"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
“Papa datang…” suara lirih itu keluar dari mulut Rava saat matanya menatap ke arah pintu masuk. Musik berhenti, semua kepala menoleh.
Dari sana, tampak Rama melangkah dengan gagah dalam batik biru tua bermotif parang berkilau emas. Di sampingnya—Citra. Anggun, tersenyum lembut, mengenakan kebaya biru senada dengan hiasan selendang emas di bahunya. Jemari keduanya bertaut erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Bisik-bisik langsung menggema di ruangan megah itu.
“Loh, itu Citra kan? Dia datang juga?”
“Iya loh, sama suaminya...”
“Ya ampun! Itu papanya Rava bukan?!”
"Papa? Jadi, Citra nikah sama papanya Rava? Mantan calon suaminya dulu?"
"Waduh, bakal seru nih!"
Wajah Rava langsung menegang. Tubuhnya terpaku di pelaminan, napasnya seolah berhenti. “Nggak mungkin…” gumamnya, tak sadar telah berdiri. Tatapannya kosong, bergantian menatap Citra dan ayahnya yang kini berjalan ke arahnya dengan tenang.
Lani yang duduk di kursi kehormatan sontak berdiri setengah. “Rama?!” serunya setengah berbisik namun penuh emosi. “Apa-apaan ini?”
Namun ia kembali duduk cepat ketika suaminya melirik tajam. Ia hanya bisa menatap nanar ke arah panggung, jantungnya berdegup keras hingga terasa di telinga.
Di belakang Rama dan Citra, tampak keluarga besar mereka mengikuti. Pak Haris dan Bunda Maya, orang tua Citra, melangkah anggun dengan senyum tenang. Hengki, adik Citra, terlihat gagah dengan kemeja batik biru seragam. Tak jauh di belakang, Bu Lilis dan Pak Surya—orang tua Rama—ikut berjalan, serasi dalam busana bernuansa sama.
"Mama? Papa? Apa perempuan itu bahkan dapat restu dari mantan mertua?" bisik Lani makin tak percaya dengan yang dia lihat. "Orang angkuh itu... Bahkan saat rancana nikahan Rava dulu menolak mentah-mentah. Tapi, sekarang... Apa lebihnya perempuan itu sampai bisa merubahnya datang kemari?"
Seragam sarimbit mereka membuat semua tamu berdecak kagum. “Keren banget, kompak banget keluarganya,” bisik salah satu tamu.
“Cocok banget ya, Citra sama Pak Rama,” timpal yang lain.
Rama dan Citra berhenti di depan pelaminan. Citra tersenyum, sementara Rama mengulurkan tangan pada Cantika dan Rava.
“Kali ini, kamu harus jaga dengan benar, Rava. Kalian sudah menikah... Banyak tanggung jawab di depan mata,” ujar Rama tenang.
Rava tidak menjawab. Matanya hanya terpaku pada tangan Citra yang masih bergelayut di lengan ayahnya. “Pa…” suaranya nyaris tak terdengar. “Dia… istri Papa?”
Citra tersenyum lebih lebar, seolah menikmati keterkejutan Rava. "Iya. Aku mamamu sekarang, Rava..."
Rama menatap putranya dalam, lalu mengangguk. “Iya, Rava. Citra istri Papa sekarang.”
Wajah Rava memucat. Ia mundur setengah langkah, menatap keduanya bergantian. “Tapi, pah... Citra... Kami...”
“Kita bicarakan ini nanti,” jawab Rama tegas.
Cantika menatap antara suaminya dan Citra dengan tatapan tak percaya. "Ya Tuhan… Citra? Sepupuku sendiri? Jadi ibu mertuaku?lelucon macam apa ini?" pikirnya dalam hati, menelan ludah dengan susah payah.
Lani yang sejak tadi menahan diri akhirnya tak kuat. Ia berdiri dan bersuara lantang, membuat banyak tamu terkejut.
“Rama! Kamu sudah gila ya?! Menikahi mantan anakmu sendiri?!”
Beberapa tamu langsung berbisik-bisik, sebagian lagi menatap Lani dengan tatapan tak nyaman.
Rama perlahan menoleh ke arah Lani, tatapannya tajam dan dalam. “Yang gila itu orang-orang yang kabur dan tak bertanggung jawab setelah setuju untuk berkomitmen,” ucapnya dingin. “Apa kalian lupa yang sudah kalian lakukan, Lani? Apa sekarang bahkan kau tak malu duduk di panggung, dan menikahkan anakmu sendiri dengan kerabat yang sudah kau hianati?”
“Jangan balikkan fakta, Rama!” seru Lani dengan suara bergetar. “Kita sedang membicarakan kamu! Bisa-bisanya kamu menikahi dia!”
“Ini karena kalian lari dari tanggung jawab!” potong Bu Lilis dari barisan tamu. Suaranya tegas, penuh wibawa. “Sudah cukup! Jangan berlagak, atau kau memang ingin pernikahan putramu hancur?”
Ruangan kembali hening. Lani hanya bisa menatap nanar, tak berani membalas lagi.
Rava menunduk dalam, mencoba menelan kenyataan pahit itu. Ia menggenggam tangan tangannya sendiri, tapi bahkan genggaman itu tak bisa menghapus rasa perih yang mencengkeram dadanya.
“Selamat ya, Va,” ucap Citra lembut, masih berusaha sopan. “Semoga kamu dan Cantika bahagia.”
Rava hanya menatapnya dengan mata yang nyaris berair. “Citra...” jawabnya pelan, hampir seperti desahan.
Rama menepuk bahu putranya singkat. “Selesaikan resepsi mu, dan jangan buat malu lagi.”
Rava hanya mengangguk lemah. Tubuhnya berguncang pelan, ia tak bisa menahan tangisnya, tak pernah dia bayangkan Citra akan menikah dengan Papanya, tak pernah dia bayangkan Citra akan jadi ibu tirinya.
"ya tuhan, kenapa harus begini!?" bisiknya.
"Tegakkan kepalamu! Ini resepsi mu, kau harus bahagia."
"Aku mengerti, Pah." jawabnya walau hati terasa hancur.
***
Setelah pesta usai dan tamu-tamu mulai beranjak, Rava mencari ayahnya di taman belakang gedung. Lampu-lampu taman menyala temaram, dan angin malam membawa aroma bunga melati. Namun, tak ada Rama di sana. Ia coba hubungi lewat telpon.
"Pah!?"
"..."
"Pah, aku ingin bicara."
"Kita bicarakan besok, Va."
"Tapi..."
"Besok."
“Papa,” panggil Rava. "Aku..."
Telpon terputus, atau lebih tepatnya Rama matikan.
"Papa kejam. Papa kejam sekali..." Lirih suara Rava... mata penuh amarah yang bercampur luka. “Kenapa, Pa? Kenapa harus dia? Dari semua perempuan di dunia ini, kenapa Citra?”
meninggal Juni 2012
😭😭