Tidak semua cinta masa kecil disebut cinta monyet buktinya cinta Kania Atilyah dan Azra Zavier bertahan dari mereka masih kecil hingga dewasa.
Tapi sayang karena perpisahan mereka yang cukup lama membuat mereka saling tak mengenali.
Puncak masalah adalah ketika sang sepupu yang benci pada Kania mengaku sebagai sang cinta masa kecil Azra dan memisahkan mereka dengan cara yang kejam.
Yuk, jadikan novel ini sebagai favorit supaya bisa selalu mengikuti up dari D'Wie!
Jangan lupa baca juga novel D'Wie lainnya ya!
* Livina,izinkan aku bahagia
*Cinta yang lain
(Masih gantung, gak usah baca.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.23 Aku harus bagaimana?
"hosh hosh hosh...." David nampak ngos-ngosan mengayuh sepeda sambil membawa 2 kardus perlengkapan menulis dan satu kardus aneka snack yang sempat ia beli di kota untuk ia bagikan kepada anak-anak yang rutin belajar di desanya
"Woy,Zra! Bantuin kek,bwrat tau,malah bengong aja." teriak David kesal melihat Azra yang bengong sendiri
"Oh,iya Vid." Azra pun segera membantu menurunkan kardus-kardus itu 2 dari belakang sepeda,sedangkan yang satunya di depan David sendiri yang menurunkan
"Lo ngelamunin apa sih? Jangan-jangan lo kesambet ya tadi?" David mengeryitkan dahi sambil menatap lekat wajah temannya itu
"Ck..Ngaco lo ah,zaman gini masih aja percaya cerita gituan ,Vid. " Azra berdecak sebal mendengar penuturan temannya tersebut
"Hush,jangan besar-besar suara lo. Gua gak ngaco,serius, emang bener disini tu suka ada yang kayak gitu. Liat tuh pohon gede,nah disana itu dulu waktu gua kecil ada cewek cantik mati gantung diri trus gentayangan sampai sekarang. Dia suka ngedatengin orang-orang yang gak percaya keberadaan dia. Jadi hati-hati lo ngomong! Mau percaya apa kagak itu urusan ko,tapi cerita itu beneran lho." ucap David pelan-pelan seperti berbisik,sengaja menakut-nakuti temannya itu. Ternyata keisengannya pun sukses,dapat dilihat bulu kuduk Azra terlihat berdiri ngeri,namun masih terus disangkal Azra.
"Ah,gak percaya gua,pasti lo ngerjain gua kayak biasa." sambil menggosok-gosok tangannya yang sudah mulai merinding,tanpa ia sadari David sedang menahan tawanya melihat kelakuan temannya yang sok berani tapi ternyata agak ketakutan juga
"Ya udah,yuk aku ajak ke dalan,kenalan sama my lovely teacher." ajak David yang diikuti Azra.
Azra bimbang,harus ikut masuk atau tidak,karena ia tak tahu bagaimana respon Kania nanti melihatnya ikut masuk ke dalan. Ia juga takut melihat kenyataan ntah Kania juga suka atau tidak dengan David.
"Tuh kan,bengong lagi. Ayo sini,jangan-jangan lo emang kesambet,Zra."
"Iya,iya,gua ikut masuk. " Azra pun terpaksa mengikuti langkah David dengan fikiran yang berkecamuk
"Assalamualaikum bu guru cantik." salam dari David
"Eh bang David,wa'alaikum salam. Silahkan masuk bang!" Kania mempersilahkan David masuk ke ruang kelas ia mengajar
"Yeay,bang David datang..." teriak anak-anak girang. Mereka senang sebab hampir tiap David berkunjung,pasti akan membawakan mereka sesuatu,kadang buku,tas,makanan,bahkan mainan.
"Nih,abang bawa oleh-oleh buat kalian. Tapi jangan rebutan ya! Zra,sini,letakkan kardus lo disini,biar mereka ambil sendiri. Mereka biasa beebagi,jadi gak masalah ambil sendiri." David meletakkan kardus yang ia bawa,juga meminta Azra meletakkan kardus yang ia bawa juga ke meja di hadapan anak-anak
"Oh ya,Kan,kenalin ini temen aku,namanya Azra. Dia sekaligus atasan aku di kantor."David mengenalkan Azra pada Kania
"Kania." Kania mengulurkan tangannya seolah-olah baru mengenal Azra
Hati Azra mencelos,melihat Kania seolah-olah tak mengenalnya padahal status mereka masih suami istri karena ia menolak perceraian itu. Tapi ia menerima saja,berharap dengan begini,ia dapat kembali mengambil hati Kania.
"Azra.." Azra menyambut tangan Kania dan menggenggamnya erat ,tak mau melepaskan,seolah takut kehilangan lagi. Tapi Kania trus berusaha menarik kembali tangannya. David melihat adegan ini pun bingung. Dipandangnya wajah Azra,nampak raut kesedihan dan kerinduan mendalam,tapi mereka kan baru mengenal pikir David.
"Woy,lepas. Udah kayak dilem aja tuh tangan." David menepis tangan Azra agar melepas genggaman tangannya
"Oh ya bang,abang kapan datang kesini?" Kania mencoba mengalihkan perhatian Azra dengan mengajak David mengobrol
"Kemarin siang,Kan. Kemarim nyetir sendiri,gantian sama Azra,karena bawaan capek,jadi istirahat dulu. Oh ya,kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik bang,abang apa kabarnya? Udah 3 bulan kayaknya gak mampir ke sini?" tanya Kania balik
"Alhamdulillah,berkat doa neng Kania,abang sehat-sehat aja. " goda David,tanpa ia sadari hati Azra memanas melihat David menggoda Kania
"Ish,siapa yang doain abang. Ge-Er." mereka berdua tergelak bersama
*Hari sudah beranjak siang,anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing. Kania pun pamit pulang ke rumah,sebab dia akan bersiap-siap berangkat kerja mengajar di bimbel. Tapi David memaksa turut mengantar dengan bersepeda,padahal jarak rumah yang Kania tinggali sekarang tidak jauh dari tempat ia mengajar saat ini. Ini merupakan kesempatan untuk Azra agar tau dimana Kania tinggal sekarang agar ia dapat menemuinya sendiri nanti. Walau sebenarnya hatinya terasa terbakar melihat Kania dibonceng oleh David,tapi ia harus sabar demi meraih maaf Kania.
"Bang,aku masuk dulu ya! Mau siap-siap berangkat kerja soalnya."ucap Kania
"Kerja? Kamu kerja dimana?" tanya David
"Di bimbel kota B,bang. Ya sudah,Kania masuk dulu ya bang. Assalamu'alaikum." Kania pun berlalu masuk ke dalam rumah bu Tuti
*Mereka pun turut pulang ke rumah David karena sudah tengah hari.
Kania segera masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Tubuhnya santak merosot di balik pintu kamar. Air mata yang sedari tadi ia coba tahan,akhirnya membanjiri pipinya sambil menutup mulut agar isakannya tak terdengar ke luar kamar. Sebenarnya ia tak ada jadwal mengajar di bimbel hari ini,itu hanya alasan Kania saja untuk menghindari Azra*.
"Mengapa biza ada kak Azra di sini? Aku sudah pergi yang jauh,kenapa harus bertemu lagi? Hatiku rindu sekaligus sakit saat melihatnya. Ingin aku memeluk,tapi ingin juga aku memakinya. Aku harus bagaimana? Maaf tadi katanya,maaf untuk apa? Apakah ia sudah menyadari dn menyesali kesalahannya? Tapi apakah aku mampu memaafkannya setelah menyakitiku apalagi ia berselingkuh di depan mataku dengan Rania. Aku jijik melihatmu kak,aku benci. Ya Tuhan,aku harus bagaimana?" gumam Kania sambil terisak di balik pintu kamar.