Masih sekolah dan menikah.
"Tidak ada angan sama sekali dalam pikiranku untuk melakukannya, apalagi menikah dengan laki - laki yang seusia dan tanpa cinta, haruskah aku menerima takdir yang telah Engkau tuliskan untukku ya Allah....", Tita Andriana.
"Harusnya aku menikah dengan gadis kecil impian gue, bukan cewek asal comot dari bunda. Dan lagi gue masih remaja, masih hura - hura, bukannya bertanggung jawab menghidupi anak gadis orang" Kennan Wijaya Atmadja.
Pernikahan di usia remaja yang masih labil akan ada banyak kesalahpahaman diantara mereka. Mampukah Tita bertahan dengan sikap Kennan yang dingin dan sulit ditebak. Ataukah Tita akan memilih ikhlas meninggalkan Kennan.....
Diusahakan sering update, dukung author dengan vote, like n komen ya...
Masih sering proses revisi.🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Tengyu so much readers😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Desas Desus
Embun masih membasahi rerumputan, kicau burung saling bersautan menandakan hari masih cukup pagi untuk berangkat sekolah. Namun Tita yang sudah terbiasa berangkat sekolah pagi sudah menjejakkan kaki di pelataran sekolah.
Dia melangkahkan kaki menuju kelasnya dengan santai sambil menjinjing paperbag berwarna coklat di tangan kanannya. Paperbag yang berisi bekal buat Kennan, yah Kennan suami dingin kulkas dua pintu milik Tita.
Milik Tita.....? Hohoho benarkah Kennan itu milik Tita😇
Bahkan sekolahpun masih sunyi, hanya segelintir anak yang sudah hadir di sekolah. Akan tetapi Kennan sudah berangkat ke sekolah lebih dahulu dan melewatkan makan paginya. Bahkan Tita yang terbiasa berangkat lebih pagipun masih didahului oleh Kennan.
Beberapa siswa siswi tampak berkumpul di koridor sekolah. Mereka kasak kusuk memandang Tita dengan pandangan yang tidak biasa. Tita memang bukan murid yang terkenal, dia bagai makhluk tak kasat mata yang hanya sebagian kecil mau mengenalnya.
Tita merasa aneh, heran kenapa semua seperti melihatnya dengan sinis. Apa yang salah pada dirinya, seragamnya mungkin. Ah tidak seragamku benar, batinnya.
Kemudian tanpa sengaja Tita mendengar suara - suara,
"Iya...itu anaknya. Sok kecakepan, kepedean dikira cantik apa..."
"Kok mau maunya sih Andra....",
"Padahal Andra cakep lo, tajir pula...",
"Pakek pelet mungkin, ih...ga ada akhlak...padahal berjilbab",
Bahkan ada yang menimpali dengan, "Tuh liat..pasti di bekalnya itu di kasih pelet..."
"Satu gak cukup keknya buat diporoti....."
Banyak grasak grusuk yang membuat panas hati dan telinga Tita.
Tita melangkahkan kaki panjang - panjang agar hatinya tidak terbakar.
Tita menghampiri kelas XI MiPA 12 terlebih dahulu.
"Huh sampai sebegitunya Kennan tidak mau melihatku, kagak nyadar apa kek gini bikin gosip hoottsss" , gumam Tita lirih sambil meletakkan paperbag di atas meja kelas Kennan.
Entah kemana perginya si empunya, tapi melihat tas yang ada di atas kursi menandakan bahwa Kennan memang sudah datang lebih dulu.
Titapun melangkahkan kaki keluar kelas yang sudah hampir satu bulan ini dia kunjungi untuk memberikan bekal Kennan. Bahkan Tita sudah tidak asing dengan ruangan kelas ini, untungnya hari ini kelas masih sunyi jadi Tita tidak perlu mendapatkan tatapan aneh dari teman - teman Kennan.
"Huh"...Tita membuang nafas kasar saat dia mendudukkan diri pada bangku di kelasnya. Tita mengeluarkan bekalnya dari dalam tas kemudian memakannya dalam diam berusaha mencerna kasak kuduk yang tadi di dengarnya.
Di saat Tita masih asyik dengan pikirannaya, Hani masuk dan diikuti beberapa teman yang sudah mulai berdatangan.
"Pagi emban....Heeemmm". Hani menyapa sahabatnya sambil membau bekal Tita yang menusuk hidungnya. "Keknya enak dech....".
"Inces mau....??", Tita menyodorkan kotak bekalnya ke hadapan Hani.
"Pengen.....tapi incess sudah sarapan tadi. Tar gendutan", Hani menolak dengan sedikit memajukan perut tipisnya ke arah Tita.
"Yaakiinnn". Tita menggoda Hani dengan memakan bekalnya seakan lezat, meskipun memang me.
Dan Hani pun tahu kalau setiap masakan yang dimasak oleh Tita pasti berasa enak di mulutnya. Walaupun hanya memasak sayur bening, tempe goreng dan sambal bawang kalau Tita yang masak wesss amblas makanan itu tak tersisa.
Pernah Tita menginap di rumah Hani, saat itu Hani ditinggal orang tuanya ke luar kota untuk tugas kantor. Malangnya keesokan harinya asisten rumah tangga tidak datang karena anaknya sakit dan ditambah kondisi hujan deras yang membuat mereka malas keluar rumah untuk membeli bahan makanan karena persediaan habis.
Mereka pergi ke kebun belakang rumah Hani, dan ternyata tidak ada tanaman sayur mayur di sana. Beruntung ada pohon pisang yang sedang berbuah dan masih terdapat jantung pisang pada ujungnya, alhasil Tita memetik jantung pisang tersebut untuk dibuat masakan.
Tita memasaknya dengan kuah santan tanpa cabe, kemudian membuat sambel dan menggoreng tahu yang tersisa di dalam kulkas rumah Hani.
Hani menyantap hasil masakan Tita dengan lahap bahkan adik Hani yang notabene susah makan sayurpun sampai tambah. Bukan karena mereka kelaparan dan hujan yang membuat berasa pengen makan terus melainkan memang hasil masakan tangan Tita itu lezat meskipun sederhana.
Hani menahan air liurnya agar tidak keluar, namun melihat perpaduan ayam lodho dengan sambal terasi beserta nasi uduk yang masih hangat membuat Hani bimbang.
"Udah...makan aja tinggal dikit juga". Tita lagi menyodorkan kotak bekalnya. Tita sudah tidak nafsu untuk menghabiskannya, mengingat suara suara yang tadi didengarnya.
Hanipun mengambil kotak bekal Tita , kemudian menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Hani mengacungkan jempol kirinya ke arah Tita, Tita pun tersenyum.
...🍭🍭🍭🍭...
"Incess gak ngantin?" Tita bertanya setelah bel tanda istirahat berbunyi.
Hani mendelik, "Embannn....perut inces bukan karung ya, gak liat apa tadi". Hani mengingatkan karena pagi tadi menghabiskan bekal Tita.
"Hehehehe.....kali aja lapar lagi", Tita tertawa kecil. Kemudian mengeluarkan novel kesayangannya.
Hani melemparkan pandangan keluar jendela, seperti biasa disana terdapat pandangan yang amat sangat disukai oleh inces Hani. Apalagi kalau bukan geng basket handsome idola para siswi di sekolah.
Hani sedikit mengerutkan keningnya, dan kembali menoleh ke arah Tita yang sudah asyik dengan novel di tangannya.
"Eh....Ta...", Hani menyenggol lengan Tita.
"Hem...", Tita yang disenggol masih asyik dengan novel yang baru dibaca beberapa saat lalu.
"Denger -denger dari kang gosip emban sering dapat titipan bekal Kenn ya?", Hani bertanya.
Hani menyebutkan nama Kennan dengan Kenn bukan karena itu panggilan kesayangan melainkan adalah nama punggung seragam basket yang digunakan oleh Kennan.
Dan membuat murid - murid di sekolah banyak yang memanggil nama Kennan dengan sebutan Kenn.
"Heh", Tita terkaget mendengar pertanyaan Hani yang secara tiba - tiba membahas itu. "Ah gak juga sih", Tita sedikit berbohong masih dengan membaca.
"Kok bisa ya kamu sering ketemu bundanya Kenn, padahal di sekolah kita banyak muridnya".Hani berusaha berfikir mencari keganjilan.
"Maksudnya...?", Tita menoleh ke arah Tita.
"Kok ya emban terus gitu...yang mujur ketemu bunda Kennan jadi kurir bekal".Hani masih heran.
"Oww.... mungkin bunda Kennan menemukan kurir yang amanah", Tita melucu.
"Hahhahah....Kan banyak anak di depan gerbang, kok elo mulu sih. Sekali kali ketemu incess gitu. Incess kan juga amanah", Hani tersenyum geli.
"Jangan - jangan emban nyuri start buat stalkingin Kennan ya?" Hani menuduh.
Titapun kembali terkejut, "Hahahah....kalo jodoh gak akan kemana" Tita berusaha menyembunyikan kebenarannya.
Hani menepuk dagunya dengan telunjuk dan jari tengahnya bergantian sedikit berfikir, "Bisa jadi emban berjodoh sama Kenn lo"
Tita tersenyum tipis. Emang incess emban sudah dijodohkan dengan Kennan, sudah sah pula. Maaf Tita membatin.
Tanpa mereka sadari Adam sang ketua kelas yang notabene adalah sepupu Andra, sedikit mendengar apa yang mereka bicarakan.
🍨🍨🍨🍨
Like
Vote
Komen
Tambahkan favorit❤
Tengyu so much sudah mau mampir😍😍😍
..selalu sehat walat. sukses selalu dan terus semangat berkarya. .💪🏻💪🏻🔥