NovelToon NovelToon
Kontrak Gadis Bayaran

Kontrak Gadis Bayaran

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / One Night Stand / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Pasha Ayu

📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...

Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 [Informasi]

Party yang dihadiri banyak tamu elit, tempat di mana Ezra berdiri menikmati alunan musik klasik; acara sambutan kebebasan Rigie.

Tak alot bagi seorang Rigie untuk mendapat hak bebas bersyarat. Selain berkelakuan baik, Rigie juga punya ayah yang memiliki koneksi oknum.

Pasal yang dikenakan, bukan soal sabotase pasca tabrak lari. Hanya, pasal menabrak hingga meninggal, dan ternyata benar-benar bisa diperingan seperti dugaan Elea dulu.

Tapi kita sudah berakhir, Bee. Seperti kesepakatan awal, aku akan pergi dari hidupmu, dan kau akan menikahi wanita kesayangan mu. Selamat menempuh hidup baru, semoga hukuman wanita mu bisa diperingan dan kalian segera bersatu tanpa harus dituntut oleh ku. Media tidak akan mengetahuinya, karena aku tidak akan bicara apa pun pada mereka

Lagi-lagi, di tengah-tengah keramaian, Ezra mengingat kembali apa yang malam itu Elea katakan. Ucapan datar yang tak Ezra kira akan menjadi terakhir kalinya.

"Thanks ya Za. Kamu sudah setia menunggu ku sampai hari ini." Rigie tersenyum menatap Ezra yang baru usai meneguk segelas sampanye.

Lalu, Ezra membalas senyuman Rigie dengan bibir yang ditarik selebar mungkin. "Aku tidak mungkin meninggalkan mu, kamu tahu itu."

Seketika senyum Rigie memudar, entah kenapa Rigie merasa aneh, meski terlihat jujur, sejatinya ia tak melihat gegap gempita dari pria itu layaknya seorang kekasih yang bahagia bisa bersama dirinya.

Tak segan ia mempertanyakan perasaan Ezra saat ini. Dan seperti hari kemarin, Ezra selalu berkata aku bahagia untuk mu, bukan karena mu.

Apapun itu, Rigie senang karena pada akhirnya dia bisa kembali menghirup udara bebas, dan sebentar lagi ia akan menjadi istri Ezra Laksamana seperti khayalannya.

Melihat bibir basah Ezra, Rigie mulai bergelayut manja. Baru akan meminta kecupan, ponsel yang berdering dering lekas membuat Rigie kesal.

Sampai pukul satu pagi, tengah malam buta begini, masih ada saja yang menghubungi kekasihnya. "Siapa yang telepon di jam begini sih?" ketusnya.

Bermuka datar, Ezra mengeluarkan smartphone miliknya, ia menilik nama Tante Niken di layarnya. Dan seakan jengah, ia membuang desahnya ke udara.

Sudah bisa dipastikan, Niken menelepon hanya untuk menawarkan para gadis malam yang diklaim melebihi Elea.

"Tante Niken?" Rigie melirik serius kekasihnya. "Siapa dia?" Dia mencecar.

"Orang kru." Seakan pertanyaan Rigie tak penting. Kembali Ezra menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.

Dia lantas kembali meraih satu gelas kecil berisi sampanye untuk segera di teguknya. Mungkin, minuman ini bisa membantunya betah berada di lingkungan calon mertuanya yang rata-rata pejabat negara membosankan baginya.

^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^

...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....

,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.

"Mana Ezra? ... Mana Ezra?"

"Ck..." Ezra sengaja menarik selimut menutupi kepala ketika teriakan seseorang yang tidak asing di telinganya terdengar.

Baru berapa detik ia memejamkan kembali mata kantuknya, selimut tebal yang melilitnya tersingkap hingga ke kaki.

"Kita harus bicara!" Niken Ayu, nama perempuan berdandan menor itu. Ia berdiri melipat kedua tangan di depan dadanya.

Ezra berdecak. Pagi-pagi sekali Niken nekad menyampar ke rumahnya. Hanya untuk menawarkan gadis yang sama sekali tak dia minati.

"Bicara apa lagi sih?" Demi menghindar dari Niken, Ezra bangkit dan menggontai kakinya, segera ia keluar dari kamar menuruni anak tangga.

Di lantai bawah, Ken dan Dipa mengedik bahu, tanda bahwa mereka sudah berusaha untuk mencegah kedatangan wanita pemaksa itu.

Selama ini, Ezra masih sering mengunjungi kelab Tante Niken, menemui banyak gadis cantik untuk diajak bersenang-senang.

Ezra ingin mencari tahu, masih normal kah dirinya? Karena semenjak berpisah dengan Elea, ia tak lagi memiliki hasrat pada wanita.

Alih-alih bisa, ia justru semakin takut karena sampai detik ini tidak ada satupun wanita yang mampu membuat dirinya bergairah.

"Sudah ku bilang, aku tidak tertarik dengan gadis-gadis Tante lagi!"

"Ini bukan soal gadis-gadis Tante, ini soal yang lain." Niken berdecak kesal.

Pemuda itu benar-benar tak sedikitpun mau mendengar penjelasan darinya. Ezra duduk di sofa sambil mengeraskan volume televisinya.

"Denger Tante dulu!" Diraihnya remote TV tersebut, lalu berdiri berkacak pinggang tepat di hadapan lutut Ezra.

Ezra sempat merebut kembali remote TV miliknya, sebelum berhasil dicenungkan oleh nama familiar yang Niken sebutkan.

"Yah..., Elea, Zra! Elea!" Niken geram. Wanita itu duduk di sofa lainya, menyulut ujung rokok yang sedari tadi hanya dia pontang panting di sela jemarinya.

Kepulan asap mulai ia embus kuat-kuat, sambil menatap Ezra yang mulai mau mendengarkan informasinya. "Yah, benar, ini soal Elea!" katanya.

"Ada kabar apa? Di mana dia sekarang?" Ezra berapi-api. Tak ada yang lebih ingin Ezra dengar selain kabar mantan istrinya.

Niken menyeringai, mendadak dirinya menjadi sangat penting bagi Ezra. "Tante rasa ini tidak gratis, Zra."

Ezra berdecak, ini yang membuat Ezra malas berurusan dengan wanita seperti Niken, tiada hari tanpa deposit.

Gegas Ezra menatap Dipa, dan segera pria itu memberikan selembar kertas pada sang tuan.

"Tulis yang Tante mau." Ezra menyodorkan cek kosong, yang mana membuat Niken menyengir girang. "Kamu terbaik."

Sejenak Ezra menghela, lantas menggeser posisi tubuhnya, mendekati sofa yang Niken duduki. "Sekarang katakan," titahnya.

"Baru kemarin Tante ketemu, Elea." Niken menyesap kuat ujung rokoknya, lantas lekas menyembur asapnya ke udara. "Dia sekarang buka cafe."

"Dari kapan?"

"Denger-denger sih, sekitar setengah tahun yang lalu. Mungkin dia sudah banyak duit kan? Uang darimu, dia pakai untuk modal."

"Di mana?"

Niken bangkit dari duduk, seulas senyum lebar terbit menyebalkan. "Aku kirim alamatnya, setelah cek ini bisa dicairkan," ucapnya nyengir.

Ezra mendengus, dirinya hanya bisa menatap kesal punggung wanita mata duitan itu. Dan bersamaan dengan keluarnya Niken, Rigie masuk ke dalam ruangan santainya.

"Za..." Terlihat, Rigie rajin menoleh ke belakang. Ezra tahu benar, Rigie pasti bertanya tanya siapa wanita menor yang barusan berpapasan dengannya.

"Dia orang film yang kemarin telepon." Sebelum Rigie bertanya, Ezra sudah lebih dulu menjawabnya.

"Niken Niken itu?" Rigie sampai hapal nama Niken, saking sudah berkali-kali menelepon dan diacuhkan Ezra.

Awalnya Rigie curiga, apa yang membuat Ezra enggan mengangkat teleponnya, jawabannya simple, di luar jam kerja Ezra tak mau angkat telepon.

"Mau minum apa?" Ezra bangkit dari duduknya, berjalan memasuki dapur minimalisnya, menawarkan sambutan baik teruntuk tunangannya. "Kopi, susu, teh?"

"Apa ajah." Rigie tersenyum, ia mengikuti langkah kaki Ezra dan memeluk pria itu dari belakang.

Sesaat kemudian, ia harus rela menyingkir saat pria bersinglet hitam itu menyuruhnya duduk di kursi yang terletak di depan meja dapur.

"Za."

"Hmm?"

Sembari berkutat dengan mesin kopi dan cangkir miliknya, untuk sesekali Ezra melirik Rigie yang agaknya asyik mengamati seisi rumahnya. "Kamu nggak lagi kekurangan duit kan?"

Mendadak, Ezra juga ingin mengikuti arah pandangan Rigie. Yang mana, sama sekali dia tak paham apa yang sedang dibicarakan Rigie.

"Memang kenapa?"

"Kayaknya peralatan masak di dapur kamu perlu ganti deh. Semuanya penyok." Rigie lalu berkeliling, menyentuhi satu persatu perabot rumah Ezra yang aneh menurutnya.

Lihat saja, semua perabotan rumah Ezra hancur, tapi masih dipajang bahkan ada beberapa vas bunga porselin yang pecah dan anehnya sudah direkatkan ulang dengan lem.

Ezra tertawa pelan. "Kenapa harus diganti? Aku suka bentuknya, lucu kan?" entengnya.

"Lucu?" Rigie tak menganggap semua yang Ezra bilang lucu itu benar-benar lucu.

"Ini apaan coba?"

Rigie semakin mengernyit saat Ezra dengan cepatnya merebut pecahan guci kecil yang dia ambil dari atas nakas.

"Jangan sentuh mereka!"

1
Yogya Gudeg
bukan cinta itu mah bego🤣
🌺 Tati 🐙
pokonya yg tau sipat,sikap suami yg sesungguhnya hanya istri
EkaYulianti
aduh jd lemes🤣
EkaYulianti
gala gaya bicara sama bapajnya dewasa bgt
EkaYulianti
sedih bgt.
Oryza Orva Wijaya
suka suka suka
Rahmawati Rahmawati
aku baru beres baca ini d th 2026 🤭cuss ngebut yg lainnya...ngomong" cerita galaxy ada ga sich
Murni Binti sulaiman
baru baca kak🙏🙏🙏
Mutiara Gea
kenapa harus nyebut nama sih, kenapa gk langsung"aku" aja.
PASHA: Nggak usah berisik... gratis ini
total 2 replies
apajalah
🍂🍁🍂🍁🍁🍁🍂
apajalah
🍂🍁🍂🍁🍁
LikCi Vinivici
rigie jg g punya malu.. bisa gitu nekat nikah dg ezra tanpa restu ortu ezra🤭🤭
LikCi Vinivici
duhh ngebet nya
LikCi Vinivici
tbh gendeng ni bocah
LikCi Vinivici
pasangan koplak, rigie& ezra
LikCi Vinivici
ampyunnnn🤭🤭
LikCi Vinivici
terlalu mudah & singkat... muga2 aja setelahnya tidak ada murka yg menggelora 🤣🤣
LikCi Vinivici
ada kah didunia nyata yg begini?? 🤭
nobita
nah gitu kan Elea jujur lebih baik
nobita
benar yang diucapkan Ezra... berbahagialah kamu Elea... dengan pilihan mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!