Kami menikah demi warisan milik Mbah Rangga.
Nama kami sama-sama Ariel. Kami sama-sama telah memiliki kekasih. Kami sama-sama saling membenci.
Setelah Mbah meninggal, aku mengajukan perceraian, toh uang sudah didapat. Tapi Ariel baru akan menceraikanku, kalau aku jadi jelek. Jadi aku berusaha tampil kusam, tapi Pacarku malah memutuskanku gara-gara hal itu!!
Di lain pihak pacarnya Ariel cemburu. Dia mengancam akan melaporkan kami berdua ke Yayasan. Posisi Ariel sebagai penerima beasiswa Univ. Negeri terancam kandas, Aku terancam dipecat atas karier yang sudah kuperjuangkan bertahun-tahun.
Kesialanku jadi Double Kill!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencana 2
“Sasongko lah yang mempengaruhi saya untuk meminta hadiah emas, diganti dengan mulut saya yang bungkam selamanya. Hal itu kami lakukan tanpa sepengetahuan Rangga dan Rejo. Di lain pihak... saya hamil. Hal itu semakin membuat saya yakin bahwa harus ada yang sepadan dengan sakit hati yang saya alami. Jadi... saya minta seluruh harta mereka diberikan ke saya.”
Aku langsung tahu ke mana arahnya setelah ini.
“Yah, Rejo dan Rangga pun menyetujuinya. Karena Rangga bilang cintanya ke saya tulus adanya. Setelah menerima harta Rangga dan Rejo, saya dan keluarga saya memutuskan untuk pergi dari desa dan menetap di luar negeri. Jauh dari semuanya. Uang yang saya miliki sangat banyak, memungkinkan saya untuk pindah negara. Kami menuju Italy.”
“Dari akhir 1950-an hingga awal 1960-an, Italia sedang mengalami ledakan ekonomi yang begitu kuat Industri berat di utara – Fiat di Turin, Vespa di Genoa, Pirelli dan Alfa Romeo di Milan – digabungkan dengan bisnis berbasis kerajinan dan desain yang lebih kecil di tengah-utara menempatkan Italia di panggung internasional dan mengubah kehidupan warganya. Efek paling mencolok dari ledakan tersebut adalah migrasi massal yang didorongnya, karena orang Italia berpindah dalam jumlah besar dari pedesaan ke perkotaan Italia dan dari selatan ke utara untuk mencari pekerjaan. Lebih dari 24 juta orang Italia mengubah alamat mereka, sehingga memungkinkan kami untuk masuk ke sana lebih mudah dan menetap menjadi warga negara.”
“Tapi...” Bu Kencana menggelengkan kepalanya, “namanya juga harta haram, sengketa, penuh dosa...” ia menghela nafas panjang. “Akhirnya habis. Dan akhirnya kami terlibat sindikat mafia. Harta kami disita mafia. Kami bangkrut dalam sekejab. Bapak saya bunuh diri. Saya dan anak-anak saya sempat menjadi tunawisma.”
“Dari sini aku teruskan ceritanya, ya Tante?” tanya Baron.
“Ya Le, Monggo...”
“Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, di penjara aku bertemu dengan gembong mafia Sisilia?”
“Ya Ampuuuun,” seruku dan Ariel.
Baron mengangguk, “Ya, harta itu kembali ke kami. Itu harta memang milik Mbah Rangga dan Mbah Rejo. Takdir berbicara. Semua kembali kepada kami. Dan karena harta itu keramat, untuk menghindari konflik berkelanjutan, maka kami sepakat berempat, tentunya di luar sepengetahuan bapakku. Untuk... sini Pak Abel, kontraknya.”
Pak Abel dan Pak Johan menyerahkan segulung perkamen yang terlihat tua, dan membentangkannya di depan kami semua.
Isinya semacam maklumat yang ditulis dengan tangan. Di bawahnya ada empat tandatangan. Mbah Rangga, Mbah Rejo, Bu Kencana, dan Raden Arya. Di bawah tandatangan itu ada semacam sidik jari kecoklatan.
“Ini cap darah,” kata Baron. “Saran Mbah Rangga sih. Kalau aku tak percaya Kejawen.” Ia terkekeh.
Ini yang dimaksud perjanjian berdarah.
“Ariel, Claudia, Mbah Rangga danMbah Rejo berjanji dengan darah ini, kalau salah satu dari mereka meninggal, yang lain tidak boleh meninggal dulu sebelum... ada pernikahan antara keturunan Rejo dan Rangga.”
“Memangnya bisa begitu?!”
“Entah apa yang terjadi nyatanya bisa.” Desis Baron. “Setelah kalian menikah, Mbah Rangga meninggal.” Tapi Baron terkekeh. Ada kilatan jahil dimatanya.
“Baron?”
“Aku bohong, maaf... mukamu tegang banget sih... hahahahah!”
“Yang bener saja di saat seperti ini kalian bercanda?!”
“Yaaah,” Baron melirik Pak Abel dan Pak Johan. Yang hanya bisa menggelengkan kepalanya mengetahui hal yang terjadi. “Mbah Rangga minum racun. Terbukti. Arsenik, di tehnya, dosis rendah tapi berbahaya. Ada kemungkinan bapakku yang mencampurnya. Mbah Rangga diracun di pagi hari sebelum kalian menikah. Tapi entah bagaimana dia berhasil menahan dirinya untuk tetap sadar sampai ijab...”
“Makanya wajahnya tampak aneh...” desisku, Perutku serasa diaduk.
“Bisa jadi saat itu dia menahan rasa sakit yang teramat sangat... Dan sepertinya dia sudah tahu siapa yang meracuninya.”
“Dia mewakiliku menikah dalam keadaan sedang sekarat?! Senyum dan perasaan senang itu dilakukannya dalam keadaan kesakitan?!” seruku.
“Dan tidak ada yang tahu kecuali bapakku, Sasongko.”
“Bagaimana kalian tahu semua ini?!”
“Saya yang melaporkannya,” Bu Kencana berujar begini. “Malam itu saya berkunjung untuk melayat. Saya pergi bersama Abel dan Johan, mengaku sebagai sesama Pengacara agar tidak ketahuan. Kami sepakat untuk bilang yang sebenarnya ke Sasongko. Kalau dia tidak akan dapat sepeser pun walau pun Mbah Rangga sudah meninggal, karena kami sudah mengikat perjanjian di belakangnya. Dan dia semakin marah saat tahu kalau... Raden Arya, Baron, juga salah satu penggagas usul ini,”
“Dan... tiga tahun lagi akulah yang akan mengelola harta keramat itu? Benar?” desis Ariel. Dia dari tadi hanya menengadahkan kepalanya bersandar ke sofa.
“Ya betul. Saya sudah tua, sudah mau pensiun, capek juga saya... dan Baron tidak boleh terlihat publik. Kami membutuhkan generasi muda bermental baja untuk menangani harta keramat, mohon maaf menyusahkan kalian berdua...”
**
Aku membuka plester yang berisi gel dingin, yang sering digunakan oleh anak-anak dikala mereka demam, lalu menempelkannya ke dahi Ariel.
Dia sedang tiduran di sofa karena langsung pusing.
Aku saja yang sehat jadi sakit kepala, apalagi dia yang lagi sakit...
Baron terkekeh melihat reaksi kami.
Kami tahu kami ini memang cenderung ekspresif dan gampang heboh kalau ada hal-hal diluar nalar.
“Maaf ya Leee, Nduuuk, kalau ibu mengagetkan. Ya tapi memang begitu kejadiannya.”
“Tujuan ku memanggil kalian agar kalian lebih prepare mengelola perusahaan. Kalian harus tahu asal dana dari mana, agar kalian tidak menyepelekan. Aset perusahaan Topaz RR Kencana dibangun bukan hanya dengan harta dan air mata, tapi juga dengan nyawa. Makanya aku tidak terlalu setuju saat Claudia ingin bercerai dari Ariel. Kasihan Ariel kalau mengelola sendirian.” Katya Baron.
“Bisa dikelola masing-masing dengan perjanjian di atas akta, tapi memang lebih erat ikatan pernikahan...” kata Bu Kencana.
Aku pun menempelkan kompres demam ke dahiku sendiri sambil beranjak ke bar untuk membuat teh hangat, untukku sendiri yang masih shock.
“Bolehkah kami minta diantar pulang saja?” tanyaku lemas.
**
Akhirnya kami sampai juga di kamarku.
Aku berbaring di sebelah Ariel.
Kami berdua menatap ke arahlangit-langit.
“Hey Ariel...” desisku.
“hm?”
“Janji padaku...”
“Apa sayang?”
“Kamu sekolah lulu stepat waktu, kuliah yang serius...”
“Kenapa gitu?”
“Kamu harus pintar dan mengetahui banyak ilmu, karena perusahaan yang akan kamu pimpin memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Mbah Rangga danMbah Rejo menyerahkan segalanya, termasuk hidupnya.”
“Hm... kamu jug aharus janji.”
“Apa?”
“Untuk selalu di sampingku, menyemangatiku saat aku down, mendorong punggungku saat aku takut...”
“Sebagai partner kerja aku bisa saja.”
“Partner ya...” terdengar kekehan getirnya, “Dari semua orang, malah kamu inti kegagalan terbesarku.” Gumamnya.
“Jangan menyalahkanku. Bagaimana kalau situasinya terbalik. Kamu dipaksa untuk menikah dengan Davina? Mau?!” tantangku
“Hm...”
Lalu kami terdiam.
Dan dia pun akhirnya berbisik, “Benar juga.”
“Ceraikan aku.” kataku.
“Jadi jelek dulu sana...” dia pun menarik selimutnya sampai menutupi bahu, dan berbaring miring membelakangiku. Bisa ngambek juga dia.