NovelToon NovelToon
AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen
Popularitas:305.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohana Kadirman

Aisyah Huriyya Atmaja, gadis cantik keturunan ningrat dari Jogjakarta yang memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Memiliki kisah cinta masa kecil dengan seorang putra kyai pemilik pondok pesantren yang terus terbawa hingga ia dewasa. Mempunyai impian untuk bisa mengunjungi Tajmahal di India.

Hamzah Alghazali, seorang pemuda gagah penuh kharisma, yang baru saja lulus dari Al-Ahzar, Mesir. Dia adalah putra sulung seorang Kyai pemilik sebuah pondok pesantren yang terkemuka di Jogjakarta.
Dengan demikian, dia lah penerus ayahanda nya kelak.

William Stevan Ballard, pria Indo-Jerman yang baru saja menyelesaikan sekolah bisnis nya di Canada, dan kembali ke Indonesia untuk menjadi Presdir muda di sebuah perusahaan executive di Jakarta milik Ayahnya.
mempunyai motto hidup :
One Life - One Wife.

Kisah antara Aisyah dan Hamzah nyaris sempurna.
Tapi kehadiran William ternyata mengubah segalanya.
Bagimanakah kisah mereka bertiga??
Siapakah yang akhirnya menjadi takdir cinta Aisyah??

Ayat Cinta Aisyah, kisah cinta yang menggugah jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohana Kadirman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Julia

Pagi hari, setelah selesai membaca zikir pagi Almaktsurat.

Aku membawa secangkir teh melati ke balkon, dan duduk menikmati hangatnya mentari pagi sembari menyeruput teh melati. Semenjak tinggal di Jakarta, aku jadi menyukai teh melati buatan ibu. Aku hanya akan mengganti tehku, jika teh kiriman dari ibu sudah habis.

Aku menatap bunga mawarku. Dua kuncupnya telah mekar, dan tumbuh lagi satu kuncup lainnya. Daun-daunnya mulai subur, dan di pucuk tangkainya juga suduh muncul tunas baru.

Aku mendekatkan wajahku ke arah bunga mawar, perlahan ku cium bunga mawarku dengan menyentuhkan ujung hidungku. Hidungku basah terkena embun yang masih menempel di atas kelopak mawar. Dingin. Wangi. Exotic.

Aku kembali duduk di kursi.

"Piiiip !"

Bunyi klakson mobil di depan gerbang mengejutkanku.

Aku melirik ke bawah.

Terlihat Pak Dudung membuka pintu gerbang. Sebuah mobil porsche berwarna hitam masuk ke halaman.

Hmm,... Sepertinya aku mengenali mobil itu. Entahlah.

Aku kembali menikmati tehku, dan membuka ponsel, melihat-lihat timeline instagramku.

"kling !" Ada DM masuk.

Rangga : [Assalamualikum Aisyah. Boleh tau gak, kriteria calon suami kamu seperti apa sih?]

Aku menggelengkan kepala dan menghela nafas.

Niat bangeeet ini anak niru-niru artis. Segera ku ketik DM balasan untuknya.

Aku : [Walaikumsalam. Gak usah sok-sokan jadi Rey Mbayang. Aku bukan Dinda Hauw.]

Rangga : [Oke, aku memang bukan Rey Mbayang. Aku adalah Rangga. Maukah kau jadi Cinta untukku? Agar hatiku tak selalu bertanya "Ada Apa Dengan Cinta?"]

Aku : [Berhentilah Rangga, stop! Aku tidak sedang bercanda.]

Rangga : [Apa kau pikir aku juga sedang bercanda Aisyah? Apakah semua yang aku lakukan selama ini hanyalah sebuah lelucon bagimu?]

Aku : [Ya, aku hanya melihatnya seperti sebuah lelucon. Jadi berhentilah bersikap konyol di depanku. Aku tidak pernah berniat untuk berpacaran.]

Rangga : [Jadi kau berniat ingin langsung menikah? Apa mungkin aku bisa masuk kriteria calon suami idamanmu?]

Aku : [Ya, aku tidak ingin berpacaraan. Apa kau sudah siap menikah Rangga?]

Aku sengaja menantang Rangga.

Rangga : [He he he, tentu belum. Aku hanyalah mahasiswa semester lima, aku belum bisa menafkahi istriku jika menikah sekarang.]

Aku : [Jika begitu, maka berhentilah menggoda perempuan, siapa pun itu. Siapkan saja dirimu, jika engkau merasa sudah siap, baru carilah calon istri. Aku tidak melihat satupun kebaikan dalam hubungan berpacaran, selain celah kemaksiatan.]

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Aku menghitung dalam hati.

Alhamdulillah, tidak ada balasan DM dari Rangga. Sepertinya aku berhasil kali ini. Membuat Rangga tak berkutik lagi melancarkan aksinya. Menggombal diriku.

"Tok Tok Tok !"

Pintu kamarku di ketuk seseorang dari luar. Aku menoleh ke dalam kamar.

Nuri bergegas membuka pintu. Ia terkejut melihat seorang gadis berambut blonde berdiri di depan pintu kamar kami.

Julia? Bagamaina dia bisa kesini? Untuk apa dia mencariku sepagi ini?

"Hai !" Sapa Julia kepada Nuri.

"Hai,... Cari siapa??" Tanya Nuri dengan nada keheranan. Ya, karena Nuri memang belum pernah bertemu dengan Julia.

"Kamar 34," Julia kembali melihat nomer kamar yang tertempel di pintu. "Aisyah, menyewa kamar nomer 34, betul?" Julia berusaha memastikan.

Aku buru-buru masuk ke kamar.

"Oh, Aisyah...." Nuri menoleh ke arahku.

"Hai Aisyah !" Sapa julia dengan tersenyum lebar begitu ia melihatku. "Ku kira aku salah kamar, tadi Bibi memberi tahuku jika kamu tinggal di kamar 34."

"Hai, Julia" aku mengajak Julia masuk ke dalam.

"Oh iya, kenalkan, ini Nuri teman sekamarku. Nuri, kenalkan ini Julia"

"Nuri"

"Julia"

Nuri dan Julia berjabat tangan, saling memperkenalkan diri.

"Ayo duduklah." Aku mempersilahkan Julia duduk di sofa. Aku memang baru saja membeli sofa baru, bukan baru sih sebenarnya. Karena sofa ini adalah sofa preloved, atau barang bekas pakai. Aku melihatnya di situs jual beli, dan memutuskan untuk membelinya. Aku juga membeli sebuah kulkas. Kalau itu ibu yang menyuruhku, karena ibu ingin agar aku selalu makan buah-buahan segar, atau setidaknya tempat untuk menyimpan makanan sisa yang masih bisa di panaskan esok harinya. Meskipun kenyataanya, Aku dan Nuri lebih sering beli makanan di luar daripada memasaknya sendiri. Karena ternyata setelah di hitung-hitung, membeli makanan jadi justru lebih hemat.

Aku, Nuri, dan Julia duduk di sofa.

"Julia, aku cukup terkejut melihatmu disini. Apa yang membawamu kemari?" Aku mulai membuka percakapan.

"Mulai sekarang, mungkin kau akan sering melihatku," Julia tersenyum. "Oh ya, aku bawa sesuatu," Julia mengangkat kantungan di tangannya, lalu ia mengeluarkan isinya ke atas meja.

Tiga buah kotak makanan, ia jejerkan di atas meja. Lalu ia mulai membuka tutup kotak itu satu persatu. Sekotak donat, sekotak pizza, dan sekotak waffle.

"Aku belum sarapan, jadi aku membeli semua ini. Kurasa kalian juga belum sarapan. Mungkin kita bisa sarapan bersama? dan bolehkah aku minta segelas kopi ?" Ucap Julia tanpa nada sungkan sama sekali.

"Kopi?" Aku dan Nuri berpandangan, kemudian sama sama menggelengkan kepala.

"Sayang sekali, kami tidak memiliki kopi saat ini. Tapi mungkin kau mau secangkir teh?" Aku menawarkan teh kepada Julia.

"Tea? Hmm, boleh juga, dan maaf jika sudah merepotkanmu" Ujar Julia.

"Tidak, sama sekali merepotkan. Meskipun sedikit terkejut, aku senang kau datang." Aku segera berdiri dan menyeduh teh melati, lalu membawakannya untuk Julia.

"Ayo sekarang kita sarapan, aku sudah lapar." Julia mencomot sepotong pizza.

Aku tersenyum melihat tingkah Julia. Ucapannya barusan mengingatkanku kejadian saat pertama kali bertemu dengannya. Aku dan Nuri pun mulai ikut makan.

"Oh ya Julia, tadi kau bilang, Bibimu yang mengatakan kalau tinggal di kamar 34. Siapa Bibimu? Apa aku mengenalnya?"

"Ya, tentu saja kau mengenal bibiku, Bibi Nadira."

"Maksudmu, Ibu Nadira, adalah Bibimu?"

"Ya, dia adalah bibiku. Bibi Nadira adalah kakak dari mommy ku."

"Oow...." Aku dan Nuri bersamaan. Sekarang aku mulai faham. Pantas saja ketika itu, saat Julia mengantarku pulang, dia mengatakan "Bukankah ini suatu kebetulan?"

Julia mengambil teh miliknya, dan berniat meminumnya, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ia justru terlihat asyik menghirup uap teh yang beraroma melati itu.

"Wait, wait. Aku mengenali aroma teh ini. Ini, seperti teh buatan grandma."

"Oh ya?"

"Ya, Aisyah. Dimana kau membeli teh ini? apa merknya? Aku jadi rindu grandma."

"Teh ini, tidak di jual dimanapun. Teh ini buatan ibuku. Ibuku membuatnya sendiri, dari campuran daun teh dan bunga melati asli." Aku menjelaskan kepada Julia.,

"Woow, amazing. Aku sering meminum teh dengan aroma seperti ini, ketika di rumah grandma di Jerman."

"Nenekmu, tinggal di Jerman?" Tanya Nuri.

"Ya, Daddy ku orang Jerman. Lihatlah rambut blondeku ini," Julia menunjuk rambutnya. "ini adalah warisan gen dari grandmaku, ha ha ha" ucap Julia sambil tertawa.

Setelah selesai sarapan, Julia meminta izin untuk pergi ke balkon.

"Boleh aku kesitu?" Julia menunjuk balkon.

"Ya, tentu saja." Aku menemani Julia ke balkon.

"Hmm.... Not so bad. Pemandangan dari atas sini lumayan bagus."

"Oh, hai. Ini bunga mawar yang kau beli waktu itu?" Julia menunjuk pot bungaku yanh berisi tanaman bunga mawar.

"Iya. Itu dia. Bunganya sekarang sudah mekar, dan kehadirannya di balkon ini cukup menyenangkan mataku."

"Kau menyukai bunga mawar?"

"Ya, aku sangat menyukai bunga mawar, terutama mawar merah. Ia terlihat begitu exotic, wanginya lembut tapi menghadirkan suatu kekuatan misterius."

"Aku tak begitu menyukai bunga. Suka sih, tapi aku tak suka jika harus merawatnya."

"Oh iya, aku kesini sebenarnya membawa sesuatu untukmu," Julia merogoh tasnya, "ini untukmu." Julia memberikan selembar kertas undangan.

"Apa ini?" Aku bertanya kepada Julia sambil menerima kertas undangan dari tangan Julia.

"Besok aku ulang tahun. Kau harus datang kerumahku."

"Kerumahmu? Tapi aku tidak tahu dimana rumahmu. Bagaimana aku bisa kesana?"

"Tenang saja, kau kerumahku bersama-sama bibi Nadira. Aku akan menjemputmu. Oh tidak, maksudku, William yang akan menjemputmu dan bibi Nadira."

"William?"

"William, kakakku yang waktu itu juga menjemputku, dan mengantarkanmu pulang kesini."

"Ooh.... Kakakmu."

"Ya, jadi tak ada alasan bagimu untuk tidak datang. Kau hanya perlu bersiap-siap. Besok malam, jam tujuh. Okey?"

"Hmm, Insya Allah. Baiklah."

"Oh, hampir saja lupa. Berikan aku nomer ponselmu," Julia mengambil ponselnya, "berapa nomer ponselmu?"

Aku menyebutkan nomer ponselku, dan Julia langsung mengetiknya di ponselnya. Sesaat kemudian.

"Triiiing" ponselku di atas meja bergetar. Menandakan ada panggilan masuk.

"Itu nomer ponselku" ucap Julia segera.

Aku mengambil ponselku dari atas meja, dan membuka panggilan masuk. Ku ketik nama Julia.

"Sudah ku simpan." Aku menunjukkan layar ponselku kepada Julia.

"Okey baiklah. Aku harus pergi sekarang. Aku tunggu kau besok malam, di rumahku," Julia berdiri dari kursi "oh, iya. Dan terimakasih untuk tehnya Aisyah."

"Terimakasih juga untuk donat, pizza, dan waffle nya."

"Bye, see you Aisyah."

Aku melambaikan tangan kepada Julia.

Julia masuk ke kamar.

"Hai Nuri, aku harus pergi sekarang. Senang berkenalan denganmu."

"Senang berkenalan juga denganmu." Nuri tersenyum dan mengantar Julia ke depan pintu.

_____________Bersambung____________

.

.

.

.

.

.

.

.

Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.

Ini adalah karya pertama saya,.

Baruu belajar nulis

Beri dukungannya dengan cara

LIKE dan VOTE ya,..

Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

 

❤️Rohana Kadirman❤️

1
Rasti Istiyanti
sejujurnya aku nungguin banget part selanjutnya sampe selesai, tp ga apa² aku tungguin versi bukunya ya thor
Rasti Istiyanti: sehat selalu thor, semangaaaaat terus ya 💪💪
total 1 replies
Rasti Istiyanti
kapan di lanjut thor ?
Ika Mei susanti 03
lanjutannya dong thor...udah terlanjur pinisirin nichh...
Kasmawati
lanjut .....
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
Wardatus Syifak
wes lah Thor sak karep mu ape Karo William opo mas Hamzah
Wardatus Syifak
langsung favorit
Rasti Istiyanti
kak kpan di lanjut, udah lama ga up kak
Dewi Nurlela
cepetan mas Hamzah sela keburu dilamar karo william aisyahe🤭
Dhina ♑
Seru banget. Masa kuliah, tinggal di tempat kost. Kalo aku dulu, kerja, makanya ngekost
maaf Thor baru balik dukung karya 🙏🙏
Musayaroh
makin seru.lanjut trus.
Musayaroh
subhanallah
Musayaroh
makin keasyikan ya utk trus dan trus membacanya.lanjuuut.
Musayaroh
lanjut.bagus sekali kisahnya,makin penasaran.
syifa luthfiyahsalim
kapan di up nyaa Ka ?
Eny Hidayati
lanuutt..
Arum_13
assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh kak, aku mampir😊
Nengsulastri
kpn lanjutannya. di tunggu lo
Fufa Reys
🌸
Fufa Reys
😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!