NovelToon NovelToon
MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu / Keluarga & Kasih Sayang / Penyesalan Suami / Slice of Life / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.

"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.

"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"

Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.

Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.

Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.

Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Dunia Tanpa Pilihan

Tangan Hendra mendarat di pipi Indah.

Keras. Tidak sekadar menghentikan suara, tapi ingin menghancurkan harga diri.

Sejenak dunia hening.

Indah terdiam. Tidak karena takut. Tapi karena syok.

Seumur hidup, bahkan saat kecil bandel pun, nenek, paman, dan orang tuanya tak pernah menamparnya.

Dan hari ini, lelaki yang dulu katanya akan melindungi... justru jadi yang pertama melukai.

“Lancang!” Hendra membentak, nadanya menusuk. “Berani kamu bicara kayak gitu ke suamimu?!”

Indah perlahan mendongak. Matanya tak berkaca-kaca. Tidak. Yang ada hanya kemarahan.

Marah karena selama ini ia diam.

Marah karena hari ini... dia bangkit.

“Kenapa aku gak berani? Kamu pikir aku takut?!”

Hendra maju selangkah. Tapi langkahnya tertahan karena...

Entah dari mana, Sari dan dua putrinya—Tuti dan Astri—tiba-tiba muncul di ambang pintu.

Tuti buru-buru membawa Rayhan yang menangis keluar. Astri mengekor, menatap penuh drama seperti sedang menonton sinetron prime time.

“Kalau gak bisa diatur, gak hormat sama suami, pergi sana!” bentak Hendra, seolah rumah itu milik nenek moyangnya sendiri.

Matanya melotot. Suaranya seperti mau menelan Indah bulat-bulat.

“Sudah, Hen... sudah!” Sari mencoba meredam, tapi nadanya lebih panik karena takut tetangga dengar, bukan karena peduli.

Indah berdiri tegak. Tak ada gemetar di kakinya. Tak ada takut di matanya. Hanya luka yang selama ini ditahan dan akhirnya meledak.

“Kamu benar-benar ngusir aku?” tanyanya lirih tapi tegas.

“Mentang-mentang aku di sini gak punya siapa-siapa? Gak punya apa-apa? Kau pikir aku takut?!”

Hendra melangkah lagi. Tapi Indah sudah maju lebih dulu.

“Kalau kamu ngusir aku, kembalikan semua yang aku korbankan! Tabunganku! Gelangku! Kalungku! Sapiku! Kembalikan semua!” teriaknya, menghantam dada Hendra berkali-kali.

Tangannya mengepal, bukan untuk melukai, tapi untuk melepaskan emosi yang tak tertampung lagi.

Air mata mulai menetes, tapi bukan lemah. Itu tanda seseorang sudah mencapai titik batas paling akhir.

Hendra hendak membalas. Tangannya terangkat.

“Ayo! Pukul! Kalau kamu berani!” tantang Indah, berdiri tegak, dada naik turun, mata menantang.

Sari langsung memegangi Hendra. Panik.

“Sudah, Hen! Sudah! Astaghfirullah!” jeritnya, seperti orang yang baru sadar dosa anaknya live di depan umum.

Tapi rumah itu... sudah penuh luka.

Dan luka yang tak pernah dibalut hanya akan menganga.

Dan hari itu, luka Indah... akhirnya berbicara.

"Dia ini semakin berani!" Hendra membentak, langkahnya maju lagi, wajahnya memerah seperti teko air yang lupa diangkat dari kompor.

"Ya, aku berani! Kenapa? Kamu mau apa? Mau mukul? Mau nampar lagi?! Ayo, lakukan! Kalau kamu memang laki-laki!" tantang Indah, maju berkacak pinggang seperti pendekar kampung yang sudah tak peduli lagi dengan kalah atau menang.

Sari makin panik. Matanya celingukan, telinganya was-was, takut suara gaduh ini bocor ke rumah tetangga. Tuti dan Astri mengintip dari jendela, pura-pura prihatin padahal ekspresinya lebih mirip penonton konser yang menunggu klimaks.

Dan saat suasana makin panas, tiba-tiba sepasang tangan muncul dari belakang, menarik Indah menjauh dari Hendra.

“Sudah, Kak. Sudah.”

Suaranya lirih, pelan, dan... nyaris tak dikenali.

Musa.

Entah datang dari mana bocah itu—padahal biasanya kalau bukan lagi kelayapan, ya sibuk ngutil apa pun yang bisa dikutil. Kalau pun pulang, palingan karena gak punya duit lagi buat kelayapan. Tapi malam ini… dia muncul seperti malaikat dadakan.

“Lepasin!” Indah berontak. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar. Matanya merah.

“Biarin dia mukul aku! Aku gak takut!”

Suaranya pecah. Tangannya mengepal. Bibirnya gemetar. Tapi sorot matanya tetap membara.

“Ayo pukul! Kalau perlu bunuh! Biar kamu puas! Aku gak takut!”

Tangisnya akhirnya pecah.

“Gak ada juga yang peduli sama aku!”

Tangannya menampar dadanya sendiri.

“Selama aku benar, mati pun bakal aku perjuangkan!”

Sari masih memegangi Hendra—yang kini seperti banteng ngamuk ditahan pakai tali rafia. Wajahnya merah padam, dadanya naik-turun.

“Sudah, Hen! Astaghfirullah! Malu didengar tetangga!” bisik Sari, setengah menenangkan, setengah menutup aib keluarga.

Tapi Musa masih di sana. Masih memegangi Indah, yang kini mulai lemas. Emosinya habis, tenaganya nyaris ludes.

“Sudah, Kak… ingat Rayhan...” katanya pelan, lembut—terlalu lembut untuk bocah yang kemarin baru ketahuan ngutil kain panjang Indah sendiri.

Entah kerasukan malaikat atau baru selesai nonton sinetron religi, malam itu Musa mendadak jadi bijak.

Terlalu bijak… untuk anak yang hobi ngutil bahkan dari rumahnya sendiri.

Hendra menatap Indah sejenak. Dadanya naik-turun, matanya merah. Tapi akhirnya ia memutar tubuh, melangkah pergi keluar rumah dengan langkah berat. Entah mencari udara segar atau sekadar melarikan diri dari harga diri yang baru saja diinjak.

Tapi Indah belum selesai.

“LARI AJA TERUS! ITU YANG PALING KAMU BISA, 'KAN?!” teriaknya dengan suara serak.

“LARI DARI TANGGUNG JAWAB, DARI KESALAHAN, DARI ISTRI YANG CUMA KAMU SIA-SIAKAN!”

Langkah Hendra tak berhenti. Ia menghilang di tikungan, membawa sisa ego yang compang-camping.

Dan rumah itu... kembali sunyi.

Sunyi yang bukan karena damai. Tapi karena terlalu banyak luka yang baru saja meledak.

Beberapa Menit kemudian

Hanya napas berat Indah yang terdengar, dan Rayhan yang tertidur dengan sesenggukan kecil di pelukannya. Bekas air mata di pipi bocah itu belum kering. Sama seperti luka di dada ibunya.

Ia duduk di lantai bambu, menatap kosong ke dinding papan yang mulai mengelupas. Di sudut dapur, hanya tersisa tumpukan kayu bakar—dan diam yang berat.

Dalam hati, ia bergumam lirih, menyimak gema kata-kata Hendra barusan:

“Kalau gak bisa diatur, gak hormat sama suami, pergi sana!”

"Pergi ke mana?"

Dia bisa bicara begitu karena tahu istrinya tak bisa benar-benar pergi. Karena tahu perempuan itu tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa.

"Tabungan? Receh di kaleng biskuit pun cuma cukup untuk beli setengah liter beras."

Listrik? Mimpi. Bahkan senter pun hemat-hematan baterai.

Jalan ke jalan raya besar masih tiga kilo, lewat jalan setapak berlumpur, melewati kebun dan sawah. Tak ada rumah. Tak ada lampu. Tak ada orang. Dan di jalan raya itu pun… apa?

Terminal? Bus? Ojek?

Terminal besar ada dua jam setengah dari tempat ini. Bus? Ojek? Siapa bilang naiknya gratis? Jalan kaki? Emangnya tanpa lapar? Tanpa capek?

Kerja biar dapet duit.

"Kerja apa? Di mana?"

Pabrik? Ini bukan Jawa. Bukan kota.

Di desa-desa pedalaman Sumatra macam ini, mana ada pabrik? Listrik pun tak ada.

Upahan nyuci piring? Mereka cuci sendiri. Anak tujuh tahun pun sudah diajar nyuci piring, masak, beresin rumah.

Nyuci baju? Sama aja.

Seterika? Jangan harap seterika listrik. Seterika arang pun langka—yang punya bisa dihitung jari.

Tapi ya, buat apa juga? Orang-orang di sini kerja di kebun, nyari ikan di sungai atau turun ke sawah, lumpur sampai lutut.

Masa iya baju diseterika cuma buat manen pisang, nanam padi atau narik jala ikan?

Paling banter diseterika kalau ada undangan kawinan. Itu pun… kalau sempat.

Kerja online?

Lucu.

HP aja gak ada yang punya. Sinyal gak tembus, nyangkut di pucuk durian. Apa arti HP tanpa sinyal? Pajangan?

Satu-satunya kerja yang ada: upahan ngupas pinang pakai golok, atau nyemplung sawah dari pagi sampai ashar.

"Ngupas pinang sambil gendong Rayhan?"

"Ke sawah bawa bocah umur setahun?"

Indah tertawa. Tawa getir yang nyaris terdengar seperti isak.

Orang waras mana yang tega menyuruh ibu muda bawa anak kecil ke tengah lumpur, dikejar waktu tanam, di bawah panas yang bisa mengupas kulit kepala?

Ia menghela napas panjang. Matanya basah, tapi tidak menangis.

Ia bukan tak mau berjuang. Ia bukan lemah. Ia cuma tidak diberi pilihan.

Ia sedang bertahan di medan yang tak bisa dipahami oleh orang-orang yang hidupnya nyaman—apalagi dari balik layar ponsel dan koneksi Wi-Fi.

"Apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari sini?"

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
YuWie
aku sing baca aja sdh gak tahan..kau masih ajaaa kuat walo dg ngomel2 dah indah🙃
YuWie
Luar biasa
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
YuWie
kenapa kok yo tahan in indah..
YuWie
hendra nyinyirnya noleh juga ya..sayur dimask cmn bumbu doa.. gelas disabun trus di celup 🤣
YuWie
kenapa laki2 versi terbaiknya pas pacaran.

sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm
YuWie
nyesek ya dapat anak sulung yg dituntut untuk ngurusin adiknya terus menerus..pelajaran juga lebih baik kali ya dapat anak ragil yg tanggung jawab 🤣
Yunita Sophi
selamat ya Ndah semoga kamu akan beruntung setelah menjadi guru...
Yunita Sophi
doa dan nekat udah cukup untuk sekarang Ndah... yg penting jauh dari mertua dan ipar 😂
Yunita Sophi
gimana mau ada yg tertarik jd guru yah...
Yunita Sophi
semua jg bisa menyalahkan orang lain... tp untuk diri sendiri mereka akan menutup mata dan hatinya
Yunita Sophi
bagus Indah... semoga kamu bahagia dengan hidupmu di masa depan..
Yunita Sophi
seru sih tp kasian Indah
Yunita Sophi
semoga orang orang baik selamat 🤲
Yunita Sophi
siapa yg datang..
Yunita Sophi
asal tau aja Indah gak perlu tanya tanya... gak penting juga kali..
Yunita Sophi
dasar ponakan gak tau diri... ngembat suami tante nya
Yunita Sophi
semoga Indah jd guru biar dia bisa nabung untuk pulang ke jawa..
Yunita Sophi
nasib mu Indah... kapan mau berubah nya
Yunita Sophi
terima kasih pak Usman... semoga aja Indah di pulangkan agar dia bisa lepas dari kluarga toxis dan suami yg gak punya hati...
Yunita Sophi
tolong paman Usman antar Indah ke jawa... kasian dia tdk ada harga nya di depan suami dan kluarga nya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!