Perjanjian antara sang Daddy dan Queena, jika dia sudah berusia 18 tahun dia diperbolehkan berpacaran.
"Daddy! Aku sudah mempunyai pacar! Aku sangat menyukainya."
Saat Queena mengatakannya, seakan dunia menjadi gelap. Vard Ramberd seketika emosi. Ia tak rela pria lain memiliki Queena, gadis itu adalah miliknya!
Dengan kasar Vard memanggul tubuh Queena di pundaknya, menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang menindihnya. "Queena, kau selamanya adalah milikku!"
Setelah Vard menodai paksa Queena, gadis itu memandang penuh benci pada sang Daddy. "Aku membencimu, Vard Ramberd! AKU MEMBENCIMU!!!"
---Kuy ikuti kisahnya, lovers ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersainglah Dengan Sehat.
Ruang Restoran dengan menu dari segala penjuru negeri itu terbilang penuh, bukan Xavier yang membawa Esther ke sana tapi wanita itu yang meminta.
"Kamu sangat suka makanan disini?" tanya Xavier.
"Ya, aku menyukai Dimsum juga bebek peking disini. Kamu lihat bukan, sangat ramai orang yang makan. Aku juga akan memesan fu yung hai dan won ton untuk putraku."
Xavier memendarkan pandangan nya ke seluruh meja pengunjung, ia mengiyakan ucapan Esther. Tiba-tiba matanya menyipit saat mengenali seorang pria yang tak jauh dari mejanya, itu pria di dalam lift! Saat itu tubuh Esther bahkan bergetar hebat saat pria itu masuk ke dalam lift, Xavier menajamkan matanya merasa curiga.
Tak disangka, pria itu juga menoleh padanya. Mata pria itu sedingin es dengan wajah keras tanpa ekspresi apapun balik menatapnya tajam.
"Ekhm," Xavier mengalihkan tatapan nya pada makanan di meja saat staff Restoran menaruh pesanan-pesanan mereka di meja.
Ia melihat Esther mencapit dim sum, memasukkan nya ke dalam mulut dan mengunyahnya. Ia menatap betah pada bibir Esher yang sedang mengunyah, ingin sekali mengecup bibir sexy itu.
Dugh!
"Arghtt..." Xavier meringis kesakitan, pundak sebelah kiri nya ada yang menabrak.
"Maaf, Tuan. Apa Anda terluka?" tanya pria itu seraya membenarkan kacamata yang akan terjatuh.
"Xavier, kamu tidak apa-apa?" tanya Esther.
"Aku baik-baik saja," jawab Xavier, lalu ia menengadah melihat wajah pria yang menabraknya, itu adalah pria yang duduk di meja bersama pria yang bermata dingin itu. Pria berkacamata itu memberinya sesuatu, ia mengambilnya dan itu adalah sebuah kertas. Ia membuka lalu membacanya.
'Jaga matamu, brengsek! Wanita yang duduk bersamamu di meja adalah wanitaku! Dia Ibu dari putraku!' Xavier menggeram saat membaca tulisan tangan di dalam kertas. Jadi dia yang sudah memper kosa Esther, pantas saja saat di dalam lift wanita itu ketakutan.
"Esther, aku akan ke kamar kecil. Nikmati makananmu," Xavier bangkit dari kursinya lalu berjalan ke toilet. Ia menunggu, ingin tau jika pria itu mempunyai keberanian pasti pria itu akan datang menemuinya
Brak! Pintu toilet terbuka dengan dorongan kasar.
"Taylor, berjaga diluar. Aku akan bicara empat mata dengan pria ini." Vard masuk ke dalam toilet lalu menutup pintu.
Vard membuka satu-persatu bilik toilet, merasa tidak orang dia lalu menghampiri pria yang berdiri di depan nya dengan gaya menyebalkan. "Jadi, namamu Xavier dari Perusahaan Exim?"
"Sepertinya kau sudah memeriksa latar belakangku, kau picik sekali disaat aku belum mengetahui apapun tentangmu," jawab Xavier ketus.
"Kau bisa memeriksa latar belakangku juga, aku tidak takut. Namaku Vard Ramberd, dari kota K."
Xavier mendengus, "Kenapa kau mengaku Esther adalah wanitamu, Ibu dari putramu kau bilang? Cuih! Kau hanya pria bajingan yang memper kosa perempuan remaja! Esther bilang dia melahirkan saat usianya 19 tahun, bahkan dia mengatakan jika dia masih trauma! Kau benar-benar bukan pria! Lihat usiamu, aku yakin usiamu 2x lipat dari Esther! Tak tau malu!"
Dugh!
Pria yang mengaku bernama Vard itu menonjok wajahnya, Xavier melihat darah di sudut bibirnya ia tak menunggu lagi segera membalas pukulan Vard.
Mereka saling memukul dengan ganas, Xavier membuka mulutnya di tengah pertarungan. "Lihatlah! Aku yang akan mengobati luka Esther yang kau torehkan di hidupnya dan aku yang akan mendapatkan cintanya! Menjauh darinya, jangan harap Esther akan memaafkan mu! Brengsek!"
"Bermimpi lah! Kau bukan tandinganku, Xavier! Kalau kau tidak mundur dan menjauh dari wanitaku, jangan salahkan aku! Aku akan menghancurkan semua yang kau miliki! Ahhh aku lupa! Bagaimana dengan tunanganmu? Apa Esther tau kau sudah mempunyai tunangan? Haruskah aku yang mengatakan padanya?!"
"Bajingan! Beraninya kau mengancam ku! Aku sedang memutuskan pertunanganku! Kau tidak tau apa-apa! Jangan seolah kau tau tentang kehidupanku hanya dari latar belakang yang sudah kau periksa! Awas! Jangan berani kau mengatakannya pada Esther! Jika kau ingin bersaing, bersaing lah dengan sehat! Jangan menganggu kehidupan pribadiku!" geram Xavier.