Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hanya Kasihan
Aku hanya bisa terdiam sejenak mendengar kalimat pak Rama barusan, mataku berkedip beberapa kali sambil melihatnya tidak percaya, mendengar kalimat yang baru keluar dari mulutnya barusan.
"Hahaha jangan bercanda kamu," tawa mengejek ibu, seolah membuatku kembali ke realita hidup.
"Tidak ada yang bercanda, jika ibu tidak percaya. Saya bersedia menikah dengan Lina sekarang."
"Kamu yakin, kamu seorang pengacara junior, yang mungkin karirmu akan ada di puncak beberapa tahun lagi. Itupun jika kamu mencari pasangan yang tepat. Tepat dalam membantu karirmu, bukan ayah Lina yang kerjanya aja gak jelas."
"Ibu cukup, cukup menghina ayah dan aku. Sekarang ibu pergi dari sini," kesalku mengusir ibu. Entah sejak kapan, ibu menjadi orang yang paling menyebalkan dan membuatku malas untuk melihatnya.
"Jodoh tidak ada yang tahu, Bel. Jangan pernah merendahkan putriku."
"Emang kenyataannya kan. Lina dan kamu tidak akan bisa membantu karirnya, yang seorang pengacara. Sedang pekerjaan kalian, gak ada yang bisa di banggakan. Tidak seperti Rania ku yang calon dokter."
Aku mengepalkan tanganku kuat. "Aku akan buktikan padamu, bu. Kalau aku bisa lebih hebat daripada Rania."
Jujur selama sekolah nilaiku tidak kalah dengan Rania adikku, yang selalu mengikuti bimbingan belajar selain les musik.
"Lina dan Rania, sama-sama anakmu. Apa kamu lupa itu?"
"Tidak, hanya Lina anakmu. Sedang Rania anakku dengan orang yang aku sayangin." ujar ibu yang langsung pergi.
"Apa maksud ibu?" tanyaku pada ibu yang begitu saja pergi meninggalkan aku yang masih penasaran dengan kalimat itu.
"Apa maksudnya, yah?"
"Ayah tidak tahu, sayang." ujar ayah menggeleng pergi, jelas juga terkejut seperti halnya aku.
"Ayah harus tes DNA Rania, untuk memastikannya."
"Tidak perlu, ayah yang mengadzaninya saat dia baru melihat dunia. Ayah yang di panggilannya ayah, saat dia pertama kali bisa bicara. Tidak perlu tes DNA, jika itu hanya untuk menyakiti hati ayah."
"Tapi yah," protesku terhenti dan aku urungkan, saat pak Rama mencekal tanganku dan menggeleng.
"Terimakasih nak Rama, meski bapak tahu mungkin kalimat nak Rama hanya untuk memberi muka bapak, di depan mantan istri bapak." tulus ayah dengan memandang pak Rama sebelum melihat kearahku.
"Ayah selalu percaya dengan putri ayah," lembut ayah dengan melihat kearahku, dengan tangan yang kasar mengusap pipiku membuat air mata yang dari tadi aku tahan, malah mengalir jatuh membasahi pipiku.
"Jangan menangis, tidak ada yang perlu di tangisi." senyum ayah, senyum menenangkan yang menyembunyikan luka di dalam matanya.
"Aku menangis bahagia, menjadi anak ayah dan mulai hari ini aku hanya punya seorang ayah."
"Husss," tegur ayah dengan menggeleng pelan. "Bagaimanapun ibumu yang melahirkanmu, yang mengandung dan menyusui mu."
"Aku tidak percaya dia yang menyusuiku," ujarku melihat ayah dengan bibirku yang bergetar.
Ayah hanya tersenyum, sebelum terdengar suara pak Rama yang pamit pulang.
"Terimakasih nak Rama, untuk hari ini. Lina, antar nak Rama pulang, ayah mau istirahat di kamar dulu!"
"Baik yah."
Ayah berjalan masuk ke dalam kamar, membuatku menghela nafas sebelum melihat pak Rama. "Terimakasih pak."
"Hmm," ucapnya sambil berjalan keluar.
"Ya Tuhan, selain datar ternyata kaku juga ya ini orang. Tidak ada sepatah katapun untuk menghiburku." gerutuku di dalam hati, sambil berjalan di belakangnya.
Setelah memastikan pak Rama pulang dan mobilnya tidak terlihat, baru aku baru masuk ke dalam rumah.
Sejak siang ayah pamit istirahat di depan pak Rama, ayah tidak keluar dari kamar lagi sampai menjelang maghrib. Membuatku kwatir, tapi aku sadar ayah butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya yang kecewa dan mungkin juga sakit hati, dengan apa yang dia katakan ibu.
Tapi sampai adzan maghrib dan aku selesai sholat maghrib, ayah tidak kunjung keluar dari dalam kamar. Membuatku mengambil putuskan untuk masuk ke dalam kamar ayah, setelah ayah aku panggil-panggil tak kunjung keluar. Terlebih di rumah kami hanya ada satu kamar mandi, jadi ayah harusnya keluar untuk wudhu atau ke kamar mandi.
"Ayah!" pangggilku sambil berjalan masuk, setelah membuka pintu kamar ayah.
Aku nyalakan lampu kamar ayah, dan terlihat ayah masih tidur membuatku menghela nafas.
"Ayah tidak sholat maghrib?" tanyaku sambil berjalan menghampiri ayah.
"Yah," lembutku, sambil menggoyang tangan ayah.
"Ayah, ayah bangun!" kuatirku, karena ayah tidak merespon panggilanku, membuatku mengecek nafas ayah.
Ayah masih bernafas, tapi tidak merespon panggilanku, membuatku berlari keluar rumah untuk minta pertolongan pada tetangga, untuk membawa ayah ke rumah sakit.
***
"Tumben pulang? Mama nyuruh dia pulang?" tanya Naya, menyambut kedatangan Rama yang baru masuk ke dalam rumah.
Selama beberapa hari Naya pulang ke rumah orang tuanya, Rama emang belum pernah pulang ke rumah orang tuanya. Karena itu begitu masuk ke dalam rumah, langsung di sambut ledekan oleh kakak kembarnya itu.
Laras yang sedang duduk di depan TV melihat Rama dan menggeleng.
"Gak pulang di suruh pulang, giliran pulang malah di sambut dengan pertanyaan tak bermutu." dengus Rama yang langsung duduk di samping Laras, mamanya.
"Sudah makan? Kalau belum, mama suruh bibi siapkan?"
"Belum sih, tapi masih kenyang baru nongkrong makan pizza sama anak-anak."
"Loyo banget, pingin kawin kamu, nikah dulu baru kawin ya." kelakar Naya.
"Kamu aja dulu, kamu kan perempuan, lagian kamu kan kakaku." ucap Rama, sambil menaruh kepalanya pada bahu Laras.
"Ibunya Lina itu gak punya rasa kasih sayang tahu, ma." ujar Rama, membuat Laras dan Naya saling pandang.
"Maksudnya bagaimana, coba cerita ke mama, kok kamu bisa ngomong gitu?"
Rama kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi, tadi siang di rumah Lina tanpa ada yang terlewatkan. Sampai Juna datang dan bergabung, setelah pulang dari kegiatan di masjid dekat rumah.
"Tumben pulang anakmu, ma." kata Juna, membuat Naya terkekeh bersama.
"Bukan hanya aku yang bilang lo, Ram. Makanya sering pulang Ram, supaya kepulangan mu bukan hal yang aneh."
"CK!" decak Rama mendengar ucapan Naya, tanpa memindahkan kepalanya dari bahu mamanya.
"Kamu yakin sekedar kasihan, Ram. Tidak ada getaran di dada gitu, pada Lina?"
"Tidak Naya, kepo banget sih jadi orang."
"Kalau kasihan bantu dia, anggap aja balas budi karena dia beberapa kali sudah membantumu."
"Iya bener kata mama. Pertama di hotel, eh sekarang gara-gara video itu. Tapi lebih baik kamu sama dia, daripada sama cucu teman nenek."
Rama sempat di kenalkan dengan beberapa teman neneknya, seperti halnya Naya. Tapi sayangnya Rama belum ada niat memiliki hubungan, karena ingin fokus dengan karirnya.
"Tidak usah membahasku, lebih baik kamu pikirkan dirimu. Kamu perempuan harusnya nikah lebih dulu."
"Daripada gontok-gontokan, lebih baik kalian nikah semua. Jika umur kalian genap 30 tahun, belum ada yang nikah. Papa akan jodohkan kalian, papa ingin segera nimang cucu seperti teman-teman papa yang lain." tegas Juna, membuat kedua anaknya mencibir bersama.
"Mama dan papa aja nikah di usia 30 tahun keatas, kok maksa kami buru-buru nikah, sih."
"Cocok, aku setuju dengan Naya."
"Karena kami kesepian, tidak ada cucu yang menemani di masa tua kami." jelas Laras.
"Supaya kamu gak ngerasain nyesel kaya papa, yang terlambat nikah." gurau Juna membuat Rama mendengus, tapi mengucapkan syukur di dalam hatinya.
"Terimakasih Ya Tuhan, kau berikan aku kedua orang tua yang menyayangi kami anaknya." syukur Rama di dalam hatinya, mengingat bagaimana perlakuan ibu Lina tadi.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in