"Mengapa Istri orang ini begitu menggodaku, suaranya, tawanya, senyumnya, bodynya.. Astaga, kenapa otakku kotor begini? "~ Mario Abraham
"Jangan pernah mempertanyakan arti bahagia kepadaku, aku hanya mengenal pengorbanan dan kata luka, mungkin ini memang takdirku.. ini bukan kisah bahagia.. ini kisah sedihku.. dan juga pengabdianku.. jangan berharap ada senyuman, kisahku hanya airmata.. Ya aku Diana.. sepenggal kisah yang penuh airmata, entah kapan aku akan bahagia.. dan aku tidak mencarinya, aku tidak berharap banyak pada kehidupan ini.. Kedurhakaan kami menyisakan penderitaan yang berkepanjangan. ~ Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
75 Juta?
Diana mendekati Gilang, kakinya serasa berat seakan ingin di seretnya, rasanya Diana menginginkan jarak mereka jauh bukan beberapa langkah dari almari ke ranjang. Diana merem*s daster tipisnya, tangannya mulai berkeringat, langkah beratnya akhirnya sampai di hadapan Gilang yang masih duduk ditepian ranjang, Gilang pun melingkarkan tangannya ke pinggang Diana yang masih berdebar berdiri di hadapan Gilang.
"Apa kau takut?" tanya Gilang menggesekkan hidungnya di perut Diana, aliran darahnya seperti berlarian marathon ke ubun- ubunnya, membawa percikan- percikan api yang menjalari seluruh tubuhnya.
"Apakah menakutkan Mas?" tanya Diana kembali, dengan gugup. Ini memang pertama kali bagi Diana dan bukan pertama kali bagi Gilang, tentunya di usia yang sudah tidak terbilang muda, Gilang pernah menjalin dengan beberapa wanita seusianya, tentunya berhubungan badan sebelum pernikahan bukan hal yang tabu sekarang ini.
Tapi tidak bagi Diana, hidupnya hanya dihabiskan di panti asuhan dan cinta monyet siapapun pasti pernah mengalaminya termasuk Diana. Menjalin hubungan serius bersama lelaki dewasa hanyalah dengan Gilang yang memperlakukannya dengan sangat baik dan Gilang sangat menghormati dengan sikap Diana yang tidak mudah di dapatkan saat itu.
"Menyenangkan Diana.. hanya akan sakit pertama kali saja" Gilang kembali meneguk salivanya, meraih tangan Diana dan duduk disampingnya.
"Akan sakit?" Diana kembali merasa canggung ketika Gilang menurunkan tali dipundaknya dan mencium pundaknya, gelenyar aneh pun menyerang pangkal pahanya.
"Seperti ini.." Gilang menghisap pundak Diana, nafas Diana seperti berhenti berhembus. Gilang menarik badannya dengan kedua tangannya, Diana membantu mengangkat kaki Gilang agar naik ke atas ranjang, dengan posisi miring Gilang menarik tangan Diana dan Diana jatuh ke pelukanya.
"Diana" Belaian lembut tangan Gilang menyingkirkan anak rambutnya terasa hangat di hati Diana.
"Hmm" Suara khas Diana terdengar lembut dan merdu di telinga Gilang.
"Kau siap?" tangan Gilang menyapu setiap jengkal tubuh Diana, wajahnya, lehernya, punggungnya, perutnya dan dada Diana yang membuat nafasnya serasa sesak. Diana hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara karena mulutnya serasa terkunci.
Gilang mulai mencium kening, kedua kelopak mata Diana, hidung mancungnya, kedua pipinya, dagunya lalu bibirnya dengan sesekali menatap mata Diana dengan hati yang penuh debaran. Bibirnya mulai menyapu bibir mungil yang terbelah bak delima yang merekah, Diana memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Gilang, desahan merdunya terdengar saat Gilang menelusuri leher dan tangannya merayapi buah dada Diana yang kenyal dan menggairahkan, dengan satu tangan Gilang meloloskan baju tidur Diana yang menyisakan underwear, tangan Gilang terus merayapi perut dan menelusup ke dalam underwearnya.
"Mas" tangan Gilang ditahan dengan wajah Diana yang semakin memerah.
"Jangan malu, Sayang.. Semua milikku" bisik Gilang menggesekkan hidungnya di dada Diana. Gilang pun melanjutkan lagi bermain di dada Diana, desahan Diana dengan mata terpejam membuat Gilang membuka balutan kaosnya, pun Diana membuka matanya melihat kulit mereka bertemu dengan kehangat.
Ada yang aneh dengan tubuhku, mengapa tulang ekorku terasa panas, mengapa pinggangku nyeri sekali, aah kenapa aku terus drop, ahh Tuhan ... ternyata aku belum sembuh benar, bagaimana ini. GILANG.
"Diaana.. arrgh.." Gilang meringis kesakitan lalu menelentangkan tubuhnya dan Diana sangat panik.
"Mass.. kau kenapa?! Ya Tuhan.." Diana langsung bangun dari tidurnya.
"Diana maafkan aku, kau benar Sayang, aku belum sembuh total, tulang ekor dan pinggangku seperti terbakar" Gilang meringis kesakitan.
"Astaga Mas, aku kan sudah bilang, aku akan ambil air hangat dulu" Diana pun bergegas mengenakan pakaiannya dan berlarian menuju dapur mengambil air hangat dan dimasukkan ke dalam botol untuk mengompres pinggangnya, dari dapur terdengar Gilang mengerang kesakitan, Diana semakin panik di buatnya, setelah memasukkan air hangat ke dalam botol, Diana berlarian masuk ke kamar dan menyeka pinggang Gilang, namun justru suaminya semakin mengerang kesakitan.
"Kita ke rumah sakit saja Mas" kata Diana mengganti bajunya.
"Saayang.. sakit sekali" erang Gilang membuat Diana semakin panik.
"Mas bertahanlah, aku akan memanggil Pak Hasan untuk menolongmu ke mobil, kita akan kerumah sakit" kata Diana kembali mengganti pakaian dengan kaos longgar dan celana jeans kemudian berlarian ke dapur melewati pintu belakang rumahnya, menuju rumah Pak Hasan.
Setelah mendapatkan pertolongan dari Pak Hasan, Diana melajukan mobilnya ke rumah sakit. Setelah sampai lobby Diana meminta perawat membantu suaminya mengeluarkan dari mobil.
"Diaanaa?!" Erika terkejut melihat Diana tidak jauh darinya saat kedatangannya di rumah sakit karena mendadak Erika diminta temannya untuk menggantikan shift malam temannya.
"Erika.. tolong Mas Gilang kesakitan tulang ekornya, aku akan memarkirkan mobil dulu" kata Diana masuk mobil sementara Erika berlarian menuju IGD dimana Gilang dibawa kesana.
Dianapun berlarian setelah memarkirkan mobil secara sempurna, Erika tampak menunggu Diana dengan wajah cemas.
"Er.. Bagaimana.. apa yang terjadi.. Er bagaiaman Er" Mata Diana tampak memerah dengan kepanikannya.
"Diana, tenanglah.. Gilang pingsan, tapi Dokter bisa menanganinya, Gilang akan menjalani operasi tulang rawan di tulang ekornya besok pagi" jelas Erika.
"Apaaa?!!" Airmata Diana lolos begitu saja.
"Operasi itu harus segera dilakukan karena Gilang bisa saja lumpuh total Diana" kata Erika lagi.
"Yaa Tuhann...." Diana membungkam mulutnya sendiri dan terus menyeka airmatanya, dia terduduk di kursi tunggu di depan IGD.
"Dan biaya operasinya sekitar... " Erika tidak kuasa mengatakannya.
"Berapa Erika, katakan padaku!" desak Diana
"Aku hitung kurang lebihnya, ehm.. kau harus menyiapkan sekitar 75juta" kata Erika membuat Diana membelalakkan matanya.
"75 juta?" Diana mengusap wajahnya dan berpikir keras.
Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu, ya Tuhan.. uangku tinggal 50juta, mungkin tidak sampai.. aku terlanjur membayar biaya terapi selama satu bulan.. Ya Tuhan.. kemana aku akan mencari sisanya.. kata Diana dalam hatinya.
"Diana, itu hanya perkiraan, bisa kurang.. walaupun tidak pasti, biaya yang pastinya 60juta, belum obat dan berapa lama Gilang melalui kesembuhannya" kata Erika membuat hati Diana berkecamuk.
"Pasti akan ada jalan, entah darimana datangnya, aku yakin Tuhan tidak akan membiarkan ku mengatasi ini sendiri, dari dulu Tuhan selalu memberikan penolong bagiku, Er" kata Diana meyakinkan dirinya sendiri dengan isak tangisnya.
"Diana, semoga kau bisa melewati ini semua, aku akan menolongmu sebisa mungkin, tapi uang sebesar itu, aku tidak punya Diana" kata Erika merangkul Diana saat Erika duduk disamping Diana.
"Erika, kau telah banyak membantuku, semua yang tersisa tinggal mobil itu, tapi menjual secepat itu mana mungkin, mobil itu terbilang mobil tahun lama, aku akan baik- baik saja.. Pasti ada jalan.. terima kasih atas pertolonganmu selama ini, kami belum bisa membalas kebaikanmu Erika" kata Diana menyandarkan kepalanya di pundak Erika.
"Diana, aku tulus ikhlas menolong kalian, kamu mengingatkan aku pada adikku, sudahlah kita pikirkan bagaimana menolong suamimu, apa kau punya perhiasan? Aku punya kenalan yang mau membayar lebih diatas harga toko lain perhiasan - perhiasan yang akan dijual, itu salah satu toko emas yang berkualitas bagus, tokonya juga selalu ramai" kata Erika.
"Perhiasaan?"
-
Bila kamu menyukai Novel ini, Jangan Lupa Dukungan Vote, Like, Komen, Koin, Poin dan Rate bintangku yaa Reader Tersayang.
Biar aku semangat nulis lagu disela - sela waktu jadwal kuliahku yang padat.
Terima kasih Reader tersayang 😘😘🥰🥰💕💐
melainkan karena sumpah ,janji dan tanggung jawab ,