6 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
wah wah wah kamu meremehkan karina..zergan! demi anak, seorang ibu bisa melakukan apa saja. meskipun nyawa taruhannya..jadi jangan main2 dengan sosok yang di panggil ibu.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Mereka yang ketemu, aku yang deg-deg serrrrrr. Lana, cerita juga ya, kalo kamu positip.serius dech, doi pasti seneng banget.


Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.
🔥Violetta🔥: Minta didemo si Ntoon 😅😅
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!