Elvira Pranata berada dalam situasi yang sulit. Ia baru saja kehilangan saahabatnya yang meninggal menjelang hari pernikahan, namun Ia juga harus menjalankan wasiat sang sahabat untuk menjaga keluarganya saat itu.
Bahkan tak hanya itu. Calon suami dari Mita_sahabat Elvira pun menjadi begitu bergantung padanya untuk segala hal.
Bayu 25tahun. Saat itu divonis lumpuh akibat kecelakaannya bersama sang calon istri. Ia terngiang ucapan terakhir Mita agar Bayu menjaga Elvira, hingga apapun yang terjadi hanya Elvira yang selalu ada dalam memorinya.
Hingga akhirnya dengan segala perjuangan, pihak keluarga menikahkan mereka berdua. Tak hanya karena wasiat, tapi karena Bayu begitu membutuhkan El saat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PLIS 23
Suasana rumah besar itu sudah cukup ramai saat ini. Mereka tak mengundang tamu, hanya beberapa karyawan di kantor Bayu yang datang untuk sekedar meramaikan acara yang ada. Saat itu saja, papa Thomas meminta mereka untuk tak meratapi apapun yang terjadi pada Bayu saat ini dan menahan kesedihan mereka semua.
Meski sudah berjanji, namun tak dipungkiri jika mereka sedih dan pilu melihat Bayu saat ini. Apalagi mereka bahkan dilarang papa Thomas meski hanya sekedar menjengkuk Di Rumah sakit saat itu, karena papa Thomas memikirkan psikis sang putra dan begitu takut ia depresi karenanya.
Bayu sendiri tengah didandani Mama saat itu dengan seragam serba abu-abu yang awalnya akan ia kenakan untuk pernikahannya dengan Mita. Begitu juga El yang mengenakan pasangannya, karena milik El sendiri sudah ternoda oleh bekas darah Mita kala itu. Meski sudah dibersihkan, tapi ibu ingin menyimpannya saat ini karena gaun itu yang dipeluk oleh Mita diakhir hidupnya.
“Gantengnya anak mama,” puji sang mama pada putranya saat itu dengan semua keadaannya.
“El mana?” lagi-lagi Bayu begitu fokus pada El yang tengah dirias di kamarnya saat itu.
“Ada, sama ibu dan bapaknya. Nanti wali hakim yang mewalikan Elvira buat kamu.” Bayu hanya mengangguk mendengar itu semua dan menghela napas panjang mempersiapkan dirinya.
Bahkan ia semalam tak bisa tidur, ia beberapa kali belajar ijab qabul dengan papa hingga berusah fasih mengucap nama Elvira di mulutnya. Tampaknya mudah, tapi begitu sulit bagi Bayu yang terlanjur ingat Mita di dalam kepalanya. Harus bisa!
“Cantiknya anak ibu.” Elvira hanya tersenyum mendengar pujian ibunya saat itu. Dengan kebaya yang indah dan mahkota diatas kepalanya, El begitu tampak menawan saat ini dan ia tengah berusaha mempersiapkan diri untuk dipersunting oleh calon suami dadakannya itu. Masih tak menyangka, tapi begitulah adanya.
“Cincinnya, bukan cincin yang akan dipakai Mita kan, El?”
“Engga, Bu. Abang belikan baru buat El waktu itu, meski dia Cuma pesen sama temennya,” jawab El. Ibu mengangguk dan bernapas lega mendengar ucapan El saat itu, yang meski El bukan putri kandungnya tapi ia amat memperjuangkan hak El pada keluarga barunya nanti. Ia sadar tak memiliki hak apapun usai pernikahan terjadi.
“Ibu mohon, bahwa apapun yang terjadi nanti El harus beritahu ibu.”
“Iya, El janji.” Genggam tangan El pada ibunya saat itu dengan senyum bahagia.
Bapak memanggil saat itu. Rupanya Bayu sudah dibawa keluar ke meja tempat ijab qabul mereka akan dilaksanakan. Bayu sudah duduk tegang disana terus menarik hembuskan napas, bahkan sesekali mengelus dadanya sembari memejamkan mata terus membayangkan wajah Elvira.
Hingga mama mencolek pundaknya agar ia membuka mata. Bayu menoleh, dan ia langsung membulatkan mata ketika melihat Elvira tengah digandeng dan mendekat padanya.
Tubuh Bayu seketika membeku. Dari ujung kepala samapai ujung kakinya bergerak sendiri gemetaran, dan akralnya terasa dingin berkeringat. Hingga El semakin lama semakin dekat dan dibawa duduk disampingnya, dan wajah Bayu tampak langsung pucat karenanya.
“Abang, ini siapa?” tanya El pada Bayu dengan tangan menunjuk dirinya sendiri saat itu.
“Elvira Pranata,” jawab Bayu yang masih memegangi dadanya menatap Elvira.
El tersenyum. Yang Bayu lihat benar-benar Elvira saat ini dan bukan bayangan Mita difikirannya saat ini. El memuji Bayu, tersenyum lalu mengusap wajahnya yang berkeringat saat itu dengan tisu yang diberika mama Lita.
Acara demi acara mulai dilaksanakan disana. Tak terlalu lama karena memikirkan kondisi Bayu saat ini, yang penting pernikahan mereka sah dimata hukum dan agama. Apalagi untuk semua urusan tak terlalu memakan waktu karena data Bayu sudah ada di KUA dan hanya tinggal mengganti nama mempelai perempuannya.
Ijab Qabul dimulai. Tangan Bayu naik keatas meja dan menjabat tangan perwakilan kantor agama yang menjadi wali hakim untuk Elvira, dan memantapkan posisi keduanya. Hingga Bayu benar-benar siap, dan mereka semua memulai ucapan sacral ditu disaksikan oleh semua saksi dan tamu yang datang.
Bayu mengucapkan semuanya dalam satu tarikan napas, meski pada akhirnya ia seperti orang yang tersedak kemudian batuk-batuk dibuatnya. Tapi, semua orang berteriak SAH disana hingga akhirnya Bayu bernapas dengan begitu lega.
Papa Thomas segera memberikan air minum untuk sang putra agar tenggorokannya sedikit lega.
“Bang, Abang udah ngga papa?” tanya El yang sejak tadi mencemaskannya.
“Tak apa. Dan, bukankah kita suda sah menjadi suami istri??” tanya Bayu, dan El langsung menganggukkan kepala dengan semua pertanyaan itu.
El kemudian meraih tangan Bayu dan langsung mengecupnya dalam-dalam, dan Bayu mengusap kepala belakang gadis yang saat ini suda sah menjadi istri yang akan siap untuk bersamanya kapan saja serta dalam keadaan apapun nanti.
Tangan Bayu turun meraih dagu El saat itu agar mengangkat kepalanya untuk tegap, kemudian mengecup keningnya sedikit lama dan mesra. Dan saat itu, sang Fotografer segera memotret moment indah mereka berdua.
Ucapan selamat pun alakadarnya untuk mempersingkat waktu. Mereka sadar kondisi Bayu belum pulih benar hingga segera membawanya masuk ke kamar dan El memberinya obat rutin seperti biasa. El membuka semua yang Bayu kenakan saat itu agar ia lega dan menggantinya dengan yang biasa_kaos oblong dengan celana pendek saja.
“Kau mau melayani tamu?” tanya Bayu ketika melihat El kembali merapikan dirinya usai melepas kebaya pernikaan mereka. Ia memakai gamis panjang saat itu meski tanpa selendang dikepala.
“Ngga enak kalau ngga ada yang salamin nanti pas pergi. Kenapa?”
“Maaf, kau sendiri mengurus semuanya.”
“Abang jangan kebanyakan meminta maaf, bahkan mereka semua mengerti kondisi kok. Abang udah minum obat, istirahat. Nanti El kesini lagi kalau mereka udah pulang, oke?” kecup El pada kening Bayu saat itu, tapi dengan isengnya Bayu justru menunjuk bibir dengan jarinya sendiri.
“Ish, apaan?” Wajah El seketika bersemu mera dibuatnya.
“Okey, aku hanya meminta. Jika tak kau berikan, yasudah… Aku pasrah,” ambek Bayu pada sang istri El tersenyum menggigit bibirnya sendiri.
“Kan, daripada digigit sendiri. Sini,” goda Bayu yang semakin menjadi-jadi pada istrinya.
“Udah… Tidur!” tegas Elvira, dan saat itu juga Bayu langsung bersedekap dan memejamkan mata seketika dengan begitu tenangnya.
El tersenyum gemas. Ia segera menyelimuti tubuh Bayu dan menaruh bantal guling dipinggir ranjanganya saat itu. Ia melihat semuanya yang tertata dengan begitu rapi serba abu-abu, dengan banyak bunga sebagai hiasannya.
Bukankah, harusnya melakukan banyak sesi foto pernikahan disana? Tapi nyatanya mereka berdua tak ada yang mengenakan baju pengantin lagi saat ini. Untungnya dibagian depan tadi mereka sudah mendapat beberapa foto yang cukup bagus jika hanya akan dipakai untuk pajangan nanti.
Cup… Elvira mendaratkan sebuah kecupan dibibir Bayu, kemudian dengan sekujur tubuh yang merinding ia segera berlari dan pergi meninggalkan suaminya yang terpejam. Padahal Bayu tak sepenuhnya tidur, ia tersenyum sepeninggal El dari kamar mereka.
ttep ya
gabisa laper sebentar🤣🤣
mana abang iam comel banget
pinter banget cuma melototin aja mewek anak orang
mana sekarang jd pawang mama lita🤣🤣🤣
si bayu sm el ini umurnya brp si
kok gemes banget🤣🤣
penasaran d dagu el ada apa
co cwit bgt😍😍😍😍😍
aku juga merasa bayu cepet move on ke El
keknya perna suka deh