Seorang putra mahkota yang terusir dari istana Medang Kamulan setelah pemberontakan besar-besaran oleh raja bawahan ayah mertua nya saat upacara pernikahan nya dengan Nararya Galuh Sekar putri pertama Prabu Dharmawangsa, harus memikul tanggung jawab besar untuk menyatukan kembali kerajaan peninggalan dari ayah mertua nya yang terpecah belah setelah peristiwa Mahapralaya itu. Dukungan dari masyarakat terutama dari agamawan Hindu, Budha dan Mahabrahmana yang mengangkat nya menjadi raja Medang selanjutnya, menjadi kekuatan tersendiri bagi Airlangga untuk membangkitkan kembali kerajaan Medang usai 3 tahun masa kekosongan pemerintahan pusat di Jawadwipa.
Mampukah Airlangga memikul tanggung jawab besar ini dan menyatukan negeri yang sedang dalam kekacauan? Apakah dia akan menjadi anak yang diramalkan dalam legenda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka Yang Berpindah
Sementara Airlangga dan rombongannya berbelok arah menuju ke arah Utara untuk mengecoh para pengejar dari Lwaram, si prajurit yang berhasil melarikan diri dari amuk Narotama dan Renggos terus berlari seperti kesetanan menuju ke arah Kota Kadipaten Anjuk Ladang.
Tak peduli dengan luka akibat duri tajam semak belukar yang ia terjang, prajurit bertubuh kekar itu terus saja berlari melintasi jalan berbatu ke arah timur. Saat di tapal batas Kota Kadipaten Anjuk Ladang, dia menghentikan langkahnya sejenak untuk mengatur nafas sebelum ia kembali berlari lagi menuju ke arah kota.
Dia langsung menuju ke sebuah rumah besar yang ada di dekat Istana Kota Anjuk Ladang. Di beranda depan rumah besar itu, terlihat seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah menyiratkan adanya sebuah kelicikan terlihat duduk sambil menyesap sidhdhu kualitas terbaik. Dia cukup terkejut melihat kedatangan prajurit itu dan bergegas bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa kau pulang sendiri? Mana Bekel Rewang?", tanya lelaki bertubuh kekar yang tak lain adalah Wiragangga, yang kini diangkat menjadi tumenggung Lwaram.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung...
Kami bertemu dengan dua orang bekas perwira tinggi prajurit Medang di pinggiran Wanua Dawung. Kami bertarung melawan mereka dan mereka berhasil membunuh Gusti Bekel Rewang dan kawan-kawan hamba", lapor sang prajurit sembari ngos-ngosan mengatur nafasnya.
Kaget Tumenggung Lwaram ini mendengar laporan dari anak buah nya itu.
"Bekas perwira tinggi prajurit Medang?! Siapa mereka?", tanya Tumenggung Wiragangga segera.
"Narotama dan Renggos, Gusti Tumenggung..", mendengar jawaban itu, Tumenggung Wiragangga terhenyak. Dia tahu bahwa dengan adanya dua orang itu, maka tak jauh dari mereka berdua pasti ada Airlangga dan Galuh Sekar.
"Bangsat! Orang yang kita buru pasti ada di dekat tempat itu!
Panggil Bekel Pongkal dan Demung Tirtakrama. Kita harus secepatnya menangkap mereka berdua!", mendengar perintah dari sang pimpinan, sang prajurit segera menghormat sebelum bergerak melaksanakan tugas. Sedangkan Tumenggung Wiragangga sendiri bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali dengan menggenggam sebuah tombak yang bilah nya tertutup kain putih.
Begitu para prajurit Lwaram dengan jumlah sekitar 50 orang berkumpul bersama dengan Bekel Pongkal dan Demung Tirtakrama, Tumenggung Wiragangga segera memimpin pasukan menuju ke arah Wanua Dawung dengan penunjuk jalan sang prajurit tadi.
Tak butuh waktu lama, Tumenggung Wiragangga telah sampai di rumah Ki Sampun dan Nini Landep yang ada di pinggiran Wanua Dawung. Kebetulan saja, Ki Sampun yang sedang memberikan rumput untuk pakan kerbaunya melihat kedatangan mereka. Lelaki tua itu segera mendekati para prajurit ini.
"Mohon ampun Gusti Prajurit..
Ada apa ramai-ramai kemari?", tanya Ki Sampun dengan polosnya. Demung Pongkal dan Demung Tirtakrama berserta para prajurit Lwaram langsung melompat turun dari kudanya masing-masing dan berjalan mendekati Ki Sampun.
"Orang-orang yang bermalam di rumah mu, kemana mereka sekarang?", tanya Demung Pongkal dengan cepat.
"Tadi pagi setelah mereka berkelahi dengan para prajurit, mereka pergi ke arah sana Gusti Perwira", jawab Ki Sampun sambil menunjuk ke arah Utara.
"Apa kau tidak sedang berbohong kepada kami? Katakan saja sejujurnya, kearah mana tujuan mereka?", sahut Demung Tirtakrama sembari menatap tajam ke arah Ki Sampun.
"Sungguh hamba tidak berbohong, Gusti Perwira..
Hamba sudah di kasih tahu sama Ndoro Lurah Wanua Dawung kalau mereka itu buronan. Hamba tidak tahu kemana perginya orang-orang itu, hanya tahu bahwa mereka bergerak menuju ke arah utara ", ucap Ki Sampun dengan sedikit ketakutan karena nada suara Demung Tirtakrama yang tinggi.
"Aaahhh kau pasti bohong. Kawan-kawan, hajar dia sampai mengaku...", mendengar teriakan keras Bekel Pongkal, empat orang prajurit langsung bergerak mencekal lengan Ki Sampun dan mereka pun segera memukuli orang tua itu.
Bhhhuuuuuuggggh bhhhuuuuuuggggh..
Aaaarrrgggggghhhhh ampuuunnn!!!
Meskipun Ki Sampun telah berteriak minta ampun, akan tetapi para prajurit Lwaram ini masih tetap memukuli lelaki tua itu tanpa belas kasihan. Beberapa gigi lelaki tua itu telah rontok, wajah nya lebam beberapa tempat dan tubuhnya memar di beberapa bagian. Para prajurit Lwaram itu menghajarnya tanpa melihat bahwa yang mereka hajar adalah orang tua.
Setelah puas menghajar Ki Sampun, para prajurit Lwaram melemparkannya begitu saja ke halaman rumahnya. Sementara itu Nini Landep yang ketakutan, hanya meneteskan airmata dari balik jendela rumah tanpa berani untuk keluar.
"Sepertinya dia memang tidak tahu kemana tujuan dari mereka, Gusti Tumenggung. Kita harus secepatnya mengejar para buronan itu agar tidak semakin jauh dari jangkauan.
Kemungkinan besar mereka menuju ke arah Bojonegoro", ucap Demung Tirtakrama sembari menghormat pada Tumenggung Wiragangga.
"Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu lagi. Kita kejar mereka..", ucap Tumenggung Wiragangga seraya menggebrak kuda tunggangannya ke arah Utara. Para prajurit Lwaram pun segera mengikutinya. Meninggalkan Ki Sampun yang tergeletak tak berdaya di halaman rumah nya.
Nini Landep segera berlari keluar rumah dan menangisi keadaan suaminya yang tubuhnya penuh dengan luka dan memar.
Huhuhuhuhuhuhuhuhu..
"Oalah Ki Ki, kenapa nasib mu seperti ini? Apa salah kita harus menderita seperti ini?", ratap Nini Landep sembari membangunkan suaminya yang lemah.
Uhukkk uhukkk uhukkk..
"Heeehhhh, kita tidak salah Nyi. Para pembesar itu yang bertindak diluar batas. Terkutuk mereka semua uhukkk uhukkk..", rutuk Ki Sampun di sela-sela batuknya.
"Aku yakin rombongan Den Ayu Galuh itu orang-orang baik, Ki.. Semoga Dewa melindungi perjalanan mereka", ucap Nini Landep dengan berurai airmata. Kedua pasangan tua ini pun kemudian masuk ke dalam rumah mereka dengan tertatih-tatih.
Sementara itu, Airlangga dan para pengikutnya terus memacu kuda-kuda mereka bergerak ke arah Utara. Pemandangan alam yang indah terhampar di sepanjang perjalanan mereka. Tepatnya di tepi Alas Pajeng, mereka menghentikan langkah kaki kuda mereka.
Ada serombongan pedagang dengan beberapa kereta kuda dan pedati yang di tarik oleh sapi, terlihat sedang sibuk di hadang oleh puluhan orang berpakaian serba hitam. Mereka sepertinya sedang di rampok.
"Kangmas, apa yang harus kita lakukan? Sepertinya orang-orang itu sedang dirampok oleh orang orang itu", ucap Nararya Galuh Sekar yang berkuda di samping Airlangga. Sang pangeran muda dari Balidwipamandala ini nampak berpikir sejenak.
"Kita tolong mereka. Kakang Narotama dan Kakang Renggos, ayo kita bantu mereka", ucap Airlangga sembari melompat turun dari kudanya. Narotama dan Renggos pun segera mengikuti langkah sang pangeran muda.
Airlangga tanpa menunggu lama lagi, langsung menerjang maju ke arah seorang lelaki yang sepertinya merupakan pimpinan kelompok perampok ini.
Whhhuuuuuggggghhhh...
Dhhaaaassshhh Auuuggghhhhh!!!
Lelaki bertubuh gempal dengan janggut lebat ini langsung terjungkal menyusruk tanah setelah tendangan keras Airlangga menghajar dadanya. Melihat pimpinan nya dijatuhkan, para pengikutnya pun langsung bergerak menuju ke arah Airlangga. Namun Renggos dan Narotama yang menyusul sang pangeran muda, langsung menerjang ke arah para anak buah rampok. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaashh dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Jerit kesakitan bercampur aduk dengan suara pukulan dan tendangan terdengar silih berganti. Kesemuanya mengadu ilmu beladiri nya untuk mempertahankan diri.
Kepandaian ilmu beladiri yang di miliki oleh Renggos, Narotama dan Airlangga rupanya bukanlah tandingan untuk kelompok rampok ini. Hanya dalam sepuluh jurus saja, mereka telah dibuat tak berdaya. Sebagian besar dari mereka langsung berhamburan ke arah rimbun pepohonan Alas Pajeng. Bahkan sang pimpinan kelompok rampok ini sampai lari tunggang-langgang setelah di hajar habis-habisan oleh Airlangga.
Seorang lelaki tua berkumis tipis putih dengan pakaian mewah selayaknya seorang saudagar kaya raya segera mendekati Airlangga dan kedua pengikutnya. Narotama mengenali nya sebagai Ki Banjar Ketawang, seorang pedagang besar kain sutra dan beras yang cukup kondang di Kotaraja Wuwatan.
"Terimakasih atas bantuannya, Kisanak. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak membantu kami..", ucap Ki Banjar Ketawang dengan penuh hormat.
"Kami hanya kebetulan lewat saja, Ki Banjar Ketawang. Kau tidak perlu sungkan..", ucap Narotama segera. Mendengar namanya disebut, Ki Banjar Ketawang pun menatap wajah Narotama dan Renggos juga Airlangga. Lelaki tua itu terkejut bukan main melihat mereka.
"K-kalian masih hidup?
Jagad Dewa Batara, Gusti Demung Renggos dan Gusti Demung Narotama ini sungguh keajaiban", ucap Ki Banjar Ketawang dengan gugupnya.
"Kami berhasil lolos dari kepungan para pemberontak itu, Ki Banjar..
Kalian mau kemana? Kenapa seperti nya terburu-buru sekali...", ucap Renggos seraya memperhatikan seluruh rombongan.
Mendengar pertanyaan itu, Ki Banjar Ketawang menghela nafas berat sebelum berbicara,
"Kami pindah dari tempat dagang kami semula, Gusti Demung. Kami membawa anak istri kami agar selamat dari penjarahan yang di lakukan oleh para prajurit Lwaram.
Kotaraja Wuwatan tidak layak huni lagi.."