Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian Harun dan Hawa
Rani sengaja mengundang seluruh keluarga besar Hawa untuk berkumpul di rumahnya.
Ruang tamu yang biasanya hangat kini berubah menjadi ruang penghakiman.
Hawa duduk menunduk, jemarinya saling bertaut gemetar. Ia duduk tak jauh dari Ningsih dan Karim, orang tuanya. Wajah mereka penuh kecemasan.
Begitu Djoko paman Hawa, memahami duduk perkara yang sebenarnya, suasana seketika meledak.
“Brug!!” Tangannya menghantam meja dengan keras hingga cangkir bergetar dan beberapa orang tersentak kaget.
Wajah Djoko memerah, urat lehernya menegang. Matanya menyala penuh amarah, menatap satu per satu orang di ruangan itu seolah mereka terdakwa tanpa pembelaan.
“Apa maksud semua ini?!” bentaknya lantang.
“Hawa tidak menikah dengan Adam?!”
Tak ada yang langsung menjawab Keheningan menjadi jawaban paling menyakitkan.
Djoko menghela napas kasar, lalu melanjutkan dengan suara bergetar antara marah dan kecewa.
“Saat pernikahan itu berlangsung, aku sedang terbaring di meja operasi! Usus buntuku hampir pecah, sementara kalian di sini” ia menunjuk tajam ke arah Rani dan orang tua Hawa, “dengan tega menikahkan Hawa dengan pria lain, benar-benar mencari masalah kalian!”
Djoko beralih menatap Harun. “Bisa-bisanya kalian melakukan ini! Di mana otak kalian?! Walaupun dia cucu Kakek Sulaiman, wasiat itu hanya untuk Adam!”
Rani menunduk malu semakin dalam. Hatinya terasa diremas. Ia tahu, setiap kata Djoko adalah pisau yang tepat menusuk rasa bersalahnya.
“Apa kalian pikir wasiat itu main-main?” Djoko kembali membentak. “Wasiat yang disepakati oleh kedua orang tua, Surip dan Sulaiman! Apa kalian lupa bagaimana meneguhkan wasiat itu?! Bahkan Bapak harus menyembelih dua ekor sapi untuk disedekahkan agar wasiat itu sah dan berkah!” Nada suaranya meninggi marah, hampir berteriak. “Itu bukan perkara kecil! Itu amanah!”
Ningsih mulai terisak pelan. Karim mengusap wajahnya dengan tangan gemetar. Harun menelan ludah, dadanya terasa sesak, sementara Hawa seperti kehilangan seluruh kekuatan di tubuhnya.
“Ampun, Mas Djoko…” Karim akhirnya bersuara, lirih dan penuh penyesalan. “Kami… kami tidak bisa berbuat apa-apa. Semua terjadi begitu cepat.”
“Tidak bisa berbuat apa-apa?” Djoko tertawa pahit. “Kalian seharusnya menunggu aku! Jangan bertindak asal-asalan begini! Biar aku yang bicara langsung pada Adam!”
“Kalian tidak tahu apa yang sedang kalian langgar.”
Lalu dengan suara dingin yang membuat bulu kuduk mereka meremang, Djoko mengucapkan kalimat yang membuat jantung Rani dan Harun seakan berhenti berdetak.
“Jika Hawa tidak bercerai dengan Harun… Adam akan membayar dengan nyawanya.”
Ruangan itu seketika membeku.
“Dan bukan hanya itu,” lanjut Djoko pelan namun mengancam, “akan ada banyak musibah yang datang bertubi-tubi pada keluarga kalian”
Rani menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Harun mulai paham, jika ia mempertahankan pernikahan ini, nyawa saudaranya sendiri yang terancam.
Perdebatan panjang pun terjadi. Tangisan, penyesalan, doa, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya, dengan hati yang hancur, semua sepakat pada satu keputusan yang tak terelakkan.
Perceraian.
Harun berdiri. Kakinya terasa berat seolah dipasung ribuan beban. Ia menatap Hawa untuk terakhir kalinya sebagai istrinya. Ada penyesalan yang tersirat dan ada luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh.
Dengan suara berat namun tegas, Harun mengucapkan kalimat yang mengakhiri segalanya.
“Saya, Harun Adriyanto, dengan sah telah menjatuhkan talaq tiga kepada istri saya yang bernama Hawa Aluna.”
Suaranya menggema di seluruh ruangan. Setiap kata terdengar seperti palu yang menghancurkan masa depan mereka.
“Mulai hari ini…” Harun berhenti sejenak, dadanya naik turun menahan perih.
“…dia bukan lagi menjadi istriku.”
Hawa diam seribu bahasa. Wajahnya pucat, matanya kosong, seakan jiwanya terpisah dari raga. Semua mata tertuju padanya, menunggu jawaban yang entah akan membawa damai atau justru petaka baru.
“Bagaimana, Hawa?” suara Djoko terdengar berat, penuh desakan. “Apakah setelah masa iddah nanti kau siap menikah dengan Adam?”
Bibir Hawa bergetar. Dadanya naik turun menahan luapan emosi yang sejak lama terpendam.
Perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap satu per satu orang yang telah mengurung hidupnya dalam keputusan-keputusan sepihak.
“Aku sudah cukup menderita karena perjodohan ini,” ucapnya, suaranya bergetar namun tegas. “Dan aku nyatakan… aku tidak akan pernah menikah dengan Adam.” Ucapan itu menghantam ruangan seperti petir. Semua orang terdiam, tercekat.
“Tapi, Hawa,” sang paman menyela dengan nada menekan, “ini adalah wasiat. Wasiat yang harus kau jalankan," bentak Djoko.
“Aku tidak peduli!” bentak Hawa, emosinya akhirnya meledak. Matanya berkaca-kaca, namun sorotnya penuh luka dan kemarahan.
“Harun dan Adam sudah benar-benar menghinaku sebagai seorang wanita!”
Semua terperangah.
“Harun memilih menikah siri dengan kekasihnya di malam pertama kami,” lanjut Hawa dengan suara bergetar hebat, “hingga wanita itu hamil. Sementara aku…” suaranya patah sejenak, “…aku justru masih perawan.”
“Apa?!” seru beberapa orang bersamaan, tak percaya dengan pengakuan itu.
Dan belum selesai sampai di situ.
“Adam juga mulai melecehkanku!” Hawa berteriak, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. “Masihkah kalian tega memaksaku menikah dengan pria seperti itu?” Ia mengepalkan tangan, seluruh tubuhnya gemetar menahan sakit yang selama ini ia pendam sendirian.
“Perjodohan ini bukan takdir,” ucapnya dengan suara parau namun penuh tekad. “Ini adalah siksaan bagiku. Dan aku akan melakukan apa pun… apa pun… asalkan perjodohan ini dibatalkan.”
Kalimat terakhirnya menggantung di udara, menyisakan keheningan yang lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun.
“Kalau kau menolak pernikahan ini,” suara Djoko meninggi, sarat amarah yang tak lagi terbendung, “maka kita semua akan terlanjur sial!”
Rahangnya mengeras, matanya menatap Hawa tajam seolah hendak mematahkan segala keberanian yang tersisa.
“Drett!”
Getaran ponsel Rani mendadak memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.
Ia menunduk, menatap layar dengan tangan sedikit gemetar.
“Ibu Rani,” suara di seberang terdengar jelas dan serius. “Pasien bernama Adam Haykal telah siuman. Ia berhasil melewati masa koma panjangnya.”
“Apa?!”
Rani sontak berdiri. Wajahnya pucat seketika, napasnya tercekat oleh keterkejutan yang tak terduga.
“Ya Allah…”
Air mata haru langsung berderai, jatuh tanpa mampu ia bendung. Dadanya naik turun, seolah seluruh beban yang selama ini menyesakkan tiba-tiba runtuh bersamaan.
“Anakku… anakku telah kembali,” lirihnya terbata, penuh syukur dan gemetar penuh kehebohan.
Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam ponsel itu erat-erat.
“Saya akan segera ke sana!” katanya tegas, meski suaranya masih bergetar oleh tangis dan harapan yang kembali menyala.
“Kau beruntung, Rani. Si Adam masih hidup… mungkin karena Hawa masih suci, masih ada kesempatan" hentak Djoko.
“Aku sudah memberi peringatan. Kalau kalian masih ngeyel, silakan lanjutkan jangan salahkan aku nanti.”
"
Sayup-sayup mata Adam memandangi langit-langit ruangan dingin itu. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan udara menguras sisa tenaganya.
“Hawa… kau ada di mana?” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh sunyi.
Adam menelan ludah, dadanya terasa sesak. “Aku tahu… kau pasti sangat marah padaku,” ucapnya pelan, penuh penyesalan.